Dongeng kancil dan burung gagak yang angkuh – Cerita tentang kecerdikan dan kebijaksanaan si kancil, memang bisa dijadikan pelajaran untuk menyadari tentang sebab akibat. Sebagaimana yang pernah saya tulis pada kisah dongeng si kancil dan kura-kura yang suka mengeluh sebelumnya, kita bisa mengambil banyak pelajaran. Oleh karena itu, kali ini kita akan kembali belajar dari kisah si kancil dan burung gagak yang angkuh. Saya mendapat inspirasi untuk menulis kisah ini, ketika saya melihat cermin. Dan berikut ini kisah yang telah saya tulis, semoga bisa kita ambil hikmahnya.
Dahulu kala, burung gagak memiliki bulu yang sangat indah dan halus. Bulunya berwarna putih mengkilap, sedangkan burung bangau memiliki bulu berwarna coklat abu-abu dan sangat buruk. Namun, kelebihan yang dimiliki burung gagak, justru membuat sifatnya sangat angkuh. Dia sering merendahkan dan mengejek hewan lain, dan sering membanggakan bulunya yang indah dengan niyat pamer. Burung gagak merasa bahwa tak ada yang selevel denganya, sehingga dia sering memandang rendah hewan lain. Tak jarang kata-katanya terdengar ketus, tentu saja hal tersebut membuat hewan-hewan lain membencinya.

Pada suatu hari ketika si kancil sedang berkunjung ke tempat katak sahabatnya, dia mendengar kabar bahwa si gagak tengah ditimpa musibah. Bulunya yang dulu putih mengkilap kini berubah hitam legam dan sangat buruk. Kini, si gagak malu untuk keluar dari sarangnya. Dan hanya bisa menangis setiap hari meratapi nasib yang menimpanya. “Kanapa tak ada hewan yang coba datang dan membantunya? Siapa tahu kalian bisa mengetahui masalahnya dan membantunya mencari solusi”. Tanya kancil pada katak. “Ah.. Buat apa kami membantu dia? Biarkan saja, mungkin dia tengah mendapat karma karena kesombongan dan keangkuhanya. Toh selama ini dia selalu mengejek kami, dan tak pernah sekalipun bersikap baik pada hewan-hewan lain”. Kata katak.

Mendengar jawaban katak, kancil hanya bisa diam. Dia tidak bisa menyalahkan jawaban katak tersebut, karena selama ini sifat gagak memang sangat keterlaluan. Namun dalam hati kecilnya, si kancil juga merasa kasihan dengan gagak. Mungkin dengan adanya musibah ini, kancil bisa mencari cara untuk menyadarkan gagak dari sifat-sifat buruknya selama ini. “Baiklah kalau begitu, kau memang benar. Tak ada alasan bagi mu untuk membantunya, karena semua hal yang dialami gagak saat ini adalah hasil dari perbuatanya sendiri. Tapi, aku akan coba menemuinya. Siapa tahu dengan adanya musibah ini, aku bisa menuntunya agar kembali sadar dan memperbaiki semua sifat-sifat buruknya di masa lalu. Aku pamit dulu kawan, aku akan menemui gagak sebentar”. Kata kancil berpamitan.

Si kancilpun berjalan menuju sarang gagak yang ada disebuah pohon besar. Dari bawah pohon, si kancil mendengar suara tangisan gagak yang memilukan. Sehingga membuat si kancil merasa sangat iba dibuatnya. “Gagak.. Hai gagak..!”. Teriak kancil dari bawah pohon. Mendengar ada suara yang memanggilnya, si gagak menengok dari atas sarang. ” Ada apa kancil? Apa kau ke sini untuk mengejek dan menertawakan musibah yang menimpa ku seperti para hewan-hewan lain?”. Tanya gagak dengan nada ketus. “Oh.. Tidak, justru sebaliknya. Aku mendengar kau sedang dapat musibah, siapa tahu aku bisa membantu. Turunlah sebentar, kita bicara di bawah sini”. Pinta kancil dengan lembut.

