Kisah si KANCIL dan BULAN Kembar

Kisah si KANCIL dan BULAN Kembar – Kita tinggalkan dahulu sejenak tentang cerita monyet yang nakal pada kisah yang lalu. Sementara si monyet dalam pelarianya untuk mencari perlindungan karena ulahnya sendiri, di dalam hutan masih ada masalah lain. Kali ini, hutan juga kembali dibuat resah oleh ulah si rubah yang nakal. Rubah dikenal cukup cerdas dan banyak akal, tak kalah cerdik dengan si kancil. Namun sayangnya, si rubah sedikit usil dan nakal. Dis sering menggunakan kecerdikanya untuk menipu dan memperdaya hewan lain.

Beberapa bulan yang lalu, si rubah menawarkan sebuah perjanjian pada kelinci dan, tupai, dan beberapa hewan lain. Dia berjanji, jika mereka mau menyerahkan makanan mereka, maka mereka akan mendapatkan 2x lipat dari yang mereka berikan jika sudah sampai dua bulan. Banyak hewan yang tertarik dengan tawaran itu, sehingga si rubah mendapatkan banyak sekali makanan dari para hewan-hewan itu. Dengan harapan, makanan mereka akan kembali menjadi 2x lipat setelah masa 2 bulan. Namun setelah masa 2 bulan selesai, masalah muncul. Ketika para hewan menagih janji si rubah, si rubah berkilah bahwa belum ada 2 bulan. Sedangkan dia berjanji akan mengembalikan semua makanan menjadi 2x lipat setelah ada 2 bulan, dan sekarang belum ada 2 bulan.

Maka terjadi perdebatan diantara para hewan dan si rubah. Dan kedua belah pihak sama-sama bersikukuh bahwa mereka tidak salah. Akhirnya, mereka sepakat untuk membawa masalah tersebut pada si kancil. Berharap si kancil cukup bijak untuk memberi solusi yang tepat. Di lain tempat, si kancil sendiri sudah cukup memiliki banyak masalah yang harus diselesaikan. Termasuk masalah tentang si monyet yang sampai sekarang belum ditemukan. Tentu saja si kancil terkejut ketika melihat para hewan berbondong-bondong menemuinya bersama si rubah. “eh.. Ada apa ini? Kenapa kalian ramai begini?”. Tanya kancil penasaran.

dongeng kancil dan bulan kembar
Bayangan Bulan

Lalu si kelincipun maju untuk menjelaskan duduk masalahnya. Setelah mendengar penjelasan si kelinci, si kancil akhirnya mencoba untuk memberi solusi. “Jika yang dikatakan kelinci itu benar, maka si rubah harus segera menepati janjinya. Rubah, benarkah kamu berjanji demikian?”. Tanya si kancil memastikan. “Benar.. Aku berjanji pada mereka aku akan mengembalikan makanan mereka 2x lipat setelah ada 2 bulan”. Jawab rubah. “Nah.. Sudah jelas bukan, kini sudah sampai masa 2 bulan. Jadi kamu harus mengembalikan makanan mereka seperti janji mu”. Kata kancil. “Eh.. Mana bisa?? Aku kan janji jika sudah ada dua bulan, sekarang belum ada dua bulan”. Jawab rubah ngotot. “hmm.. Bagaimana bisa belum ada dua bulan, kata mereka sudah lebih dari dua bulan”. Tanya kancil semakin bingung. “Nah.. Sekarang kau tengok bulan di atas itu, ada berapa?”. Tanya rubah. “Cuma satu, lha dari dulu memang ada satukan?”. Jawab kancil. “lha itu kamu sudah tahu, bulan masih satu. Belum ada dua bulan. Jika sudah ada dua bulan, aku akan mengembalikan makanan mereka 2x lipat seperti janji ku. Benar apa betul?”. Kata rubah dengan entengnya.

Mendengar penjelasan rubah, si kancil terkejut. Karena apa yang di katakan rubah cukup masuk akal, dan tidak salah. Dia janji jika sudah ada dua bulan, dan hingga kini masih ada satu buah bulan. Tidak salah. Namun si kancil sedikit geram. Jika begitu kenyataanya, berarti si rubah sama saja menipu para hewan mentah-mentah. Kancil mencoba berfikir keras, namun karena terlalu banyak masalah yang sedang dia hadapi, otaknya belum mampu berfikir jernih. Namun jika dibiarkan, dia merasa kasihan pada para hewan-hewan yang sudah ditipu. Namun sekeras apapun dia berfikir, tak satupun ide dia dapatkan. Akhirnya, si kancil meminta waktu satu hari untuk menetapkan keputusan masalah tersebut. Dan dia meminta agar para hewan dan rubah kembali berkumpul di tempat itu besok malam.

Setelah rubah dan para hewan kembali ke rumah masing-masing, si kancil mencoba menyendiri untuk menenangkan diri. Suasana malam yang sunyi serta sinar bulan yang terang di angkasa, sedikit mampu membantu fikiranya agar lebih rileks. Dia berjalan ke arah sungai, berharap suara gemericik air mampu memberi ketenangan tersendiri. Namun sudah hampir satu jam lebih si kancil duduk di pinggir sungai, belum juga satu ide muncul di kepalanya. Karena merasa haus, akhirnya si kancil berjalan ke tepian sungai untuk minum air. Karena cahaya bulan yang terang, pantulan bayanganya sampai terlihat di air yang bening. Dan secara tak sengaja, dia menemukan sebuah solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah rubah ini. Kini, si kancil dapat pulang dengan tenang dan tidur dengan nyenyak.

Pada malam berikutnya, semua hewan dan juga si rubah kembali berkumpul sebagaimana permintaan si kancil. Si rubah tampak santai tanpa rasa bersalah, dan dia cukup yakin bahwa si kancil tak akan menemukan solusi apapun. Setelah semua berkumpul, si kancil akhirnya datang dan berdiri di atas sebuh tunggak pohon laksana mimbar. “Wahai para hewan, malam ini aku akan memutuskan. Jadi harap tenang. Setelah ku timang-timang semalaman, si rubah ku nyatakan tidak bersalah. Karena dia berkata bahwa dia akan mengembalikan makanan kalian jika sudah ada dua bulan, bukan masa dua bulan. Dan seperti yang kita tahu, bulan itu hanya satu. Jadi selama bulan belum ada dua, maka si rubah tidak akan di tuntut apapun untuk mengembalikan makanan kalian”. Mendengar perkataan si kancil, para hewan menjadi ribut. Banyak yang tidak terima pada keputusan itu, dan ada juga yang menyalahkan kebodohan diri mereka sendiri. Bahkan ada juga yang marah-marah pada si kancil dan berkata bahwa kancil itu tidak secerdik dan sebijak yang di kabarkan. Sedangkan si rubah tampak menunjukan senyum kemenanganya.

Melihat reaksi tersebut, si kancil berusaha tetap tenang dan melanjutkan kata-katanya. “Tenang..!! Tenang..!! Aku belum selesai. Ku pastikan tak akan ada yang merasa dirugikan di sini. Dan asal kalian tahu, ternyata apa yang dikatakan rubah itu benar, dia tidak berbohong. Karena ketika semalam aku jalan-jalan, aku melihat ada dua bulan dengan kedua mataku sendiri. Jadi dengan begitu, si rubah harus mengembalikan makanan kalian 2x lipat seperti yang dia janjikan”. Sambung kancil. Mendengar hal itu, para hewan bersorak sorai, mereka sangat senang pada keputusan si kancil. Terkecuali si rubah. Dia marah-marah dan menuduh bahwa si kancil berbohong dan hanya mengada-ada. “Hai kancil.. Kau pasti bohong. Mana ada dua bulan? Aku masih melihat hanya ada satu bulan hingga sekarang. Buktinya sudah jelas, bulan hanya ada satu seperti yang kita lihat. Aku tidak terima keputusan ini, kau pasti ingin menipuku. Aku membutuhkan bukti dan harus melihatnya sendiri, baru aku akan percaya dan menerima keputusan mu”. Kata rubah sambil marah-marah.

Kancil hanya tersenyum kecil mihat tingkah si rubah. “Hmm.. Baik.. Aku akan membuktikan bahwa aku tidak bohong. Bukan hanya kamu, tapi semua hewan juga akan melihat bahwa dua bulan itu memang ada. Ayo, sekarang kalian semua ikut aku”. Ajak kancil. Akhirnya mereka mengikuti kancil menuju pinggir sungai. Dan mereka berhenti di sana, mencoba mencari dua bulan yang di katakan si kancil. Namun mereka tidak menemukan apapun kecuali pohon dan air saja. “hai cil.. mana dua bulan yang kau katakan? Aku tidak menemukan apapun di sini”. Tanya rubah.”Sabar dulu lah.. Kalian semua pasti akan melihatnya sendiri. Sekarang kalian ke tepi sungai, lalu lihat ke dalam air”. Pinta kancil. Merekapun menuruti kata si kancil, dan melihat ke dalam sungai.

 “Apa yang kalian lihat?”. Tanya kancil. “Kami hanya melihat air”. Jawab mereka. “Selain itu..?”. Tanya kancil lagi. “Bayangan kami sendiri karena cahaya bulan purnama yang cukup terang”. Jawab mereka lagi.”Nah.. Kalau begitu kalian harusnya juga bisa melihat bulan kan? Jadi, sekarang kalian melihat ada berapa bulan? Ada dua bulan kan?”. Kata kancil. Mendengar penjelasan si kancil, para hewan semakin gembira. Karena ternyata kini si kancil bisa membuktikan bahwa memang ada dua bulan. Satu di angkasa, satunya lagi di dalam air. Hanya satu hewan saja yang tertunduk lemas, dialah si rubah. Karena setelah malam itu, dia harus bekerja keras untuk mengembalikan semua makanan para hewan yang sudah diambilnya menjadi 2x lipat seperti yang dia janjikan. Dan dia kini mengakui, bahwa kancil telah mengalahkanya lagi.

 Story by: Muhammad Rifai 

Hikmah yang dapat dipetik: Terkadang, banyak orang cerdas namun menggunakan kecerdasanya untuk kepentingan pribadi. Seperti menipu dan mengambil hak orang lain. Namun sebagaimana yang kita tahu, setiap perbuatan akan mendatangkan akibat dikemudian hari. Baik atau buruk, semua ada balasanya. Oleh karena itu, gunakan kecerdasan dan ilmu mu agar bisa bermanfa’at bagi orang banyak. Jika kamu menanam kebaikan, kelak juga akan berbuah baik. 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *