Cerita si KANCIL, kacang AJAIB, dan Sang PENCURI

Cerita si kancil, kacang Ajaib, dan sang Pencuri – Hutan Eutopia yang indah, mentari pagi hari menciptakan pemandangan menakjubkan di hutan itu. Ibarat sebuah lukisan kanvas, sinar keemasan dari sang surya menembus kabut tipis seperti tabir yang samar. Si Kancil terlihat menguap di depan rumahnya. Dia baru saja bangun dari mimpi indahnya semalam, tentang ladang timun yang cukup luas. Sangat… sangat luas.. sehingga tak akan habis meski dia memakanya seumur hidup. Tapi.. lagi-lagi itu hanya sebuah mimpi. Sekarang sudah waktunya bagi si Kancil untuk kembali ke dunia nyata. Dunia dimana semua tak akan dapat di raih kecuali dengan usaha.

 

Saat ini adalah akhir dari musim penghujan, yang berarti sebentar lagi akan memasuki musim kemarau. Untuk beberapa hewan, masa ini adalah masa dimana mereka harus bekerja lebih keras untuk mengumpulkan makanan. Karena jika musim kemaru tiba, makanan akan sangat sulit di dapat. Si kancil berjalan menyusuri hutan. Menyapa siapa saja yang ditemuinya. Ada koloni semut yang tengah sibuk bergotong royong mengumpulkan makanan, burung-burung yang sibuk mengumpulkan biji-bijian dan di simpan di sarang, atau si Tupai yang sibuk mengumpulkan kacang dan buah kenari. Semua terlihat sibuk dengan kepentinganya masing-masing. Sedangkan si Kancil hanya bisa melihat mereka dengan senyum bahagia. sungguh kehidupan yang indah penuh harmoni.

 

Namun tiba-tiba si Kancil di kagetkan oleh suara ribut. Sepertinya ada yang tengah bertikai disana. Si Kancil segera mencari dari mana arah suara itu, dan dia menemukan empat sekawan yang sepertinya sedang ada masalah di antara mereka. Mereka adalah empat tupai bersaudara, yaitu Kiki, Koko, Kuku, dan Kaka. Mereka sepertinya sedang bertikai karena suatu hal. Si kanci akhirnya mendekati mereka, untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

 

“Hai kawan.. ada masalah apa disini..?”. Tanya kancil.
Mendengar ada suara yang bertanya pada mereka, kontan mereka berhenti berdebat dan memalingkan perhatian mereka ke arah kancil.
“Oh.. rupanya kamu cil. Kami sedang mencari pencuri yang mencuri makanan yang kami kumpulkan. Tapi masalahnya, tidak ada yang tahu tempat kami menyimpan makanan kecuali kami sendiri. Sehingga kami yakin, pencuri itu adalah salah satu di antara kami”. Jawab Kiki sebagai saudara tertua.
“Hmm.. jadi kalian berdebat untuk menentukan siapa yang mencuri makanan secara diam-diam? begitu..?”. tanya kancil lagi.
“Iya.. benar demikian. Tapi tanpa adanya saksi dan bukti yang jelas, kami hanya bisa saling tuduh tanpa bisa tahu kepastianya. Sehingga yang terjadi malah kami saling debat karena tak ada yang mau disalahkan dan diangap sebagai pencuri, termasuk aku”. Jawab Kiki lagi.

 

“Hmm.. jadi begitu ceritanya..? Cukup sulit dan rumit. apalagi tanpa adanya saksi dan bukti yang jelas. Beri aku waktu sebentar, aku akan coba mencari cara untuk menyelesaikan masalah ini”. Kata kancil.
Lalu kancil berjalan mondar mandir di sekitar tempat itu, sepertinya dia tangah mencari-cari sesuatu. Ibarat detektif yang sedang mencari bukti di tempat kejadian perkara. Matanya tajam menyusur ke segala arah, bahkan hingga detail terkecil. Dan beberapa saat kemudian, si Kancil terlihat tersenyum.
“Tunggu aku disini sebentar, aku ingin mengambil sesuatu”. Kata kancil sambil berlalu meningalkan empat bersaudara itu dengan tatapan bingung.

Beberapa saat kemudian, si kancil kembali. Namun kali ini dia membawa sebuah kantong kecil, entah apa isinya. Kiki, Koko, Kuku, dan Kaka saling pandang. Mereka bertanya-tanya sebenarnya apa yang akan dilakukan si Kancil kali ini. Karena tak bisa menahan rasa penasaranya, akhirnya Kuku bertanya..
“Apa yang kau bawa itu cil..? Bagaimana cara mu membantu masalah kami dengan kantong itu?”. tanya Kuku.
“Sabar.. bukan kantongnya yang akan kita gunakan. Tapi isi yang ada di dalam kantong ini yang akan bisa membantu masalah kita nanti. Isi yang ada di dalam kantong ini cukup spesial, dan hanya aku yang memilikinya. Bahkan si Harimau yang dikenal sebagai Raja Hutan, tak punya yang seperti ini”. Kata Kancil sambil tersenyum.

 

Tentu saja tingkah laku si kancil itu membuat empat bersaudara itu semakin penasaran.
“Memang itu isinya apa Cil..? Apa begitu spesial?”. Kali ini si Koko yang bertanya.
“Waaahhh.. kau tak tahu? Isi kantong ini sangat spesial.. karena ini kantong ini adalah hadiah dari Raja sulaiman khusus untuk ku”. jawab Kancil dengan percaya diri.
“Benarkah..?  Lalu apa kegunaanya..? Dan apa isi kantong itu..?”. Kali ini si Kaka yang bertanya.
“Kantong ini berisi empat kacang ajaib, dan kacang ini sangat berguna untuk membantu masalah kalian. Nanti, kalian akan ku beri satu kacang ajaib untuk masing-masing dari kalian.Lalu makan kacng itu sebelum kalian tidur. Siapa saja yang ternyata mencuri makanan kalian, maka ketika bangun mereka akan terkena hukuman. Akan tumbuh pohon kacang dari atas kepalanya, sehingga sudah bisa ditebak siapa yang mencuri”. Kata si kancil menjelaskan.

 

Setelah itu, si kancil membagi mereka masing-masing satu buah kacang, lalu si kancil pulang ke rumahnya.
Keesokan harinya, kancil kembali datang menemui mereka. Namun mereka malah terlihat semakin bingung, dan kembali terjadi cekcok diantara empat saudara itu.Si kancil sebenarnya sudah tahu mengapa empat bersaudara itu terlihat semakin bungung dan malah tambah ribut, karena dari empat bersaudara tersebut, tak ada satupun yang tumbuh kacang di kepalanya. Sehingga masalah terlihat semakin rumit.

 

“Sudah.. sudah.. tak usah saling menyalahkan lagi..Kalian tak usah bingung, nanti juga ketemu siap pencuri yang sebenarnya. Karena kalian sudah memakan kacang ajaib ku dan ternyata tidak terjadi apa-apa, berarti kalian semua bukan pencurinya. Tapi aku masih memiliki satu pertanyaan yang harus di jawab masing-masing dari kalian secara rahasia. Hanya antara aku dan yang bersangkutan saja. Jadi nanti tiap masing-masing dari kalian akan ku panggil, dan ku beri satu pertanyaan. Jawab saja dengan jujur dan yakin. Sedangkan yang belum ku panggil, silahkan berkumpul dan menunggu giliranya’. Kata kancil menjelaskan.

 

Empat bersaudara itu akhirnya mengikuti kemauan kancil. Setiap dari mereka dipanggil dan diberi satu pertanyaan, hingga semua selesai. Setelah itu, si kancil mendatangi mereka yang sudah berkumpul.
“Sekarang aku tahu siapa pencurinya..”. Kata kancil tiba-tiba.
Kontan saja hal tersebut membuat emapt bersaudara itu kaget, karena dari segi manapun, tak ada bukti bahwa pencurinya adalah salah satu dari mereka.
“Yang mencuri makanan kalian, adalah si Kuku, dan itu sudah pasti”. kata kancil dengan yakin.

 

Tentu saja si Kuku yang mendengar tuduhan tersebut merasa tidak terima, karena si kancil tidak memiliki bukti apapun dan hanya asal tuduh saja tanpa alasan.
Namun hal tersebut di tanggapi si kancil dengan senyuman saja. Lalu, si kancil mulai menjelaskan masalah yang sebenarnya..
“Sebenarnya.. kacang yang kalian makan itu bukan kacang ajaib, melainkan kacang biasa yang aku pungut. Aku mengatakan itu sebagai kacang ajaib memang untuk mengelabui kalian, agar si pencuri yang sebenarnya bisa ditemukan”.

 

“Bukankah aku pernah bilang, jika pencuri yang memakanya, maka akan tumbuh pohon kacang di atas kepalanya? Itu semua hanya akal-akalan ku saja. Aku berkata begitu, untuk menggertak si pencuri yang sebenarnya. Jika memang dia mencuri, pasti dia takut jika kepalanya tumbuh pohon kacang, maka dia akan ketahuan. Karena itu, dia tidak akan memakan kacang yang ku berikan.Sehingga dia tidak tahu bagaimana rasanya kacang yang ku berikan bukan?”.

 

“Tadi masing-masing dari kalian sudah ku tanyai satu persatu secara terpisah, dan pertanyaan ku cukup simpel. Bagaimana rasanya kacang yang kau makan..?Dan jawaban tiga dari kalian sama, kecuali si Kuku. Dia menjawab salah karena dia memang tidak tahu rasanya, sebab dia tidak memakan kacangnya. Kacang yang kuberikan pada kalian, sebelumnya sudah ku lumuri Asam jawa, sehingga rasanya pasti sedikit asam. Namun si Kuku menjawab bahwa rasa kacang itu sungguh lezat, dan tidak merasakan apapun. Nah, dari situ seharusnya kalian sudah faham bukan? Aku sudah membantu masalah kalian dalam mencari pencurinya, namun masalah lainya, itu sudah bukan urusan ku. Ingat..!! Kalian itu keluarga. Sebesar apapun kesalahan saudara kalian, maka jangan pelit untuk memberi ma’af ketika mereka menyatakan menyesal dan meminta kesempatan. sampai jumpa lagi, aku mau cari makan dulu’. Kata si kancil sambil berlalu.

 

Setelah mendengar penjelasan si Kancil, tentu si Kuku menjadi sangat malu. Dan dia akhirnya menyatakan menyesal dan meminta ma’af kepada saudara-saudaranya. Dia berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi. Sedangkan saudaranya akhirnya juga mema’afkan Kuku. Mereka ingat pada nasehat si Kancil, Bahwa sebuah keluarga tetaplah keluarga, meski terkadang mereka melakukan kesalahan, namun tidak ada salahnya memberi ma’af ketika mereka meminta ma’af dan menyatakan penyesalanya. Akhirnya setelah kejadian itu, empat bersaudara itu kembali hidup rukun, saling membantu, bergotong royong, dan menjadi lebih kompak.

Story by; Muhammad Rifai

 

Hikmah yang dapat dipetik: Adakalanya kita berbohong demi menutupi kesalahan sendiri dan menuding orang lain hanya demi lepas dari kesalahan. Namun harusnya kita juga sadar, Kebohongan tidak akan menyelesaikan masalah. Namun hanya menunda masalah tersebut hingga malah menjadi lebih besar lagi dikemudian hari. Dan sebuah keluarga, adalah tempat dimana kita bisa berbagi serta meminta pertolongan. Maka sebesar apapun kesalahan, jika itu masih saudaramu, maka ma’afkanlah ketika mereka meminta ma’af dan menyadari kesalahanya. Karena keluarga, adalah satu-satunya tempat mu untuk pulang. 🙂

Dongeng KANCIL dan KAMBING Bodoh

Dongeng Kancil Terbaru – Dongeng KANCIL dan KAMBING Bodoh | Di bagian hutan Eutopia bagian timur, hiduplah sekelompok kambing. Mereka dipimpin oleh tetua kambing yang cukup bijak. Sang tetua memiliki seorang anak, dia adalah pewaris tunggal yang akan menggantikan ayahnya jika kelak ayahnya wafat. Namun sifat si anak sunguh bertolak belakang dengan ayahnya. Dia cukup sombong dan suka memamerkan kemampuanya di hadapan rakyatnya. Tujuanya bukan tidak lain adalah agar dia dipuji dan dihormati.

Sang tetua kambing bersahabat baik dengan si kancil. Sang tetua sadar bahwa sifat anaknya tidak baik, sehingga itu membuatnya sangat sedih dan juga hawatir. Anaknya sebenarnya sangat bodoh dan ceroboh, dan hal tersebut diperparah dengan kesombonganya yang menjulang ke langit. Sang tetua tak tahu lagi apa yang harus dia lakukan untuk menyadarkan anaknya. Hingga pada suatu hari, dia meminta si kancil untuk datang dan mencoba bertanya solusi untuk masalahnya.

Mendengar penjelasan tetua kambing, si kancil merasa ikut prihatin. Dan dengan senang hati dia akan memikirkan cara untuk membantu menyelesaikan masalah tetua kambing. Terlihat si kancil termenung sejenak. Dia mencoba mencari solusi apa yang tepat untuk menyadarkan anak tetua kambing yang sombong dan sok pintar itu. Lalu si kancil menyadari sesuatu, bahwa anak tetua kambing itu sebenarnya cukup bodoh. Namun karena sifat sombongnya, dia berlagak sok pintar. Gabungan dari sifat sombong dan bodoh, adalah kecerobohan yang membuatnya mudah dijebak. Sehingga kelak bisa membuat anak itu menemui celaka.

Tak lama kemudian, terlihat wajah kancil yang tersenyum. Sepertinya dia sudah menemukan ide untuk menyelesaikan masalah itu. Lalu diapun menceritakan rencananya pada tetua kambing dan berharap tetua mau membantu utuk membuat rencana itu berhasil. Dan ternyata, tetua kambing tidak keberatan dan bahkan dia cukup mendukung rencana si kancil. “Sepertinya cara mu itu lebih baik demi masa depanya”. Kata tetua kambing.

“Di manakah biasanya anak mu berada?”. Tanya kancil.
“Kau cari saja di padang rumput pinggir sungai, dia biasanya bermain-main di situ sambil menggangu kambing-kambing yang lemah”. Jawab tetua kambing.
“Baiklah kawan, aku akan ke sana untuk menemuinya. Ingat rencana kita, dan do’akan semoga aku berhasil kali ini”. Kata kancil kemudian pamit undur diri.

Akhirnya, si kancil pergi ke padang rumput untuk menemui anak tetua kambing. Setelah sampai di sana, kancil melihat anak tetua kambing itu tengah berdiri dengan congak di atas sebuah batu besar. Lalu banyak para kambing yang berkerumun di sekeliling batu tersebut. Sepertinya si anak tetua kambing itu tengah bercerita tentang kehebatanya, tentunya dengan dibumbui beberapa kebohongan dengan cerita yang dilebih-lebihkan.

Si kancil kemudian mencoba berbaur dengan mereka. Dia memperhatikan sekitar seperti ada yang dia tunggu. Benar saja. Tak berapa lama kemudian, datang seekor monyet dan juga seekor tupai. Mereka sepertinya tengah membawa sesuatu yang dibungkus dan dipangul di punggung mereka.
“Permisi.. apakah kami boleh bertanya? Kami butuh pertolongan”. Kata monyet dan tupai. Para kambing yang mendengar ada yang bertanya, segera memalingkan wajah mereka ke arah monyet dan tupai.

“Kalin mencari siapa? Dan apa yang bisa kami bantu?”. Tanya seekor kambing.
“Begini.. kami sedang mencari tetua yang bijak untuk membantu menyelesakan masalah kami”. Kata tupai.
“Memangnya apa masalah kalian,”. Tanya kambing yang lain.
“Kami berniat mau bertukar buah. Si monyet ini memiliki enam buah pisang. Dan aku berniat menkarnya dengan buah cery milik ku. Setiap satu buah pisang, si monyet memita enam buah ceri. Jadi aku tak tahu berapa buah cery yang harus aku berikan padanya untuk 6 pisang yang dia punya, karena kami berdua sama-sama bodoh dan tidak pandai berhitung”. Cerita tupai.

Mendengar hal itu, ada beberapa kambing maju dan mencoba mau membantu. Karena di antara para kambing, beberapa ada yang bisa berhitung meski jumlahnya sedikit. Dan kebanyakan dari para kambing adalah bodoh dan tidak tahu apa-apa. Namun sebelum mereka maju, anak tetua kambing segera melompat dari atas batu dan maju dengan percaya diri. “Kalian tidak salah datang kemari dan beruntung sekali aku di sini, karena akulah kambing yang paling bijak dan pintar di sini”. Kata anak tetua kambing dengan penuh percaya diri.

Melihat anak tetua kambing sudah maju, para kambing yang lain mengurungkan niat mereka dan tetap diam di tempat. Karena jika mereka menggangu apa yang dilakukan anak tetua kambing dan membuatnya marah, salah-salah mereka bisa celaka. “Lalu.. apa yang ingin kau tanyakan pada si bijak dan pintar ini?” Tanya anak tetua kambing.
“Begini kambing yang bijak, seperti yang sudah diceritakan tupai sahabat ku tadi. Aku memiliki 6 pisang, dan dia mau menukar pisang ku dengan buah cery miliknya. Tapi aku meminta 6 buah ceri untuk di tukar dengan satu buah pisang. Jadi berapa buah ceri yang harus dia berikan untuk 6 pisang yang aku miliki?”. Tanya monyet.

“Ah.. itu mudah.. jawabanya adalah 40 buah ceri. Karena itu sama saja 6×6 maka hasilnya adalah 40”. Kata anak tetua kambing dengan yakinya. Mendengar itu, beberapa kambing yang bisa berhitung kaget. Karena mereka tahu jika jawaban itu salah. Namun mereka tak berani mencampuri urusan anak tetua kambing. Sehingga tidak ada satupun kambing yang berani membantahnya. Namun tiba-tiba si kancil maju mendekat. “Ma’af kawan.. bolehkah aku ikut membantu. Jawaban yang diberikan oleh kambing ini salah. Yang benar jawabanya adalah 36 buah cery. Karena 6×6 itu jumlahnya 36, bukan 40”. Kata kancil. Melihat kancil yang tiba-tiba maju dan muncul entah dari mana, membuat para kambing kaget. Mereka hawatir si kancil akan celaka karena telah membuat si anak tetua marah. Si anak tetua yang mendengar jawaban kancil, kontan saja geram. Baru kali ini ada hewan lain yang berani membantahnya dan bahkan mengatakan bahwa dia salah.

“Hai hewan kerdil, siapa kau? Berani-beraninya hewan bodoh seperti mu mengatakan bahwa aku salah? Lihat saja, tak ada yang membantah jawaban ku kecuali kamu. Itu berarti jawaban ku benar dan kamu yang salah!!”. Kata anak tetua kambing dengan geram.
“Bukan aku yang salah.. tapi jawaban mu yang salah. 6×6 itu jumlahnya 36”. Kata kancil tetap tak bergeming.
“Wah.. kamu memang tidak bisa diajak halus ya? Baiklah.. hai kalian, menurut kalian, mana jawaban yang benar? Jawaban ku atau jawaban si kerdil ini?”.tanya anak tetua kambing pada kaming-kaming lain.

Namun para kabing diam saja tidak ada yang berani menjawab. Sebagian besar memang karena mereka tidak bisa berhitung, dansebagian yang lain memang tidak mau celaka jika membantah anak tetua kambing. “Nah.. kau lihat sendiri? Mereka semua diam. Itu berarti jawaban ku yang benar”. Kata anak tetua kambing.
“Oh.. tidak bisa.. tetap jawaban ku yang benar dan kamu yang salah”. Kata kancil ngeyel.
“Hahaha.. hewan bodoh masih juga ngeyel. Gak mau ngaku kalau kamu salah. Baiklah.. untuk menentukan siap yang benar, ayo kita temui ayah ku. Dia adalah tetua di sini. Dan dia pasti tahu bahwa aku benar dan kamu salah..”. Kata anak tetua.
“Tidak mungkin.. tetap kamu yang salah..”. Jawab kancil coba memancing emosi si anak tetua.
“Kamu masih juga ngotot.. sudah jelas jawaban ku pasti benar karena aku kambing yang paling bijak dan pintar disini..”. Kata anak tetua mulai terpancing.
“Lalu.. bagaimana jika ternyata jawaba mu salah,”. Kancil masih memancing.
“Tidak akan salah.. aku yakin.. jika memang nanti ternyata jawaba ku terbukti salah.. aku akan berenang ke seberang lewat sungai yang penuh buaya ini”. Kata anak tetua dengan sombongnya.
“Hmm.. baiklah.. kalau begitu, ayo kita temui saja ayah mu”. Ajak kancil.

Akhirnya.. mereka bersama-sama menemui tetua mereka. Dan meminta keputusan mana di antara dua jawaban tersebut yang benar. Para kambing yang bisa berhitung, sudah yakin pasti tetua mereka akan menjawab bahwa jawaban kancil yang benar. Namun di luar dugaan, ternyata si tetua menyatakan bahwa anakyayang benar sedangkan si kancil yang salah. Dan sebagai hukuman, si kancil harus tinggal di tempat itu selama satu miggu dan membantu membersihkan tempat tinggal tetua sebagai pelayan. Mendengar keputusan itu, anak tetua itu tetawa terbahak-bahak. Berkali-kali dia berteriak bawha kancil itu bodoh dan idiot. Namun para kambing yang lain malah berfikir sebaliknya, mereka mulai tidak menykai tetua yang jelas-jelas membantu anaknya yang salah.

Setelah kejadian itu, sikap para kambing pada tetua dan anaknya menjadi berubah. Mereka mulai acuh tak acuh, dan dibelakang mereka mengunjing anak tetua kambing yang bodohnya bukan kepalang. Lambat laut, kabar tentang kebodohan anak tetua itu cepat tersebar. Dan akhirnya sampai pada telinga anak tetua. Mendengar hal itu, anak tetua itu menjadi marah. “Kurang ajar sekali mereka mengatai aku bodoh. Aku akan mengaduke ayah agar mereka semua di hukum”. Kata anak tetua sambil berlalu.

Anak kambing yang bodoh dan sombong itu menghadap tetua dengan marah-marah. Dia menceritakan apa yang dia dengar tentan kabar yang mengatakan bahwa dia itu bodoh. Dia berharap, ayahnya akanmendukungnya dan memberi mereka hukuman yang berat. Namun di luar dugaanya, ternyata ayahnya malah membenarkan bahwa dia memang bodoh. Karena sebenarnya jawaban si kancil yang benar. Dan para kambing tahu hal itu, tapi mereka tidak berani membantah tetuanya. Sedangkan si kancil juga tahu bahwa dia benar, namun dia dengan ikhlas menerima hukuman meski dia tahu dia benar. “Jika memang si kancil yang benar, kenapa dia mau saja di hukum padahal dia benar?”. Tanya anak tetua masih kurang yakin.
“Kalau tentang apa alasnya kenapa dia tetap mau di hukum meski dia salah, kamu bisa tanyakan sendiri padanya”. Kata tetua.

Akhirnya anak itu pergi menemui kancil yang tengah membersihkan daun-daun kering. Dengan agak ragu dia lalu bertanya pada si kancil. “Hai kancil.. ayah kubilang bahwa sebenarnya jawaban mu yang benar, sedangkan jawban ku salah. Tapi kenapa kau mau saja di hukum meski kau merasa tidak bersalah?”. Tanya anak tetua ingin tahu. Mendengar pertanyaan itu, si kancil tersenyum.
“Hai kawan.. ini semua adalah ide ku dengan bantuan ayah mu. Bahkan ayah mu rela dihina oleh rakyatnya demi menyadarkan mu. Jika kamu bertanya kenapa aku mau di hukum meski aku benar, dalah karena itu yang terbaik”. Kat kancil.
?”. Tanya anak tetua masih tidak mengerti.

“Bukankah lebih baik aku merelakan diri ku di hukum meski aku benar? Dari pada satu nyawa terbuang percuma karena kebodohan? Karena jika dia bisa hidup lebih lam, dia masih memiliki kesempatan untuk belajar agar kelak dia tidak celaka karena kebodohanya”. Terang kancil. Mendengar jawaban kancil, anak tetua itu ingt pada janjinya jika dia yang salah maka dia akan menyeberangi sungai yang penuh dengan buaya. Menyadari hal itu, anak tetua merasa malu. Kini dia sadar, bahwa selama ini dia memang cukup bodoh. Namun dia berlagak sombong dan sok pintar karena tak ada satupun kambing yang berani membantahnya. Kini dia sadar, jika saja waktu itu bukan hanya sebuah rencana antara si kancil dan ayahnya, mungkin saat ini dia sudah mati dimangsa para buaya. Dan mulai saat itu, anak tetua itu mulai menjadi lebih baik dan belajar dari semua kesalahan-kesalahanya. Dan beberapa tahun kemudian, dia diangkat menjadi tetua mengantikan ayahnya. Dan dia juga menjadi tetua yang bijak seperti ayahnya.

The End

Story By: Muhammad Rifai

Hikmah: Terkadang, tak selamanya yang benar itu harus menang. Karena ada kalanya kebenaran itu harus mengalah demi tercapainya tujuan yang lebih baik di masa depan.

Dongeng KANCIL, SINGA dan TIKUS

Dongeng Kancil Terbaru – Dongeng Kancil, Singa, dan Tikus | Di daratan Eutopia, ada salah satu hewan yang dijuluki juga sebagai raja hutan selain Harimau. Dia adalah sang Singa. Namun singa lebih senang hidup di padang rumput dengan alam yang lebih terbuka. Dia selalu menjaga wilayahnya dari para hewan yang ingin berbuat onar di daerah kekuasaanya.

Sebagaimana si Harimau, singa juga memiliki sifat yang sombong sebagaimana seorang raja. Dia cukup angkuh dan merasa tidak terkalahkan. Bahkan dia sering memandang rendah hewan yang lebih lemah darinya. Si kancil pernah beberapa kali bertemu dengan singa, namun dia bisa bersembunyi untuk menghindar. Berbeda dengan harimau, sifat singa sedikit lebih tenang. Bahkan terkesan cukup malas. Hari-harinya selalu di isi dengan tidur. Dia hanya berburu ketika perutnya sedang lapar saja.

Pada suatu hari ketika si singa tengah tertidur nyenyak, ada seekor tikus yang tidak sengaja tersesat ke sarangnya. Tikus itu tanpa sengaja membangunkan singa yang sedang tertidur itu. Kontan saja singa yanf merasa terusik itu sangat marah dan mengaum dengan keras. Auman singa cukup menakutkan bagi setiap yang mendengar. Bahkan aumanya dapat di dengar hingga jarak cukup jauh di seluruh penjuru hutan.

Melihat singa yang marah, tikus yang malang itu merasa sangat ketakutan. Dia merasa kini ajalnya mungkin akan datang karena di makan oleh singa. Namun tiba-tiba saja si kancil datang, dia mencoba menengahi untuk menenangkan singa tersebut.
“Eh.. singa.. tunggu dulu. Jika kau memakan tikus malang ini, maka martabat mu sebagai raja hutan akan tercoreng. Kau akan sangat rugi. Selain tidak kenyang.. kau juga akan di kenal sebagai hewan rakus yang bahkan memakan tikus yang kurang bergizi”. Kata kancil.
“Apa maksut mu cil..? Apa kau meledek ku?”. Kata singa masih geram.
“Bukan itu masalahnya.. aku hanya ingin menyelamatkan harga diri mu. Jika kau memakan tikus ini, maka kau tak lebih dari hewan berkuku dengan taring besar.. namun selera makan mu kacangan dan tak bermutu. Bayangkan saja jika seluruh penghuni hutan tahu, pasti mereka akan menertawakan mu”. Jelas kancil.

“Lalu.. apa yang harus aku lakukan? Tikus ini sudah mengganggu tidur ku”. Tanya singa lagi.
“Sebagai raja.. kau harus belajar untuk mengampuni. Biarkan dia pergi. Mungkin saja kelak dia justru bisa menolong mu ketika kau kesusahan”. Jawab kancil.
“Hahahahaha… aku? Kesusahan? Lalu ditolong tikus? Mana mungkin.?? Aku ini raja hutan yang paling kuat. Bahkan harimau saja tak sebanding. Tak ada yang berani macam-macam dengan ku. Itu mustahil.. hahahaha..”. Kata singa dengan sombongnya.
“Baiklah.. mau mustahil atau tidak, roda nasib tak ada yang tahu. Jadi bagaimana singa? Apa kau mau melepaskanya?”. Tanya kancil lagi.
“Baiklah.. kali ini dia aku lepaskan. Tapi bukan karena alasan yang kau sebutkan.. tapi memang karena aku masih kenyang.. jadi, cepat pergi sebelum aku berubah fikiran..”. Kata singa sambil kembali memejamkan mata untuk melanjutkan tidurnya. Sementara kancil dan tikus segera pergi dari tempat itu.

Beberapa bulan berlalu setelah kejadian itu. Hingga pada suatu hari, singa di timpa musibah. Ketika tengah mencari mangsa, singa terjerat oleh jaring yang di pasang pemburu. Dia sudah berusaha lepas, tapi tak berhasil. Jaring itu dirajut dengan tali yang cukup kuat. Hingga dua hari lamanya singa terjebak. Tanpa makan dan minum, sehingga membuat singa lemas kehabisan tenaga. Bahkan untuk mengaum saja dia sudah tidak sanggup. Namun takdir sepertinya masih berpihak pada si singa. Tikus yang dulu dia lepaskan, tidak sengaja lewat tempat itu.

Melihat singa yang sekarat, tikus itu langsung berusaha menolongnya. Dia menggigit setiap tali jaring itu hingga putus. Setelah semua tali putus, singa itu akhirnya bisa bebas. Melihat bahwa nyawanya diselamatkan oleh seekor tikus yang dulu dia remehkan, membuat singa merasa malu. Kini dia belajar akan satu hal.. kemampuan itu tidak hanya dilihat dari penampilan luar saja. Singa merasa bersyukur, bahwa dulu dia mengambil keputusan yang benar dengan melepaskan si tikus. Andai saja dulu dia tidak melepaskan si tikus, niscaya nyawanya sudah tidak tertolong.

Singa mengucapkan terimakasih kepada tikus. Dia juga meminta ma’af jika dahulu dia menghina si tikus. Tikus itu hanya tersenym, karena dia sudah lama mema’afkan singa dan merasa tidak terjadi masalah. Sejak saat itu, tikus dan singa menjadi sahabat. Singa berjanji akan dengan senang hati membantu tikus ketika tikus dalam kesulitan. Sebagai wujut balas budi di hari itu.

Story by: Muhammad Rifai

Hikmah: Kemampuan seseorang, itu tidak dapat dinilai dari penampilanya saja. Terkadang orang yang kita anggap remeh, lebih hebat dari pada kita sendiri.

Dongeng Persahabatan Bangau dan Anjing

Dongeng Terbaru – Dongeng Persahabatan Bangau dan Anjing | Bangau dan Anjing adalah sepasang sahabat. Mereka sudah kenal sejak lama. Banyak waktu yang mereka habiskan bersama, bahkan mereka juga saling menolong satu sama lain. Namun meski mereka sudah bersahabat cukup lama, ternyata si anjing tidak mau tahu dan mengerti kebiasaan sahabatnya. Sehingga hal tersebut sering menimbulkan masalah-masalah kecil di antara mereka. Meski akhirnya si bangau yang mengalah agar masalah tidak menjadi panjang.

Begitulah.. Dua sahabat itu mencoba mengatasi setiap masalah yang mereka hadapi. Kadang rukun, kadang ribut, dan baikan lagi. Namun kata orang, kesabaran ada batasnya. Dan kali ini kesabaran si bangau sudah habis. Dia sudah cukup mengalah, tapi anjing tidak pernah mau tahu itu. Si bangau duduk di pinggir sungai, wajahnya termenung. Terlihat raut jengkel di wajahnya. Ternyata si kancil dari tadi memperhatikan tingkah laku si bangau. Kancil lalu menghampiri si bangau untuk mencoba menghibur.

“Ada apa bangau? Ada masalah lagi dengan si anjing?.” tanya kancil.
“Haaahhh.. Iya cil.. Seperti biasa. Tapi kali ini aku sudah capek kalo harud ngalah terus. Si anjing juga tidak mau belajar dari masalah yang sudah-sudah.” Jawab bangau.
“Memangya masalah kali ini apa? Sehingga kau bisa semarah itu?.” Tanya kancil lagi.
“Kau tahu sendiri aku dan anjing sudah bersahabat cukup lama. Namun dia selalu saja memikirkan diri sendiri. Bahkan dia sama sekali acuh dengan kebiasaan sahabatnya.”
” Kemarin siang, anjing mengundang ku untuk acara pesta ulang tahunya. Dia juga mengundang kawan-kawan anjing yang lain. Karena menghargai undanganya, aku sampai tidak mencari makan hari itu.”

“Aku langsung datang ke rumahnya dengan perut kosong. Dan fikir ku, anjing akan menyediakan makanan khusus untuk ku.”
“Tapi aku sangat kecewa.. Si anjing malah menyediakan sup, dengan wadah piring. Padahal dia tahu.. Aku tidak bisa makan sup karena paruh ku panjang dan lidah ku pendek.” “Sedangkan anjing dengan acuh menghabiskan makananya hingga tak bersisa. Bahkan makanan ku akhirnya dia makan juga karena dikiranya aku tidak bisa menghabiskanya. Padahal perut ku sangat lapar, tapi aku tidak bisa makan.” kata bangau mengakhiri ceritanya.

“Hmm.. Jadi intinya dia kurang peka dengan keadaan temanya? Sepertinya aku punya ide yang bisa membantu mu untuk menyadarkan si anjing.. Sini aku bisikan.. .” Kata kancil.
Akhirnya keesokan paginya, si bangau mengundang anjing untuk makan siang dirumahnya seperti saran yang dia dapat dari si kancil. Anjing yang terkenal cukup rakus, tentu saja sangat senang dan tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
“Wah.. Kebetulan aku sangat lapar. Aku akan makan sampai puas.. .” Fikir si anjing dalam hati. Dia berjalan dengan semangat menuju rumah si bangau.

Setibanya di rumah si bangau, dia disambut dengan ramah oleh si bangau. Dan dipersilahkan masuk untuk menunggu sebentar.
“Apa kau sudah lapar kawan?.” Tanya bangau.
“Ya tentu saja.. Aku tadi langsung kemari tanpa sempat untuk sarapan. Cepat keluarkan makananya.. Aku sudah sangat lapar bangau..”. Kata anjing dengan semangat.
“Baiklah.. Tunggu sebentar..”. Kata bangau sembari masuk ke dapur. Beberapa saat kemudian, si bangau keluar dengan makanan. Dia membawa dua porsi makanan yang dia taruh di dalam wadah botol.

“Nah anjing sahabat ku.. Ayo kita makan sama-sama..”. Kata bangau langsung makan dengan lahapnya. Dia tidak perduli pada tingkah laku si anjing yang sepertinya sedang kebingungan. Hingga beberapa saat kemudian, makanan si bangau sudah habis. Tapi dia melihat makanan si anjing masih utuh.
“Wah.. Apa kau tidak bisa menghabiskan makanan mu kawan? Apa kau sudah kenyang? Kalau begitu biar aku habiskan juga punya mu.. .” Kata bangau sambil mengambil makanan si anjing tanpa menunggu jawaban si anjing.

Merasa dirinya di hina, anjing langsung marah-marah. Dia mengumpat si bangau habis-habisan..
“Sahabat macam apa kau ini? Bagaimana bisa kau memberi ku makan dengan cara seperti ini? Bagaimana aku bisa kenyang kalau makan saja aku tidak bisa. Kau lihat..? Aku tidak punya paruh. Kenapa kau menghidangkan makanan di dalam botol. Mana bisa aku memakanya..?.” Kata anjing penuh emosi.
“Hmm.. Jadi kamu kini sudah tahu pula bagaimana perasaan ku? Kemarin ketika di pesta mu, kau hidangkan sup di atas piring. Padahal kau tahu lidah ku tidak terlalu panjang untuk bisa makan sup. Kau kini tahu rasanya lapar? Seperti aku kemarin juga sama. Kini kau bilang aku bukan sahabat yang baik.. Lalu bagaimana dengan diri mu? Apa kau sudah merasa menjadi sahabat yang baik?.” Jawab bangau.

Anjing terkejut mendengar jawaban si bangau. Kini dia tahu alasanya, kenapa beberapa hari ini si bangau marah padanya. Dan kini dia sadar, bagaimana perasaan si bangau. Sebagaimana yang dia rasakan kali ini. Si anjing terdiam. Dia merasa bersalah. Dan akhirnya, dia meminta ma’af pada si bangau atas semua perilakunya selama ini. Dia berjanji, mulai hari itu dia akan berusaha menjadi sahabat yang lebih baik. Yang mau mengerti dan juga saling mengerti. Si kancil yang melihat tingkah laku dua sahabat itu dari kejauhan, hanya bisa tersenyum lega karena kini semua masalah sudah terselesaikan dengan baik.

Story by: Muhammad Rifai

Hikmah: Terkadang kita terlalu egois dan memikirkan kesenangan sendiri tanpa berfikir akan perasaan orang lain. Kadang kita hanya mau terus-terusan di mengerti.. Tetapi kita sendiri acuh dan tidak mau belajar untuk saling mengerti.

Dongeng MUSANG dan AYAM

Dongeng Terbaru – Dongeng Musang dan Ayam | Setelah pada dongeng yang lalu si kancil menolong ayam dari keganasan elang, para ayam mencari tempat baru untuk bersembunyi dari si elang. Di tempat baru mereka, mereka membangun sarang dan kembali bertelur untuk agar keturunan mereka bisa bertahan. Mereka sangat gembira atas keberhasilan mereka memberi pelajaran pada si elang. Dan tentu saja budi baik si kancil tidak akan mereka lupakan. Akhirnya, mereka mengutus salah satu ayam untuk mencari si kancil. Tujuanya untuk mengucapkan terimakasih serta mengundang kancil untuk acara pesta di rumah baru mereka.

Ketika diperjalanan, ayam itu bertemu dengan si musang. Mereka berdua sudah lama kenal dan menjadi sahabat dekat. Ayam itu lalu menemui musang yang sepertinya tengah sibuk melakukan sesuatu.
“Hai musang.. sedang apa kau disini? Sepertinya sibuk sekali… .” Tanya si ayam.
“Ooo.. ayam, rupanya kau. Ku kira siapa. Aku sedang menanam jagung. Tadi aku menemukan sebuah jagung. Dan burung merpati bilang.. lebih baik aku menanamnya agar kelak bisa bertambah banyak.” Jawab musang.
“Wah.. jagung? Hmmm.. aku suka sekali jagung. Bolehkah aku ikut membantu menanamnya? Agar nanti jika sudah panen aku juga bisa ikut makan?.” Tanya ayam itu.
“Tentu saja.. kenapa tidak? Kita kan sahabat..”. Kata musang dengan ramah.

Akhirnya musang dan ayam menanam jagung itu bersama-sama. Setelah seharian bekerja, akhirnya mereka selesai juga. Setelah itu, si ayam meminta izin pada rubah untuk pergi menemui kancil. Dia mendapat tugas untuk mengundang kancil datang ke pesta rumah baru mereka bulan depan. So musang tidak keberatan. Mereka mengadakan perjanjian bahwa mereka akan menjaga kebun jagung itu bergantian selama tiga minggu. Begitu silih berganti hingga jagung itu siap di panen.

Waktu terus berlalu.. tak terasa sudah berjalan beberapa bulan, dan buah jagung sudah siap dipanen tidak lama lagi. Namun hari itu adalah waktu berganti untuk berjaga. Setelah si musang menjaga kebun itu selama tiga minggu, kini giliran si ayam yang harus menjaganya.
“Nah kawan.. kini giliran mu untuk berjaga. Aku akan pergi menemui keluarga ku untuk aku bawa ke sini. Kita akan makan jagung kita ini sama-sama. Jika sekiranya aku pergi terlalu lama dan kau tidak sabar menunggu, kau boleh memakan dulu bagian mu dan sisakan bagian ku.”. Pesan si musang.
“Oke musang.. kamu tenang saja. Jagung ini akan aman bersama ku. Kau tak perlu hawatir.” Kata ayam dengan yakin.

Setelah itu, si musang akhirnya pergi untuk menemui keluarganya. Dia berniat membawa semua keluarga dan teman-teman musangnya untuk memakan jagung hasil jerih payahnya selama kurang lebih tiga bulan. Karena perjalanan yang cukup jauh, membutuhkan waktu yang cukup lama untuk musang dalam perjalanan pulang pergi. Dan ternyata, tak terass dia sudah pergi lebih dari tiga minggu. Si ayam yang menunggu di kebun jagung menjadi tidak sabar. Berbagai fikiran dan prasangka muncul dibenaknya.
“Bagaimana jika musang ternyata sudah mati dimakan harimau? Atau dia mati karena bertemu manusia?.” Fikir ayam dalam hati. Hal tersebut membuat hati ayam menjadi was-was. Namun beberapa saat kemudian, tiba-tiba wajahnya berubah menjadi senang sekali.

“Ah.. betapa bodohnya aku. Kenapa juga harus hawatir jika si musang mati? Itu malah bagus. Karena aku tak harus berbagi semua jagung ini dengan musang. Semua jagung ini kini menjadi milik ku sendiri.. hahahaha… .” Kata ayam dengan serakah. Ternyata, keserakahan membuat ayam lupa pada pesan musang. Dia ingin menguasai seluruh buah jagung itu sendiri. Dia juga memanggil kawan-kawanya untuk berpesta makan jagung bersama, dan mengakui bahwa semua jagung itu adalah hasil kerjanya sendiri. Pesta berlangsung cukup meriah. Para ayam makan hingga kenyang, dan semua buah jagung habis tak bersisa.

Namun ternyata, pada pagi harinya si musang datang bersama teman-temanya. Dia juga membawa serta si kancil. Ternyata si musang menyempatkan diri untuk mencari si kancil dan mengajaknya untuk makan jagung bersama, itulah sebabnya si musang datang terlambat. Namun betapa terkejutnya dia begitu melihat kebun jagungnya yang porak poranda. Semua rusak dan tak ada satupun buah tersisa.

Dia melihat si ayam yang tertidur di tempat itu. Ternyata si ayam bangun kesiangan setelah setelah semalam berpesta hingga larut. Dia bahkan tidak melihat kawan-kawanya yang sudah pulang ke sarang mereka. Musang lalu membangunkan si ayam dengan nada marah. Dia bertanya apa yang terjadi dengan kebun jagung mereka. Karena ketika terakhir kali ditinggalkan si musang, semua jagung-jagung itu sudah berisi. Si ayam yang kaget dan tidak mengiramusang akan datang, menjadi terkejut dan panik.

Dia beralasan, bahwa semua jagung-jagung mereka telah hancur dan gagal panen karena diserang hama. Namun si kancil yang secara kebetulan ada disitu, mencium adanya hal yang kurang beres. Dia lalu menelusur seluruh area kebun itu, dan dia menemukan banyak sekali kulit dan bekas tongkol jagung bertebaran. Melihat bukti tersebut, si ayam menjadi tidak bisa berkutik lagi. Dan akhirnya dia mengakui bahwa semua jagung telah dia makan bersama kawan-kawanya.

Tentu saja si musang menjadi tambah marah. Karena si ayam telah melanggar janji mereka tentang menyisakan bagian masing-masing. Hampir saja si musang menerkam si ayam. Namun dilerai oleh si kancil. Si kancil memberi solusi agar si ayam diberi waktu untuk mengganti jagung si musang. Dan karena musang menghormati si kancil, dia setuju. Dia memberi waktu dua bulan untuk ayam mengganti semua jagung bagian si musang. Agar cukup waktu bagi si ayam untuk menanam jagung yang lain.

Namun kesempatan itu malah disalah gunakan oleh si ayam. Bukanya dia menanam jagung, dia malah mengajak semua bangsa ayam untuk pindah dan lari. Si ayam terlalu malas untuk menanam jagung yang pada akhirnya dia tidak bisa memakan sendiri. Setelah waktu dua bulan habis, si musang berkunjung ke tempat ayam. Namun betapa marahnya dia ketika melihat tempat itu sudah kosong dan terbengkalai. Jangankan jagung, seekor ayam pun tak ada di tempat itu.

Dan sejak saat itu musang bersumpah.. dia dan keturunanya akan menjadikan bangsa ayam sebagai santapan pengganti jagung yang sudah direbut si ayam. Dan karena alasan itu pula, bangsa ayam memutuskan untuk tinggal dekat dengan manusia. Karena dengan mendekati manusia, mereka bisa sedikit aman dari ancaman musang yang hendak mmangsa mereka.

“Mungkin manusia juga akan memanfa’atkan kita. Dan akan menjadikan kita santapan. Namun tidak mengapa. Kita sudah terlalu banyak berbuat bodoh dan melakukan kesalahan. Karena kedalahan kita, kini bangsa kita dimusuhi oleh elang dan juga musang. Mereka tidak pandang bulu, baik kecil atau besar, akan mereka makan. Namun jika kita mendekati manusia, maka mereka mungkin hanya akan memangsa kita yang sudah besar. Dan membiarkan anak-anak kita tetap hidup. Itu harga yang cukup pantas yang harus kita bayar.” Kata salah satu ayam dengan nada penyesalan.

Story by: Muhammad Rifai

Hikmah: Terkadang keserakahan bisa merubah seseorang. Sifat tamak dan serakah, sering membuat fikiran kita tertutup hingga melakukan tindakan bodoh yang kelak akan kita sesali.

Fabel KANCIL Menipu Burung ELANG

Fabel Kancil Menipu Burung Elang – Setelah pada cerita ayam jago dan burung elang yang lalu, kehidupan bangsa ayam menjadi tidak tenteram. Mereka selalu dilanda ketakutan karena terror para burung elang yang mengincar anak-anak mereka. Namun mereka tak bisa berbuat apa-apa. Sekuat apapun mereka berusaha, mereka tak mampu untuk mengalahkan burung elang. Lambat laun, anak-anak ayam mulai habis. Hanya tinggal beberapa ekor saja.

Tentu hal tersebut membuat bangsa ayam menjadi sangat risau. Karen jika kejadian ini terus berlanjut, bisa jadi keturunan mereka akan binasa dan jenis mereka akan punah. Akhirnya, para ayam mengadakan musyawarah. Mereka harus meminta bantuan segera. Tapi pada siapa? Salah satu ayam tiba-tiba berdiri ke tengah. Dia menyarankan agar meminta bantuan pada si kancil. Dia yakin si kancil memiliki solusi untuk masalah mereka.

Akhirnya salah satu ayam ditugaskan untuk menemui si kancil. Awalnya si kancil menolak. Karena masalah yang terjadi antara ayam dan elang, adalah murni karena kesalahan bangsa ayam. “Tolonglah cil.. Kami tahu itu salah kami. Kami rela jika memang harus menerima hukuman. Tapi yang jadi masalah adalah, anak-anak kami yang tidak tahu apa-apa yang jadi korban. Elang bahkan menghabiskan dan menangkap semua anak-anak kami hingga hanya tersisa beberapa ekor. Jika besok dia datang dan menangkap mereka lagi, bisa-bisa semua keturunan kami habis dan kami bisa punah. Tolonglah cil.. Kami hanya ingin kesempatan agar bangsa kami tidak punah”. Kata ayam itu memelas.

Mendengar alasan si ayam, kancil merasa tersentuh. Jika di fikir-fikir dengan jernih, betul juga kata ayam. Elang sudah terlalu kelewatan. Yang memiliki masalah dengan bangsa elang adalah para ayam yang sudah dewasa, kenapa anak-anak yang menjadi korban. Dan lagi jika hal ini terus berlanjut, bisa jadi bangsa ayam akan benar-benar punah karena tidak memiliki kesempatan untuk memiliki keturunan. Dan akhirnya, kancil bersedia membntu.

“Baiklah kalau begitu, untuk kali ini saja demi anak-anak kalian yang tidak bersalah, aku akan membantu. Pulanglah..!! Besok ketika elang datang lagi ke tempat kalian, aku akan ke sana untuk berbicara denganya”. Jawab kancil.
Mendengar hal itu, si ayam menjadi sangat gembira. Dia segera pulang menemui teman-temanya untuk menyampikan kabar bahagia itu. Para ayam menyambut kabar itu dengan suka cita. Ada secercah harapan yang mereka rasakan untuk bisa menyelamatkan anak-anak mereka.

Keesokan paginya.. Burung elang datang lagi ke sarang ayam. Seperti biasa, mereka mengincar anak-anak ayam yang masih tersisa di balik hiruk pukuk para ayam yang berlari panik. Namun ketika si elang tengah menemukan anak ayam yang menjadi targetnya, tiba-tiba ada suara yang memanggilnya.
“Hai elang.. Tunggu sebentar, aku ingin bicara”. Kata suara itu yang ternyata si kancil.

Melihat si kancil datang, si elang hinggap di atas sebuah batu dengan betolak pinggang. Dengan nada angkuh si elang menjawab..
“Ada apa cil.. Apa kau disewa oleh mereka untuk melawan ku? Hahahaha.. Mereka rupanya sudah terlalu putus asa hingga akal mereka hilang. Jika serigala saja tak mampu melawan ku, apalagi hewan mungil seperti mu?”. Kata elang dengan nada sombong.
“Ah.. Tunggu sebentar elang.. Kau salah faham.. Aku kemari bukan untuk melawan mu. Tapi aku kesini sebagai wakil utusan dari bangsa ayam untuk melakukanbnegosiasi”. Jawab kancil.

“Negosiasi? Apa maksut mu? Tak ada lagi yang perlu di negousasikan. Tujuan ku ke mari sudah jelas.. Dan sudah jelas pula tak ada yang mampu melawan, jadi untuk apa aku harus bernegosiasi? Apa untungnya bagi ku?”. Tanya elang ketus.
“Ah.. Kau ini memang kuat elang, tapi otak mu sungguh bodoh”. Kata kancil.
“Bodoh kata mu? Kau menantang ku?”. Jawab elang emosi.
“Tunggu dulu.. Bukan begitu maksut ku. Begini lho.. Jika kamu memakan anak ayam langsung banyak dalam sekali waktu, maka kau akan rugi dikemudian hari. Karena sudah tidak ada lagi anak ayam yang bisa kau makan sebab sudah habis. Sedangkan para ayam juga butuh waktu untuk bertelur dan menetaskanya. Jadi, apa kau sudah sadar dengan apa yang ku maksut?”. Tanya kancil.

Mendengar penjelasan kancil yang cukup masuk akal, akhirnya burung elang berfikir sesaat.
“Hmm.. Benar juga apa yang kau bilang. Jadi apa sebaiknya yang harus aku lakukan sekarang?”. Tanya burung elang.
“Begini.. Aku sebagai wakil bangsa ayam diutus untuk melakukan satu perjanjian. Yaitu.. Para ayam akan menyediakan satu ekor anak ayam setiap hari untuk kau santap. Tapi ada syaratnya..”. Kata kancil.
“Apa syaratnya..? “. Tanya elang.
“Bangsa ayam ingin meminjam bulu sayap mu yang kuat satu kali saja. Sebagai obat penasaran, bagaimana rasanya bisa terbang seperti burung elang yang gagah dan kuat seperti mu”. Jawab kancil.

Merasa dirinya dipuji, si elang menjadi semakin besar kepala. Hingga dia tidak berfikir dua kali langsung saja menyanggupi syarat itu. Melihat si elang sudah setuju, sibkancil langsung memanggil seluruh ayam yang ada di kawasan itu. Mereka disuruh beramai-ramai untuk mencabut bulu-bulu si elang. Hingga akhirnya, semua bulu si elang habis dan botak. Elang tidak menyangka jika kejadianya akan jadi seperti ini. Dia sangat malu karena semua bulu-bulunya yang megah telah rontok, hilang tak tersisa.

Karena terlalu malu, elang langsung lari ke dalam hutan dan menghilang di semak-semak. Para ayam yang melihat hal itu tertawa terpingkal-pingkal. Paling tidak, kini mereka bisa sedikit membalas perbuatan si elang pada anak-anak mereka. Setelah hari itu, si kancil menyuruh para ayam untuk pindah mencari tempat lain. Mereka harus bersembunyi dari elang agar dapat membesarkan anak-anak mereka.

Story By: Muhammad Rifai

Hikmah: kadang sifat dendam dan amarah, sering membutakan mata kita. Sehingga yang aslinya tidak bersalah, ikut terkena dampaknya.

Dongeng Burung ELANG dan AYAM JAGO

Dongeng burung Elang dan Ayam Jago – Ketika si kancil tengah berjalan-jalan santai, si kancil melihat ayam jago yang sedang terengah-engah. Dia lalu menghampiri ayam jago itu, dan bertanya apa gerangan yang terjadi. Rupanya, si ayam jago baru saja lepas dari bahaya. Dia dan keluarganya baru saja dikejar-kejar oleh burung elang yang mau memangsa mereka.

Tentu saja si kancil kaget mendengar hal itu. Karena setahu si kancil, burung elang dan ayam jago adalah sahabat karib. Seakan tak percaya.. Kancil pun bertanya lebih lanjut.
“Ah.. Bagaimana mungkin hal itu terjadi? Bukanya kau dan elang adalah sahabat dekat? Bahkan dia sering menyelamatkan mu dari bahaya yang mengancam.” Tanya si kancil pada ayam jago.
“Itu memang benar cil.. Tapi kali ini berbeda ceritanya. Si elang sangat marah dan tidak bisa aku tawar lagi. Semua memang karena salahku yang sudah terlalu ceroboh”. Jawab ayam jago. Si ayam jago lalu menceritakan kisah beberapa hari yang lalu.

Waktu itu, si ayam jago sedang dikejar-kejar oleh seekor serigala. Dan pada waktu yang tepat, si elang datang menolong seperti biasa dan menghalau serigala itu hingga serigala itu pergi. Melihat elang yang selalu datang menolong, membuat hati ayam merasa tidak enak dan sedikit iri. Dia berandai-andai, jika saja dia bisa terbang seperti elang.. Tentu dia tidak harus repot melarikan diri setiap saat. Bahkan dia mungkin bisa menjadi pahlawan seperti si elang yang suka menolong.

Karena fikiran itu, si ayam menjadi risau. Dia tahu bahwa apa yang dia fikirkan hampir mustahil terjadi. Karena dari dahulu ayam memang dirakdirkan tidak bisa terbang. Melihat ayam yang termenung, membuat si elang menjadi penasaran. Apa masalah yang membuat sahabatnya itu terlihat sedih. Ayam pun menceritakan hayalanya jikalau saja dia bisa terbang seperti burung elang, pasti dia tidak harus selalu lari ketakutan jika ada bahaya.

Mendengar perkataan ayam, si burung elang itu hanya tersenyum. Lalu burung elang itu berkata, bahwa ada cara agar ayam juga bisa terbang. Yaitu dengan menjahit sayap mereka menggunakan jarum emas ajaib yang menjadi benda pusaka turun temurun bangsa elang. Mendengar hal itu, ayam jago menjadi sangat gembira. Dia lalu memohon dan merayu si elang, agar si elang mau meminjamkan jarum emas itu padanya. Karena rasa kasihan dan menghargai persahabatan, elang ahirnya meminjamkan jarum emas pada ayam jago.

“Tapi ingat wahai ayam jago.. Ini adalah jarum emas ajaib yang menjadi harta berharga bangsa elang. Jaga baik-baik jangan sampai hilang ataupun meminjamkanya pada siapapun. 3 hari lagi, aku akan kembali menemuimu untuk mengambilnya”. Pesan burung elang.
Namun karena sudah terlalu larut dengan kegembiraan, ayam jago tidak terlalu memperhatikan pesan di elang. Dia langsung menjahit sayapnya. Dan setiap dia selesai menjahit beberapa bulu, dia langsung mencoba terbang. Begitu seterusnya hingga akhirnya dia bisa terbang agak tinggi hingga di atas pagar.

Karena terlalu gembira dan bangga, dia ingin sekali memamerkan kemampuan terbangnya pada hewan-hewan lain meski masih belum terlalu tinggi. Dia menemui ayam betina yang tengah berkumpul dengan itik serta angsa. Lalu langsung saja dia terbang dan hinggap di atas pagar. Melihat hal itu, tentu saja ayam betina, itik, dan angsa menjadi kagum dan penasaran. Terutama ayam betina.

Dia lalu mendekati ayam jago dan berusaha merayu agar diberi tahu apa rahasianya. Karena termakan rayuan si ayam betina, ayam jago lupa pada pesan si elang. Dia menceritakan semua yang dia tahu tentang jarum emas ajaib. Bukan hanya itu.. Diapun mengakui bahwa jarum itu adalah jarum miliknya. Sehingga dia meminjamkan jarum itu pada semua hewan yang ada di situ.

Akhirnya, ayam betina, itik, serta angsa menggunkan jarum itu untuk menjahit sayap mereka. Sebagaimana si ayam jago, mereka juga tidak sabaran. Sehingga setiap menjahit beberapa helai bulu, mereka langsung mencobanya. Hanya si angsa saja yang sedikit lebih sabar dan menjahit bulu lebih banyak. Kegiatan itu mereka lakukan hingga matahari terbenam.

Namun bencana terjadi setelah itu. Jarum emas milik elang, hilang entah kemana. Setiap hewan yang menggunakanya ditanyai, tapi jawaban mereka sama. Bahwa menaruh jarum itu di atas tanah sehabis mereka gunakan. Ayam jago menjadi sangat bingung. Dia coba mengais dan mencakar-cakar tanah di area tempat itu. Berharap jarum emas itu dia temukan.

Ayam betina mencoba membantu, tapi hingga larut mereka tidak bisa menemukanya. Bahkan ketika waktu masih fajar.. Ayam jago sudah mulai bangun dan berkokok untuk membangunkan kawan-kawanya. Berharap mereka mau membantu mencari jarum emas itu. Namun hingga waktu elang datang untuk mengambil jarum emas itu, jarum emas ajaib itu belum juga ditemukan.

Mengetahui jarum emas yang dia pinjamkan telah hilang, elang menjadi sangat marah. Ayam jago sudah berusaha meminta ma’af, namun kemarahan si elang sudah tidak bisa dibendung lagi. Bukan hanya karena jarum itu hilang, namun juga karena ayam jago sudah melanggar janji yang dia pesankan. Akhirnya setelah hari itu elang berjanji.. Bahwa hingga bangsa ayam bisa mengembalikan jarum emas itu, maka bangsa elang akan memangsa semua anak-anak bangsa ayam. Dan begitulah ayam jago mengahiri ceritanya.

Mendengar penjelasan ayam jago, si kancil menjadi ikut perihatin. Namum “nasi sudah menjadi bubur”, semua memang karena kesalahan ayam jago itu sendiri. Dan kali ini, si kancil tidak bisa berbuat apa-apa selain memberi saran agar ayam jago belajar dari kejadian ini.

Kisah ini pula yang menjadi awal mula kenapa ayam jago selalu berkokok di pagi hari untuk membangunkan kita, dan kenapa elang menjadi musuh alami bagi ayam.

Story By: Muhammad Rifai

Hikmah: Terkadang sifat buru-buru dan tidak sabaran, dapat mendatangkan musibah yang cukup besar. Dan lagi, selalu jaga kepercayaan yang diberikan pada mu. Karena sekali kau melanggar, belum tentu kau akan dipercaya lagi.

Dongeng KANCIL dan KUPU-KUPU Sombong

Dongeng Kancil dan  Kupu-Kupu yang Sombong – Pada suatu hari, si kancil sedang berjalan-jalan di sebuah kebun bunga. Berbagai masalah yang sebelumnya dia hadapi, sekiranya dapat sedikit dia tinggalkan sejenak. Maklum, karena si kancil kini di angkat sebagai hakim di hutan eutopia. Maka banyak masalah yang harus dia selesaikan. Baik masalahya sendiri ataupun masalah hewan lain yang meminta bantuanya. Si kancil berjalan pelan melihat pemandangan bunga-bunga yang indah. Musim panas sudah mulai datang, sehingga bunga-bunga sudah mulai bermekaran dengan indahnya.
Ketika tengah memperhatikan sekitar, tak sengaja perhatian si kancil tertuju oleh segerombolan serangga yang sedang berkumpul. Si kancil diam sejenak, dia mendengarkan percakapan para serangga itu. Sepertinya, para serangga itu sedang sedikit ada masalah. Di situ berkumpul banyak serangga. Ada kaki seribu, belalang sembah, belalang ranting, kumbang, lebah, kupu-kupu, dan beberapa serangga lain. Namun sepertinya, si kupu-kupu yang menjadi masalah disini.
Ternyata, si kupu-kupu menyombongkan keindahanya, dan mengejek serangga-serangga lain bahwa mereka semua  tak ada yang mampu menyaingi keindahanya.
“Siapa yang bisa menyaingi keindahan ku? Kamu kaki seribu? Lihat bentuk mu yang gemuk itu, dengan kaki sebanyak itu jalan mu tetap saja lamban. Hahaha..”. Ejek kupu-kupu. Serangga kaki seribu hanya bisa diam tak menjawab. Dia merasa malu dengan ejekan itu.
“Atau kamu belalang sembah? Mau menyaingi keindahan ku? Wah.. lihat bentuk mu. Tak ada yang indah di setiap lekuk tubuh mu. Dengan penampilan seperti itu, kau terlihat lebih menakutkan dari pada di sebut indah. Hahaha..”. lanjut kupu-kupu mnengejek belalang sembah. Dan lagi-lagi, tak ada yang menjawab ejekan kupu-kupu yang sombong itu.
dongeng kancil dan kupu-kupu
ilustrasi kupu-kupu indah
“Ayo siapa yang bisa menyaingi keindahan ku? Belalang ranting yang kurus kering? Lebah yang kerdil? Atau siapa saja, siapa yang bisa mengalahkan keindahan sayap ku yang berkilau? Aku bebas terbang kesana-kemari menghampiri bunga-bunga, dan menghisap madunya hingga kenyang. Tanpa perlu bekerja untuk siapapun mengumpulkan madu seperti lebah-lebah yang bodoh. Hahaha..”. kata kupu-kupu semakin congak. Melihat hal itu, kancil yang dari tadi terdiam di kejauhan berusaha mendekat. Dia berniat menasehati dan mengingatkan kupu-kupu yang sombong itu agar tidak lupa diri hingga berahir celaka.
“hai kawan.. tidak baik kau mengejek kawan-kawan mu seperti itu. Kau memang indah, tapi bukan berarti kau memiliki hak untuk menghina mereka. Karena setiap ciptaan pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu, jangan menyombongkan kelebihan mu”. Kata kancil.
Namun si kupu-kupu yang mendengar perkataan si kancil malah acuh, dengan ketus dia menjawab..
“Ah.. siapa kamu hewan asing? Apa salahnya aku bangga dengan diri ku sendiri/ apa kau juga iri pada ku? Lihat keindahan sayap ku. Yang bersinar di bawah terpaan sinar matahari, maka kau akan tahu akulah hewan paling indah yang tiada bandingnya..”. kata kupu-kupu sambil terbang tinggi. Dia terbang setinggi yang dia bisa untuk memamerkan keindahan sayapnya pada kancil dan semua hewan.
Namun sayang, tanpa dia sadari.. ada burung yang terbang di atasnya. Melihat ada mangsa mendekat, burung itu langsung menyambar kupu-kupu dan dibawa terbang tinggi entah kemana. Si kancil dan para serangga lain yang menyaksikan hal itu hanya bisa ikut perihatin. Mereka tidak bisa membantu, karena si kupu-kupu celaka berkat sifat sombong dan rasa angkuhnya sendiri. Mereka hanya bisa mengambil pelajaran, bahwa kesombongan selalu memiliki akhir yang tragis. Setelah kejadian itu, para serangga pulang ke rumah masing-masing. Sedangkan si kancil masih melanjutkan kegiatanya berjalan-jalan di kebun bunga itu hingga senja tiba.
                                          
Story by: Muhammad Rifai
  
Hikmah yang bisa kita petik: kesombongan dan sifat angkuh, selalu berakhir dengan penyesalan. Oleh karena itu, belajar rendah hati dan menghormati sesama, akan menjadi hal terbaik dalam menjalani hidup yang damai dan tenteram.

Fabel KANCIL dan SERIGALA PENCURI

Fabel Kancil dan Serigala Pencuri   Setelah pada kisah sebelumnya si kancil berhasil selamat dari kejaran harimau dengan menyeberangi sun gai berkat bantuan para buaya, kini si kancil bisa menikmati ketenangan kembali di rumahnya yang nyaman. Dia kini lebih memilih bersantai di rumah dari pada harus pergi ke tempat jauh dengan resiko bahaya yang tidak terduga. Namun mungkin hanya beberapa saat. Rasa penasaran dan rasa ingin tahunya yang tinggi, suatu saat akan mendorongnya untuk melakukan petualangan lagi.
Sedangkan di tempat lain, para burung sedang di landa masalah berat. Beberapa hari ini, telur-telur mereka hilang entah kemana ketika mereka tinggal untuk mencari makan. Tidak ada yang tahu siapa yang mencurinya. Jika terus dibirakan, burung-burung tidak akan bisa lagi menetaskan telurnya dan bisa terancam punah. Menurut kabar, beberapa hari ini seekor serigala sering berkeliaran di kawasan sarang mereka. Namun serigala itu cukup ramah dan baik, maka tidak ada yang mencurigainya. Bahkan kadang kala, serigala itu menawarkan bantuan untuk menjaga telur-telur burung itu ketika mereka pergi.
Namun yang jadi masalah, ketika para burung itu kembali, ternyata telur-telur mereka juga hilang. Dan serigala juga tidak ada lagi di situ. Ketika keesokan harinya mereka bertemu serigala dan bertanya, serigala menjawab kalau dia ada urusan mendadak sehingga harus pergi. Karena alasan serigala cukup masuk akal dan tidak ada bukti, maka para burung tidak bisa berbuat apa-apa. Namun semakin hari, masalah yang mereka hadapi semakin menjadi. Sudah banyak burung-burung yang jadi korban pencurian telur tersebut. Hingga mereka akhirnya berkumpul untuk mencari solusi.
Ketika dalam rapat mendadak itu, burung gagak mengusulkan agar mereka meminta bantuan pada si kancil. Selain mereka bersahabat, si kancil juga termasuk binatang yang cerdik dan banyak akal. Dan yang lebih penting lagi, si kancil suka menolong siapa saja yang kesusahan. Akhirnya setelah di sepakati, keesokan harinya para burung pergi ke rumah si kancil. Si kancil yang tiba-tiba kedatangan banyak tamu, tentu sangat terkejut. Namun setelah burung gagak menjelaskan apa tujuan mereka serta masalah yang menimpa mereka, si kancil menjadi tenang dan bersimpati pada masalah yang di hadapi oleh para burung.
Menurut kesimpulan dari cerita para burung, si kancil mencurigai bahwa serigala adalah pencuri telur tersebut. Karena selain tidak ada hewan lain di tempat kejadian, gerak-gerik serigala juga cukup mencurigakan. Di karenakan kejadian pencurian terjadi setelah beberapa hari serigala berkeliaran di tempat itu. Dan lagi, selalu ada serigala sebelum kejadian, dan juga serigala hilang bersama hilangnya telur-telur itu meski dengan berbagai alasan. Namun yang  jadi masalah adalah, mereka tidak memiliki cukup bukti untuk menuduh serigala adalah pelakunya. Maka kali ini, si kancil harus berperan menjadi detektif kancil untuk menuntaskan masalah itu.
fabel kancil dan serigala pencuri
ilustrasi sarang burung
Si kancil meminta waktu sejenak untuk menyendiri. Dia berfikir untuk mencari ide terbaik menangkap basah serigala serta membuatnya jera. Sudah hampir beberapa waktu lamanya si kancil belum mendapat ide. Sedangkan para burung menunggu di luar dengan gelisah dan harap-harap cemas. Ketika tengah jalan mondar-mandir mencari ide, tak sengaja si kancil menginjak telur busuk. Baunya membuat kancil ingin muntah. Namun karena hal itu, si kancil jadi menemukan sebuah cara tepat untuk menangkap basah serigala pencuri.
Si kancil lalu keluar menemui para burung untuk menceritakan rencananya. Para burung yang sudah menunggu lama, terlihat serius menunggu apa yang akan di sampaikan si kancil. Ternyata, si kancil menyuruh para burung untuk mengumpulkan telur-telur mereka yang busuk dan tidak bisa menetas. Jika dilihat sepintas, telur-telur itu tak jauh beda dengan telur biasa. Namun jika di buka, maka bau busuknya baru tercium. Para burung disuruh mengumpulkan telur-telur itu pada satu tempat dengan membuat sarang yang sangat besar.
Setelah sarang jadi dan telur sudah terkumpul, maka para burung di suruh menemui serigala. Bilang pada serigala bahwa mereka membutuhkan bantuan untuk menjaga telur-telur mereka. Agar aman dan mudah di jaga, telur-telur mereka telah mereka kumpulkan jadi satu di satu sarang. Jika rencana ini berhasil dan serigala memang pelaku pencurian, maka para burung akan memiliki cukup bukti dan bisa membuat serigala itu kapok.
Mendengar rencana itu, para burung menjadi gembira. Kali ini pasti mereka bisa menangkap basah serigala pencuri itu tanpa bisa mengelak. Akhirnya, mereka menjalankan rencana si kancil itu. Mereka bergotong royong untuk membuat sarang serta mengupulkan telur-telur mereka yang busuk dan tidak bisa menetas. Sebagaimana rencana si kancil, mereka menemui serigala setelah semua persiapan usai dengan alasan agar serigala mau menjaga telur-telur di sarang meraka. Tanpa curiga, serigala itu menyangupinya, bahkan serigala itu terlihat sangat bersemangat dan senang sekali.
Setelah serigala ada di sarang yang berisi telur-telur bususk, para burung berpura-pura berpamitan untuk pergi mencari makan dan meninggalkan sarang mereka yang berisi telur agar di jaga oleh serigala. Namun sebenarnya, burung-burung itu tidak pergi jauh, mereka bersembunyi di balik semak-semak sambil mengawasi serigala yang mencurigakan itu. Ternyata dugaan mereka benar. Setelah serigala tahu bahwa dia sendirian, dia langsung memakan telur-telur itu dengan lahapnya. Namun kali ini agak berbeda, baru habis beberapa butir saja, tiba-tiba dia mau muntah. Bau telur-telur itu sangat bususk tidak seperti biasa, dia juga merasa perutnya kini sakit, kepalanya mulai pusing.
Serigala berniat lari pergi dari tempat itu karena badanya terasa kurang sehat setelah makan telur-telur busuk itu. Namun para burung yang marah setelah tahu buktinya bahwa memang serigala yang selama ini mencuri telur-telur mereka, segera terbanga beramai-ramai menerjang serigala. Ada yang mematuk, mencakar, menyambar, hingga serigala di buat tak berdaya. Serigala lari sekuat yang dia mampu sambil menahan perutnya yang semakin sakit, kepalanya yang semakin pusing, serta rasa perih di sekujur tubuh berkat terjangan para burung. Dia lari secepat yang dia bisa dan akhirnya hilang di dalam hutan yang gelap. Dan setelah saat itu, serigala itu tak berani lagi menampakan diri. Dan para burungpun bisa hidup kembali dengan tentram. Semua berkat si kancil yang cerdik.
Story by; Muhammad Rifai
Hikmah yang dapat kita petik: Terkadang  kepercayaan yang kita berikan di hianati dengan tipu daya. Namun sebagaimana falsafah kehidupan.. apa yang kau tanam, itu yang akan kau tuai. Maka, setiap orang akan menuai hasil dari perbuatanya masing-masing.

Dongeng si KANCIL dan BUAYA Sungai

Dongeng si Kancil dan Buaya Sungai – Setelah si kancil berhasil kabur dari bahaya yang mengancamnya pada kisah kancil dan harimau sebelumnya, kinisi kancil berlari dengan sekuat tenaga untuk menghindari kejaran harimau. Karena jika harimau sadar bahwa dia telah di tipu, tentu si kancil tidak akan bisa selamat karena harimau akan sangat marah. Dengan sekuat tenaga si kancil menerobos semak, melawati jalan sempit, serta jalan yang curam, agar bisa segera sampai ke rumahnya. Namun tiba-tiba langkah si kancil terhenti, karena di depanya ada sebuah sungai  yang sangat luas.
Dia memang baru pertama kali melewati jalan pintas itu, dan dia tak tahu bahwa dia harus melewati sungai untuk sampai ke rumahnya di seberang. Itu adalah hutan eutopia, dimana dia dan kawan-kawanya tinggal. Namun jika dia harus memutar lagi, maka akan terlalu jauh. Dan tentunya harimau pasti akan menemukanya dan mampu mengejarnya. Kini si kancil mulai bingung. Apa yang harus dia lakukan untuk bisa sampai ke seberang?
Di tengah-tengah kebingungan yang melanda serta rasa panik karena takut harimau akan segera sampai, dia tiba-tiba teringat dengan para buaya sungai. Muncul ide yang cukup nekat di benaknya. Dia berniat menggunakan para buaya agar membantunya bisa sampai ke seberang. Lalu, bagaimana cara si kancil untuk menarik para buaya agar mau muncul?  Si kancil mencelupkan sedikit ujung kakinya yang terluka di dalam air, dan dengan bau darah itu, para buaya menjadi tertarik dan muncul ke permukaan.
“Wah.. wah.. wah.. lihat kawan-kawan.. ada mangsa yang datang dengan sendirinya. Tuhan memang baik, selalu tahu apa yang kita butuhkan di kala lapar”. Kata salah satu buaya.
“Wah.. benar sekali.. tapi tubuhnya terlalu kecil, mana mungkin bisa mengenyangkan perut kita semua? Bagaimana kalau kita berlomba siapa yang dapat menangkapnya lebih dulu, dia yang berhak memakanya?”. Jawab salah satu buaya yang lain.
Namun di kala para buaya berebut untuk mendapatkan si kancil, si kancil malah tertawa di pinggir sungai. Tak terlihat sedikitpun rasa takut di wajahnya. Melihat hal itu, para buaya menjadi tidak mengerti. Sebenarnya apa yang membuat si kancil tertawa padahal seharusnya dia ketakutan.
“hai kancil..!! kenapa kau malah tertawa? Kami disini berebut untuk memakan mu. Kenapa kau malah tidak lari?’. Tanya salah satu buaya.
“hmm.. terimakasih para buaya. Kalian membuat ku merasa tersanjung karena memperebutkan aku. Tapi aku kesini hanya sebagai utusan saja, dan kalian tidak boleh memakan seorang utusan jika tak mau mendapat murka dari baginda Raja Sulaiman”. Kata kancil sambil tersenyum.
fabel kancil dan buaya
ilustrasi kancil dan buaya

Mendengar nama Raja Sulaiman di sebut, membuat para buaya terkejut. Mereka tidak mengira bahwa raja Sulaiman akan menjadikan kancil sebagai utusan kepada mereka.
“ah.. benarkah itu cil..? apa benar kamu utusanya Raja Sulaiman? Memangnya ada perlu apa hingga dia mengutus mu kepada kami? Di utus untuk mengenyangkan perut kami? Hahahahah..’ kata salah satu buaya meledek.
“Wah.. kau pintar sekali. Kau sangat benar. Aku di utus untuk membuat perut kalian kenyang. Bahkan sangat-sangat kenyang”. Kata kancil dengan wajah gembira.
Kontan saja sikap si kancil itu membuat para buaya semakin bingung. Mereka semakin tak mengerti apa sebenarnya tujuan si kancil. Mereka saling pandang, seolah bertanya satu sama lain. Namun mereka juga tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. “Oke cil.. kami menyerah. Kami bingung dengan maksud tujuan mu kemari. Sekarang jelaskan apa maksud mu datang menemui kami”. Kata salah satu buaya yang paling besar. Mungkin dia adalah ketua kelompok itu.
‘Nah begini bos buaya.. aku di utus kesini oleh baginda raja Sulaiman untuk mengundang kalian semua dalam sebuah pesta. Akan ada banyak makanan untuk kalian hingga kalian akan merasa sangat kenyang. Dan tujuan ku kemari, di tugaskan untuk menghitung berapa jumlah buaya yang tinggal di sungai ini. Untuk berjaga-jaga siapa tahu nanti makanan yang disediakan kurang dan tidak cukup untuk kalian semua”. Jelas si kancil.
Mendengar penjelasan si kancil itu, para buaya menjadi sangat gembira. Mereka baru saja di undang untuk ke pesta Bagibda raja Sulaiman. Sungguh suatu kehormatan yang langka.
“nah sekarang.. cepat panggil semua buaya yang ada di sungai ini, dan suruh mereka berbaris rapi dari ujung sungai hingga ke seberang. Aku akan menghitung kalian satu persatu agar tidak ada yang terlewat”. Pinta si kancil.
Para buaya hanya menurut tanpa curiga sedikitpun, karena mereka percaya bahwa ini adalah perintah dari Raja Sulaiman. Mereka memanggil semua buaya yang ada di sungai, lalu berbaris lurus dari ujung sungai hingga keseberang sungai. Dan setelah di rasa semua sudah siap, si kancil melompat kepunggung para buaya itu satu persatu sambil menghitung mereka. Dia melakukan hal itu hingga buaya terahir yang ada di seberang sungai, lalu dia melompat ke pinggir sungai tepat di kawasan hutan Eutopia, rumahnya.
“Nah sudah selesai.. terimakasih banyak para buaya. Sekarang kalian sudah boleh pergi’. Kata si kancil.
“Lho..? Cuma begitu saja? Jadi kapan acara pestanya cil? Kapan kami akan di undang?”. Kata salah satu buaya.
“Nah kalau masalah itu akau jugabelum tahu kapan pestanya akan diadakan. Aku Cuma di utus untuk menghitung kalian saja. Sedangkan kapan tepatnya pesta, hanya Raja sulaiman yang tahu. Apa kalian mau protes pada Raja sulaiman?”. Kata kancil mengelabuhi buaya.mendengar jawaban si kancil, para buaya tak berani menjawab. Karena mereka tak mungkin berani melawan Raja Sulaiman. Jika si kancil hanya di utus untuk menghitung saja, itu berarti memang titah dari sang raja. Begitu fikir mereka. Dan akhirnya dengan perasaan kesal, para buaya itu kembali ke dalam sungai tanpa protes satu pun. Sementara si kancil meneruskan perjalananya pulang ke rumah dengan hati tenang.
Di lain tempat, harimau berhasil mengejar jejak si kancil. Namun dia terhenti, terpaku, dan tak percaya ketika dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa si kancil berjalan menyeberangi sungai dengan menginjak-injak gerombolan buaya. Dan anehnya, tak ada satupun buaya yang berniat memakanya. Hal yang luar biasa yang bahkan harimau sendiri tak berani melakukanya. Akhirnya harimau itu terdiam di pinggir sungai, sekan berfikir bahwa si kancil memang bukan hewan sembarangan.
Story by: Muhammad rifai

Hikmah yang bisa kita petik: ada kalanya, kekuatan yang kita miliki akan terlihat sangat tak berarti di hadapan seseorang yang memiliki otak yang cerdas. Oleh karena itu, jadilah orang yang tidak hanya mengadalkan otot, namun juga harus memiliki ide dan pemikiran yang tajam.