Dongeng MUSANG dan AYAM

Dongeng Terbaru – Dongeng Musang dan Ayam | Setelah pada dongeng yang lalu si kancil menolong ayam dari keganasan elang, para ayam mencari tempat baru untuk bersembunyi dari si elang. Di tempat baru mereka, mereka membangun sarang dan kembali bertelur untuk agar keturunan mereka bisa bertahan. Mereka sangat gembira atas keberhasilan mereka memberi pelajaran pada si elang. Dan tentu saja budi baik si kancil tidak akan mereka lupakan. Akhirnya, mereka mengutus salah satu ayam untuk mencari si kancil. Tujuanya untuk mengucapkan terimakasih serta mengundang kancil untuk acara pesta di rumah baru mereka.

Ketika diperjalanan, ayam itu bertemu dengan si musang. Mereka berdua sudah lama kenal dan menjadi sahabat dekat. Ayam itu lalu menemui musang yang sepertinya tengah sibuk melakukan sesuatu.
“Hai musang.. sedang apa kau disini? Sepertinya sibuk sekali… .” Tanya si ayam.
“Ooo.. ayam, rupanya kau. Ku kira siapa. Aku sedang menanam jagung. Tadi aku menemukan sebuah jagung. Dan burung merpati bilang.. lebih baik aku menanamnya agar kelak bisa bertambah banyak.” Jawab musang.
“Wah.. jagung? Hmmm.. aku suka sekali jagung. Bolehkah aku ikut membantu menanamnya? Agar nanti jika sudah panen aku juga bisa ikut makan?.” Tanya ayam itu.
“Tentu saja.. kenapa tidak? Kita kan sahabat..”. Kata musang dengan ramah.

Akhirnya musang dan ayam menanam jagung itu bersama-sama. Setelah seharian bekerja, akhirnya mereka selesai juga. Setelah itu, si ayam meminta izin pada rubah untuk pergi menemui kancil. Dia mendapat tugas untuk mengundang kancil datang ke pesta rumah baru mereka bulan depan. So musang tidak keberatan. Mereka mengadakan perjanjian bahwa mereka akan menjaga kebun jagung itu bergantian selama tiga minggu. Begitu silih berganti hingga jagung itu siap di panen.

Waktu terus berlalu.. tak terasa sudah berjalan beberapa bulan, dan buah jagung sudah siap dipanen tidak lama lagi. Namun hari itu adalah waktu berganti untuk berjaga. Setelah si musang menjaga kebun itu selama tiga minggu, kini giliran si ayam yang harus menjaganya.
“Nah kawan.. kini giliran mu untuk berjaga. Aku akan pergi menemui keluarga ku untuk aku bawa ke sini. Kita akan makan jagung kita ini sama-sama. Jika sekiranya aku pergi terlalu lama dan kau tidak sabar menunggu, kau boleh memakan dulu bagian mu dan sisakan bagian ku.”. Pesan si musang.
“Oke musang.. kamu tenang saja. Jagung ini akan aman bersama ku. Kau tak perlu hawatir.” Kata ayam dengan yakin.

Setelah itu, si musang akhirnya pergi untuk menemui keluarganya. Dia berniat membawa semua keluarga dan teman-teman musangnya untuk memakan jagung hasil jerih payahnya selama kurang lebih tiga bulan. Karena perjalanan yang cukup jauh, membutuhkan waktu yang cukup lama untuk musang dalam perjalanan pulang pergi. Dan ternyata, tak terass dia sudah pergi lebih dari tiga minggu. Si ayam yang menunggu di kebun jagung menjadi tidak sabar. Berbagai fikiran dan prasangka muncul dibenaknya.
“Bagaimana jika musang ternyata sudah mati dimakan harimau? Atau dia mati karena bertemu manusia?.” Fikir ayam dalam hati. Hal tersebut membuat hati ayam menjadi was-was. Namun beberapa saat kemudian, tiba-tiba wajahnya berubah menjadi senang sekali.

“Ah.. betapa bodohnya aku. Kenapa juga harus hawatir jika si musang mati? Itu malah bagus. Karena aku tak harus berbagi semua jagung ini dengan musang. Semua jagung ini kini menjadi milik ku sendiri.. hahahaha… .” Kata ayam dengan serakah. Ternyata, keserakahan membuat ayam lupa pada pesan musang. Dia ingin menguasai seluruh buah jagung itu sendiri. Dia juga memanggil kawan-kawanya untuk berpesta makan jagung bersama, dan mengakui bahwa semua jagung itu adalah hasil kerjanya sendiri. Pesta berlangsung cukup meriah. Para ayam makan hingga kenyang, dan semua buah jagung habis tak bersisa.

Namun ternyata, pada pagi harinya si musang datang bersama teman-temanya. Dia juga membawa serta si kancil. Ternyata si musang menyempatkan diri untuk mencari si kancil dan mengajaknya untuk makan jagung bersama, itulah sebabnya si musang datang terlambat. Namun betapa terkejutnya dia begitu melihat kebun jagungnya yang porak poranda. Semua rusak dan tak ada satupun buah tersisa.

Dia melihat si ayam yang tertidur di tempat itu. Ternyata si ayam bangun kesiangan setelah setelah semalam berpesta hingga larut. Dia bahkan tidak melihat kawan-kawanya yang sudah pulang ke sarang mereka. Musang lalu membangunkan si ayam dengan nada marah. Dia bertanya apa yang terjadi dengan kebun jagung mereka. Karena ketika terakhir kali ditinggalkan si musang, semua jagung-jagung itu sudah berisi. Si ayam yang kaget dan tidak mengiramusang akan datang, menjadi terkejut dan panik.

Dia beralasan, bahwa semua jagung-jagung mereka telah hancur dan gagal panen karena diserang hama. Namun si kancil yang secara kebetulan ada disitu, mencium adanya hal yang kurang beres. Dia lalu menelusur seluruh area kebun itu, dan dia menemukan banyak sekali kulit dan bekas tongkol jagung bertebaran. Melihat bukti tersebut, si ayam menjadi tidak bisa berkutik lagi. Dan akhirnya dia mengakui bahwa semua jagung telah dia makan bersama kawan-kawanya.

Tentu saja si musang menjadi tambah marah. Karena si ayam telah melanggar janji mereka tentang menyisakan bagian masing-masing. Hampir saja si musang menerkam si ayam. Namun dilerai oleh si kancil. Si kancil memberi solusi agar si ayam diberi waktu untuk mengganti jagung si musang. Dan karena musang menghormati si kancil, dia setuju. Dia memberi waktu dua bulan untuk ayam mengganti semua jagung bagian si musang. Agar cukup waktu bagi si ayam untuk menanam jagung yang lain.

Namun kesempatan itu malah disalah gunakan oleh si ayam. Bukanya dia menanam jagung, dia malah mengajak semua bangsa ayam untuk pindah dan lari. Si ayam terlalu malas untuk menanam jagung yang pada akhirnya dia tidak bisa memakan sendiri. Setelah waktu dua bulan habis, si musang berkunjung ke tempat ayam. Namun betapa marahnya dia ketika melihat tempat itu sudah kosong dan terbengkalai. Jangankan jagung, seekor ayam pun tak ada di tempat itu.

Dan sejak saat itu musang bersumpah.. dia dan keturunanya akan menjadikan bangsa ayam sebagai santapan pengganti jagung yang sudah direbut si ayam. Dan karena alasan itu pula, bangsa ayam memutuskan untuk tinggal dekat dengan manusia. Karena dengan mendekati manusia, mereka bisa sedikit aman dari ancaman musang yang hendak mmangsa mereka.

“Mungkin manusia juga akan memanfa’atkan kita. Dan akan menjadikan kita santapan. Namun tidak mengapa. Kita sudah terlalu banyak berbuat bodoh dan melakukan kesalahan. Karena kedalahan kita, kini bangsa kita dimusuhi oleh elang dan juga musang. Mereka tidak pandang bulu, baik kecil atau besar, akan mereka makan. Namun jika kita mendekati manusia, maka mereka mungkin hanya akan memangsa kita yang sudah besar. Dan membiarkan anak-anak kita tetap hidup. Itu harga yang cukup pantas yang harus kita bayar.” Kata salah satu ayam dengan nada penyesalan.

Story by: Muhammad Rifai

Hikmah: Terkadang keserakahan bisa merubah seseorang. Sifat tamak dan serakah, sering membuat fikiran kita tertutup hingga melakukan tindakan bodoh yang kelak akan kita sesali.