Dongeng 1001 Malam #2 :Kisah Keledai dan Sapi Dengan Pedagang – Hai sobat untuk kali ini kita akan melanjutkan cerita 1001 Malam selanjutnya. Ini adalah bagian kedua cerita 1001 malam pada cerita yang lalu . Selamat membaca.. 🙂

Dongeng 1001 Malam #2 :Kisah Keledai dan Sapi Dengan Pedagang

Setelah mengalami penghianatan dari permaisurinya yang terdahulu , Raja syahriar menutup hatinya untuk semua wanita . Dia tidak lagi percaya pada kesetiaan wanita . sehingga setelah kejadian itu , setiap hari Raja Syahriar selalu mencari seorang gadis di negerinya untuk dinikahi . Dan setelah malam pertama, Raja Syahriar akan menghukum mati gadis tersebut keesokan harinya . Hal tersebut dilakukan terus-menerus selama kurang lebih 3 tahun , sehingga lambat laun gadis-gadis negerinya sudah semakin langka dan hampir tidak tersisa satupun.

Kebiasaan raja yang buruk tersebut , membuat para keluarga yang memiliki anak gadis menjadi takut . Sehingga mereka memutuskan untuk pindah ke negeri lain demi keselamatan anak gadisnya . Semakin lama rasa kepercayaan dan rasa hormat rakyatnya kepada raja Syahriar semakin hilang , sehingga hanya menyisakan rasa takut karena sifat buruk sang raja . Hingga pada suatu hari , sang raja memerintahkan Wazir kerajaan untuk mencarikan gadis muda seperti biasa .

Dan sebagaimana biasanya , sang Wazir akan berkeliling negeri untuk mencari gadis muda sebagaimana yang diperintahkan oleh raja. Namun sudah seharian sang Wazir berkeliling , dia belum juga menemukan satu gadis pun . Hingga hal tersebut membuat sang Wazir merasa sangat hawatir . Akhirnya setelah lelah mencari , sang Wazir kembali ke kerajaan dengan tangan kosong untuk menghadap kepada raja .

Melihat sang Wazir pulang tanpa membawa apapun , membuat sang raja murka . Dengan marah sang raja memerintahkan sang Wazir untuk pergi dari hadapanya dan meninggalkan istana , lalu sang Wazir pun pulang kembali ke rumahnya . Sebenarnya , sang Wazir adalah pejabat yang sangat baik . Namun dia tetaplah seorang pejabat istana yang harus selalu mematuhi rajanya . Diceritakan , sang Wazir memiliki dua orang putri . Putri tertua bernama Syahrazad dan adiknya yang lebih muda bernama Dunyazad. Syahrazad adalah seorang gadis yang sangat cerdas , dia menghabiskan waktunya untuk membaca banyak buku dan catatan-catatan masa lalu . Dia suka membaca kisah-kisah Raja masa lalu , yang dikumpulkan dalam berbagai catatan dan syair-syair . Bahkan dikisahkan , Semua kisah-kisah yang dia baca lebih dari 1000 judul buku .

melihat ayahnya yang pulang dengan wajah sedih , membuat Syahrazad penasaran apa yang terjadi pada ayahnya. Pada awalnya, ayahnya enggan untuk menjawab. Namun Syahrazad terus mendesak ayahnya untuk bercerita. akhirnya dengan berat hati, ayahnya menceritakan Semua yang dia alami. tentang apa yang dia lakukan, dan apa yang raja perintahkan. Terlihat raut sedih dan penyesalan di wajah Wazir yang baik hati itu. Terlihat beban berat yang dia rasakan karena rasa bersalah sebab harus menurut perintah rajanya. Melihat ayahnya yang terbebani, membuat Syahrazad merasa iba. Lalu, Syahrazad berkata pada ayahnya.

“ayah, Bawalah Aku dan nikahkan aku dengan raja. Entah aku akan hidup atau mati, aku akan menjadi tebusan untuk menyelamatkan gadis-gadis di negeri ini.”

“Ya Tuhan!”. Seru ayahnya kaget. “Tidak seharusnya kamu mengambil resiko untuk hidupmu. Kamu hanya akan bernasib sama sebagaimana kisah keledai dan banteng dengan pedagang.” Kata ayahnya merasa keberatan.

“Lalu, apa yang terjadi dengan mereka?” syahrazad bertanya pada ayahnya dengan penasaran. Kemudian ayahnya pun bercerita tentang kisah keledai dan sapi dengan pedagang.

Dahulu kala di sebuah negeri ada seorang pedagang yang dikaruniai Allah dengan kekayaan serta pengetahuan, sehingga dia mampu memahami bahasa binatang dan burung-burung.

Di rumahnya dia memiliki seekor keledai dan Seekor sapi jantan. Pada suatu hari, sang sapi berkunjung ke kandang keledai. Dia melihat keledai yang sedang tidur santai, dengan kandang yang terlihat sangat bersih, air yang terlalu tersedia di tempatnya minum, serta diberi makan dengan ayakan dari gandum terbaik. Terkadang tuannya membawanya untuk ditunggangi, namun tak berapa lama tuannya akan membawanya kembali ke kandang.

“Aku ucapkan selamat untukmu , kamu terlihat hidup nyaman, makan ayakan gandum terbaik dan tidur dengan nyenyak. Kadang tuan membawamu keluar untuk ditunggangi, namun tidak berapa lama kamu sudah dikembalikan ke kandang lagi dan bisa beristirahat lagi. Sedangkan aku merasa sangat lelah. Setiap hari aku harus membajak ladang dan menggiling gandum.” kata sapi dengan perasaan iri. Mendengar keluhan dari sapi, keledai berkata.

“Nanti jika mereka menaruh belenggu di leher mu dan ingin membawamu keluar untuk ke ladang, jangan bangun. Bahkan jika mereka memaksamu, bangunlah sebentar lalu berbaring lagi. Dan ketika mereka membawa mu kembali ke kandang dan memberimu makan, pura-pura sakit dan jangan memakannya. Lakukan itu selama satu, dua, atau tiga hari, maka kamu akan beristirahat dari kerja kerasmu dan tidak merasa lelah lagi.”

Keesokan harinya ketika penggembala yang biasa membantu pedagang merawat sapi dan keledai pergi ke kandang sapi untuk memberi makan, sapi itu hanya memakan sedikit. Sapi itu berniat mengikuti anjuran dari keledai. Dan pada keesokan harinya lagi, ketika gembala itu pergi ke kandang untuk memberi makan sapi itu lagi, dia melihat sapi itu sakit sehingga gembala itu mengurungkan niatnya untuk membawa sapi pergi ke ladang untuk membajak.

Dengan sedih gembala itu berkata.” mungkin inilah sebabnya sapi ini tidak bisa bekerja dengan baik dari kemarin, dia sakit.” Lalu gembala itu pergi ke pedagang untuk melapor tentang keadaan sapi yang sakit. ” Tuan, sapi anda sakit sehingga tidak bisa membajak sawah dan menggiling gandum. Dari kemarin dia tidak mau makan”.

Sang pedagang yang diberi karunia oleh Allah bisa memahami bahasa binatang dan burung-burung, sudah tahu tentang apa yang terjadi. Dia diberitahu oleh burung-burung, tentang percakapan antara sapi dan keledai. Lalu, pedagang itu berkata pada penggembala.

Pergi dan bawalah keledai untuk membajak sawah untuk menggantikan tempatnya. Lalu gembala pergi ke kandang keledai untuk membawa keledai membajak sawah menggantikan sapi. Ketika malam hari, keledai kembali ke kandang dengan tubuh kelelahan karena seharian membajak sawah. Dan dia bertemu sapi di kandang, dan sapi mengucapkan terima kasih atas kebaikan keledai karena mau menggantikannya. Keledai hanya tersenyum pahit, dia hanya bisa menyesali saran yang dia berikan kepada sapi. Karena saran yang diberikan kepada sapi, kini dia harus menggantikan tempat sapi untuk membajak sawah dan menggiling gandum, hingga dia merasa sangat lelah dan menderita.

Pada keesokan harinya, gembala datang lagi untuk membawa keledai pergi membajak sawah hingga larut malam. Dan hal itu terus berlanjut hingga beberapa hari, sehingga membuat keledai sangat menderita dan kelelahan hingga dia tidak tahan lagi. Dan setiap dia kembali ke kandang dengan tubuh kelelahan, sapi selalu menyapa dia dengan senyum bahagia dan mengucapkan terima kasih. Hal tersebut tentu membuat keledai sangat jengkel, karena kini dia yang harus menderita untuk menggantikan pekerjaan sapi. Hingga pada suatu malam si Keledai berkata kepada sapi, dia berbohong kepada sapi agar sapi mau bekerja lagi menggantikan keledai.

“Hai sapi, aku mendengar tuan kita berkata. Jika kamu tetap tidak bangun besok, Tuan akan membawamu ke tukang daging untuk disembelih. Dagingmu akan dipotong-potong, dan kau akan dikuliti untuk dimakan. Oleh karena itu, aku lebih memilih kerja membajak sawah dan menggiling gandum daripada harus disembelih. Jika kau mengikuti saran ku, lebih baik besok kamu bangun dan kembali bekerja membajak sawah dan menggiling gandum daripada kamu dibawa ke tukang daging untuk dipotong.

Ketika sapi mendengar itu, dia berterima kasih kepada keledai dan berjanji besok dia akan pergi kembali ke ladang untuk membajak serta menggiling gandum. Malam itu juga, sapi memakan semua makanannya hingga habis tak tersisa. Dan secara tak sengaja, sang pedagang mendengar percakapan antara sapi dan keledai tersebut ketika melewati kandang, dan dia hanya tersenyum mengetahui hal itu.

Pada keesokan harinya, pedagang dan istrinya pergi ke kandang sapi bersama penggembala. Begitu sapi melihat tuannya, dia langsung bangun dan melompat-lompat untuk menunjukkan bahwa dia sudah sehat dan siap untuk kembali bekerja membajak sawah dan menggiling gandum. Sang pedagang hanya bisa tersenyum melihat hal tersebut, lalu menyuruh penggembala untuk membawa sapi kembali membajak ladang dan menggiling gandum seperti hari-hari biasanya.

Melihat suaminya tersenyum, sang istri sangat penasaran. Istri pedagang ini sangat manja, sang pedagang sangat mencintai istrinya sehingga sangat memanjakan sang istri. Karena penasaran, sang istri bertanya kepada pedagang.

“Wahai suamiku, apa yang membuat dirimu tersenyum begitu?” tanya sang istri.

“Aku tersenyum karena suatu rahasia yang aku lihat dan aku dengar, tapi aku tidak bisa memberitahukan padamu atau aku akan mati.” kata sang pedagang pada istrinya.

Namun istrinya tidak percaya dan menganggap perkataan pedagang hanya bercanda, dan dia terus memaksa pada sang pedagang untuk menceritakan rahasianya atau dia akan terus marah hingga sang pedagang mau menceritakan rahasia itu.

Karena rasa cintanya pada sang istri serta paksaan dari sang istri yang tidak bisa dia tolak, akhirnya sang pedagang berjanji akan menceritakan rahasianya itu meski dia tahu dia nanti akan mati.

Lalu sang pedagang mengumpulkan semua anak-anaknya, mengundang notaris untuk menuliskan wasiat terakhirnya, serta mengumpulkan para tetangga. Ketika semua anak-anak, kerabat, dan para tetangganya berkumpul, dia berkata bahwa dia punya rahasia yang akan dia ceritakan pada istrinya dan jika dia mengatakan rahasia itu maka dia akan mati.

Mendengar hal itu, anak-anaknya, kerabat, serta para tetangga, mencoba membujuk sang istri agar tidak memaksa suaminya untuk mengatakan rahasianya, atau suaminya akan mati. Namun sang istri bersikeras, bahwa suaminya hanya bercanda dan tidak akan mati. Dan sang istri terus memaksa agar suaminya mau mengatakan rahasianya. Melihat keputusan istrinya yang sudah tidak bisa diubah, akhirnya sang pedagang pun memutuskan untuk mengatakan rahasianya kepada istrinya.

Tapi sebelum itu, dia berpamitan untuk mengambil air wudhu dan melakukan salat 2 rokaat. Lalu dia nanti akan kembali lagi ke tempat di mana istri, anak-anak, kerabat, dan semua tetangganya berkumpul.

Lalu Wazir berkata kepada syahrazad. Aku akan melakukan apapun sebagaimana yang dilakukan sang pedagang untuk istrinya, demi dirimu. Bahkan jika aku harus mati, aku akan melakukan segalanya untuk kebahagiaan putri-putri ku.

Syahrazad hanya mendengarkan apa yang dikatakan ayahnya, dia lebih fokus pada kisah yang diceritakan oleh ayahnya. “Lalu, apa yang terjadi pada sang pedagang itu?” tanya syahrazad pada ayahnya. Kemudian Wazir melanjutkan kisahnya.

Pedagang itu memiliki seekor ayam jantan dan 50 ayam betina, serta seekor anjing. Dia selesai salat 2 rokaat dan berjalan kembali menuju tempat istrinya berada, dia melewati kandang ayam dan mendengar ayam jantan dan anjing bercakap-cakap.

Anjing berkata” Setiap hari mungkin kamu merasa senang karena memiliki 50 istri, tapi kamu tidak tahu bawa hari ini tuan kita akan mati hanya karena satu istri”.

Mendengar hal itu, ayam jantan kaget lalu bertanya pada anjing.” Apa yang terjadi pada tuan kita? Ceritakan padaku..!!”

Lalu anjing menceritakan semua kisah yang dia tahu, bawa istri tuanya memaksa untuk mengetahui rahasianya sehingga mengantarkan suaminya pada kematian.” Demi Tuhan semesta alam, tuan kita terlalu baik. Dia pasti akan melakukannya karena begitulah sifatnya.” kata ayam. Lalu ayam kembali berkata.

” Aku memiliki 50 istri dan mampu membuat mereka patuh padaku dan bisa membahagiakan mereka semua. Lalu, mengapa tuan kita tidak bisa mengatur hanya satu istri..? Mengapa dia tidak mengambil ranting pohon lalu membawa istrinya ke kamar, kemudian memukulinya hingga mati atau hingga pingsan sehingga istrinya mau bertobat dan tidak bertanya lagi. Bukankah mengajari istri tentang kepatuhan pada suami juga merupakan sebuah tanggung jawab agar sang istri tidak salah jalan dan berani pada suaminya? Jika tuan tidak mendidik istrinya dan terus membiarkan istrinya berbuat semaunya, bukankah tuan berdosa sebagai seorang suami dan juga ayah dari anak-anaknya karena tidak bisa mendidik dan memberi contoh yang baik bagi keluarga?”. kata ayam mengakhiri ceritanya.

Setelah mendengar percakapan antara anjing dan ayam jantan itu, pedagang itu pergi untuk mengambil ranting pohon dan menaruhnya di bawah tempat tidur. Lalu dia memanggil istrinya untuk masuk ke kamar, dengan alasan bahwa dia akan menceritakan rahasianya hanya kepada istrinya. Agar ketika dia mati, tidak ada orang yang melihat kecuali hanya istrinya saja. Setelah sang istri masuk ke dalam kamar, pedagang itu mengunci pintu kamar sehingga hanya mereka berdua di kamar.

Setelah itu, pedagang itu mengambil ranting yang dia sembunyikan di bawah tempat tidur lalu memukuli istrinya. Dia memukuli istrinya dengan keras hingga hampir pingsan, hingga akhirnya istrinya mengatakan menyesal dan bertobat. Dia berjanji akan patuh pada suaminya dan tidak menanyakan rahasia yang seharusnya tidak dia ketahui. Setelah itu, sang pedagang berhenti memukul istrinya. Dan mereka berdua kembali ke tempat di mana anak-anak, kerabat, dan tetangga mereka berkumpul dengan cemas dengan wajah bahagia seakan tidak terjadi apapun.

Setelah kejadian itu, sang istri tidak pernah bertanya lagi tentang rahasia suaminya. Dan sang pedagang juga semakin mencintai istri dan keluarganya. Sehingga keluarga mereka hidup bahagia hingga akhir hayatnya.

Sampai disini Wazir mengakhiri kisahnya. Dia berharap setelah mendengar kisah itu, Syahrazad akan mengubah pikirannya. Jika syahrazad tetap memaksa untuk pergi dan menikah dengan raja, itu sama saja dia menyerahkan nyawanya untuk mati. Sebagaimana sang pedagang yang berniat menceritakan rahasianya dan rela mati untuk sang istri. Wazir berharap, putrinya bersikap lebih tegas demi kebaikannya sendiri. Sebagaimana sang pedagang yang memberi pelajaran kepada sang istri dengan tegas, agar akhirnya patuh pada suaminya. Wazir tidak mau, putrinya menyia-nyiakan hidupnya untuk hal yang sudah pasti bisa merenggut nyawanya.

Namun, Bagaimana jawaban syahrazad? Apakah dia akhirnya berubah pikiran? atau tetap bersikeras untuk menjadi pengganti permaisuri raja? kita lanjutkan pada kisah berikutnya..


Strory By: Muhammad Rifai

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *