Kisah si KANCIL dan BULAN Kembar

Kisah si KANCIL dan BULAN Kembar – Kita tinggalkan dahulu sejenak tentang cerita monyet yang nakal pada kisah yang lalu. Sementara si monyet dalam pelarianya untuk mencari perlindungan karena ulahnya sendiri, di dalam hutan masih ada masalah lain. Kali ini, hutan juga kembali dibuat resah oleh ulah si rubah yang nakal. Rubah dikenal cukup cerdas dan banyak akal, tak kalah cerdik dengan si kancil. Namun sayangnya, si rubah sedikit usil dan nakal. Dis sering menggunakan kecerdikanya untuk menipu dan memperdaya hewan lain.

Beberapa bulan yang lalu, si rubah menawarkan sebuah perjanjian pada kelinci dan, tupai, dan beberapa hewan lain. Dia berjanji, jika mereka mau menyerahkan makanan mereka, maka mereka akan mendapatkan 2x lipat dari yang mereka berikan jika sudah sampai dua bulan. Banyak hewan yang tertarik dengan tawaran itu, sehingga si rubah mendapatkan banyak sekali makanan dari para hewan-hewan itu. Dengan harapan, makanan mereka akan kembali menjadi 2x lipat setelah masa 2 bulan. Namun setelah masa 2 bulan selesai, masalah muncul. Ketika para hewan menagih janji si rubah, si rubah berkilah bahwa belum ada 2 bulan. Sedangkan dia berjanji akan mengembalikan semua makanan menjadi 2x lipat setelah ada 2 bulan, dan sekarang belum ada 2 bulan.

Maka terjadi perdebatan diantara para hewan dan si rubah. Dan kedua belah pihak sama-sama bersikukuh bahwa mereka tidak salah. Akhirnya, mereka sepakat untuk membawa masalah tersebut pada si kancil. Berharap si kancil cukup bijak untuk memberi solusi yang tepat. Di lain tempat, si kancil sendiri sudah cukup memiliki banyak masalah yang harus diselesaikan. Termasuk masalah tentang si monyet yang sampai sekarang belum ditemukan. Tentu saja si kancil terkejut ketika melihat para hewan berbondong-bondong menemuinya bersama si rubah. “eh.. Ada apa ini? Kenapa kalian ramai begini?”. Tanya kancil penasaran.

dongeng kancil dan bulan kembar
Bayangan Bulan

Lalu si kelincipun maju untuk menjelaskan duduk masalahnya. Setelah mendengar penjelasan si kelinci, si kancil akhirnya mencoba untuk memberi solusi. “Jika yang dikatakan kelinci itu benar, maka si rubah harus segera menepati janjinya. Rubah, benarkah kamu berjanji demikian?”. Tanya si kancil memastikan. “Benar.. Aku berjanji pada mereka aku akan mengembalikan makanan mereka 2x lipat setelah ada 2 bulan”. Jawab rubah. “Nah.. Sudah jelas bukan, kini sudah sampai masa 2 bulan. Jadi kamu harus mengembalikan makanan mereka seperti janji mu”. Kata kancil. “Eh.. Mana bisa?? Aku kan janji jika sudah ada dua bulan, sekarang belum ada dua bulan”. Jawab rubah ngotot. “hmm.. Bagaimana bisa belum ada dua bulan, kata mereka sudah lebih dari dua bulan”. Tanya kancil semakin bingung. “Nah.. Sekarang kau tengok bulan di atas itu, ada berapa?”. Tanya rubah. “Cuma satu, lha dari dulu memang ada satukan?”. Jawab kancil. “lha itu kamu sudah tahu, bulan masih satu. Belum ada dua bulan. Jika sudah ada dua bulan, aku akan mengembalikan makanan mereka 2x lipat seperti janji ku. Benar apa betul?”. Kata rubah dengan entengnya.

Mendengar penjelasan rubah, si kancil terkejut. Karena apa yang di katakan rubah cukup masuk akal, dan tidak salah. Dia janji jika sudah ada dua bulan, dan hingga kini masih ada satu buah bulan. Tidak salah. Namun si kancil sedikit geram. Jika begitu kenyataanya, berarti si rubah sama saja menipu para hewan mentah-mentah. Kancil mencoba berfikir keras, namun karena terlalu banyak masalah yang sedang dia hadapi, otaknya belum mampu berfikir jernih. Namun jika dibiarkan, dia merasa kasihan pada para hewan-hewan yang sudah ditipu. Namun sekeras apapun dia berfikir, tak satupun ide dia dapatkan. Akhirnya, si kancil meminta waktu satu hari untuk menetapkan keputusan masalah tersebut. Dan dia meminta agar para hewan dan rubah kembali berkumpul di tempat itu besok malam.

Setelah rubah dan para hewan kembali ke rumah masing-masing, si kancil mencoba menyendiri untuk menenangkan diri. Suasana malam yang sunyi serta sinar bulan yang terang di angkasa, sedikit mampu membantu fikiranya agar lebih rileks. Dia berjalan ke arah sungai, berharap suara gemericik air mampu memberi ketenangan tersendiri. Namun sudah hampir satu jam lebih si kancil duduk di pinggir sungai, belum juga satu ide muncul di kepalanya. Karena merasa haus, akhirnya si kancil berjalan ke tepian sungai untuk minum air. Karena cahaya bulan yang terang, pantulan bayanganya sampai terlihat di air yang bening. Dan secara tak sengaja, dia menemukan sebuah solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah rubah ini. Kini, si kancil dapat pulang dengan tenang dan tidur dengan nyenyak.

Pada malam berikutnya, semua hewan dan juga si rubah kembali berkumpul sebagaimana permintaan si kancil. Si rubah tampak santai tanpa rasa bersalah, dan dia cukup yakin bahwa si kancil tak akan menemukan solusi apapun. Setelah semua berkumpul, si kancil akhirnya datang dan berdiri di atas sebuh tunggak pohon laksana mimbar. “Wahai para hewan, malam ini aku akan memutuskan. Jadi harap tenang. Setelah ku timang-timang semalaman, si rubah ku nyatakan tidak bersalah. Karena dia berkata bahwa dia akan mengembalikan makanan kalian jika sudah ada dua bulan, bukan masa dua bulan. Dan seperti yang kita tahu, bulan itu hanya satu. Jadi selama bulan belum ada dua, maka si rubah tidak akan di tuntut apapun untuk mengembalikan makanan kalian”. Mendengar perkataan si kancil, para hewan menjadi ribut. Banyak yang tidak terima pada keputusan itu, dan ada juga yang menyalahkan kebodohan diri mereka sendiri. Bahkan ada juga yang marah-marah pada si kancil dan berkata bahwa kancil itu tidak secerdik dan sebijak yang di kabarkan. Sedangkan si rubah tampak menunjukan senyum kemenanganya.

Melihat reaksi tersebut, si kancil berusaha tetap tenang dan melanjutkan kata-katanya. “Tenang..!! Tenang..!! Aku belum selesai. Ku pastikan tak akan ada yang merasa dirugikan di sini. Dan asal kalian tahu, ternyata apa yang dikatakan rubah itu benar, dia tidak berbohong. Karena ketika semalam aku jalan-jalan, aku melihat ada dua bulan dengan kedua mataku sendiri. Jadi dengan begitu, si rubah harus mengembalikan makanan kalian 2x lipat seperti yang dia janjikan”. Sambung kancil. Mendengar hal itu, para hewan bersorak sorai, mereka sangat senang pada keputusan si kancil. Terkecuali si rubah. Dia marah-marah dan menuduh bahwa si kancil berbohong dan hanya mengada-ada. “Hai kancil.. Kau pasti bohong. Mana ada dua bulan? Aku masih melihat hanya ada satu bulan hingga sekarang. Buktinya sudah jelas, bulan hanya ada satu seperti yang kita lihat. Aku tidak terima keputusan ini, kau pasti ingin menipuku. Aku membutuhkan bukti dan harus melihatnya sendiri, baru aku akan percaya dan menerima keputusan mu”. Kata rubah sambil marah-marah.

Kancil hanya tersenyum kecil mihat tingkah si rubah. “Hmm.. Baik.. Aku akan membuktikan bahwa aku tidak bohong. Bukan hanya kamu, tapi semua hewan juga akan melihat bahwa dua bulan itu memang ada. Ayo, sekarang kalian semua ikut aku”. Ajak kancil. Akhirnya mereka mengikuti kancil menuju pinggir sungai. Dan mereka berhenti di sana, mencoba mencari dua bulan yang di katakan si kancil. Namun mereka tidak menemukan apapun kecuali pohon dan air saja. “hai cil.. mana dua bulan yang kau katakan? Aku tidak menemukan apapun di sini”. Tanya rubah.”Sabar dulu lah.. Kalian semua pasti akan melihatnya sendiri. Sekarang kalian ke tepi sungai, lalu lihat ke dalam air”. Pinta kancil. Merekapun menuruti kata si kancil, dan melihat ke dalam sungai.

 “Apa yang kalian lihat?”. Tanya kancil. “Kami hanya melihat air”. Jawab mereka. “Selain itu..?”. Tanya kancil lagi. “Bayangan kami sendiri karena cahaya bulan purnama yang cukup terang”. Jawab mereka lagi.”Nah.. Kalau begitu kalian harusnya juga bisa melihat bulan kan? Jadi, sekarang kalian melihat ada berapa bulan? Ada dua bulan kan?”. Kata kancil. Mendengar penjelasan si kancil, para hewan semakin gembira. Karena ternyata kini si kancil bisa membuktikan bahwa memang ada dua bulan. Satu di angkasa, satunya lagi di dalam air. Hanya satu hewan saja yang tertunduk lemas, dialah si rubah. Karena setelah malam itu, dia harus bekerja keras untuk mengembalikan semua makanan para hewan yang sudah diambilnya menjadi 2x lipat seperti yang dia janjikan. Dan dia kini mengakui, bahwa kancil telah mengalahkanya lagi.

 Story by: Muhammad Rifai 

Hikmah yang dapat dipetik: Terkadang, banyak orang cerdas namun menggunakan kecerdasanya untuk kepentingan pribadi. Seperti menipu dan mengambil hak orang lain. Namun sebagaimana yang kita tahu, setiap perbuatan akan mendatangkan akibat dikemudian hari. Baik atau buruk, semua ada balasanya. Oleh karena itu, gunakan kecerdasan dan ilmu mu agar bisa bermanfa’at bagi orang banyak. Jika kamu menanam kebaikan, kelak juga akan berbuah baik. 🙂

Dongeng TUPAI dan RUBAH Sombong

Dongeng Tupai dan Rubah sombongSetelah si Rubah berhasil menipu Kancil pada kisah si Kancil dan jebakan pemburu sebelumnya, si Rubah langsung kembali ke tengah hutan eutopia dan menyebarkan kabar bahwa dirinya telah berhasil mengalahkan si kancil dengan kecerdikanya. Dia juga mengatakan bahwa si kancil telah mati karena di tangkap oleh pemburu, dan dengan itu si rubah menyatakan diri sebagai Raja baru di hutan itu yang harus di patuhi.

Tentu saja para hewan kaget dan tidak percaya mendengar kabar itu. Para hewan menjadi sangat resah dan bersedih, tentu saja selain para gajah yang melah menyambut kabar itu dengan suka cita. Bahkan para gajah mendukung si rubah untuk menjadi raja, dan siap saja yang tidak menurut, maka para gajah akan mengancam untuk menyakiti mereka. Tentu saja mendengar ancaman itu, para hewan menjadi takut dan tak ada yang berani melawan. Karena tak ada yang mau berurusan dengan para gajah yang memiliki tubuh kuat dan besar, akhirnya para hewan hanya pasrah.

Bahkan si rubah kini bersikap sangat sombong dan angkuh, setiap keperluanya minta di layani. Bahkan dia melarang para hewan untuk minum di sebuah kolam karena dia berdalih yang boleh minum di kolam itu hanyalah sang Raja hutan, yaitu dirinya sendiri. Karena di dukung oleh para gajah, tak ada satu hewan pun yang berani membantah peraturan aneh itu Mereka hanya bisa pasrah dan menuruti peraturan tidak masuk akal yang di buat oleh si rubah.

Diam-diam si kancil yang berhasil selamat dari para pemburu selalu memperhatikan polah tingkah si rubah ini. Si kancil mendapat cukup informasi penting berkat bantuan para gagak. Dan si kancilpun tidak tinggal diam, dia telah membuat rencana untuk mengalahkan si rubah yang sudah kelewatan itu. Si kancil meminta bantuan gagak untuk memanggil Tupai, agar si tupai mau menemui si kancil secara diam-diam. Dan setelah si tupai datang, si kancil menjelaskan rencana apa saja yang harus di jalankan oleh si tupai. si kancil hanya akan memperhatikan saja kejadian selanjutnya.

Setelah mendepat penjelasan dari si kancil tentang kelicikan si rubah yang telah menipunya, si tupai menjadi sangat bersemangat untuk membalas perbuatan si rubah pada kancil. Si tupai lalu pergi menemui para hewan-hewan lain dan mengabarkan bahwa si kancil masih hidup, dan para hewan harus merahasiakanya. Mendengar kabar tersebut, tentu para hewan sangat senang dan merasa sangat bersyukur. Karena si kancil yang terkenal baik hati itu telah diselamatkan Tuhan dari mara bahaya. Lalu mereka sepakat untuk melakukan rencana yang telah di rancang oleh si kancil.

Esok harinya, si rubah datang ke kolam untuk minum seperti biasa. Namun alangkah terkejutnya dia ketika melihat seekor tupai yang juga minum di kolam yang telah di akui si rubah sebagai kolam pribadinya. “Hai tupai bodoh..!! Berani benar kau minum di kolam ku? apakah kau tak tahu bahwa yang boleh minukm di kolam ini hanya sang raja, yaitu aku?”. Kata rubah dengan nada tinggi.

dongeng tupai dan rubah
Tupai

Namun si tupai mengacuhkan perkataan si rubah, lalu dengan santainya si tupai menjawab.. “Ma’af ya rubah.. bagi bangsa tupai, kau belum bisa di akui sebagai raja jika kau belum bisa mengalahkan kami sebagaimana si kancil yang mengalahkan kami dulu. Kami punya aturan sendiri dalam memilih seorang raja”. Kata tupai dengan santainya. “Apa kau bilang? Aku harus mengalahkan kalian dalam hal apa? Jika si kancil saja bisa, tentu aku lebih bisa dari dia. Ayo kita lakukan, maka aku akan mengalahkan kamu dan kamu harus mengakui aku sebagai raja mu”. Kata rubah dengan angkuhnya.

“Baik.. tapi aku harus memanggil dan mengumpulkan para hewan untuk menonton sebagai saksi. Agar seluruh hewan tahu kau layak menjadi raja atu tidak”. Kata tupai. “Baik.. siapa takut?”. kata rubah sedikit merendahkan. Lalu si tupai memanggil seluruh hewan yang memang sudah bersiap-siap untuk melaksanakan siasat kancil. Suasana kolampun menjadi ramai oleh para hewan yang menonton di sekeliling kolam.

“Sekarang semua sudah berkumpul, lalu apa yang harus aku lakukan untuk bisa mengalahkan mu?”. Tanya rubah. “Begini rubah.. kami para tupai terkenal sebagai hewan yang pandai melompat. Kami ahli dalam melompat, dan lompatan kami bisa cukup jauh. Sekarang, jika kau bisa mengalahkan lompatan ku, maka aku akan mengakui kehebatan mu dan mengakui mu sebagai raja ku”. Jawab tupai. “Hahahahaha.. kalau cuma itu, kamu pasti kalah. Baiklah tak usah banyak basa basi, langsung saja kita mulai lomba ini”. Pinta rubah.

Akhirnya perlombaan pun di mulai dengan di tonton oleh banyak hewan-hewan di hutan. Sio tupai melakukan lompatan terlebih dahulu. Tupai melompat dari pinggir kolam dan mendarat di atas daun talas yang cukup lebar di tengah kolam. Karena tubuh tupai yang ringan, daun talas itu mampu menopang tubuhnya sehingga tidak tenggelam. Melihat lompatan tupai yang tidak seberapa jauh, si rubah menjadi tambah sombong dan angkuh. Di dalam hatinya dia menertawakan lompatan si tupai yang tidak terlalu jauh, bahkan dirinya mampu beberapa kali lipat lebih jauh dari itu. Si rubah sudah yakin bahwa dirinya akan menang.

Rubah lalu mundur beberapa langkah untuk mengambil ancang-ancang, kemudian dia berlari cukup cepat dan melompat tinggi dan sangat jauh. Bahkan lompatan tupai tak ada apa-apanya, si rubah melompat jauh hingga ke tengah kolam. tentu saja rubah melompat dengan sombongnya karena sudah yakin pasti menang. Tapi karena kepalanya sudah di penuhi sifat sombong, dia tidak berfikir bahya yang dapatmengancam dirinya. Tubuh rubah terjun dan mendarat di tengah kolam yang dalam, rubah baru sadar bahaya yang mengintainya karena rubah tidak bisa berenang.

Namun sial, semua sudah terlambat ketika rubah menyadari itu. Tubuhnya sudah tercebur ke tengah kolam. Dia melambai-lambai minta tolong karena dia hampir tenggelam. “Tolong..!! Toloong akuuu!! Aku tidak bisa berenang.. Ma’afkan aku..!! Tolong..!! Aku berjanji akan berbuat baik dan memperbaikai semua kelakuan ku selama ini. Tolong..!!”. Teriak rubah.

Melihat rubah yang hampir mati tenggelam, si Kancil yang bersembunyi bersama kerumunan hewan meminta Berang-berang untuk berenang dan menyelamatkanya. Setelah si rubah di bawa ke daratan, betapa terkejutnya dia melihat kancil yang masih hidup dan tak kurang suatu apapun. si rubah lalu meminta ma’af pada kancil dan menceritakan bahwa semua itu karena hasutan para gajah. Akhirnya kesalah fahaman antara rubah dan kancil berhasil di selesaikan, merekapun akhirnnya berteman. Kini, si kancil ingin sekali membuat para gajah yang berbuat ulah itu kapok. Kira-kira rencana apa yang akan di buat oleh si kancil? Tunggu di cerita berikutnya ya.. 🙂

Story By: Muhammad Rifai

Hikmah yang bisa Kita Petik: Terkadang sifat sombong dan angkuh mampu menutup akal sehat. Sehingga kita mudah terpancing bujuk rayu serta siasat tanpa berfikir bahay yang mungkin dapat mengancam kita. oleh karena itu, sifat sombong harus sangat kita jauhi sebelum semua terlambat.

Cerita KANCIL dan Jebakan PEMBURU

Cerita Kancil dan Jebakan Pemburu – Pada zaman dahulu kala, hewan dan manusia hidup berdampingan. Para manusia hanya memburu hewan tertentu sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tak ada perburuan liar seperti di zaman ini, sehingga kehidupan berjalan dengan seimbang dan para hewan tidak terancam kepunahan. Sebagaimana tokoh utama dalam kisah kita kali ini, si kancil masih menjadi tokoh yang akan kita ceritakan. Kebijaksanaan dan kebaikan hati si kancil yang suka menolong hewan-hewan lain, haruslah patut kita contoh.

si kancil yang cerdik dan baik hati disukai oleh banyak hewan, sehingga si kancil memiliki banyak teman dan namanya cukup terkenal. Namun sebagaimana kehidupan, setiap hal baik pasti juga ada yang menyimpan dendam. Setelah para gajah berhasil dikalahkan si kancil pada cerita Dongeng kancil, Tikus, dan Gajah sombong, para gajah ternyata menyimpan dendam untuk membalas si kancil.

Para gajah kemudian pergi menemui Rubah, rubah adalah hewan yang terkenal sangat cerdik sera licik. Para gajah menghasut rubah, mereka berbohong bahwa si kancil menghina rubah dan berkata rubah itu bodoh tak secerdas si kancil. Tentu saja hal tersebut membuat rubah sangat marah karena merasa dihina oleh si kancil, dan rubah berniat memberi si kancil pelajaran. Tentu saja hal tersebut membuat para gajah menjadi senang karena siasat mereka untuk membalas si kancil akan terlaksana.

Rubahpun pergi untuk mencari si kancil, dia telah menyiapkan siasat untuk menjebak si kancil dan memberi si kancil pelajaran. Rubah ingin menunjukan, bahwa dia lebih cerdik dari si kancil, dan bisa mengalahkan si kancil yang terkenal cerdas itu dengan siasatnya. Setelah beberapa lama berjalan, akhirnya si rubah melihat si kancil tengah asik memakan rumput-rumput hijau di pinggir hutan. Rubah pun lalu menghampiri si kancil.

“Hai cil.. sedang apa kau? Sepertinya kau sedang asik sekali sehingga tak menyadari kehadiran ku’. saps rubah. Mendengar ada yang memanggil namanya, si kancil pun berbalik, dan dilihatnya si rubah sudah ada di belakangnya. “Oh.. ternyata kau rubah. Aku sedang sarapan. rumput-rumput muda yang tumbuh di musim hujan begini terasa sangat nikmat, aku sangat bersyukur bisa memakanya”. jawab Kancil.

“Ah.. kalo cuma rumput, itu belum seberapa cil. Aku bisa membawa mu ke tempat yang ada makanan lebih enak dari pada rumput. Aku tahu, kamu suka mentimun kan?”. Rubah mulai merayu. “ah.. yang benar? Di mana tempatnya? sudah lama sekali aku tak makan mentimun. Pasti rasanya sangat enak”. kata kancil penuh semangat. “Kalau kamu mau, aku akan menunjukan tempatnya. Tidak jauh dari sini kok. Ayo ikut aku”. Kata rubah.

rubah licik
Rubah

Akhirnya kancil dan rubah berjalan bersama menuju tempat mentimun yang di janjikan si rubah. Kancil tak sadar, bahwa si rubah memiliki niyat buruk untuk menjebaknya. si rubah menaruh beberapa buah mentimun yang telah dia curi dari kebun pak tani di atas sebuah jebakan, jika si kancil berada di atas jebakan itu, maka sebuah tali akan mengikat dan menarik kaki si kancil sehingga si kancil akan tergantung di atas pohon. Tentu saja, pasti si kancil tidak akan bisa melepaskan diri, begitu fikir si rubah.

Singkat cerita, mereka berdua akhirnya sampai di tempat jebakan, si rubah lalu menunjukan timun-timun yang telah dia siapkan pada si kancil. Melihat banyaknya mentimun yang tergeletak di atas tanah, si kancil menjadi sangat senang. Tanpa rasa curiga sedikitpun, si kancil berlari menghampiri mentimun itu untuk segera menyantapnya. Namun tanpa di duga, tiba-tiba kakinya terjerat tali jebakan sehingga membuatnya tergantung.

“Wah.. ada apa ini? Ini jebakan.. hai rubah, tolong aku. Ternyata mentimun ini cuma umpan jebakan pemburu”. Kata kancil pada rubah. Namun si rubah malah tertawa, dia tidak menghiraukan si kancil lalu pergi meninggalkan si kancil yang tergantung. “kali ini kau tak akanm selamat, kecerdikan mu tak akan bisa lagi menipu tali itu. Itulah akibatnya jika kau berani menghina ku.. hahahaha..”. Kata rubah dalam hati.

Melihat rubah yang meninggalkanya, si kancil kini sadar bahwa ini memang sudah rencana si rubah untuk menipunya. Tapi menyesali diri kini juga tidak lagi berguna, si kancil harus mencari cara untuk lepas dari jebakan itu sebelum para pemburu datang. Untunglah beberapa saat kemudian, burung gagak yang kini sudah menjadi kawanya lewat di daerah itu. Melihat si kancil yang di gantung, si gagak pun menghampiri si kancil dan bertanya apa yang sedang terjadi.

Si kancil menceritakan nasib yang menimpanya pada gagak, gagak menjadi sangat marah pada si rubah setelah tahu kejadian yang sebenarnya. “Urusan si rubah, bisa kita urus nanti saja setelah kamu bebas cil. Lalu, apa yang bisa ku lakukan untuk membebaskan mu? Tali ini terlalu kuat jika ku putuskan dengan paruh ku. Kamu punya cara lain?”. tanya gagak. si kancil diam sesaat, dia memutar otak untuk mencari solusi yang tepat.

“Aku punya cara yang mungkin berhasil meski resikonya cukup besar”. Kata kancil. “Apa itu? Cepat katakan sebelum para pemburu datang”. Kata gagak. “Gagak.. cepatlah kamu buang kotoran sebanyak-banyaknya ke atas tubuh ku. Jika perlu kamu ajak juga semua kawan-kawan mu. Tak perlu tanya alasanya, Yang penting cepat lakukan sebelum para pemburu datang memeriksa perangkap ini..!!”. Perintah kancil.

Tanpa membuang waktu, si gagak melakukan apa yang diperintahkan si kancil. Gagak juga memanggil kawan-kawanya untuk menjalankan rencana si kancil. Setelah tubuh si kancil penuh dengan kotoran yang bau, si kancil menyuruh para gagak untuk menyingkir. Ternyata, bau yang menyengat dari kotoran gagak mengundang para lalat untuk hinggap dan mengkerumuni si kancil.

Maka ketika si pemburu tiba, tubuh si kancil sudah di kerubungi lalat. Hal tersebut membuat para pemburu menyangka bahwa si kancil sudah cukup lama terjebak dan akhirnya mati kelapran dan kehausan. Karena mengira si kancil sudah menjadi bangkai yang tidak bisa di makan, para pemburu itu melepas tali yang mengikat kaki si kancil dan membuang tubuh si kancil yang pura-pura mati di semak-semak. Setelah para pemburu itu pergi, si kancil lalu bangun dan kemudian mandi di sungai.

Para gagak menghampiri si kancil, mereka senang si kancil bisa selamat. “Kami bersyukur kamu bisa lolos dari bahaya tadi cil. Kami tadi sudah merasa sangat hawatir, untung saja ide mu berhasil dengan lancar”. Kata para gagak. “Yah.. aku juga tak percaya bahwa cara tadi bisa berhasil menipu para pemburu. untung saja ada kalian, terima kasih sudah mau menolong aku”. Kata kancil. “Sama-sama cil, kami senang bisa membalas budi karena kau juga pernah menolong kami. sekarang, apa rencanamu sil? Apa kau akan membalas perbuatan si rubah ini?”. tanya gagak.

“Hmm.. balas dendam itu tidak baik. Tapi aku akan mencoba mencari tahu mengapa rubah menipu ku, padahal aku tak pernah sekalipun memiliki dendam padanya. Mungkin, aku harus menggunakan sedikit siasat ku untuk menyadarkan kesombongan yang menghinggapi hati si rubah. Agar dia sadar, tidak ada hewan yang paling cerdas di dunia ini. Semua hewan itu sama, mereka memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ayo kita sama-sama mencari si rubah itu. Tapi kalian harus merahasiakan bahwa aku selamat dari jebakan pemburu agar rubah tak tahu”. Pinta kancil. “Oke cil..!!”. Jawab para gagak serempak.

Akhirnya, si kancil yang berhasil selamat dari bahaya pergi mencari si rubah. Dia ingin tahu mengapa si rubah tega menipunya, serta memberi peringatan pada rubah bahwa kesombongan itu bisa berahir dengan petaka. Lalu, apa rencana si kancil? Tunggu cerita berikutnya.. 🙂

Story By: Muhammad Rifai 

Hikmah yang Bisa Kita Petik: Terkadang kita mudah terhasut oleh kabar yang kita sendiri belum tahu kebenaranya, sehingga kita kurang berhati-hati dan bertindak ceroboh. Dan setiap perbuatan baik, suatu saat akan dibalas dengan kebaikan pula, bahka disaat kita butuh pertolongan. Oleh karena itu, berbuat baiklah pada semua orang, agar kelak mereka juga membantu mu di kala kau di timpa kesusahan.