Cerita si KANCIL, kacang AJAIB, dan Sang PENCURI

Cerita si kancil, kacang Ajaib, dan sang Pencuri – Hutan Eutopia yang indah, mentari pagi hari menciptakan pemandangan menakjubkan di hutan itu. Ibarat sebuah lukisan kanvas, sinar keemasan dari sang surya menembus kabut tipis seperti tabir yang samar. Si Kancil terlihat menguap di depan rumahnya. Dia baru saja bangun dari mimpi indahnya semalam, tentang ladang timun yang cukup luas. Sangat… sangat luas.. sehingga tak akan habis meski dia memakanya seumur hidup. Tapi.. lagi-lagi itu hanya sebuah mimpi. Sekarang sudah waktunya bagi si Kancil untuk kembali ke dunia nyata. Dunia dimana semua tak akan dapat di raih kecuali dengan usaha.

 

Saat ini adalah akhir dari musim penghujan, yang berarti sebentar lagi akan memasuki musim kemarau. Untuk beberapa hewan, masa ini adalah masa dimana mereka harus bekerja lebih keras untuk mengumpulkan makanan. Karena jika musim kemaru tiba, makanan akan sangat sulit di dapat. Si kancil berjalan menyusuri hutan. Menyapa siapa saja yang ditemuinya. Ada koloni semut yang tengah sibuk bergotong royong mengumpulkan makanan, burung-burung yang sibuk mengumpulkan biji-bijian dan di simpan di sarang, atau si Tupai yang sibuk mengumpulkan kacang dan buah kenari. Semua terlihat sibuk dengan kepentinganya masing-masing. Sedangkan si Kancil hanya bisa melihat mereka dengan senyum bahagia. sungguh kehidupan yang indah penuh harmoni.

 

Namun tiba-tiba si Kancil di kagetkan oleh suara ribut. Sepertinya ada yang tengah bertikai disana. Si Kancil segera mencari dari mana arah suara itu, dan dia menemukan empat sekawan yang sepertinya sedang ada masalah di antara mereka. Mereka adalah empat tupai bersaudara, yaitu Kiki, Koko, Kuku, dan Kaka. Mereka sepertinya sedang bertikai karena suatu hal. Si kanci akhirnya mendekati mereka, untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

 

“Hai kawan.. ada masalah apa disini..?”. Tanya kancil.
Mendengar ada suara yang bertanya pada mereka, kontan mereka berhenti berdebat dan memalingkan perhatian mereka ke arah kancil.
“Oh.. rupanya kamu cil. Kami sedang mencari pencuri yang mencuri makanan yang kami kumpulkan. Tapi masalahnya, tidak ada yang tahu tempat kami menyimpan makanan kecuali kami sendiri. Sehingga kami yakin, pencuri itu adalah salah satu di antara kami”. Jawab Kiki sebagai saudara tertua.
“Hmm.. jadi kalian berdebat untuk menentukan siapa yang mencuri makanan secara diam-diam? begitu..?”. tanya kancil lagi.
“Iya.. benar demikian. Tapi tanpa adanya saksi dan bukti yang jelas, kami hanya bisa saling tuduh tanpa bisa tahu kepastianya. Sehingga yang terjadi malah kami saling debat karena tak ada yang mau disalahkan dan diangap sebagai pencuri, termasuk aku”. Jawab Kiki lagi.

 

“Hmm.. jadi begitu ceritanya..? Cukup sulit dan rumit. apalagi tanpa adanya saksi dan bukti yang jelas. Beri aku waktu sebentar, aku akan coba mencari cara untuk menyelesaikan masalah ini”. Kata kancil.
Lalu kancil berjalan mondar mandir di sekitar tempat itu, sepertinya dia tangah mencari-cari sesuatu. Ibarat detektif yang sedang mencari bukti di tempat kejadian perkara. Matanya tajam menyusur ke segala arah, bahkan hingga detail terkecil. Dan beberapa saat kemudian, si Kancil terlihat tersenyum.
“Tunggu aku disini sebentar, aku ingin mengambil sesuatu”. Kata kancil sambil berlalu meningalkan empat bersaudara itu dengan tatapan bingung.

Beberapa saat kemudian, si kancil kembali. Namun kali ini dia membawa sebuah kantong kecil, entah apa isinya. Kiki, Koko, Kuku, dan Kaka saling pandang. Mereka bertanya-tanya sebenarnya apa yang akan dilakukan si Kancil kali ini. Karena tak bisa menahan rasa penasaranya, akhirnya Kuku bertanya..
“Apa yang kau bawa itu cil..? Bagaimana cara mu membantu masalah kami dengan kantong itu?”. tanya Kuku.
“Sabar.. bukan kantongnya yang akan kita gunakan. Tapi isi yang ada di dalam kantong ini yang akan bisa membantu masalah kita nanti. Isi yang ada di dalam kantong ini cukup spesial, dan hanya aku yang memilikinya. Bahkan si Harimau yang dikenal sebagai Raja Hutan, tak punya yang seperti ini”. Kata Kancil sambil tersenyum.

 

Tentu saja tingkah laku si kancil itu membuat empat bersaudara itu semakin penasaran.
“Memang itu isinya apa Cil..? Apa begitu spesial?”. Kali ini si Koko yang bertanya.
“Waaahhh.. kau tak tahu? Isi kantong ini sangat spesial.. karena ini kantong ini adalah hadiah dari Raja sulaiman khusus untuk ku”. jawab Kancil dengan percaya diri.
“Benarkah..?  Lalu apa kegunaanya..? Dan apa isi kantong itu..?”. Kali ini si Kaka yang bertanya.
“Kantong ini berisi empat kacang ajaib, dan kacang ini sangat berguna untuk membantu masalah kalian. Nanti, kalian akan ku beri satu kacang ajaib untuk masing-masing dari kalian.Lalu makan kacng itu sebelum kalian tidur. Siapa saja yang ternyata mencuri makanan kalian, maka ketika bangun mereka akan terkena hukuman. Akan tumbuh pohon kacang dari atas kepalanya, sehingga sudah bisa ditebak siapa yang mencuri”. Kata si kancil menjelaskan.

 

Setelah itu, si kancil membagi mereka masing-masing satu buah kacang, lalu si kancil pulang ke rumahnya.
Keesokan harinya, kancil kembali datang menemui mereka. Namun mereka malah terlihat semakin bingung, dan kembali terjadi cekcok diantara empat saudara itu.Si kancil sebenarnya sudah tahu mengapa empat bersaudara itu terlihat semakin bungung dan malah tambah ribut, karena dari empat bersaudara tersebut, tak ada satupun yang tumbuh kacang di kepalanya. Sehingga masalah terlihat semakin rumit.

 

“Sudah.. sudah.. tak usah saling menyalahkan lagi..Kalian tak usah bingung, nanti juga ketemu siap pencuri yang sebenarnya. Karena kalian sudah memakan kacang ajaib ku dan ternyata tidak terjadi apa-apa, berarti kalian semua bukan pencurinya. Tapi aku masih memiliki satu pertanyaan yang harus di jawab masing-masing dari kalian secara rahasia. Hanya antara aku dan yang bersangkutan saja. Jadi nanti tiap masing-masing dari kalian akan ku panggil, dan ku beri satu pertanyaan. Jawab saja dengan jujur dan yakin. Sedangkan yang belum ku panggil, silahkan berkumpul dan menunggu giliranya’. Kata kancil menjelaskan.

 

Empat bersaudara itu akhirnya mengikuti kemauan kancil. Setiap dari mereka dipanggil dan diberi satu pertanyaan, hingga semua selesai. Setelah itu, si kancil mendatangi mereka yang sudah berkumpul.
“Sekarang aku tahu siapa pencurinya..”. Kata kancil tiba-tiba.
Kontan saja hal tersebut membuat emapt bersaudara itu kaget, karena dari segi manapun, tak ada bukti bahwa pencurinya adalah salah satu dari mereka.
“Yang mencuri makanan kalian, adalah si Kuku, dan itu sudah pasti”. kata kancil dengan yakin.

 

Tentu saja si Kuku yang mendengar tuduhan tersebut merasa tidak terima, karena si kancil tidak memiliki bukti apapun dan hanya asal tuduh saja tanpa alasan.
Namun hal tersebut di tanggapi si kancil dengan senyuman saja. Lalu, si kancil mulai menjelaskan masalah yang sebenarnya..
“Sebenarnya.. kacang yang kalian makan itu bukan kacang ajaib, melainkan kacang biasa yang aku pungut. Aku mengatakan itu sebagai kacang ajaib memang untuk mengelabui kalian, agar si pencuri yang sebenarnya bisa ditemukan”.

 

“Bukankah aku pernah bilang, jika pencuri yang memakanya, maka akan tumbuh pohon kacang di atas kepalanya? Itu semua hanya akal-akalan ku saja. Aku berkata begitu, untuk menggertak si pencuri yang sebenarnya. Jika memang dia mencuri, pasti dia takut jika kepalanya tumbuh pohon kacang, maka dia akan ketahuan. Karena itu, dia tidak akan memakan kacang yang ku berikan.Sehingga dia tidak tahu bagaimana rasanya kacang yang ku berikan bukan?”.

 

“Tadi masing-masing dari kalian sudah ku tanyai satu persatu secara terpisah, dan pertanyaan ku cukup simpel. Bagaimana rasanya kacang yang kau makan..?Dan jawaban tiga dari kalian sama, kecuali si Kuku. Dia menjawab salah karena dia memang tidak tahu rasanya, sebab dia tidak memakan kacangnya. Kacang yang kuberikan pada kalian, sebelumnya sudah ku lumuri Asam jawa, sehingga rasanya pasti sedikit asam. Namun si Kuku menjawab bahwa rasa kacang itu sungguh lezat, dan tidak merasakan apapun. Nah, dari situ seharusnya kalian sudah faham bukan? Aku sudah membantu masalah kalian dalam mencari pencurinya, namun masalah lainya, itu sudah bukan urusan ku. Ingat..!! Kalian itu keluarga. Sebesar apapun kesalahan saudara kalian, maka jangan pelit untuk memberi ma’af ketika mereka menyatakan menyesal dan meminta kesempatan. sampai jumpa lagi, aku mau cari makan dulu’. Kata si kancil sambil berlalu.

 

Setelah mendengar penjelasan si Kancil, tentu si Kuku menjadi sangat malu. Dan dia akhirnya menyatakan menyesal dan meminta ma’af kepada saudara-saudaranya. Dia berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi. Sedangkan saudaranya akhirnya juga mema’afkan Kuku. Mereka ingat pada nasehat si Kancil, Bahwa sebuah keluarga tetaplah keluarga, meski terkadang mereka melakukan kesalahan, namun tidak ada salahnya memberi ma’af ketika mereka meminta ma’af dan menyatakan penyesalanya. Akhirnya setelah kejadian itu, empat bersaudara itu kembali hidup rukun, saling membantu, bergotong royong, dan menjadi lebih kompak.

Story by; Muhammad Rifai

 

Hikmah yang dapat dipetik: Adakalanya kita berbohong demi menutupi kesalahan sendiri dan menuding orang lain hanya demi lepas dari kesalahan. Namun harusnya kita juga sadar, Kebohongan tidak akan menyelesaikan masalah. Namun hanya menunda masalah tersebut hingga malah menjadi lebih besar lagi dikemudian hari. Dan sebuah keluarga, adalah tempat dimana kita bisa berbagi serta meminta pertolongan. Maka sebesar apapun kesalahan, jika itu masih saudaramu, maka ma’afkanlah ketika mereka meminta ma’af dan menyadari kesalahanya. Karena keluarga, adalah satu-satunya tempat mu untuk pulang. 🙂

Dongeng TUPAI dan RUBAH Sombong

Dongeng Tupai dan Rubah sombongSetelah si Rubah berhasil menipu Kancil pada kisah si Kancil dan jebakan pemburu sebelumnya, si Rubah langsung kembali ke tengah hutan eutopia dan menyebarkan kabar bahwa dirinya telah berhasil mengalahkan si kancil dengan kecerdikanya. Dia juga mengatakan bahwa si kancil telah mati karena di tangkap oleh pemburu, dan dengan itu si rubah menyatakan diri sebagai Raja baru di hutan itu yang harus di patuhi.

Tentu saja para hewan kaget dan tidak percaya mendengar kabar itu. Para hewan menjadi sangat resah dan bersedih, tentu saja selain para gajah yang melah menyambut kabar itu dengan suka cita. Bahkan para gajah mendukung si rubah untuk menjadi raja, dan siap saja yang tidak menurut, maka para gajah akan mengancam untuk menyakiti mereka. Tentu saja mendengar ancaman itu, para hewan menjadi takut dan tak ada yang berani melawan. Karena tak ada yang mau berurusan dengan para gajah yang memiliki tubuh kuat dan besar, akhirnya para hewan hanya pasrah.

Bahkan si rubah kini bersikap sangat sombong dan angkuh, setiap keperluanya minta di layani. Bahkan dia melarang para hewan untuk minum di sebuah kolam karena dia berdalih yang boleh minum di kolam itu hanyalah sang Raja hutan, yaitu dirinya sendiri. Karena di dukung oleh para gajah, tak ada satu hewan pun yang berani membantah peraturan aneh itu Mereka hanya bisa pasrah dan menuruti peraturan tidak masuk akal yang di buat oleh si rubah.

Diam-diam si kancil yang berhasil selamat dari para pemburu selalu memperhatikan polah tingkah si rubah ini. Si kancil mendapat cukup informasi penting berkat bantuan para gagak. Dan si kancilpun tidak tinggal diam, dia telah membuat rencana untuk mengalahkan si rubah yang sudah kelewatan itu. Si kancil meminta bantuan gagak untuk memanggil Tupai, agar si tupai mau menemui si kancil secara diam-diam. Dan setelah si tupai datang, si kancil menjelaskan rencana apa saja yang harus di jalankan oleh si tupai. si kancil hanya akan memperhatikan saja kejadian selanjutnya.

Setelah mendepat penjelasan dari si kancil tentang kelicikan si rubah yang telah menipunya, si tupai menjadi sangat bersemangat untuk membalas perbuatan si rubah pada kancil. Si tupai lalu pergi menemui para hewan-hewan lain dan mengabarkan bahwa si kancil masih hidup, dan para hewan harus merahasiakanya. Mendengar kabar tersebut, tentu para hewan sangat senang dan merasa sangat bersyukur. Karena si kancil yang terkenal baik hati itu telah diselamatkan Tuhan dari mara bahaya. Lalu mereka sepakat untuk melakukan rencana yang telah di rancang oleh si kancil.

Esok harinya, si rubah datang ke kolam untuk minum seperti biasa. Namun alangkah terkejutnya dia ketika melihat seekor tupai yang juga minum di kolam yang telah di akui si rubah sebagai kolam pribadinya. “Hai tupai bodoh..!! Berani benar kau minum di kolam ku? apakah kau tak tahu bahwa yang boleh minukm di kolam ini hanya sang raja, yaitu aku?”. Kata rubah dengan nada tinggi.

dongeng tupai dan rubah
Tupai

Namun si tupai mengacuhkan perkataan si rubah, lalu dengan santainya si tupai menjawab.. “Ma’af ya rubah.. bagi bangsa tupai, kau belum bisa di akui sebagai raja jika kau belum bisa mengalahkan kami sebagaimana si kancil yang mengalahkan kami dulu. Kami punya aturan sendiri dalam memilih seorang raja”. Kata tupai dengan santainya. “Apa kau bilang? Aku harus mengalahkan kalian dalam hal apa? Jika si kancil saja bisa, tentu aku lebih bisa dari dia. Ayo kita lakukan, maka aku akan mengalahkan kamu dan kamu harus mengakui aku sebagai raja mu”. Kata rubah dengan angkuhnya.

“Baik.. tapi aku harus memanggil dan mengumpulkan para hewan untuk menonton sebagai saksi. Agar seluruh hewan tahu kau layak menjadi raja atu tidak”. Kata tupai. “Baik.. siapa takut?”. kata rubah sedikit merendahkan. Lalu si tupai memanggil seluruh hewan yang memang sudah bersiap-siap untuk melaksanakan siasat kancil. Suasana kolampun menjadi ramai oleh para hewan yang menonton di sekeliling kolam.

“Sekarang semua sudah berkumpul, lalu apa yang harus aku lakukan untuk bisa mengalahkan mu?”. Tanya rubah. “Begini rubah.. kami para tupai terkenal sebagai hewan yang pandai melompat. Kami ahli dalam melompat, dan lompatan kami bisa cukup jauh. Sekarang, jika kau bisa mengalahkan lompatan ku, maka aku akan mengakui kehebatan mu dan mengakui mu sebagai raja ku”. Jawab tupai. “Hahahahaha.. kalau cuma itu, kamu pasti kalah. Baiklah tak usah banyak basa basi, langsung saja kita mulai lomba ini”. Pinta rubah.

Akhirnya perlombaan pun di mulai dengan di tonton oleh banyak hewan-hewan di hutan. Sio tupai melakukan lompatan terlebih dahulu. Tupai melompat dari pinggir kolam dan mendarat di atas daun talas yang cukup lebar di tengah kolam. Karena tubuh tupai yang ringan, daun talas itu mampu menopang tubuhnya sehingga tidak tenggelam. Melihat lompatan tupai yang tidak seberapa jauh, si rubah menjadi tambah sombong dan angkuh. Di dalam hatinya dia menertawakan lompatan si tupai yang tidak terlalu jauh, bahkan dirinya mampu beberapa kali lipat lebih jauh dari itu. Si rubah sudah yakin bahwa dirinya akan menang.

Rubah lalu mundur beberapa langkah untuk mengambil ancang-ancang, kemudian dia berlari cukup cepat dan melompat tinggi dan sangat jauh. Bahkan lompatan tupai tak ada apa-apanya, si rubah melompat jauh hingga ke tengah kolam. tentu saja rubah melompat dengan sombongnya karena sudah yakin pasti menang. Tapi karena kepalanya sudah di penuhi sifat sombong, dia tidak berfikir bahya yang dapatmengancam dirinya. Tubuh rubah terjun dan mendarat di tengah kolam yang dalam, rubah baru sadar bahaya yang mengintainya karena rubah tidak bisa berenang.

Namun sial, semua sudah terlambat ketika rubah menyadari itu. Tubuhnya sudah tercebur ke tengah kolam. Dia melambai-lambai minta tolong karena dia hampir tenggelam. “Tolong..!! Toloong akuuu!! Aku tidak bisa berenang.. Ma’afkan aku..!! Tolong..!! Aku berjanji akan berbuat baik dan memperbaikai semua kelakuan ku selama ini. Tolong..!!”. Teriak rubah.

Melihat rubah yang hampir mati tenggelam, si Kancil yang bersembunyi bersama kerumunan hewan meminta Berang-berang untuk berenang dan menyelamatkanya. Setelah si rubah di bawa ke daratan, betapa terkejutnya dia melihat kancil yang masih hidup dan tak kurang suatu apapun. si rubah lalu meminta ma’af pada kancil dan menceritakan bahwa semua itu karena hasutan para gajah. Akhirnya kesalah fahaman antara rubah dan kancil berhasil di selesaikan, merekapun akhirnnya berteman. Kini, si kancil ingin sekali membuat para gajah yang berbuat ulah itu kapok. Kira-kira rencana apa yang akan di buat oleh si kancil? Tunggu di cerita berikutnya ya.. 🙂

Story By: Muhammad Rifai

Hikmah yang bisa Kita Petik: Terkadang sifat sombong dan angkuh mampu menutup akal sehat. Sehingga kita mudah terpancing bujuk rayu serta siasat tanpa berfikir bahay yang mungkin dapat mengancam kita. oleh karena itu, sifat sombong harus sangat kita jauhi sebelum semua terlambat.