Mendengar jawaban kancil yang ramah, membuat hati gagak merasa memiliki harapan baru. Diapun turun dan berharap kancil bisa menemukan solusi untuk masalahnya. “Nah.. Begitu dong..!! Sekarang ceritakan pada ku, sebenarnya apa yang terjadi?”. Tanya kancil. “Kau masih bertanya apa yang terjadi? Lihat aku sekarang..!! Bulu ku yang dulu putih dan indah kini berubah hitam legam, aku terlihat buruk..”. Kata gagak masih dengan nada ketus. “Ya.. Aku tahu.. Yang akau tanyakan, bagaimana bisa bulu mu tiba-tiba berubah begini?”. Tanya kancil masih bersikap ramah.
“Semua karena ulah binatang-binatang tak berguna di hutan ini, mereka hanya iri melihat keindahan bulu ku. Aku memiliki serbuk ajaib yang tiap hari ku gunakan untuk membersihkan bulu ku agar selalu tampak indah, namun pada suatu hari si bangau yang licik mencuri serbuk itu. Dia juga melempar ku dengan serbuk arang, sehingga bulu ku yang indah kini jadi hitam”. Cerita gagak. “Oooo.. Bukankah yang mencuri serbuk mu itu si bangau, kenapa kau menyalahkan semua hewan-hewan di hutan ini?”. Tanya si kancil. “Ya tentu saja.. Pasti mereka memang sudah merencanakanya. Pasti mereka semua sekongkol untuk mencurinya..”. Jawab gagak dengan nada marah.

“Sekongkol? Dari mana kau tahu jika mereka sekongkol? Dari mana kau dapat kesimpulan itu? Apa kau punya bukti?”. Tanya kancil menyelidik. “Tentu saja, buktinya sudah jelas. Ketika serbuk ku di curi, tak ada satu hewanpun yang mau membantuku untuk mencarinya. Mereka malah mengejek penampilan ku sekarang yang buruk, mereka menertawakan musibah yang menimpa ku. Bukankah itu bukti yang jelas jika mereka memang sekongkol?”. Kata gagak. “Hmm.. Kau mengambil kesimpulan dan menuduh mereka berdasarkan sikap mereka terhadap mu. Kau hanya mencari kambing hitam, apa kau sudah mencari tahu kesalahan mu sendiri sehingga mereka tidak mau membentu mu?”. Tanya kancil. “Kesalahan ku? Memangnya aku salah apa pada mereka? Aku tak pernah mencuri milik mereka. Mereka saja yang iri terhadap ku..”. Jawab gagak masih ngotot.

“Hmm.. Baiklah jika memang itu menurut mu. Ayo.. Ikutlah aku sebentar.. Akan ku tunjukan sesuatu..”. Ajak kancil. Kancilpun mengajak gagak menuju sebuah kolam yang cukup jernih airnya, sehingga kolam itu bisa memantulkan bayangan mereka ibarat sebuah cermin. “Hai cil.. Untuk apa kau membawa ku ke kolam? Apa kau berniat menyuruh ku mandi? Tanpa serbuk ajaib, bulu ku tak akan berubah. Aku sudah mencobanya berkali-kali”. Kata gagak. “Oh.. Bukan itu maksud ku.. Coba kau kesini sebentar, lalu berdiri di pinggir kolam ini. Lalu lihat ke arah kolam..”. Pinta kancil.

Dongeng KANCIL dan BURUNG GAGAK yang ANGKUH, Cerita Dongeng Anak Terbaru
burung gagak

Gagak yang penasaran dengan rencana si kancil, hanya bisa menurut. Diapun berjalan menuju tepi kolam. “Apa yang kau lihat?”. Tanya kancil. “Aku melihat diri ku”. Jawab gagak. “Bagaimana bentuknya?”. Tanya kancil lagi. “Sangat buruk.. Hitam dan menakutkan.. Bahkan aku sendiri muak dibuatnya”. Jawab gagak. “Coba kau marah pada bayangan mu itu..!! Apa yang kau lihat?”. Tanya kancil lagi. “Bayangan itu meniru ku, dia juga menunjukan wajah marah seperti aku”. Jawab gagak.

 “Baiklah.. Sekarang coba kau tersenyum pada bayangan mu. Apa yang kau lihat?”. Tanya kancil lagi. “Bayangan itu juga tersenyum pada ku.. Sebagaimana senyum ku..”. Jawab gagak lagi. “Nah.. Sekarang apa kau sudah sadar?”. Tanya kancil lagi. “Sadar? Apa maksut mu?”. Tanya gagak tak mengerti. Si kancil menarik nafas panjang, lalu dengan tersenyum kancil berkata.. “Kehidupan itu tak ubahnya kau dan bayangan mu itu. Kua lihat kan? Bayangan mu meniru apapun yang kau lakukan, begitupula kehidupan. Semua imbal balik dari perbuatan kita. Jika kau angkuh, sombong, suka mengejek, suka marah, dan marah pada hewan lain, mereka juga akan ganti membenci mu dan melakukan hal yang sama terhadap mu. Berbeda jika kau mau bersikap ramah, rendah hati, murah senyum, dan suka membantu sesama mu, maka merekapun akan sangat senang pada mu, ramah, tersenyum, dan akan membantu mu ketika kau sedang dilanda kesulitan. Coa sekarang kau ingat-ingat, selama ini mana yang lebih banyak kau lakukan? Marah-marah? Apa bersikap ramah? Maka itu adalah jawaban dari apa yang kau alami saat ini”. Kata kancil menjelaskan panjang lebar.

Mendengar penjelasan kancil, burung gagak menjadi terhenyak. Dia mulai menyadari, selama ini dia memang tak pernah sedikitpun bersikap baik, apalagi menolong hewan lain. Maka pantas saja kini tak ada yang mau menolongnya, dan kini diapun di ejek sebagaimana dulu dia mengejek mereka. Semua adalah imbal balik dari apa yang dia lakukan sendiri selama ini. Sadar akan hal itu, si gagak hanya bisa terdiam sambil tertunduk malu. Selama ini dia sibuk menyalahkan orang lain atas apa yang menimpanya, tapi dia sendiri tak menyadari kesalahanya sendiri. Gagak sangat menyesal.
“Gagak sahabat ku.. Mulai sekarang ubahlah sikap mu. Mungkin bulu mu memang tak akan bisa kembali menjadi indah, tapi penampilan fisik bukanlah hal utama. Mulai sekarang, jadikan hati mu lebih indah dari masa lalu mu. Dan aku yakin, keindahan hati mu akan lebih membuat hewan lain menyayangi mu dari pada penampilan fisik mu. Silahkan ku fikir-fikir dulu.. Aku pamit ya..”. Kata kacil sambil berlalu pergi.

Kata-kata kancil seolah menyadarkan gagak dari semua keburukanya di masa lalu. Kini, dia mulai sadar, bahwa sifatnya memang buruk, itulah alasan yang membuat banyak hewan-hewan membencinya. Oleh karena itu, dia ingin berubah. Karena dia percaya dan yakin pada apa yang disampaikan oleh si kancil. Bahwa hati yang indah akan lebih berharga daripada keindahan fisik. Tak apa buruk rupa, asal baik hati dan indah sifatnya, itu akan lebih baik.

Story By: Muhammad Rifai

Dongeng KANCIL dan BURUNG GAGAK yang ANGKUH, Cerita Dongeng Anak Terbaru

Hikmah yang dapat kita petik: Hidup itu adalah wujud dari imbal balik setiap perbuatan kita. Jika kita berbuat buruk pada sesama, maka kita juga akan mendapat hal yang sama. Jika kita bersikap baik pada sesama, mereka juga akan bersikap hal yang sama pada kita. Karena hidup itu, ibarat pantulan cermin.

Dikirim melalui BlackBerry® dari 3 – Jaringan GSM-Mu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *