Dongeng KANCIL, SINGA dan TIKUS

Dongeng Kancil Terbaru – Dongeng Kancil, Singa, dan Tikus | Di daratan Eutopia, ada salah satu hewan yang dijuluki juga sebagai raja hutan selain Harimau. Dia adalah sang Singa. Namun singa lebih senang hidup di padang rumput dengan alam yang lebih terbuka. Dia selalu menjaga wilayahnya dari para hewan yang ingin berbuat onar di daerah kekuasaanya.

Sebagaimana si Harimau, singa juga memiliki sifat yang sombong sebagaimana seorang raja. Dia cukup angkuh dan merasa tidak terkalahkan. Bahkan dia sering memandang rendah hewan yang lebih lemah darinya. Si kancil pernah beberapa kali bertemu dengan singa, namun dia bisa bersembunyi untuk menghindar. Berbeda dengan harimau, sifat singa sedikit lebih tenang. Bahkan terkesan cukup malas. Hari-harinya selalu di isi dengan tidur. Dia hanya berburu ketika perutnya sedang lapar saja.

Pada suatu hari ketika si singa tengah tertidur nyenyak, ada seekor tikus yang tidak sengaja tersesat ke sarangnya. Tikus itu tanpa sengaja membangunkan singa yang sedang tertidur itu. Kontan saja singa yanf merasa terusik itu sangat marah dan mengaum dengan keras. Auman singa cukup menakutkan bagi setiap yang mendengar. Bahkan aumanya dapat di dengar hingga jarak cukup jauh di seluruh penjuru hutan.

Melihat singa yang marah, tikus yang malang itu merasa sangat ketakutan. Dia merasa kini ajalnya mungkin akan datang karena di makan oleh singa. Namun tiba-tiba saja si kancil datang, dia mencoba menengahi untuk menenangkan singa tersebut.
“Eh.. singa.. tunggu dulu. Jika kau memakan tikus malang ini, maka martabat mu sebagai raja hutan akan tercoreng. Kau akan sangat rugi. Selain tidak kenyang.. kau juga akan di kenal sebagai hewan rakus yang bahkan memakan tikus yang kurang bergizi”. Kata kancil.
“Apa maksut mu cil..? Apa kau meledek ku?”. Kata singa masih geram.
“Bukan itu masalahnya.. aku hanya ingin menyelamatkan harga diri mu. Jika kau memakan tikus ini, maka kau tak lebih dari hewan berkuku dengan taring besar.. namun selera makan mu kacangan dan tak bermutu. Bayangkan saja jika seluruh penghuni hutan tahu, pasti mereka akan menertawakan mu”. Jelas kancil.

“Lalu.. apa yang harus aku lakukan? Tikus ini sudah mengganggu tidur ku”. Tanya singa lagi.
“Sebagai raja.. kau harus belajar untuk mengampuni. Biarkan dia pergi. Mungkin saja kelak dia justru bisa menolong mu ketika kau kesusahan”. Jawab kancil.
“Hahahahaha… aku? Kesusahan? Lalu ditolong tikus? Mana mungkin.?? Aku ini raja hutan yang paling kuat. Bahkan harimau saja tak sebanding. Tak ada yang berani macam-macam dengan ku. Itu mustahil.. hahahaha..”. Kata singa dengan sombongnya.
“Baiklah.. mau mustahil atau tidak, roda nasib tak ada yang tahu. Jadi bagaimana singa? Apa kau mau melepaskanya?”. Tanya kancil lagi.
“Baiklah.. kali ini dia aku lepaskan. Tapi bukan karena alasan yang kau sebutkan.. tapi memang karena aku masih kenyang.. jadi, cepat pergi sebelum aku berubah fikiran..”. Kata singa sambil kembali memejamkan mata untuk melanjutkan tidurnya. Sementara kancil dan tikus segera pergi dari tempat itu.

Beberapa bulan berlalu setelah kejadian itu. Hingga pada suatu hari, singa di timpa musibah. Ketika tengah mencari mangsa, singa terjerat oleh jaring yang di pasang pemburu. Dia sudah berusaha lepas, tapi tak berhasil. Jaring itu dirajut dengan tali yang cukup kuat. Hingga dua hari lamanya singa terjebak. Tanpa makan dan minum, sehingga membuat singa lemas kehabisan tenaga. Bahkan untuk mengaum saja dia sudah tidak sanggup. Namun takdir sepertinya masih berpihak pada si singa. Tikus yang dulu dia lepaskan, tidak sengaja lewat tempat itu.

Melihat singa yang sekarat, tikus itu langsung berusaha menolongnya. Dia menggigit setiap tali jaring itu hingga putus. Setelah semua tali putus, singa itu akhirnya bisa bebas. Melihat bahwa nyawanya diselamatkan oleh seekor tikus yang dulu dia remehkan, membuat singa merasa malu. Kini dia belajar akan satu hal.. kemampuan itu tidak hanya dilihat dari penampilan luar saja. Singa merasa bersyukur, bahwa dulu dia mengambil keputusan yang benar dengan melepaskan si tikus. Andai saja dulu dia tidak melepaskan si tikus, niscaya nyawanya sudah tidak tertolong.

Singa mengucapkan terimakasih kepada tikus. Dia juga meminta ma’af jika dahulu dia menghina si tikus. Tikus itu hanya tersenym, karena dia sudah lama mema’afkan singa dan merasa tidak terjadi masalah. Sejak saat itu, tikus dan singa menjadi sahabat. Singa berjanji akan dengan senang hati membantu tikus ketika tikus dalam kesulitan. Sebagai wujut balas budi di hari itu.

Story by: Muhammad Rifai

Hikmah: Kemampuan seseorang, itu tidak dapat dinilai dari penampilanya saja. Terkadang orang yang kita anggap remeh, lebih hebat dari pada kita sendiri.

Dongeng KANCIL, TIKUS dan GAJAH

Dongeng Kancil, Tikus dan Gajah – Setelah cerita tentang si Kancil menolong Kerbau pada dongeng sebelumnya, kini cerita si kancil berlanjut. Kancil dan kerbau akhirnya melarikan diri bersama, dan si kerbau membawa si kancil untuk memperkenalkan pada teman-temanya. Kerbau sangat berterimakasih atas bantuan si kancil, karena berkat si kancil, kerbau terbebas dari bahaya buaya yang ingin memakanya. Sepanjang jalan kancil dan kerbau saling bercerita tentang diri mereka masing-masing. Perjalanan itu membuat mereka berdua semakin akrab.
Akan tetapi ketika si kancil dan kerbau melewati sebuah hutan rotan, mereka berdua dikejutkan oleh sebuah suara. Suara tangisan yang sungguh mengharukan, sehingga mereka berdua sepakat untuk mencari arah suara itu dan berniat untuk membantu. Tak lama kemudian, mereka melihat ada seekor tikus yang sedang menangis di atas sebuah batu. Kancil dan kerbau lalu menghampiri tikus itu dan bertanya apa masalah yang menimpanya. Ternyata tikus itu adalah kepala suku kolpni tikus, dia menangis karena tak mampu mencari jalan keluar atas masalah yang menimpa rakyatnya. 
Beberapa waktu lalu, sekawanan gajah datang dan memporak porandakan kampungya. Gajah-gajah itu datang memakan dan menghancurkan hutan rotan yang menjadi kampung mereka. Bukan hanya sekali, tapi gajah-gajah itu selalu datang setiap minggu. Dan para tikus tak kuasa untuk mencegahnya karena tubuh mereka yang kecil. Sang kepala suku merasa sangat bersalah, karena dia merasa tak mampu melindungi rakyat yang seharusnya dia jaga. Mendengar penjelasan si tikus, kancil dan kerbau menjadi sangat iba. “Tenanglah sobat.. Teman ku kancil pasti akan membantu mu. Dia sangat pintar, bahkan dia baru saja menyelamatkan nyawa ku dari buaya yang hampir memakan ku”. Kata kerbau. “Ah.. tak usah memuji ku seperti itu. Menolong yang kesusahan memang sudah menjadi kewajiban ku ketika aku mampu”. Kata kancil merendah.
“Benarkah itu? Tuan kancil ini bisa mengalahkan buaya? Kalau begitu, maukah tuan kancil membantu kami juga? Apapun imbalan yang tuan kancil minta, pasti akan kami berikan selama kami sanggup”. Pinta si Tikus. “Tenanglah pak tikus.. kau tak usah memikirkan imbalan apapun, aku huga tak akan memintanya. Aku akan mencoba menolong kalian sebisa ku, akan ku cari cara supaya gajah-gajah itu tak berani lagi mengganggu kampung kalian..”. Jawab si kancil ramah. Mendengar jawaban itu, si tikus menjadi sangat lega, dan dia mengucapkan banyak-banyak tetimakasih pada si kancil.
Si kancil lalu diam sejenak, dia berfikir cara apa yang tepat untuk membuat jera para gajah itu. Wajah kancil tampak serius, bertanda bahwa otaknya tengah berfikir keras. Selang beberapa lama, tiba-tiba kancil tersenyum. Bertanda dia telah menemukan sebuah ide yang tepat. “Hai tikus.. kumpulkan semua rakyat mu. Aku akan memberitahu caranya..”. Kata si kancil. Mebdengar itu, si tikus menjadi sangat gembira. Dia lalu mengumpulkan semua rakyatnya untuk mendengarkan siasat kancil. Si kerbau menjadi semakin kagum pada si kancil sahabatnya itu. Dia melihat si kancil dengan senyum kebanggaan, karena dia memiliki sahabat yang sangat cerdas dan baik hati seperti si kancil.
Setelah para tikus berkumpul, kancil lalu mengumumkan apa rencana yang akan digunakan. Intinya, mereka harus melakukan semua langkah-langkah yang diajarkan si kancil dengan tepat. “Nanti.. semua harus sembunyi, dan keluar sesuai aba-aba dari ku. Biar aku dan pak tikus kepala suku yang akan menghadapi mereka. Kalian bersembunyilah, kerbau sahabat ku akan ikut kalian dan menjaga kalian dalam persembunyian”. Kata kancil. Para tikus menyanggupi, dan mereka yakin pasti cara itu akan berhasil dan mampu membuat para gajah jera. Timbul harapan yang cukup besar di hati mereka, dan berdo’a agar cara mereka kali ini akan mampu membuat kehidupan mereka lebih aman tanpa ada gangguan dari siapapun. 

Akhirnya, hari yang ditunggu tiba. Para gajah datang dan memporak porandakan hutan rotan itu seperti biasa. Ketika para gajah tengah asik berpesta pora, tiba-tiba kancil datang bersama pak tikus yang ada di atas kepalanya. “Hai kalian.. hentikan kerusakan yang kalian buat. Apa kalian tak tahu ini rumah para tikus? Carilah tempat yang lain, lagipula hutan ini luas”. Teriak kancil. Para gajah terkejut ketika mereka mendengar ada yanf meneriaki mereka. Lalu seekor gajah yang hitam dan besar yang menjadi ketua getomblan itu, datang menghampiri kancil.
“Hai.. apa urusan mu hewan kerdil? Walau kami tahu ini rumah para tikus, kami suka makan di sini. Tak ada yang bisa menghentikan kami. Kami kuat, bahkan singa dan harimau saja tak berkutik melawan kami. Hahaha..”. Kata gajah itu dengan sombongnya. Tentu saja hal itu membuat kancil semakin geram. “Siapa bilang tak ada yang bisa mengalahkan kalian? Apa kalian tahu? Selama ini bangsa tikus sudah cukup sabar menghadapi ulah kalian. Jika saja para tikus marah, kalian bisa saja dimakan hingga tak bersisa”. Kata si kancil. 
Mendengar perkataan si kancil, para gajah malah tertawa mengejek. “Hahaha.. Tikus? Memakan kami? Jangan mimpi.. !! Mereka yang kecil itu bisa apa? Singa dan harimau yang memiliki gigi tajam saja tak bisa mengalahkan kami, apa lagi tikus yang kecil itu. Kami injak sekali saja sudah gepeng..”. Kata gajah semakin angkuh. “Oooo.. ternyata kalian memang tak bisa diingatkan hanya dengan bicara ya. Lihaylah.. tikus di kepalaku sudah mulai marah.. sebenarnya, seberapa keras kulit kalian? Apa lebih keras dari pohon di sana?”. Kata kancil sambil menunjuk sebuah pohon besar.
“Lihat baik-baik hai gajah..!! Tikus sahabat ku ini sudah mulai marah dan lapar. Dan biasanya jika dia lapar, dia bis memakan apapun. Jangankan cuma daging mu, pohon yang keras saja tak ada artinya untuk tikus..”. Kata kancil sembari memberi isyarat pada tikus untuk mulai beraksi. Faham dengan isyarat kancil, tikus itupun berlagak memasang perangai ganas. Seperti hewan yang kelaparan, tikus itu turun lalu berlari ke arah pohon besar lalu mengerat pohon itu hingga tumbang dengan gigi-giginya yang tajam. Melihat hal itu, para gajah sangat terkejut. Mereka mengira bahwa tikus memang hewan ganas yang cukup kuat dan bisa memakan segalanya, termasuk gajah.
Melihat gajah sudah mulai panik, si kancil lalu kembali memberi isyarat. Tak lama kemudian, ratusan tikus yang tadinya bersembunyi kini keluar. Mereka juga seolah-olah bersikap sangat ganas dan mengepung para gajah. Para gajah kali ini benar-benar sangat ketakutan. Dan akhirnya mereka sefera lari kalang kabut karena takut jika para tikus mengejar dan akan memangsa mereka. Melihat itu, kancil, kerbau, dan para tikus tertawa terbahak-bahak. Mereka sangat bersyukur bahwa cara mereka benar-benar berhasil mengusir para gajah itu.
Para tikus sangat berterimakasih pada kancil dan kerbau yang telah membantunya. Kancil dan kerbau hanya bisa tersenyum, lalu mereka berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. Para tikus berkumpul dan mengantarkan kepergian si kancil dengan penuh haru dan rasa syukur. Sejak saat itu, para gajah tak ada lagi yang berani datang mengganggu para tikus. Bahkan setiap meihat tikus, para gajah akan lari ketakutan. Dan hal itu, berlanjut hingga masa sekarang. 
***

blog dongeng kancil

Hikmah yang dapat dipetik: Setiap kesombongan itu buruk, maka jangan suka sombong dan meremehkan yang terlihat lebih lemah. Karena setiap makhluk tercipta dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dan harus bisa saling menghargai satu sama lain.
Pengarang: Muhammad Rifai