Dongeng si KANCIL dan BUAYA Sungai

Dongeng si Kancil dan Buaya Sungai – Setelah si kancil berhasil kabur dari bahaya yang mengancamnya pada kisah kancil dan harimau sebelumnya, kinisi kancil berlari dengan sekuat tenaga untuk menghindari kejaran harimau. Karena jika harimau sadar bahwa dia telah di tipu, tentu si kancil tidak akan bisa selamat karena harimau akan sangat marah. Dengan sekuat tenaga si kancil menerobos semak, melawati jalan sempit, serta jalan yang curam, agar bisa segera sampai ke rumahnya. Namun tiba-tiba langkah si kancil terhenti, karena di depanya ada sebuah sungai  yang sangat luas.
Dia memang baru pertama kali melewati jalan pintas itu, dan dia tak tahu bahwa dia harus melewati sungai untuk sampai ke rumahnya di seberang. Itu adalah hutan eutopia, dimana dia dan kawan-kawanya tinggal. Namun jika dia harus memutar lagi, maka akan terlalu jauh. Dan tentunya harimau pasti akan menemukanya dan mampu mengejarnya. Kini si kancil mulai bingung. Apa yang harus dia lakukan untuk bisa sampai ke seberang?
Di tengah-tengah kebingungan yang melanda serta rasa panik karena takut harimau akan segera sampai, dia tiba-tiba teringat dengan para buaya sungai. Muncul ide yang cukup nekat di benaknya. Dia berniat menggunakan para buaya agar membantunya bisa sampai ke seberang. Lalu, bagaimana cara si kancil untuk menarik para buaya agar mau muncul?  Si kancil mencelupkan sedikit ujung kakinya yang terluka di dalam air, dan dengan bau darah itu, para buaya menjadi tertarik dan muncul ke permukaan.
“Wah.. wah.. wah.. lihat kawan-kawan.. ada mangsa yang datang dengan sendirinya. Tuhan memang baik, selalu tahu apa yang kita butuhkan di kala lapar”. Kata salah satu buaya.
“Wah.. benar sekali.. tapi tubuhnya terlalu kecil, mana mungkin bisa mengenyangkan perut kita semua? Bagaimana kalau kita berlomba siapa yang dapat menangkapnya lebih dulu, dia yang berhak memakanya?”. Jawab salah satu buaya yang lain.
Namun di kala para buaya berebut untuk mendapatkan si kancil, si kancil malah tertawa di pinggir sungai. Tak terlihat sedikitpun rasa takut di wajahnya. Melihat hal itu, para buaya menjadi tidak mengerti. Sebenarnya apa yang membuat si kancil tertawa padahal seharusnya dia ketakutan.
“hai kancil..!! kenapa kau malah tertawa? Kami disini berebut untuk memakan mu. Kenapa kau malah tidak lari?’. Tanya salah satu buaya.
“hmm.. terimakasih para buaya. Kalian membuat ku merasa tersanjung karena memperebutkan aku. Tapi aku kesini hanya sebagai utusan saja, dan kalian tidak boleh memakan seorang utusan jika tak mau mendapat murka dari baginda Raja Sulaiman”. Kata kancil sambil tersenyum.
fabel kancil dan buaya
ilustrasi kancil dan buaya

Mendengar nama Raja Sulaiman di sebut, membuat para buaya terkejut. Mereka tidak mengira bahwa raja Sulaiman akan menjadikan kancil sebagai utusan kepada mereka.
“ah.. benarkah itu cil..? apa benar kamu utusanya Raja Sulaiman? Memangnya ada perlu apa hingga dia mengutus mu kepada kami? Di utus untuk mengenyangkan perut kami? Hahahahah..’ kata salah satu buaya meledek.
“Wah.. kau pintar sekali. Kau sangat benar. Aku di utus untuk membuat perut kalian kenyang. Bahkan sangat-sangat kenyang”. Kata kancil dengan wajah gembira.
Kontan saja sikap si kancil itu membuat para buaya semakin bingung. Mereka semakin tak mengerti apa sebenarnya tujuan si kancil. Mereka saling pandang, seolah bertanya satu sama lain. Namun mereka juga tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. “Oke cil.. kami menyerah. Kami bingung dengan maksud tujuan mu kemari. Sekarang jelaskan apa maksud mu datang menemui kami”. Kata salah satu buaya yang paling besar. Mungkin dia adalah ketua kelompok itu.
‘Nah begini bos buaya.. aku di utus kesini oleh baginda raja Sulaiman untuk mengundang kalian semua dalam sebuah pesta. Akan ada banyak makanan untuk kalian hingga kalian akan merasa sangat kenyang. Dan tujuan ku kemari, di tugaskan untuk menghitung berapa jumlah buaya yang tinggal di sungai ini. Untuk berjaga-jaga siapa tahu nanti makanan yang disediakan kurang dan tidak cukup untuk kalian semua”. Jelas si kancil.
Mendengar penjelasan si kancil itu, para buaya menjadi sangat gembira. Mereka baru saja di undang untuk ke pesta Bagibda raja Sulaiman. Sungguh suatu kehormatan yang langka.
“nah sekarang.. cepat panggil semua buaya yang ada di sungai ini, dan suruh mereka berbaris rapi dari ujung sungai hingga ke seberang. Aku akan menghitung kalian satu persatu agar tidak ada yang terlewat”. Pinta si kancil.
Para buaya hanya menurut tanpa curiga sedikitpun, karena mereka percaya bahwa ini adalah perintah dari Raja Sulaiman. Mereka memanggil semua buaya yang ada di sungai, lalu berbaris lurus dari ujung sungai hingga keseberang sungai. Dan setelah di rasa semua sudah siap, si kancil melompat kepunggung para buaya itu satu persatu sambil menghitung mereka. Dia melakukan hal itu hingga buaya terahir yang ada di seberang sungai, lalu dia melompat ke pinggir sungai tepat di kawasan hutan Eutopia, rumahnya.
“Nah sudah selesai.. terimakasih banyak para buaya. Sekarang kalian sudah boleh pergi’. Kata si kancil.
“Lho..? Cuma begitu saja? Jadi kapan acara pestanya cil? Kapan kami akan di undang?”. Kata salah satu buaya.
“Nah kalau masalah itu akau jugabelum tahu kapan pestanya akan diadakan. Aku Cuma di utus untuk menghitung kalian saja. Sedangkan kapan tepatnya pesta, hanya Raja sulaiman yang tahu. Apa kalian mau protes pada Raja sulaiman?”. Kata kancil mengelabuhi buaya.mendengar jawaban si kancil, para buaya tak berani menjawab. Karena mereka tak mungkin berani melawan Raja Sulaiman. Jika si kancil hanya di utus untuk menghitung saja, itu berarti memang titah dari sang raja. Begitu fikir mereka. Dan akhirnya dengan perasaan kesal, para buaya itu kembali ke dalam sungai tanpa protes satu pun. Sementara si kancil meneruskan perjalananya pulang ke rumah dengan hati tenang.
Di lain tempat, harimau berhasil mengejar jejak si kancil. Namun dia terhenti, terpaku, dan tak percaya ketika dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa si kancil berjalan menyeberangi sungai dengan menginjak-injak gerombolan buaya. Dan anehnya, tak ada satupun buaya yang berniat memakanya. Hal yang luar biasa yang bahkan harimau sendiri tak berani melakukanya. Akhirnya harimau itu terdiam di pinggir sungai, sekan berfikir bahwa si kancil memang bukan hewan sembarangan.
Story by: Muhammad rifai

Hikmah yang bisa kita petik: ada kalanya, kekuatan yang kita miliki akan terlihat sangat tak berarti di hadapan seseorang yang memiliki otak yang cerdas. Oleh karena itu, jadilah orang yang tidak hanya mengadalkan otot, namun juga harus memiliki ide dan pemikiran yang tajam.

Fabel HARIMAU dan Harta Karun si KANCIL

Fabel Harimau dan Harta Karun si Kancil – Setelah si kancil selamat dari cengkeraman ular sanca pada kisah si kancil dan ular sanca sebelumnya, kini si kancil berniat pergi meninggalkan ular sanca yang tengah pingsan di mulut goa. Dengan tubuh yang masih lemas karena kelelahan, si kancil berjalan pelan sambil mengumpulkan tenaga. Terdapat beberapa luka di tubuhnya akibat pergelutanya dengan ular sanca ketika berusaha melepaskan diri.  Namun ternyata, hari itu nasib si kancil sepertinya sedang sial.
Tidak seberapa jauh dia baru saja berjalan dari goa, tiba-tiba secara tak sengaja dia melihat sekelabt bayangan di depanya. Dia sangat kenal sekali dengan bayangan itu, tubuh yang tinggi besar dengan cakar dan kulit bermotif loreng. Dia adalah harimau yang dulu pernah dia tipu waktu pertama kali tiba di hutan Eutopia pada kisah awal mula si kancil. Si kancil sadar, kali ini dia tidak mungkin bisa lari atau bersembunyi. Jika harus lari, dia pasti tertangkap karena badanya sudah lemas tanpa memiliki tenaga sedikitpun. Dan jika harus sembunyi, maka itu akan menjadi hal yang sia-sia karena penciuman harimau sangat tajam. Apalagi dengan bau darah yang di timbulkan oleh bekas-bekas lukanya.
Namun bukan si kancil namanya jika dia langsung menyerah dan putus asa. Dengan karunia otak cerdas yang dimilikinya, si kancil berusaha tenang mencari jalan keluar.  Dan beberapa saat kemudian, dia sepertinya menemukan sebuah ide yang sepertinya akan berhasil. Namun sebelum dia sempat berbalik, si harimau sudah muncul dengan geraman yang menakutkan.
“Grrrrrrrrr…!! hahahaha.. ternyata kalau memang sudah takdir tak akan kemana. Aku tak harus susah-susah mencari mu. Kancil.. kita bertemu lagi. Apa perlombaan kita yang dulu harus di lanjutkan sekarang? Grrrrr..!!”. kata harimau penuh senyum licik.
Namun si kancil mampu mengendalikan diri, dia berusaha bersikap tenang agar semua rencana berjalan lancar. Dia bahkan menunjukan raut wajah yang cukup menggertak, seolah dia ingin menunjukan bahwa dia tidak gentar.
“Oh.. sekarang ganti datang lagi satu perampok. Ada apa harimau? Apa kau juga mau merebut harta karun ku yang berharga? Aku tak akan gentar. Tadi aku sudah mengalahkan banyak perampok yang mau merebut harta karun yang ku temukan. Ada banteng, buaya, macan kumbang, beruang, dan sekarang kamu? Ah, tak apa.. aku tak akan takut”. Kata kancil menggertak.
Mendengar jawaban si kancil, si harimau menjadi bingung karena tak faham dengan apa yang dimaksud oleh si kancil. Niat awal ingin membuat si kancil takut dan lari tunggang langgang, kini malah si harimau yang kebingungan karena di kira perampok oleh si kancil.
dongeng kancil dan harimau
Gambar Harimau
“hai hewan kerdil..!! apa maksud mu mau merampok? Memangnya apa yang membuat mu layak untuk di rampok? Harta karun apa? Aku tak faham apa yang kau bicarakan. Aku hanya ingin menyelesaikan masalah kita yang dulu belum selesai mumpung kita bertemu disini”. Kata harimau marah.
“Ah.. bohong..!! kau tak beda dengan para perampok yang sudah ku kalahkan. Awalnya mereka berkata tak tertarik, namun pada akhirnya mereka mau merebutnya dari ku dan berniat mencelakai ku. Untungnya aku kuat, meski penuh dengan luka, aku berhasil membuat mereka kapok”. Kata kancil kembali menggertak.
Mendengar penjelasan si kancil, si harimau menjadi semakion penasaran. Dia melihat tubuh si kancil, memang terlihat banyak bekas-bekas luka goresan di sekujur tubuh. Sepertinya si kancil baru saja mengalami pergulatan yang cukup sengit. Dan hal tersebut, membuat rasa penasaran si harimau semakin menjadi. Dia harus tau apa sebenarnya yang disembunyikan si kancil. Dan harta karun seperti apa yang sedang di pertahankan si kancil dengan susah payah itu.
“Grrrr..!!! kau membuat ku marah kancil. Membuat aku semakin lapar, dan untungnya kini sudah ada makanan lezat yang siap ku santap. Jika kau memang ingin bertarung, sudah tentu kau tak memiliki kesempatan untuk menang. Namun aku adalah raja hutan yang cukup baik hati. Tunjukan pada ku harta karun mu, maka mungkin aku akan mengampuni nyawa mu. Atau pilihan kedua.. kau aku makan, dan harta karun mu yang kau sembunyikan akan tetap jadi milik ku. Maka, berfikirlah dengan bijak demi keselamatan mu”. Kata harimau.
Mendengar hal itu, kancil merasa gembira di dalam hati karena si harimau sudah termakan oleh umpanya. Maka kini tinggal bagaimana dia membuat rencana itu berhasil 100%. Si kancil berpura-pura diam sejenak, seolah-olah berfikir mempertimbangkan sesuatu. Sedangkan si harimau masih menunggu dengan gelisah, dia semakin tak sabar.
“hai..!! bagaimana cil..? Cepat putuskan sebelum aku berubah fikiran..!!”. kata harimau.
“Hmmm.. baiklah. Lagipula aku sama sekali tak memiliki pilihan bukan. Maka aku akan memilih untuk menyerahkan harta karun itu pada mu. Namun untuk menjaga agar kau tidak melanggar janji mu, maka aku hanya akan menunjukan tempatnya saja. Setelah itu aku akan pergi, dan kau menuju tempat itu sendiri”. Kata si kancil.
“Hah.. tidak bisa. Jangan-jangan kau hanya membohongi ku, dan harta itu sebenarnya tidak ada”. Kata harimau keberatan.
“Bukankah kau sudah lihat sendiri buktinya? Bagaimana bekas-bekas luka di tubuh ku ini? Apa aku melukai tubuh ku sendiri? Bukankah itu hal yang bodoh?”. Kata kancil mengelak.
Mendengar alasan kancil yang masuk akal itu, akhirnya si harimau mau menerima.
“baiklah.. aku percaya. Lalu, di mana harta karun itu berada? Apa bentuknya? Dan bagaimana cara aku bisa tahu bahwa itu adalah harta karun yang kau maksud?”. Tanya harimau.
“Nah.. tadi waktu aku sedang  istirahat di goa di lembah, aku menemukan sebuah sabuk cahaya. Sepertinya itu adalah sabuk bertuah peninggalan raja Sulaiman. Siapa saja yang mengenakanya, akan terlihat gagah dan tambah berwibawa, di hormati, dan disegani. Sudah banyak yang coba merebut dari ku, namun mereka semua berhasil ku usir berkat sabuk itu aku kenakan. Namun sabuk itu terlalu berat untuk aku bawa, karena lapar, aku mencari makan dan meninggalkan sabuk itu di mulut goa. Dan tiba-tiba aku sudah bertemu dengan mu. Aku tak sempat berbalik, dan sekarang beginilah keadaan kita sekarang”. Jelas si kancil.
“Wah.. wah.. wah.. tak ku sangka, kau memang benar-benar memiliki harta karun yang cukup langka. Baiklah, kini silahkan kau pergi, kau ku ampuni kali ini. Dan ingat.. rahasiakan tentang sabuk cahaya itu dari siapapun. Jangan ceritakan jika aku memilikinya”. Kata harimau.
“Hmm.. baiklah, rahasia mu aman bersama ku. Sekarang aku pergi dulu. Semoga sabuk itu cocok dengan mu harimua. Sampai jumpa lagi”. Kata kancil kemudian berlari dengan cepat meninggalkan harimau. Sedangkan harimau berjalan ke arah yang berlawanan menuju mulut goa yang di maksud oleh si kancil. Benar saja, seperti cerita si kancil. Di mulut goa itu terdapat sebuah sabuk yang cukup indah. Bentuknya panjang, besar, dan berkerlip ketika tertimpa sunar matahari. Saking panjangnya, bahkan hingga ada bagian yang masih tertinggal di dalam goa.
Dengan senangnya, si harimau menggulung sabuk itu ke badanya. Dia mengenakanya dengan rasa bangga, bergaya, dan merasa menjadi hewan paling gagah di jagad raya. Namun ketika dia tengah terlena dengan kesombonganya, sabuk cahaya yengternyata adalah ular sanca yang tengah pingsan itu kini sudah sadarkan diri. Dia lalu melilit harimau dengan kuat, semakin kuat. Merasa ada yang tidak beres, insting harimau mengembil alih. Dia berusaha melepaskan lilitan yang semakin kuat itu. Dia bergumul, dengan susah payah. Mencakar, menggigit, dan akhirnya ular sanca itu menyerah, melepaskan lilitanta lalu lari masuk ke dalam sungai. Sadar bahwa si kancil baru saja menipunya untuk yang kedua kali, kini harimau semakin geram dan berlari mengejar si kancil yang sudah berlari jauh. Bagiman nasib si kancil selanjutnya? Apakah akan tertangkap oleh harimau? Sepertinya, cerita dongeng si kancil dan harimau sudah mulai seru dari sini.
Story By: Muhammad rifai
Hikmah yang bisa kita petik: dalam hidup, adakalanya kita akan menemui berbagai masalah. Mulai dari yang ringan hingga yang berat. Dan terkadang, kita akan merasa tidak kuat, menyerah, dan putus asa. Namun sebenarnya, Tuhan memberi kita cobaan di sesuaiakan dengan kemampuan makhluknya. Jangan pernah putus asa, contohlah sifat optimis si kancil. Dan dia selalu menemukan cara untuk lepas dari masa-masa sulit.

Dongeng si KANCIL dan HARIMAU LAPAR

Dongeng si Kancil dan Harimau Lapar – Zaman dahulu kala, hutan masih memiliki pohon-pohon yang lebat dan tumbuh cukup asri. Berbagai binatang baik binatang kecil atau besar, hidup dalam hutan tersebut. Ada seekor hewan yang sangat dikenal di kawasan hutan itu, dia adalah sang raja hutan dan pemangsa yang cukup ganas, Harimau. TubuHnya yang besar serta kuku dan taringnya yang tajam, membuat harimau sangat ditakuti. Karena harimau tak segan-segan memangsa siapa saja yang ditemuinya, bahkan manusia sekalipun.
Dongeng kancil dan harimau

Pada suatu hari, di hutan itu kedatangan penghuni baru. Binatang itu bertubuh kecil, mirip rusa tapi agak mini, kancil namanya. Si Kancil berusaha mencari tempat beristirahat setelah menempuh perjalanan cukup jauh. Hutan yang dahulu menjadi rumahnya, mengalami kebakaran sehingga dia harus lari mengungsi mencari rumah baru. Sebenarnya kebakaran tersebut disebabkan karena ulah manusia. Para manusia membakar hutan untuk membuka lahan baru dan mendirikan pemukiman. Sehingga memaksa para hewan untuk menjauh.
Si kancil terlihat sangat letih, lalu dia melihat sebuah rumpun bambu di bawah bebatuan yang agak berbukit. Karena capek, si Kancil memutuskan untuk istirahat sejenak. Tapi karena tubuhnya yang lelah serta angin sepoi-sepoi yang cukup segar, membuat si Kancil tertidur dengan pulasnya. Tapi tak lama berselang, si Kancil dikecutkan oleh suara auman yang cukup keras dan menakutkan. Kontan saja si Kancil terbangun, dan betapa kagetnya dia setelah melihat ada hewan yang cukup besar, berkuku tajam, dan memiliki taring yang panjang sudah berdiri di atas bongkahan batu di atasnya.

Merasa dirinya terancam, Kancil berniat lari. Akan tetapi sadar akan kondisi tubuhnya yang masih letih, kancil yakin dia tak akan bisa lolos. Ahirnya si Kancil memutar otak, mencari akal untuk terbebas dari bahaya itu. Lalu dengan memasang mimik biasa seolah tak takut, si kancil berjalan pelan seakan mengacuhkan Harimau yang dari tadi memperhatikanya.. “Hai hewan kerdil.. Apa kau tak kenal aku? Apa kau tak takut aku? Kenapa kau mengacuhkan ku seakan aku tak ada? Ggggrrrrrrrrrr…”. Teriak harimau geram karena merasa diremehkan. 

“Lho.. kenapa aku harus takut kamu..? Aku saja tak kenal kamu. Aku warga baru di sini.. memangnya kenapa aku harus takut sama kamu. Wajahmu kan tampan, tidak menakutkan”. Kata kancil sedikit memuji untuk menyusun siasat. “Wah.. benarkah menurut mu aku tampan..?”. Tanya Harimau mulai tersanjung. “Iya.. kamu tampan.. gagah lagi.. Pokoknya di daerah ku yang dulu, tak ada hewan yang setampan dan segagah kamu..”. Kata kancil lagi. “Hahaha.. tentu saja aku tampan dan gagah.. Aku kan raja hutan, aku yang menjadi penguasa di hutan ini..”. Kata Harimau sambil sedikit bergaya.
“Nah.. masa aku harus takut dengan hewan setampan kamu, aku malah kagum.. Tapi, apa benar kamu raja hutan di sini?”. Tanya kancil lagi. “Lho.. ya jelas.. kalo kamu tak percaya, tanyakan sama semua hewan di sini, apakah aku sang Harimau yang gagah ini raja di hutan ini”. Kata Harimau dengan sombong. “Oooo.. jadi nama mu harimau, aku si Kancil.. Salam kenal saja ya. Tapi apa kamu memang layak jadi raja? “. Tanya si Kancil lagi. !Apa kamu bilang? Kamu meragukan kekuatan ku? Kau tahu aku sedang lapar? Mubgkin daging kurus mu bisa untuk mengganjal perut ku yang kelaparan..Gggrrrrrrr..”. Harimau geram karena merasa dihina.
“Lho.. Lho.. Tunggu dulu Harimau.. Jangan marah dulu. Aku kan cuma tanya apa kamu sudah cukup layak jadi raja? Soalnya di daerah asal ku sana, seorang raja harus mampu menyelesaikan satu tantangan biar busa layak disebut raja”. Kata kancil. “Hmm.. Tantangan? Tantangan apa? Tak ada yang tak bisa aku tuntaskan..”. Kata Harimau mulai merasa tertantang. “Begini tuan Harimau yang katanya raja hutan.. Di daerah asal ku, aku dikenal sebagai hewan tercepat dan mampu melampaui kecepatan hewan apapun. Dan yang menjadi raja, harus mampu mengalahkan ku dalam lomba lari agar diakui sebagai raja yang sah.. Jika kau mampu mengalahkan aku dalam lomba lari, maka kau memang benar-benar raja hutan sejati”. Kancil menjelaskan.

Mendengar penjelasan dari kancil, Harimau termenung sejenak. Lalu beberapa waktu kemudian dia tersenyum sinis sambil berkata.. “Hmm.. cuma itu? Hahaha… itu bukan masalah besar. Meski tubuh ku besar, aku cukup lincah dan cepat. Aku akan penuhi syarat mu, tapi aku juga punya satu syarat untuk mu..”. Kata Harimau. “Apa syarat mu..?”. Tanya kancil. “Jika kau menang, kau bebas pergi dan tak akan ku ganggu lagi. Tapi jika aku yang menang, maka kau harus mau jadi makanan ku.. Bagaimana? Apa kau setuju?”. Si Kancil berlagak diam sejenak seolah berfikir, lalu beberapa saat kemudian kancil menjawab.. “Baiklah.. cukup adil.. Pemenang mendapat apa yang dia mau..Kalau
begitu, jika aku menang aku ingin satu kumis mu. Agar kamu tidak curang dan aku merasa tenang,
aku minta kau memberi ku satu kumis mu sebelum kita lomba. Jika kau tak mau, berarti kamu
sudah yakin bahwa kamu kalah dan tidak berani melawan aku dalam lomba lari. Nanti jika hewan
di hutan ini mendengar kabar ini, mereka pasti berfikir jelek tentang mu. Jadi ku rasa itu harusnya cukup mudah buat mu jika satu kumis di jadikan pertukaran untuk bisa memakan ku?”. 

Akhirnya, Kancil dan Harimau bersiap lomba lari. Batasnya sudah ditentukan hingga sungai kecil di batas hutan sebagai garis finisnya. Waktupun di hitung mundur, setelah sampai hitungan ketiga.. Harimau segera melesat bagai anak panah dengan kecepatan penuh. Dia sangat yakin bahwa dia pasti menang. Dia melompat menghindari batu, merobos semak dan belukar, semangatnya cukup membara demi sebuah pengakuan dan makanan gratis. Lalu, bagaimana dengan Kancil? Ceritanya beda lagi.. 
Ternyata lomba itu hanya akal-akalan si Kancil untuk menyelamatkan diri. Karena dia cukup lelah, maka tak mungkin dia bisa lari menjauh dari Harimau dan bisa lolos. Jalan satu-satunya adalah mencari siasat agar Harimau sendiri yang lari menjauhinya. Maka ketika Harimau berlari cepat menuju batas hutan, kancil malah berlari berlawanan arah. Dengan cara itu, si Kancil akhirnya lolos dari bahaya.
Lalu bagaimana dengan Harimau? Harimau tidak sadar bahwa dia telah tertipu. Harimau mulai menyadari hal itu setelah dia sampai di garis finis dengan bangganya. Lalu dia menunggu si Kancil yang dia kira masih mengejarnya di belakang. Tapi setelah Harimau menunggu cukup lama hingga senja tiba, si Kancil tidak muncul juga. Barulah Harimau sadar, bahwa dia berhasil dikelabui siasat si Kancil yang ternyata melarikan diri. Dan lomba lari antara si Kancil dan Harimau itu sebenarnya sia-sia dan tak pernah ada. Sejak saat itu, harimau mulai dendam pada si Kancil karena merasa terhina. Dan sejak saat itu, awal mula cerita permusuhan Kancil dan Harimau dimulai.

***
dongeng kancil
Hikmah yang dapat dipetik: Kesombongan selalu menutup akal untuk bisa berfikir jernih. Dan kecerdasan selalu lebih unggul dibanding kekuatan. Maka belajarlah yang giat agar pintar dan cerdas. Karena orang cerdas yang memiliki pengetahuan luas, dapat mengalahkan orang yang sangat kuat hanya dengan otaknya saja. 🙂


Pengarang: Muhammad Rifai