Dongeng Monyet Licik dan Burung Merak

Dongeng Monyet Licik dan Burung MerakSetelah si monyet berhasil lari dari kejaran si kancil dan para binatang yang ditipunya, kini si monyet tiba di pinggir sebuah sungai yang sangat deras airnya. Dia berniat menemui harimau yang berada di seberang sungai, untuk meminta bantuan dan perlindungan. Karena si monyet tahu, bahwa harimau sangat di takuti serta harimau juga memiliki masalah dengan si kancil. Pasti akan sangat mudah untuk membujuknya.

Namun si monyet kini bingung, dia harus melewati sungai untuk sampai ke seberang. Sedangkan dia tahu, bahwa dia tidak bisa berenang.  Sudah lama si monyet yang pincang itu berfikir, mencari akal. Namun tidak satupun cara yang bisa dia temukan. Namun secara kebetulan, tiba-tiba ada seekor burung merak yang turun dari langit ke tepi sungai, ternyata burung itu hendak minum di sungai tersebut. Melihat hal itu, muncul sebuah ide licik di fikiran si monyet untuk memanfa’atkan burung merak agar mau mengantarnya ke seberang.
“Hai burung merak, kau terlihat cantik dan anggun seperti biasa. Kecantikan dan keindahan bulu mu memang tak ada yang mampu menandingi di seluruh penjuru hutan ini”. Kata monyet menyapa sambil mendekat.
“oh, monyet.. bikin kaget saja.  Sdang apa kau disini? Bukankah rumah mu jauh di tengah hutan eutopia? Kok bisa sampai di kawasan hutan sini?”. Tanya burung merak.
“aku berniat berkunjung ke tempat sahabat ku yang berada di seberang sungai. Namun waktu dalam perjalanan, aku terjatuh dan kaki ku terkilir hingga pincang. Dengan kaki yang pincang, aku tak bisa berenang dengan baik. Aku sudah lama menunggu ada hewan yang mau menolong ku menyeberang. Nanti jika sudah sampai di seberang, aku berniat memberinya hadiah sdebagai balasan”. Kata monyet berbohong.
“Oh, kalau Cuma mengantar ke seberang, aku juga bisa. Itu perkara kecil, aku tak butuh hadiah mu. Kau silahkan naik saja ke atas punggung ku, nanti aku akan terbang dan mengantar mu hingga ke seberang”. Kata burung merak tanpa curiga.
Mendengar hal itu, tentu hati si monyet yang licik itu merasa senang. Ternyata dalam benaknya dia menyimpan rencana yang lebih kejam. Dia berniat mencelakai si burung merak yang justru dengan tulus mau menolongnya. Akhirnya, si monyet naik ke atas punggung burung merak, lalu burung merak itu terbang menyeberangi sungai dengan tanpa hambatan.
“Nah monyet, sudah sampai. Sekarang silahkan kau turun”. Kata burung merak dengan menundukan kepala agar monyet bisa turun dengan mudah. Namun di luar dugaan, bukanya segera turun, namun si monyet memukul kepala burung merak itu. Kontan saja burung merak itu pingsan seketika. Si monyet mengira, burung merak itu telah mati, lalu dia menarik tubuh burung itu ke semak-semak untuk disembunyikan. Dia berniat menjadikan burung merak itu sebagai hadiah pada harimau, untuk merayu agar harimau mau menolongnya.
burung merak dan kancil
Burung merak
Setelah di rasa aman, si monyet segera pergi menemui harimau. Dia menceritakan segala hal bohong pada harimau tentang si kancil serta hewan-hewan yang mau mencelakainya. Dia juga menyatakan bahwa dia ingin menjadi pelayan harimau yang setia jika harimau mau melindunginya. Dan sebagai hadiah, dia juga berkata bahwa dia telah menyipakan seeekor burung merak yang sangat gemuk untuk di santap si harimau. Dengan rayuan dan kelicikan si monyet, tentu harimau yang memiliki sifat congak dan sombong itu mudah terperdaya. Apa lagi harimau juga dalam keadaan lapar. Lalu harimau segera meminta monyet untuk membawanya menuju hadiah yang sudah di siapkan monyet, yaitu burung merak.
Di lain tempat, burung merak yang tadinya pingsan kini sudah mulai sadar. Meski kepalanya terasa agak pening, dia sadar bahwa sedang ada bahaya yang mengincarnya jika dia tidak segera pergi. Dengan tubuh gontai dan lemas, si burung merak berusaha terbang. Dia terbang dengan kepala pening, melintasi sungai, namun akhirnya terjatuh di seberang sungai lalu pingsan lagi. Untungnya di saat yang bersamaan, si kancil dan kawan-kawan yang tengah mencari monyet berada di tempat itu, dan mereka segera menolong burung merak itu.
Setelah beberapa saat, akhirnya burung merak itu siuman. Dia melihat si kancil dan kawan-kawan tengah mengerumuninya, dia sadar bahwa merekalah yang menolongnya waktu dia pingsan tadi. Kancil lalu bertanya pada burung merak tentang kejadian apa yang menimpanya. Burung merak pun bercerita tentang peristiwa antara dia dan monyet licik yang hendak mencelakainya. Mendengar hal itu, tentu si kancil dan para hewan lain yang ada di situ menjadi geram. Mereka marah. “semoga saja perbuatan jahat si monyet akan segera mendapat balasan yang sepadan. Semoga saja dia cepat kena batunya sebelum lebih banyak lagi yang dirugikan olehnya”. Kata si kancil.
Sedang di seberang sungai, si monyet yang tadinya gembira dan tertawa penuh kemenangan, kini wajahnya terlihat pucat pasi. Dia panik, ketakutan. Bagaimana tidak? Burung merak yang tadi dia sembunyikan, kini sudah tak ada. Sedangkan dia sudah berjanji pada harimau bahwa dia membawakan hadiah sebagai santapan. Dan yang lebih parah, sepertinya harimau mulai tak sabar karena harimau ternyata sedang kelaparan.
“hai monyet, mana hadiah yang kau janjikan pada ku? Aku sudah sangat lapar.. GGrrrrrrrr..!! “. Kata harimau sambil menggeram marah.
“Am.. ampun tuan ku, tadi hamba menaruhnya disini. Tapi sekarang sudah hilang, mungkin sudah di mangsa oleh hewan lain”. Kata monyet tergagap karena takut.
“Hilang? Apa maksud mu? Apa kau mau mempermainkan aku? Apa kau mau menipu ku? Aku sudah sangat lapar… dan aku tidak sesabar yang kau kira. Jika memang hadiah itu sudah hilang, tak mengapa. Kau sudah berjanji akan menjadi pelayan ku yang setia. Jadi biarkan saja aku makan kau sebagai gantinya untuk wujud kesetiaan mu pada ku.. GGrrrrrrrrr…!!!!”. kata harimau langsung datang menerkam.
Di seberang sungai, kancil dan kawan-kawan terkejut. Mereka mendengar suara teriakan si monyet yang sangat keras dan memilukan. Namun beberapa saat kemudian, sudah tidak ada lagi suara terdengar. Sepertinya, hal yang buruk telah menimpa monyet yang licik itu. Setelah kejadian tersebut, si monyet tak pernah tampak lagi. Dia menghilang dan tak pernah ada lagi yang melihat si monyet licik itu. Dan kehidupan hutann kembali menjadi tenteram karena monyet yang nakal dan licik sudah tak bisa lagi membuat ulah.
Story By: Muhammad Rifai
Hikmah yang bisa kita petik: Setiap hal yang kita perbuat, akan memiliki balasan yang sepadan, atau bahkan bisa lebih berkali-kali lipat. Perbuatan buruk, pasti akan mendatangkan keburukan dikemudian hari. Dan setiap perbuatan baik, pasti akan di balas dengan kebaikan pula dengan hal yang lebih baik lagi.