Dongeng KANCIL, TIKUS dan GAJAH

Dongeng Kancil, Tikus dan Gajah – Setelah cerita tentang si Kancil menolong Kerbau pada dongeng sebelumnya, kini cerita si kancil berlanjut. Kancil dan kerbau akhirnya melarikan diri bersama, dan si kerbau membawa si kancil untuk memperkenalkan pada teman-temanya. Kerbau sangat berterimakasih atas bantuan si kancil, karena berkat si kancil, kerbau terbebas dari bahaya buaya yang ingin memakanya. Sepanjang jalan kancil dan kerbau saling bercerita tentang diri mereka masing-masing. Perjalanan itu membuat mereka berdua semakin akrab.
Akan tetapi ketika si kancil dan kerbau melewati sebuah hutan rotan, mereka berdua dikejutkan oleh sebuah suara. Suara tangisan yang sungguh mengharukan, sehingga mereka berdua sepakat untuk mencari arah suara itu dan berniat untuk membantu. Tak lama kemudian, mereka melihat ada seekor tikus yang sedang menangis di atas sebuah batu. Kancil dan kerbau lalu menghampiri tikus itu dan bertanya apa masalah yang menimpanya. Ternyata tikus itu adalah kepala suku kolpni tikus, dia menangis karena tak mampu mencari jalan keluar atas masalah yang menimpa rakyatnya. 
Beberapa waktu lalu, sekawanan gajah datang dan memporak porandakan kampungya. Gajah-gajah itu datang memakan dan menghancurkan hutan rotan yang menjadi kampung mereka. Bukan hanya sekali, tapi gajah-gajah itu selalu datang setiap minggu. Dan para tikus tak kuasa untuk mencegahnya karena tubuh mereka yang kecil. Sang kepala suku merasa sangat bersalah, karena dia merasa tak mampu melindungi rakyat yang seharusnya dia jaga. Mendengar penjelasan si tikus, kancil dan kerbau menjadi sangat iba. “Tenanglah sobat.. Teman ku kancil pasti akan membantu mu. Dia sangat pintar, bahkan dia baru saja menyelamatkan nyawa ku dari buaya yang hampir memakan ku”. Kata kerbau. “Ah.. tak usah memuji ku seperti itu. Menolong yang kesusahan memang sudah menjadi kewajiban ku ketika aku mampu”. Kata kancil merendah.
“Benarkah itu? Tuan kancil ini bisa mengalahkan buaya? Kalau begitu, maukah tuan kancil membantu kami juga? Apapun imbalan yang tuan kancil minta, pasti akan kami berikan selama kami sanggup”. Pinta si Tikus. “Tenanglah pak tikus.. kau tak usah memikirkan imbalan apapun, aku huga tak akan memintanya. Aku akan mencoba menolong kalian sebisa ku, akan ku cari cara supaya gajah-gajah itu tak berani lagi mengganggu kampung kalian..”. Jawab si kancil ramah. Mendengar jawaban itu, si tikus menjadi sangat lega, dan dia mengucapkan banyak-banyak tetimakasih pada si kancil.
Si kancil lalu diam sejenak, dia berfikir cara apa yang tepat untuk membuat jera para gajah itu. Wajah kancil tampak serius, bertanda bahwa otaknya tengah berfikir keras. Selang beberapa lama, tiba-tiba kancil tersenyum. Bertanda dia telah menemukan sebuah ide yang tepat. “Hai tikus.. kumpulkan semua rakyat mu. Aku akan memberitahu caranya..”. Kata si kancil. Mebdengar itu, si tikus menjadi sangat gembira. Dia lalu mengumpulkan semua rakyatnya untuk mendengarkan siasat kancil. Si kerbau menjadi semakin kagum pada si kancil sahabatnya itu. Dia melihat si kancil dengan senyum kebanggaan, karena dia memiliki sahabat yang sangat cerdas dan baik hati seperti si kancil.
Setelah para tikus berkumpul, kancil lalu mengumumkan apa rencana yang akan digunakan. Intinya, mereka harus melakukan semua langkah-langkah yang diajarkan si kancil dengan tepat. “Nanti.. semua harus sembunyi, dan keluar sesuai aba-aba dari ku. Biar aku dan pak tikus kepala suku yang akan menghadapi mereka. Kalian bersembunyilah, kerbau sahabat ku akan ikut kalian dan menjaga kalian dalam persembunyian”. Kata kancil. Para tikus menyanggupi, dan mereka yakin pasti cara itu akan berhasil dan mampu membuat para gajah jera. Timbul harapan yang cukup besar di hati mereka, dan berdo’a agar cara mereka kali ini akan mampu membuat kehidupan mereka lebih aman tanpa ada gangguan dari siapapun. 

Akhirnya, hari yang ditunggu tiba. Para gajah datang dan memporak porandakan hutan rotan itu seperti biasa. Ketika para gajah tengah asik berpesta pora, tiba-tiba kancil datang bersama pak tikus yang ada di atas kepalanya. “Hai kalian.. hentikan kerusakan yang kalian buat. Apa kalian tak tahu ini rumah para tikus? Carilah tempat yang lain, lagipula hutan ini luas”. Teriak kancil. Para gajah terkejut ketika mereka mendengar ada yanf meneriaki mereka. Lalu seekor gajah yang hitam dan besar yang menjadi ketua getomblan itu, datang menghampiri kancil.
“Hai.. apa urusan mu hewan kerdil? Walau kami tahu ini rumah para tikus, kami suka makan di sini. Tak ada yang bisa menghentikan kami. Kami kuat, bahkan singa dan harimau saja tak berkutik melawan kami. Hahaha..”. Kata gajah itu dengan sombongnya. Tentu saja hal itu membuat kancil semakin geram. “Siapa bilang tak ada yang bisa mengalahkan kalian? Apa kalian tahu? Selama ini bangsa tikus sudah cukup sabar menghadapi ulah kalian. Jika saja para tikus marah, kalian bisa saja dimakan hingga tak bersisa”. Kata si kancil. 
Mendengar perkataan si kancil, para gajah malah tertawa mengejek. “Hahaha.. Tikus? Memakan kami? Jangan mimpi.. !! Mereka yang kecil itu bisa apa? Singa dan harimau yang memiliki gigi tajam saja tak bisa mengalahkan kami, apa lagi tikus yang kecil itu. Kami injak sekali saja sudah gepeng..”. Kata gajah semakin angkuh. “Oooo.. ternyata kalian memang tak bisa diingatkan hanya dengan bicara ya. Lihaylah.. tikus di kepalaku sudah mulai marah.. sebenarnya, seberapa keras kulit kalian? Apa lebih keras dari pohon di sana?”. Kata kancil sambil menunjuk sebuah pohon besar.
“Lihat baik-baik hai gajah..!! Tikus sahabat ku ini sudah mulai marah dan lapar. Dan biasanya jika dia lapar, dia bis memakan apapun. Jangankan cuma daging mu, pohon yang keras saja tak ada artinya untuk tikus..”. Kata kancil sembari memberi isyarat pada tikus untuk mulai beraksi. Faham dengan isyarat kancil, tikus itupun berlagak memasang perangai ganas. Seperti hewan yang kelaparan, tikus itu turun lalu berlari ke arah pohon besar lalu mengerat pohon itu hingga tumbang dengan gigi-giginya yang tajam. Melihat hal itu, para gajah sangat terkejut. Mereka mengira bahwa tikus memang hewan ganas yang cukup kuat dan bisa memakan segalanya, termasuk gajah.
Melihat gajah sudah mulai panik, si kancil lalu kembali memberi isyarat. Tak lama kemudian, ratusan tikus yang tadinya bersembunyi kini keluar. Mereka juga seolah-olah bersikap sangat ganas dan mengepung para gajah. Para gajah kali ini benar-benar sangat ketakutan. Dan akhirnya mereka sefera lari kalang kabut karena takut jika para tikus mengejar dan akan memangsa mereka. Melihat itu, kancil, kerbau, dan para tikus tertawa terbahak-bahak. Mereka sangat bersyukur bahwa cara mereka benar-benar berhasil mengusir para gajah itu.
Para tikus sangat berterimakasih pada kancil dan kerbau yang telah membantunya. Kancil dan kerbau hanya bisa tersenyum, lalu mereka berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. Para tikus berkumpul dan mengantarkan kepergian si kancil dengan penuh haru dan rasa syukur. Sejak saat itu, para gajah tak ada lagi yang berani datang mengganggu para tikus. Bahkan setiap meihat tikus, para gajah akan lari ketakutan. Dan hal itu, berlanjut hingga masa sekarang. 
***

blog dongeng kancil

Hikmah yang dapat dipetik: Setiap kesombongan itu buruk, maka jangan suka sombong dan meremehkan yang terlihat lebih lemah. Karena setiap makhluk tercipta dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dan harus bisa saling menghargai satu sama lain.
Pengarang: Muhammad Rifai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *