Cerita KANCIL dan Jebakan PEMBURU

Cerita Kancil dan Jebakan Pemburu – Pada zaman dahulu kala, hewan dan manusia hidup berdampingan. Para manusia hanya memburu hewan tertentu sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tak ada perburuan liar seperti di zaman ini, sehingga kehidupan berjalan dengan seimbang dan para hewan tidak terancam kepunahan. Sebagaimana tokoh utama dalam kisah kita kali ini, si kancil masih menjadi tokoh yang akan kita ceritakan. Kebijaksanaan dan kebaikan hati si kancil yang suka menolong hewan-hewan lain, haruslah patut kita contoh.

si kancil yang cerdik dan baik hati disukai oleh banyak hewan, sehingga si kancil memiliki banyak teman dan namanya cukup terkenal. Namun sebagaimana kehidupan, setiap hal baik pasti juga ada yang menyimpan dendam. Setelah para gajah berhasil dikalahkan si kancil pada cerita Dongeng kancil, Tikus, dan Gajah sombong, para gajah ternyata menyimpan dendam untuk membalas si kancil.

Para gajah kemudian pergi menemui Rubah, rubah adalah hewan yang terkenal sangat cerdik sera licik. Para gajah menghasut rubah, mereka berbohong bahwa si kancil menghina rubah dan berkata rubah itu bodoh tak secerdas si kancil. Tentu saja hal tersebut membuat rubah sangat marah karena merasa dihina oleh si kancil, dan rubah berniat memberi si kancil pelajaran. Tentu saja hal tersebut membuat para gajah menjadi senang karena siasat mereka untuk membalas si kancil akan terlaksana.

Rubahpun pergi untuk mencari si kancil, dia telah menyiapkan siasat untuk menjebak si kancil dan memberi si kancil pelajaran. Rubah ingin menunjukan, bahwa dia lebih cerdik dari si kancil, dan bisa mengalahkan si kancil yang terkenal cerdas itu dengan siasatnya. Setelah beberapa lama berjalan, akhirnya si rubah melihat si kancil tengah asik memakan rumput-rumput hijau di pinggir hutan. Rubah pun lalu menghampiri si kancil.

“Hai cil.. sedang apa kau? Sepertinya kau sedang asik sekali sehingga tak menyadari kehadiran ku’. saps rubah. Mendengar ada yang memanggil namanya, si kancil pun berbalik, dan dilihatnya si rubah sudah ada di belakangnya. “Oh.. ternyata kau rubah. Aku sedang sarapan. rumput-rumput muda yang tumbuh di musim hujan begini terasa sangat nikmat, aku sangat bersyukur bisa memakanya”. jawab Kancil.

“Ah.. kalo cuma rumput, itu belum seberapa cil. Aku bisa membawa mu ke tempat yang ada makanan lebih enak dari pada rumput. Aku tahu, kamu suka mentimun kan?”. Rubah mulai merayu. “ah.. yang benar? Di mana tempatnya? sudah lama sekali aku tak makan mentimun. Pasti rasanya sangat enak”. kata kancil penuh semangat. “Kalau kamu mau, aku akan menunjukan tempatnya. Tidak jauh dari sini kok. Ayo ikut aku”. Kata rubah.

rubah licik
Rubah

Akhirnya kancil dan rubah berjalan bersama menuju tempat mentimun yang di janjikan si rubah. Kancil tak sadar, bahwa si rubah memiliki niyat buruk untuk menjebaknya. si rubah menaruh beberapa buah mentimun yang telah dia curi dari kebun pak tani di atas sebuah jebakan, jika si kancil berada di atas jebakan itu, maka sebuah tali akan mengikat dan menarik kaki si kancil sehingga si kancil akan tergantung di atas pohon. Tentu saja, pasti si kancil tidak akan bisa melepaskan diri, begitu fikir si rubah.

Singkat cerita, mereka berdua akhirnya sampai di tempat jebakan, si rubah lalu menunjukan timun-timun yang telah dia siapkan pada si kancil. Melihat banyaknya mentimun yang tergeletak di atas tanah, si kancil menjadi sangat senang. Tanpa rasa curiga sedikitpun, si kancil berlari menghampiri mentimun itu untuk segera menyantapnya. Namun tanpa di duga, tiba-tiba kakinya terjerat tali jebakan sehingga membuatnya tergantung.

“Wah.. ada apa ini? Ini jebakan.. hai rubah, tolong aku. Ternyata mentimun ini cuma umpan jebakan pemburu”. Kata kancil pada rubah. Namun si rubah malah tertawa, dia tidak menghiraukan si kancil lalu pergi meninggalkan si kancil yang tergantung. “kali ini kau tak akanm selamat, kecerdikan mu tak akan bisa lagi menipu tali itu. Itulah akibatnya jika kau berani menghina ku.. hahahaha..”. Kata rubah dalam hati.

Melihat rubah yang meninggalkanya, si kancil kini sadar bahwa ini memang sudah rencana si rubah untuk menipunya. Tapi menyesali diri kini juga tidak lagi berguna, si kancil harus mencari cara untuk lepas dari jebakan itu sebelum para pemburu datang. Untunglah beberapa saat kemudian, burung gagak yang kini sudah menjadi kawanya lewat di daerah itu. Melihat si kancil yang di gantung, si gagak pun menghampiri si kancil dan bertanya apa yang sedang terjadi.

Si kancil menceritakan nasib yang menimpanya pada gagak, gagak menjadi sangat marah pada si rubah setelah tahu kejadian yang sebenarnya. “Urusan si rubah, bisa kita urus nanti saja setelah kamu bebas cil. Lalu, apa yang bisa ku lakukan untuk membebaskan mu? Tali ini terlalu kuat jika ku putuskan dengan paruh ku. Kamu punya cara lain?”. tanya gagak. si kancil diam sesaat, dia memutar otak untuk mencari solusi yang tepat.

“Aku punya cara yang mungkin berhasil meski resikonya cukup besar”. Kata kancil. “Apa itu? Cepat katakan sebelum para pemburu datang”. Kata gagak. “Gagak.. cepatlah kamu buang kotoran sebanyak-banyaknya ke atas tubuh ku. Jika perlu kamu ajak juga semua kawan-kawan mu. Tak perlu tanya alasanya, Yang penting cepat lakukan sebelum para pemburu datang memeriksa perangkap ini..!!”. Perintah kancil.

Tanpa membuang waktu, si gagak melakukan apa yang diperintahkan si kancil. Gagak juga memanggil kawan-kawanya untuk menjalankan rencana si kancil. Setelah tubuh si kancil penuh dengan kotoran yang bau, si kancil menyuruh para gagak untuk menyingkir. Ternyata, bau yang menyengat dari kotoran gagak mengundang para lalat untuk hinggap dan mengkerumuni si kancil.

Maka ketika si pemburu tiba, tubuh si kancil sudah di kerubungi lalat. Hal tersebut membuat para pemburu menyangka bahwa si kancil sudah cukup lama terjebak dan akhirnya mati kelapran dan kehausan. Karena mengira si kancil sudah menjadi bangkai yang tidak bisa di makan, para pemburu itu melepas tali yang mengikat kaki si kancil dan membuang tubuh si kancil yang pura-pura mati di semak-semak. Setelah para pemburu itu pergi, si kancil lalu bangun dan kemudian mandi di sungai.

Para gagak menghampiri si kancil, mereka senang si kancil bisa selamat. “Kami bersyukur kamu bisa lolos dari bahaya tadi cil. Kami tadi sudah merasa sangat hawatir, untung saja ide mu berhasil dengan lancar”. Kata para gagak. “Yah.. aku juga tak percaya bahwa cara tadi bisa berhasil menipu para pemburu. untung saja ada kalian, terima kasih sudah mau menolong aku”. Kata kancil. “Sama-sama cil, kami senang bisa membalas budi karena kau juga pernah menolong kami. sekarang, apa rencanamu sil? Apa kau akan membalas perbuatan si rubah ini?”. tanya gagak.

“Hmm.. balas dendam itu tidak baik. Tapi aku akan mencoba mencari tahu mengapa rubah menipu ku, padahal aku tak pernah sekalipun memiliki dendam padanya. Mungkin, aku harus menggunakan sedikit siasat ku untuk menyadarkan kesombongan yang menghinggapi hati si rubah. Agar dia sadar, tidak ada hewan yang paling cerdas di dunia ini. Semua hewan itu sama, mereka memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ayo kita sama-sama mencari si rubah itu. Tapi kalian harus merahasiakan bahwa aku selamat dari jebakan pemburu agar rubah tak tahu”. Pinta kancil. “Oke cil..!!”. Jawab para gagak serempak.

Akhirnya, si kancil yang berhasil selamat dari bahaya pergi mencari si rubah. Dia ingin tahu mengapa si rubah tega menipunya, serta memberi peringatan pada rubah bahwa kesombongan itu bisa berahir dengan petaka. Lalu, apa rencana si kancil? Tunggu cerita berikutnya.. 🙂

Story By: Muhammad Rifai 

Hikmah yang Bisa Kita Petik: Terkadang kita mudah terhasut oleh kabar yang kita sendiri belum tahu kebenaranya, sehingga kita kurang berhati-hati dan bertindak ceroboh. Dan setiap perbuatan baik, suatu saat akan dibalas dengan kebaikan pula, bahka disaat kita butuh pertolongan. Oleh karena itu, berbuat baiklah pada semua orang, agar kelak mereka juga membantu mu di kala kau di timpa kesusahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *