Dongeng KURA-KURA dan MONYET Rakus

Dongeng Kura-kura dan Monyet Rakus Setelah si Monyet yang nakal terjatuh pada cerita Dongeng si Kancil dan Monyet Nakal yang lalu, kini si Monyet berjalan terpincang-pincang. Dia juga harus berjalan dengan sembunyi-sembunyi agar tidak ditemukan oleh para hewan yang dibuatnya marah. Si monyet terlihat begitu memprihatinkan. Dia tak bisa berjalan cepat karena kakinya sakit. Dia harus berjalan tertatih-tatih, bahkan kadang dia juga menyeret kakinya ketika dia lelah berjalan pincang. Sudah beberapa lama si monyet berjalan, dia begitu lelah meski jalan yang dia tempuh belum begitu jauh. Perutnya juga mulai dilanda rasa lapar. Terdengar suara perutnya yang mulai keroncongan karena kelaparan. Namun si monyet tak bisa berbuat apa-apa, karena kakinya yang sakit membuatnya tak lagi bisa memanjat untuk mencari makan. Akhirnya si monyet memutuskan untuk beristirahat di bawah semak-semak.

Tak berapa lama ketika si monyet beristirahat sambil memegangi perutnya yang kelaparan, tiba-tiba si monyet mendengar sebuah lagu. Di lihatnya dari kejauhan, ternyata itu adalah seekor kura-kura yang sedang bernyanyi. Wajahnya terlihat sangat bahagia, dan lagi… Kuar-kura itu membawa banyak sekali makanan. Tentu saja si monyet menjadi sangat senang. Kini dia mulai berfikir bagaimana caranya agar dia bisa mendapatkan makanan itu dari kura-kura. Dengan kakinya yang pincang, tak mungkin si monyet dapat mencuri makanan itu. Maka si monyet akhirnya menemukan sebuah siasat untuk menipu si kura-kura.

Si monyet berpura-pura pingsan di tengah jalan yang akan dilalui kura-kura. Dia menunggu kura-kura itu lewat didekatnya. Si kura-kura yang tak tahu siasat si monyet, merasa sangat kaget ketika melihat si monyet yang pingsan di tengah jalan. Dia menjadi semakin iba ketika melihat kaki si monyet yang terluka. “wah.. Kasihan sekali monyet ini. Dia pasti terluka karena di buru oleh pemangsa, hingga dia pingsan di sini”. Batin kura-kura. Kura-kura lalu berusaha memvangunkan si monyet, dan ketika di bangunkan, si monyet berpura-pura baru sadar dari pingsanya.

monyet dan kura-kura
Monyet Rakus

“Ah.. Syukurlah itu kamu kura-kura. Ku kira tadi kau adalah serigala yang tadi mengejar dan mau memakan ku”. Kata monyet sambil pura-pura menangis. Melihat keadaan monyet yang sangat memprihatinkan, kura-kura menjadi semakin iba. “sudahlah monyet.. Jangan menangis lagi.. Bahaya sudah lewat, kau selamat sekarang. Jika saja ada yang bisa aku bantu, katakan saja. Aku akan dengan senang hati membantu mu”. Kata kura-kura yang baik itu dengan ramah. Mendengar tawaran itu, monyet tertawa dalam hati. Karena rencananya untuk memperdaya kura-kura sudah mulai berhasil.

“kura-kura.. Aku ingin pulang dan menemui saudara ku yang ada di pinggir sungai. Tapi kaki ku terluka, sehingga aku tak bisa berjalan. Bisakah kau membantu ku mengantarkan aku ke tepi sungai!”. Tanya monyet. “wah.. Tentu saja, kita sejalan. Aku juga sedang mau pulang ke rumah ku yang ada di pinggir sungai. Jika kau tak bisa berjalan, aku akan menggendong mu. Naiklah kau ke punggung ku”. Kata kura-kura baik itu. “tapi.. Bagaimana aku bisa naik? Di punggung mu sudah ada muatan, banyak sekali makanan kau bawa”. Kata monyet.

“Oooo.. Itu? Itu adalah makanan yang ku kumpulkan untuk persiapan musim kemarau nanti. Gampang.. Kau bisa membawa makanan itu selama kau berada di atas punggung ku. Tidak terlalu berat kok”. Kata kura-kura tanpa curiga.

Akhirnya.. Si monyet naik ke punggung kura-kura. Lalu kura-kura itu melanjutkan perjalananya sambil bernyanyi sepanjang jalan. Dia tidak curiga sedikitpun pada si monyet yang ada di atas punggungnya. Sedangkan si monyet tertawa dalam hati..”Dasar kura-kura bodoh.. Mau saja ku tipu. Enaknya hidup ku ini. Sudah dapat tumpangan gratis tanpa harus capek-capek berjalan. Masih pula disediakan makanan gratis tanpa harus mencari. Hahahaha..”. Fikir monyet. Sementara si kura-kura menggendong monyet di punggungnya, si monyet malah dengan lahapnya memakan semua makanan milik kura-kura di sepanjang perjalanan. Hingga lambat laun, makanan itu kini habis tak tersisa. Setelah merasa kenyang, monyet langsung tertidur di punggung kura-kura itu.

Sudah hampir setengah hari si kura-kura berjalan dengan menggendong si monyet. Kini dia mulai merasa lelah dan lapar. Maka dia berniat beristirahat sejenak untuk makan. Dia memiliki banyak makanan, maka dia juga berniat untuk membagi makananya pada monyet agar mereka bisa makan sama-sama. Namun betapa terkejutnya si kura-kura ketika dia mendongak ke atas. Dia tak lagi melihat makanan yang tadi dibawakan oleh si monyet. Yang ada malahan monyet yang tertidur pulas dengan perutnya yang buncit karena kekenyangan.

Kontan saja kura-kura menjadi sangat marah. Kini dia sadar bahwa dirinya telah tertipu oleh si monyet. Dia lalu mengguncang-guncang cangkangnya hingga si monyet yang tertidur di atasnya terjatuh. Kontan saja si monyet terbangun karena terkejut. “Dasar monyet tak tahu balas budi.. Sudah di tolong, malah begini balasan mu? Kau menipu ku dan memakan semua makanan yang ku kumpulkan dengan susah payah..”. Teriak kura-kura itu marah. Sadar bahwa tipuanya telah ketahuan, si monyet langsung berusaha lari menjauh. Dia berusaha dengan sekuat tenaga berlari dengan kaki yang pincang. Sementara kura-kura masih menggerutu dan memaki-maki si monyet karena jengkelnya.

Namun semua sudah terlanjur, si kura-kura hanya mampu menggerutu sepanjang jalan. Dia juga mulai menyalahkan dirinya sendiri yang kurang waspada hingga mudah tertipu. Tak sengaja, kura-kura bertemu si kancil di perjalanan. Melihat kura-kura yang sepertinya sedang ada masalah, si kancilpun bertanya pada kura-kura. Kura-kurapun menceritakan kejadian yang baru dia alami dan tentang semua makananya yang habis karena di tipu si monyet. Mendengar penjelasan itu, si kancil menjadi ikut merasa iba dan prihatin pada nasib kura-kura.

Namun sebagai teman, si kancil juga berusaha menghibur kura-kura. “Ya sudah.. Mau bagaimana lagi? Bukan kamu saja yang sudah di tipu, tapi sudah banyak hewan-hewan lain yang di buat kesal oleh monyet. Termasuk aku. Tapi sabarlah kura-kura..!! Tuhan itu maha adil, si monyet pasti akan mendapatkan balasan dari semua perbuatanya. Nah.. Dari pada kamu marah-marah terus, mending sekarang kamu ikut aku. Kita pergi ke acara ulang tahun si Tupai. Pasti nanti kau juga akan mendapat banyak makanan sebagai ganti makanan mu yang sudah hilang”. Bujuk kancil. Mendengar ajakan itu, kura-kura menjadi senang. Wajahnya kembali bahagia, dan dua sekawan itu berjalan beriringan menuju rumah Tupai dengan suka cita.

Story By: Muhammad Rifai 

Hikmah yang dapat Kita Petik: Terkadang.. Kebaikan hati yang kita miliki sering di gunakan oleh orang yang memiliki niyat buruk untuk menipu kita. Tapi bukan berarti kita harus berhenti untuk perduli. Karena itu bisa jadi ujian untuk kita. Untuk mengukur seberapa tulus kita dalam menolong, dan seberapa sabar kita dalam menghadapi ujian.

Dongeng KANCIL dan MONYET Nakal

Dongeng kancil dan monyet NakalSetelah si kancil menolong burung elang pada dongeng si kancil menolong burung elang pada kisah yang lalu, si kancil kemudian pulang ke tengah hutan. Tapi ketika dalam perjalanan, si kancil tak sengaja bertemu dengan beberapa hewan yang sedang berkerumun. sepertinya baru saja ada masalah yang terjadi disini. Karena penasaran, kancil lalu menghampiri mereka untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Hai kawan-kawan, apa yang sedang terjadi? sepertinya kalian sedang ada masalah?”. Tanya kancil. “Iya cil.. kami memang sedang ada masalah. Beberapa hari ini, kami dibuat jengkel oleh ulah si monyet yang sangat nakal. Dia  menipu kami dan juga sering mencuri makanan kami. Kami menjadi sangatt resah. dan sekarang ini kami sedang berunding untuk mencari si monyet bersama-sama”. jawab para hewan itu. Mendengar jawaban itu, si kancil menjadi teringat perbuatan monyet yang juga sudah menipu burung elang. Lalu si kancil memutuskan untuk membantu mereka mencari monyet itu.

Setelah semua sepakat, mereka pun bersama-sama menuju tkediaman monyet. Setelah sampai di tempat monyet, mereka berteriak dan menyuruh si monyet untuk segera keluar. “Hai monyet..!! Keluar kau..!! kami datang untuk menuntut tanggung jawab mu. Kau harus bertanggung jawabkarena telah menipu kami dan mencuri makanan-makanan kami. Kau harus mau menggantinya..!!”. Teriak mereka. Mendengar ada suara gaduh di depan rumahnya, si monyet keluar dari sarangnya. Namun bukanya meminta ma’af, namun si monyet itu malah berdiri dengan angkuhnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.

“Oh.. ternyata ada segerombolan binatang bodoh yang mencari ku. Tadi aku dengar kalian meminta kau untuk bertanggung jawab? Untuk apa? Lagi pula itu bukan kesalahan ku. Itu murni kesalahan karena kebodohan kalian sehingga mudah di tipu. Hahahaha..”. Kata monyet itu meledek. Mendengar jawaban si monyet, tentu saja para hewan yang ada di situ menjadi sangat marah. Namun si monyet berada di atas pohon yang sangat tinggi, sedangkan para hewan itu tidak pandai memanjat. Sehingga yang bisa mereka lakukan hanyalah meneriaki si monyet dengan sumpah serapah.

kancil dan monyet
Monyet

“Apapun kata kalian, aku tak perduli. Jika aku tak mau mengganti makanan kalian, kalian mau apa? Lagipula hewan-hewan bodoh yang lamban seperti kalian, tak mungkin bisa  menangkap aku. Aku ini si monyet. Binatang yang sudah di kenal cukup lincah dan cerdik”. Kata si Monyet dengan sombongnya. Mendengar perkataan monyet yang sudah keluar batas, akhirnya si kancil maju dan ikut berbicara.

“Baiklah monyet.. mungkin memang benar itu semua bukan sepenuhnya kesalahan mu, tapi karena kebodohan kami hingga kami mudah kau tipu. Namun ini juga akan menjadi sebuah pelajaran bagi kami agar lebih berhati-hati. Mungkin memang sekarang ini kau menang. Kami tak bisa apa-apa dan tak bisa menangkap mu. Tapi itu semua bukan berarti karena kamu lebih pandai, lebih kuat, atau lebih lincah dari kami. Tapi karena saat ini pohon yang tinggi ini tengah melindungi nasib mu. Tapi ingat monyet, kau memiliki dua kaki. dan ada kalanya kau tak bisa naik ke atas pohon dan hanya bisa berjalan di tanah. Jika tiba saat itu, kami akan menangkap dan membuat perhitungan dengan mu. Untuk sekarang, silahkan nikmati kemenangan mu..”.  Kata si kancil kemudian mengajak para hewan untuk pergi dari tempat itu.

Melihat para hewan yang berusaha menangkapnya pergi dengan tangan kosong, si monyet menjadi merasa sangat geli. Dia merasa menang dan menertawakan para hewan itu dengan tawa yang terpingkal-pingkal. Bahkan hingga semua hewan itu sudah tidak lagi di situ, si monyet masih saja tertawa. “hahaha.. dasar para hewan bodoh. masak mereka mau mengancam ku? Aku ini monyet. Hewan yang di karuniai kecerdasan dan kegesitan, aku pandai memanjat dan melompat. Dari zaman dulu hingga nanti, akau akan tetap menjadi hewan yang pandai memanjat, mana mungkin kalian bisa menangkap ku? Mimipi dulu sana.. Hahahahahahaha..”. Kata Monyet dengan tertawa sepuas-puasnya.

Namun nasib tak ada yang tahu, kesialan menimpa si monyet. Ketika dia tertawa terpingkal-pingkal hingga meloncat-loncat di atas pohon, tiba-tiba kakinya tergelincir. dan akhirnya si monyet jatuh dari atas pohon yang cukup tinggi dan kakinya terkilir. Kini, si monyet merasakan kakinya sangat sakit. jangankan untuk memanjat, untuk berjalan saja dia terpincang-pincang. Kini, si monyet mulai menyadari kesalahanya. tak seharusnya dia berbuat sombong ketika di atas pohon tadi, sehingga membuat para hewan itu semakin marah.

Kini dia berada di atas tanah, dia tak lagi bisa memanjat. Jika para hewan itu tiba-tiba kembali, tentu dia tak mampu lagi berkata dengan nada mengejek seperti tadi. Dia pasti akan merasa takut, resah, dan hawatir seperti yang dia rasakan saat ini. Namun semua sudah terlambat, kini dia harus hidup dalam rasa was-was dan ketakutan jika saja nanti para hewan itu tahu dia tak lagi bisa memanjat. Maka yang ada di fikiranya saat ini adalah sembunyi dan mencari perlindungan yang bisa melindungi keselamatanya. Maka.. mungkin si harimau bisa menjadi pilihan yang tepat. Namun bagaimana caranya dia membujuk harimau agar mau membantunya? Mungkin bisa di fikirkan sambil jalan dan kita sambung pada dongeng berikutnya.

Story By: Muhammad Rifai  

Hikmah yang dapat Kita Petik: Sifat bodoh adalah hal yang menjadi kelemahan utama. karena kebodohan akan membuat kita mudah di tipu dan di perdaya. Dan juga.. posisi seseorang kadang membuat orang tersebut lupa dan menjadi sangat angkuh. Memiliki jabatan tinggi, atau menjadi kaya raya, kadang membuat kita berbuat semena-mena pada orang-orang di bawah kita karena kita merasa menang. Namun perlu kita ingat, dunia itu berputar. dan posisi kita akan selalu silih berganti, tak selamanya di atas ataupun di bawah.