Dongeng KANCIL Menolong KERBAU

Dongeng Kancil Menolong Kerbau – Ketika si kancil telah berhasil lolos dari kejaran harimau pada cerita si Kancil dan Harimau Lapar sebelumnya, kini si kancil memutuskan untuk beristirahan sejenak. Tubuh mungilnya semakin lelah karena panic serta kurang istirahat sejak tiba di hutan itu. Setelah beberapa saat istirahat di bawah pohon rindang di pinggir sungai, si kancil merasa haus. Lalu kancilpun menuju sungai kecil di dekatnya untuk minum. Tapi ketika si kancil tengah asik minum, lamat-lamat dia mendengar suara merintih dan kesakitan. Merasa ada yang sedang kesusahan danmembutuhkan bantuan, si kancil lalu menusuri sungai kecil itu hingga tiba ke pertemuan dua sungai yang lebih besar. Betapa terkejutnya si kancil ketika dia melihat ada seekor kerbau yang tengah merintih kesakitan karena kakinya di gigit oleh seekor buaya sehingga tak bisa melepaskan diri. “Kasihan sekali kerbau itu.. hmm.. coba ku pikir dulu apa yang bisa ku lakukan untuk menolong kerbau itu. Akan ku hampiri mereka..’. gumam kancil dalam hati.
Si kancil lalu berjalan ke arah mereka dengan dengan menunjukan langkah riang, seolah-olah dia tengah bahagia sehingga sok cuek dengan kejadian yang ada di hadapanya. Buaya dan kerbau yang melihat si kancil dating, hanya bisa saling pandang karena bingung. Baru kali ini mereka melihat hewan kecil itu, karena si kancil memang penghuni baru di hutan. Jadi masih belum banyak yang kenal. Si kancil hanya memasang tampang tak perduli, seakan-akan tak melihat kerbau dan buaya. Ketika langkah kancil sudah agak jauh, tiba-tiba kerbau memanggilnya.. “ Hai hewan kecil.. bisakah kau menolong ku? Buaya tak tahu balas budi ini ingin memakan ku”. Kata kerbau memelas. Si kancil pun berlagak menoleh acuh tak acuh. “Apa ada ada yang memanggil ku?”. Tanya kancil berlagak tak tahu. “ Iya hewan kecil.. aku kaerbau yang memanggil mu, siapa namamu? Akau belum pernah melihat mu di hutan ini.. bisakah kamu membantu ku”. Pinta kerbau memelas. 

Kancil lalu menghampiri kerbau dan buaya, dengan pandang penuh selidik.. kancil memperhatikan mereka. “ Menolong apa? Nama ku kancil. Akau adalah raja hutan dari tempat yang jauh. Aku kemari untuk berkunjung menengok Harimau sahabat ku, katanya dia raja hutan di kawasan ini”. kata kancil mulai bersiasat. Mendengar bahwa kancil adalah raja hutan dan sahabat dari Harimau, kerbau dan buaya merasa terkejut. Karena bagi mereka, nama harimau sudah sangat menakutkan. Tentu si kancil ini bukan hewan sembarangan hingga bisa berteman dengan harimau. “Harimau? Apa benar kau kawan harimau?”. Tanya kerbau gugup. “ Yap benar..Aku diundang oleh Harimau sahabatku untuk menjadi wakil raja sementara disini. Sebagai bukti, dia memberiku satu kumisnya sebagai tanda bahwa aku mewakilinya”. jawab kancil mantab. “aduuuh.. malang benar nasib ku… niat mau minta tolong, malah yang dimintai tolong ternyata juga hewan buas kawan harimau. Mana mungkin aku bisa selamat..”. keluh kerbau dengan nada lemah.

“Hei hewan merangkak.. kalian sebenarnya sedang main apa?”. Tanya kancil menunjuk muka buaya. “ Ka.. Kami sedang main permainan makan memakan.. aku yang berperan jadi yang makan.. nah kernbau ini berperan jadi yang dimakan.. betul kan kerbau?”. Kata buaya berbohong sambil melirik kerbau, dia menguatkan gigitanya membuat kerbau kesakitan sehingga mengangguk membenarkan ucapan buaya. “Hmm.. permainan makan memakan ya? Wah.. sepertinya asik juga tuh, malah perut ku jadi lapar betulan. Sudah dua hari aku tak makan. Terahir kali aku makan gajah dua hari yang lalu..”. kata kancil lagi. “Hah..?! Ma..Makan gajah..?‼”. kontan kerbau dan buaya berkata bersamaan sambil memasang wajah terkejut karena tak percaya. Mereka kaget, jika hewan kecil yang mengaku bernama kancil itu mampu memakan gajah. Bahkan Harimau saja tak mampu memakan gajah.
“Iya..makan gajah.. kenapa kalian terlihat kaget begitu? Memangnya di sini tak ada yang memakan gajah? Di tempat asal ku, memakan gajah sudah hal biasa. Kadang juga kami memakan badak atau kuda nil jika bosan makan gajah..”. jawab kancil membuat kerbau dan buaya semakin takut. “Hmm.. mumpung aku juga lapar.. hei hewan merangkak, siapa nama mu?”. Tanya kancil pada buaya. “Bu.. Buaya..”. Jawab buaya gugup. “Oke buaya.. kalo kamu mau makan kerbau ini, akau mau ikut. Soalnya aku lapar sekali. Kalo tak boleh, kamu saja yang aku makan..”. ancam kancil. Mendengar ancaman kancil, buaya jadi gemetar ketakutan..”Oh.. tentu.. tentu.. kerbau ini cukup untuk kita berdua..”. jawab buaya semakin gugup karena takut. “Tapi sebelumnya.. siapa yang membantu mu menangkap kerbau ini? kerbau ini kan terlihat besar, kuat, dan bertanduk. Pasti yang menangkapnya sangat hebat. Kalo di tempat ku sana, mungkin bisa ku angkat jadi penasehat kerajaan ku”. Kata kancil.
“Wah..Aku menagkapnya sendiri.. berarti aku memang habit tuan kancil.. aku menangkapnya tanpa bantuan siapapun’. Kata buaya membanggakan diri setelah mendengar perkataan si kancil. ‘Ah.. benarkah/ aku tak percaya.. kau pasti berbohong.. lihatlah dirimu buaya.. meski gigi mu tajam dan kuat, tak mungkin kau bisa menangkap kerbau ini sendiri. Lagipula, tubuh mu terlalu pendek dan kaki mu juga pendek, bagaimana kau bisa mengejarnya?”. Kata kancil merendahkan buaya. “Tapi benar tuan kancil.. aku yang menangkapnya sendiri. Aku memang tak mengejarnya, tapi aku menggunakan otak ku yang cerdas untuk menangkapnya..”. jawab buaya menjelaskan. “Benarkah? Kau tak terlihat secerdas itu.. di tempat asal ku, tak ada yang lebih cerdas disbanding aku. Jadi untuk bisa dibilang cerdas atau tidak, semua harus melalui penilaian ku. Oleh karena itu akau jadi raja. Jika kamu memang cerdas hingga bisa menangkap kerbau itu, tunjukan caranya. Mungkin kamu bisa menjadi raja hutan juga seperti aku. Di sebelah kerajaan ku, masih ada hutan yang belum memiliki raja’. Kata kancil.
Mendengar perkataan si kancil, buaya menjadi bersemangat. Bayanganya melambung tinggi dan berangan-angan jika dia benar-benar menjadi raja. “ begini tuan kancil.. sebenarnya selain aku cerdas, kerbau ini memang bodoh. Mau saja aku tipu dia. Tiga hari yang lalu waktu hujan disertai angin lebat, aku tertimpa pohon besar waktu tengan berteduh. Sudah tiga hari tak ada yang datang dan bisa menolong ku. Hingga si kerbau dungu ini lewat, lalu ku tipu dia agar mau menolong aku untuk menyingkirkan batang pohon yang menimpa ku dengan tanduknya yang kuat. Nah, setelah aku terbebas, langsung saja dia ku terkam karena aku memang sedang lapar..”. cerita si buaya sangat bersemangat. “Ah.. kau pasti bohong.. mana mungkin kau secerdas itu? aku juga tak yakin kerbau ini sekuat cerita mu. Kau pasti bohong.. buat lebih jelasnya, biar aku Tanya dulu sama si kerbau, apa benar kisahnya begitu’. Kata kancil. “silahkan.. pasti dia jawabnya akan sama..”. timpal buaya.
“ Hai kerbau.. apa benar semua yang diceritakan buaya ini. Apa kau yang menolongnya? Dan apa benar dia berhasil menipumu tanpa bantuan hewan lain?”. Tanya kancil. “ Iya.. benar.. aku memang berniat menolongnya karena kasihan. Tapi setelah dia lepas, dia malah mau memakan aku..’. jawab kerbau melas. “Lalu, apakah benar kau mengangkat kayu itu sendirian dengan tanduk mu tanpa dibantu hewan lain?. Tanya kancil lagi. “Iya.. benar..’. jawab kerbau. “Ah.. kalian semua bohong.. aku tak percaya.. masak buaya bodoh ini benar-benar bisa menangkap mu sendirian tanpa bantuan. Lalu kau juga berkata kau yang mengangkat batang pohon itu sendiri. Tubuh mu memang besar, tapi aku tak yakin jika kau sekuat itu. Hei buaya.. apa kau bisa member bukti.. untuk bisa jadi raja, semua harus di buktikan”. Tantang kancil. “Lho.. tentu saja bisa.. lalu, apa yang tuan kancil harapkan?”. Tanya buaya. “Aku ingin semua di ulang dari awal. Dari pertama kali kau tertimpa pohon, lalu kerbau dating menolong mu karena kau rayu, hingga kau berhasil menangkapnya. Semua harus di ulang buat lebih jelasnya..”. kata kancil.
“Berarti aku harus mau ditimpa pohon lagi dan melepaskan si kerbau ini? bagaimana jika nanti dia lari setelah aku lepaskan?”. Kata buaya ragu. “Kau tak usah khawatir.. aku akan menjaganya. Kalau dia berani kabur atau berani macam-macam, akau akan menerkamnya. Jika perlu, aku undang harimau ke mari jika kau tak percaya pada ku’. Jawab kancil. ‘eh.. jangan..‼ tak usah.. jika harimau ke sini, nanti aku malah tak kebagian apapun. Baiklah.. akan ku turuti permintaan mu uan kancil’. Jawab buaya. Buaya lalu melepas gigitanya di kaki kerbau. Kerbau pun tak lari, karena dia yakin jika dia lari kancil akan menerkam dan memakanya. Maka dia hanya mengikuti apa saja yang diperintahkan padanya. Kerbau sudah pasrah akan nasibnya… “Kerbau.. apa benar kamu bisa mengangkat batang pohon itu? Batang pohon itu kan sangat berat”. Tanya kancil pada kerbau. “Tentu saja.. aku sangat kuat, dengan tanduk ku ini, semua bisa ku angkat”. Kerbau merasa tersinggung karena merasa diremehkan si kancil. Padahal tanpa disadari kerbau dan buaya, si kancil sebenarnya sedang melakukan siasat untuk menolong kerbau.
“Buaya.. apa benar pohon ini yang menimpa mu? Bukankah pohon ini sangat berat? Aku tak yakin, kau pasti tak akan kuat. Bahkan kau pasti bisa mati hanya dengan ditimpa rantingnya saja..”. kata kancil pada buaya. Ternyata, si kancil sengaja memanas-manasi kedua hewan ini agar tidak curiga. “Wah.. tuan kancil jangan salah.. aku ini sangat kuat. Jika hanya pohon itu, beratnya tak seberapa dan aku cukup kuat untuk menahanya.. “. Kata buaya menyombong. “Wah.. hebat.. habit.. kalau begitu, aku ingin melihat hebatnya kekuatan mu buaya..’. kata kancil. Merasa dirinya di puji, buaya menjadi besar kepala. “Oh.. baik.. baik.. tuan kancil.. lihat ini.. hai kerbau dungu.. segera angkat lagi batang pohon itu ke punggung ku.. biar tuan kancil ini tahu akau kuat dan cocok jadi raja hutan juga.. ‘. Bentak buaya pada kerbau. Si kerbau yang merasa tersinggung baik dari perkataan kancil yang meremehkanya dan buaya yang berani membentaknya, segera menanduk batang pohon itu dengan sekuat tenaga, hingga pohon itu kembali menimpa tubuh buaya dengan agak keras sehingga buaya agak kesakitan. “ Aduhh.. hai..‼ pelan-pelan kerbau dungu..‼ sakit tau..‼”. teriak buaya. “Nah tuan kancil.. tuan lihat sendiri kan.. saya kuat menahan batang pohon ini, dan saya tak mati.. meski saya tak bisa bergerak, tapi saya tak mati..”. kata buaya semakin sombong.

“Wow.. hebat.. hebat.. kau benar-benar kuat.. berarti jika kau kuat, kau sudah tak butuh bantuan lagi. Pasti kau bisa membebaskan dirimu sendiri kan? Jia sudah begitu, aku akan pergi saja dengan si kerbau dari sini. Jika kami membantu mu, tentu kami malah seolah-olah meragukan kekuatan mu. Oleh karenanya, selamat membebaskan diri sendiri ya. Kami pergi dulu.. ayo cepat ikuti aku kerbau.. kita pergi, kau selamat sekarang..”. kata kancil. Sadar bahwa sebenarnya si kancil adalah hewan baik dan hanya berniat menolongnya, dia pun segera berlari mengikuti si kancil. Sedangkan buaya yang tak tahu balas budi tersebut, kini kembali terjebak di bawah batang pohon. Setelah sadar dirinya tertipu, buaya menjadi sangat marah. Dan bersumpah suatu saat dia akan menangkap kancil dan memakanya.Tapi selain itu, kancil dan kerbau menjadi teman akrab. Si kerbau sangat berterima kasih pada si kancil karena sudah mau menolongnya. Dan kerbau berjanji, suatu saat jika si kancil butuh bantuan, dia akan datang untuk menolong. Tapi nasib kancil juga semakin tak menentu. Demi menolong hewan lain yang kesusahan,kini musuhnya semakin bertambah. Bukan hanya harimau yang berniat mengejarnya, bahkan buaya kini juga menjadi musuhnya. Tapi setiap hal baik, pasti menuntut keberanian dan pengorbanan. Dan jika kita berbuat baik, percayalah bahwa kebaikan selalu akan menang. Jadi, tak ada alas an untuk takut.
***
dongeng kancil

Hikamah yang dapat di petik: setiap perbuatan akan mendapat balasan yang sama. Hal baik akan dibalas baik, dan hal buruk akan mendapat balasan serupa. Jadi, berusahalah untuk selau berbuat baik. Karena suatu saat, kau akan mendapat balasan yang baik pula ketika kau butuh.
Pengarang: Muhammad Rifai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *