Fabel KANCIL Menipu Burung ELANG

Fabel Kancil Menipu Burung Elang – Setelah pada cerita ayam jago dan burung elang yang lalu, kehidupan bangsa ayam menjadi tidak tenteram. Mereka selalu dilanda ketakutan karena terror para burung elang yang mengincar anak-anak mereka. Namun mereka tak bisa berbuat apa-apa. Sekuat apapun mereka berusaha, mereka tak mampu untuk mengalahkan burung elang. Lambat laun, anak-anak ayam mulai habis. Hanya tinggal beberapa ekor saja.

Tentu hal tersebut membuat bangsa ayam menjadi sangat risau. Karen jika kejadian ini terus berlanjut, bisa jadi keturunan mereka akan binasa dan jenis mereka akan punah. Akhirnya, para ayam mengadakan musyawarah. Mereka harus meminta bantuan segera. Tapi pada siapa? Salah satu ayam tiba-tiba berdiri ke tengah. Dia menyarankan agar meminta bantuan pada si kancil. Dia yakin si kancil memiliki solusi untuk masalah mereka.

Akhirnya salah satu ayam ditugaskan untuk menemui si kancil. Awalnya si kancil menolak. Karena masalah yang terjadi antara ayam dan elang, adalah murni karena kesalahan bangsa ayam. “Tolonglah cil.. Kami tahu itu salah kami. Kami rela jika memang harus menerima hukuman. Tapi yang jadi masalah adalah, anak-anak kami yang tidak tahu apa-apa yang jadi korban. Elang bahkan menghabiskan dan menangkap semua anak-anak kami hingga hanya tersisa beberapa ekor. Jika besok dia datang dan menangkap mereka lagi, bisa-bisa semua keturunan kami habis dan kami bisa punah. Tolonglah cil.. Kami hanya ingin kesempatan agar bangsa kami tidak punah”. Kata ayam itu memelas.

Mendengar alasan si ayam, kancil merasa tersentuh. Jika di fikir-fikir dengan jernih, betul juga kata ayam. Elang sudah terlalu kelewatan. Yang memiliki masalah dengan bangsa elang adalah para ayam yang sudah dewasa, kenapa anak-anak yang menjadi korban. Dan lagi jika hal ini terus berlanjut, bisa jadi bangsa ayam akan benar-benar punah karena tidak memiliki kesempatan untuk memiliki keturunan. Dan akhirnya, kancil bersedia membntu.

“Baiklah kalau begitu, untuk kali ini saja demi anak-anak kalian yang tidak bersalah, aku akan membantu. Pulanglah..!! Besok ketika elang datang lagi ke tempat kalian, aku akan ke sana untuk berbicara denganya”. Jawab kancil.
Mendengar hal itu, si ayam menjadi sangat gembira. Dia segera pulang menemui teman-temanya untuk menyampikan kabar bahagia itu. Para ayam menyambut kabar itu dengan suka cita. Ada secercah harapan yang mereka rasakan untuk bisa menyelamatkan anak-anak mereka.

Keesokan paginya.. Burung elang datang lagi ke sarang ayam. Seperti biasa, mereka mengincar anak-anak ayam yang masih tersisa di balik hiruk pukuk para ayam yang berlari panik. Namun ketika si elang tengah menemukan anak ayam yang menjadi targetnya, tiba-tiba ada suara yang memanggilnya.
“Hai elang.. Tunggu sebentar, aku ingin bicara”. Kata suara itu yang ternyata si kancil.

Melihat si kancil datang, si elang hinggap di atas sebuah batu dengan betolak pinggang. Dengan nada angkuh si elang menjawab..
“Ada apa cil.. Apa kau disewa oleh mereka untuk melawan ku? Hahahaha.. Mereka rupanya sudah terlalu putus asa hingga akal mereka hilang. Jika serigala saja tak mampu melawan ku, apalagi hewan mungil seperti mu?”. Kata elang dengan nada sombong.
“Ah.. Tunggu sebentar elang.. Kau salah faham.. Aku kemari bukan untuk melawan mu. Tapi aku kesini sebagai wakil utusan dari bangsa ayam untuk melakukanbnegosiasi”. Jawab kancil.

“Negosiasi? Apa maksut mu? Tak ada lagi yang perlu di negousasikan. Tujuan ku ke mari sudah jelas.. Dan sudah jelas pula tak ada yang mampu melawan, jadi untuk apa aku harus bernegosiasi? Apa untungnya bagi ku?”. Tanya elang ketus.
“Ah.. Kau ini memang kuat elang, tapi otak mu sungguh bodoh”. Kata kancil.
“Bodoh kata mu? Kau menantang ku?”. Jawab elang emosi.
“Tunggu dulu.. Bukan begitu maksut ku. Begini lho.. Jika kamu memakan anak ayam langsung banyak dalam sekali waktu, maka kau akan rugi dikemudian hari. Karena sudah tidak ada lagi anak ayam yang bisa kau makan sebab sudah habis. Sedangkan para ayam juga butuh waktu untuk bertelur dan menetaskanya. Jadi, apa kau sudah sadar dengan apa yang ku maksut?”. Tanya kancil.

Mendengar penjelasan kancil yang cukup masuk akal, akhirnya burung elang berfikir sesaat.
“Hmm.. Benar juga apa yang kau bilang. Jadi apa sebaiknya yang harus aku lakukan sekarang?”. Tanya burung elang.
“Begini.. Aku sebagai wakil bangsa ayam diutus untuk melakukan satu perjanjian. Yaitu.. Para ayam akan menyediakan satu ekor anak ayam setiap hari untuk kau santap. Tapi ada syaratnya..”. Kata kancil.
“Apa syaratnya..? “. Tanya elang.
“Bangsa ayam ingin meminjam bulu sayap mu yang kuat satu kali saja. Sebagai obat penasaran, bagaimana rasanya bisa terbang seperti burung elang yang gagah dan kuat seperti mu”. Jawab kancil.

Merasa dirinya dipuji, si elang menjadi semakin besar kepala. Hingga dia tidak berfikir dua kali langsung saja menyanggupi syarat itu. Melihat si elang sudah setuju, sibkancil langsung memanggil seluruh ayam yang ada di kawasan itu. Mereka disuruh beramai-ramai untuk mencabut bulu-bulu si elang. Hingga akhirnya, semua bulu si elang habis dan botak. Elang tidak menyangka jika kejadianya akan jadi seperti ini. Dia sangat malu karena semua bulu-bulunya yang megah telah rontok, hilang tak tersisa.

Karena terlalu malu, elang langsung lari ke dalam hutan dan menghilang di semak-semak. Para ayam yang melihat hal itu tertawa terpingkal-pingkal. Paling tidak, kini mereka bisa sedikit membalas perbuatan si elang pada anak-anak mereka. Setelah hari itu, si kancil menyuruh para ayam untuk pindah mencari tempat lain. Mereka harus bersembunyi dari elang agar dapat membesarkan anak-anak mereka.

Story By: Muhammad Rifai

Hikmah: kadang sifat dendam dan amarah, sering membutakan mata kita. Sehingga yang aslinya tidak bersalah, ikut terkena dampaknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *