Fabel KANCIL dan SERIGALA PENCURI

Fabel Kancil dan Serigala Pencuri   Setelah pada kisah sebelumnya si kancil berhasil selamat dari kejaran harimau dengan menyeberangi sun gai berkat bantuan para buaya, kini si kancil bisa menikmati ketenangan kembali di rumahnya yang nyaman. Dia kini lebih memilih bersantai di rumah dari pada harus pergi ke tempat jauh dengan resiko bahaya yang tidak terduga. Namun mungkin hanya beberapa saat. Rasa penasaran dan rasa ingin tahunya yang tinggi, suatu saat akan mendorongnya untuk melakukan petualangan lagi.
Sedangkan di tempat lain, para burung sedang di landa masalah berat. Beberapa hari ini, telur-telur mereka hilang entah kemana ketika mereka tinggal untuk mencari makan. Tidak ada yang tahu siapa yang mencurinya. Jika terus dibirakan, burung-burung tidak akan bisa lagi menetaskan telurnya dan bisa terancam punah. Menurut kabar, beberapa hari ini seekor serigala sering berkeliaran di kawasan sarang mereka. Namun serigala itu cukup ramah dan baik, maka tidak ada yang mencurigainya. Bahkan kadang kala, serigala itu menawarkan bantuan untuk menjaga telur-telur burung itu ketika mereka pergi.
Namun yang jadi masalah, ketika para burung itu kembali, ternyata telur-telur mereka juga hilang. Dan serigala juga tidak ada lagi di situ. Ketika keesokan harinya mereka bertemu serigala dan bertanya, serigala menjawab kalau dia ada urusan mendadak sehingga harus pergi. Karena alasan serigala cukup masuk akal dan tidak ada bukti, maka para burung tidak bisa berbuat apa-apa. Namun semakin hari, masalah yang mereka hadapi semakin menjadi. Sudah banyak burung-burung yang jadi korban pencurian telur tersebut. Hingga mereka akhirnya berkumpul untuk mencari solusi.
Ketika dalam rapat mendadak itu, burung gagak mengusulkan agar mereka meminta bantuan pada si kancil. Selain mereka bersahabat, si kancil juga termasuk binatang yang cerdik dan banyak akal. Dan yang lebih penting lagi, si kancil suka menolong siapa saja yang kesusahan. Akhirnya setelah di sepakati, keesokan harinya para burung pergi ke rumah si kancil. Si kancil yang tiba-tiba kedatangan banyak tamu, tentu sangat terkejut. Namun setelah burung gagak menjelaskan apa tujuan mereka serta masalah yang menimpa mereka, si kancil menjadi tenang dan bersimpati pada masalah yang di hadapi oleh para burung.
Menurut kesimpulan dari cerita para burung, si kancil mencurigai bahwa serigala adalah pencuri telur tersebut. Karena selain tidak ada hewan lain di tempat kejadian, gerak-gerik serigala juga cukup mencurigakan. Di karenakan kejadian pencurian terjadi setelah beberapa hari serigala berkeliaran di tempat itu. Dan lagi, selalu ada serigala sebelum kejadian, dan juga serigala hilang bersama hilangnya telur-telur itu meski dengan berbagai alasan. Namun yang  jadi masalah adalah, mereka tidak memiliki cukup bukti untuk menuduh serigala adalah pelakunya. Maka kali ini, si kancil harus berperan menjadi detektif kancil untuk menuntaskan masalah itu.
fabel kancil dan serigala pencuri
ilustrasi sarang burung
Si kancil meminta waktu sejenak untuk menyendiri. Dia berfikir untuk mencari ide terbaik menangkap basah serigala serta membuatnya jera. Sudah hampir beberapa waktu lamanya si kancil belum mendapat ide. Sedangkan para burung menunggu di luar dengan gelisah dan harap-harap cemas. Ketika tengah jalan mondar-mandir mencari ide, tak sengaja si kancil menginjak telur busuk. Baunya membuat kancil ingin muntah. Namun karena hal itu, si kancil jadi menemukan sebuah cara tepat untuk menangkap basah serigala pencuri.
Si kancil lalu keluar menemui para burung untuk menceritakan rencananya. Para burung yang sudah menunggu lama, terlihat serius menunggu apa yang akan di sampaikan si kancil. Ternyata, si kancil menyuruh para burung untuk mengumpulkan telur-telur mereka yang busuk dan tidak bisa menetas. Jika dilihat sepintas, telur-telur itu tak jauh beda dengan telur biasa. Namun jika di buka, maka bau busuknya baru tercium. Para burung disuruh mengumpulkan telur-telur itu pada satu tempat dengan membuat sarang yang sangat besar.
Setelah sarang jadi dan telur sudah terkumpul, maka para burung di suruh menemui serigala. Bilang pada serigala bahwa mereka membutuhkan bantuan untuk menjaga telur-telur mereka. Agar aman dan mudah di jaga, telur-telur mereka telah mereka kumpulkan jadi satu di satu sarang. Jika rencana ini berhasil dan serigala memang pelaku pencurian, maka para burung akan memiliki cukup bukti dan bisa membuat serigala itu kapok.
Mendengar rencana itu, para burung menjadi gembira. Kali ini pasti mereka bisa menangkap basah serigala pencuri itu tanpa bisa mengelak. Akhirnya, mereka menjalankan rencana si kancil itu. Mereka bergotong royong untuk membuat sarang serta mengupulkan telur-telur mereka yang busuk dan tidak bisa menetas. Sebagaimana rencana si kancil, mereka menemui serigala setelah semua persiapan usai dengan alasan agar serigala mau menjaga telur-telur di sarang meraka. Tanpa curiga, serigala itu menyangupinya, bahkan serigala itu terlihat sangat bersemangat dan senang sekali.
Setelah serigala ada di sarang yang berisi telur-telur bususk, para burung berpura-pura berpamitan untuk pergi mencari makan dan meninggalkan sarang mereka yang berisi telur agar di jaga oleh serigala. Namun sebenarnya, burung-burung itu tidak pergi jauh, mereka bersembunyi di balik semak-semak sambil mengawasi serigala yang mencurigakan itu. Ternyata dugaan mereka benar. Setelah serigala tahu bahwa dia sendirian, dia langsung memakan telur-telur itu dengan lahapnya. Namun kali ini agak berbeda, baru habis beberapa butir saja, tiba-tiba dia mau muntah. Bau telur-telur itu sangat bususk tidak seperti biasa, dia juga merasa perutnya kini sakit, kepalanya mulai pusing.
Serigala berniat lari pergi dari tempat itu karena badanya terasa kurang sehat setelah makan telur-telur busuk itu. Namun para burung yang marah setelah tahu buktinya bahwa memang serigala yang selama ini mencuri telur-telur mereka, segera terbanga beramai-ramai menerjang serigala. Ada yang mematuk, mencakar, menyambar, hingga serigala di buat tak berdaya. Serigala lari sekuat yang dia mampu sambil menahan perutnya yang semakin sakit, kepalanya yang semakin pusing, serta rasa perih di sekujur tubuh berkat terjangan para burung. Dia lari secepat yang dia bisa dan akhirnya hilang di dalam hutan yang gelap. Dan setelah saat itu, serigala itu tak berani lagi menampakan diri. Dan para burungpun bisa hidup kembali dengan tentram. Semua berkat si kancil yang cerdik.
Story by; Muhammad Rifai
Hikmah yang dapat kita petik: Terkadang  kepercayaan yang kita berikan di hianati dengan tipu daya. Namun sebagaimana falsafah kehidupan.. apa yang kau tanam, itu yang akan kau tuai. Maka, setiap orang akan menuai hasil dari perbuatanya masing-masing.

Cerita KANCIL dan Jebakan PEMBURU

Cerita Kancil dan Jebakan Pemburu – Pada zaman dahulu kala, hewan dan manusia hidup berdampingan. Para manusia hanya memburu hewan tertentu sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tak ada perburuan liar seperti di zaman ini, sehingga kehidupan berjalan dengan seimbang dan para hewan tidak terancam kepunahan. Sebagaimana tokoh utama dalam kisah kita kali ini, si kancil masih menjadi tokoh yang akan kita ceritakan. Kebijaksanaan dan kebaikan hati si kancil yang suka menolong hewan-hewan lain, haruslah patut kita contoh.

si kancil yang cerdik dan baik hati disukai oleh banyak hewan, sehingga si kancil memiliki banyak teman dan namanya cukup terkenal. Namun sebagaimana kehidupan, setiap hal baik pasti juga ada yang menyimpan dendam. Setelah para gajah berhasil dikalahkan si kancil pada cerita Dongeng kancil, Tikus, dan Gajah sombong, para gajah ternyata menyimpan dendam untuk membalas si kancil.

Para gajah kemudian pergi menemui Rubah, rubah adalah hewan yang terkenal sangat cerdik sera licik. Para gajah menghasut rubah, mereka berbohong bahwa si kancil menghina rubah dan berkata rubah itu bodoh tak secerdas si kancil. Tentu saja hal tersebut membuat rubah sangat marah karena merasa dihina oleh si kancil, dan rubah berniat memberi si kancil pelajaran. Tentu saja hal tersebut membuat para gajah menjadi senang karena siasat mereka untuk membalas si kancil akan terlaksana.

Rubahpun pergi untuk mencari si kancil, dia telah menyiapkan siasat untuk menjebak si kancil dan memberi si kancil pelajaran. Rubah ingin menunjukan, bahwa dia lebih cerdik dari si kancil, dan bisa mengalahkan si kancil yang terkenal cerdas itu dengan siasatnya. Setelah beberapa lama berjalan, akhirnya si rubah melihat si kancil tengah asik memakan rumput-rumput hijau di pinggir hutan. Rubah pun lalu menghampiri si kancil.

“Hai cil.. sedang apa kau? Sepertinya kau sedang asik sekali sehingga tak menyadari kehadiran ku’. saps rubah. Mendengar ada yang memanggil namanya, si kancil pun berbalik, dan dilihatnya si rubah sudah ada di belakangnya. “Oh.. ternyata kau rubah. Aku sedang sarapan. rumput-rumput muda yang tumbuh di musim hujan begini terasa sangat nikmat, aku sangat bersyukur bisa memakanya”. jawab Kancil.

“Ah.. kalo cuma rumput, itu belum seberapa cil. Aku bisa membawa mu ke tempat yang ada makanan lebih enak dari pada rumput. Aku tahu, kamu suka mentimun kan?”. Rubah mulai merayu. “ah.. yang benar? Di mana tempatnya? sudah lama sekali aku tak makan mentimun. Pasti rasanya sangat enak”. kata kancil penuh semangat. “Kalau kamu mau, aku akan menunjukan tempatnya. Tidak jauh dari sini kok. Ayo ikut aku”. Kata rubah.

rubah licik
Rubah

Akhirnya kancil dan rubah berjalan bersama menuju tempat mentimun yang di janjikan si rubah. Kancil tak sadar, bahwa si rubah memiliki niyat buruk untuk menjebaknya. si rubah menaruh beberapa buah mentimun yang telah dia curi dari kebun pak tani di atas sebuah jebakan, jika si kancil berada di atas jebakan itu, maka sebuah tali akan mengikat dan menarik kaki si kancil sehingga si kancil akan tergantung di atas pohon. Tentu saja, pasti si kancil tidak akan bisa melepaskan diri, begitu fikir si rubah.

Singkat cerita, mereka berdua akhirnya sampai di tempat jebakan, si rubah lalu menunjukan timun-timun yang telah dia siapkan pada si kancil. Melihat banyaknya mentimun yang tergeletak di atas tanah, si kancil menjadi sangat senang. Tanpa rasa curiga sedikitpun, si kancil berlari menghampiri mentimun itu untuk segera menyantapnya. Namun tanpa di duga, tiba-tiba kakinya terjerat tali jebakan sehingga membuatnya tergantung.

“Wah.. ada apa ini? Ini jebakan.. hai rubah, tolong aku. Ternyata mentimun ini cuma umpan jebakan pemburu”. Kata kancil pada rubah. Namun si rubah malah tertawa, dia tidak menghiraukan si kancil lalu pergi meninggalkan si kancil yang tergantung. “kali ini kau tak akanm selamat, kecerdikan mu tak akan bisa lagi menipu tali itu. Itulah akibatnya jika kau berani menghina ku.. hahahaha..”. Kata rubah dalam hati.

Melihat rubah yang meninggalkanya, si kancil kini sadar bahwa ini memang sudah rencana si rubah untuk menipunya. Tapi menyesali diri kini juga tidak lagi berguna, si kancil harus mencari cara untuk lepas dari jebakan itu sebelum para pemburu datang. Untunglah beberapa saat kemudian, burung gagak yang kini sudah menjadi kawanya lewat di daerah itu. Melihat si kancil yang di gantung, si gagak pun menghampiri si kancil dan bertanya apa yang sedang terjadi.

Si kancil menceritakan nasib yang menimpanya pada gagak, gagak menjadi sangat marah pada si rubah setelah tahu kejadian yang sebenarnya. “Urusan si rubah, bisa kita urus nanti saja setelah kamu bebas cil. Lalu, apa yang bisa ku lakukan untuk membebaskan mu? Tali ini terlalu kuat jika ku putuskan dengan paruh ku. Kamu punya cara lain?”. tanya gagak. si kancil diam sesaat, dia memutar otak untuk mencari solusi yang tepat.

“Aku punya cara yang mungkin berhasil meski resikonya cukup besar”. Kata kancil. “Apa itu? Cepat katakan sebelum para pemburu datang”. Kata gagak. “Gagak.. cepatlah kamu buang kotoran sebanyak-banyaknya ke atas tubuh ku. Jika perlu kamu ajak juga semua kawan-kawan mu. Tak perlu tanya alasanya, Yang penting cepat lakukan sebelum para pemburu datang memeriksa perangkap ini..!!”. Perintah kancil.

Tanpa membuang waktu, si gagak melakukan apa yang diperintahkan si kancil. Gagak juga memanggil kawan-kawanya untuk menjalankan rencana si kancil. Setelah tubuh si kancil penuh dengan kotoran yang bau, si kancil menyuruh para gagak untuk menyingkir. Ternyata, bau yang menyengat dari kotoran gagak mengundang para lalat untuk hinggap dan mengkerumuni si kancil.

Maka ketika si pemburu tiba, tubuh si kancil sudah di kerubungi lalat. Hal tersebut membuat para pemburu menyangka bahwa si kancil sudah cukup lama terjebak dan akhirnya mati kelapran dan kehausan. Karena mengira si kancil sudah menjadi bangkai yang tidak bisa di makan, para pemburu itu melepas tali yang mengikat kaki si kancil dan membuang tubuh si kancil yang pura-pura mati di semak-semak. Setelah para pemburu itu pergi, si kancil lalu bangun dan kemudian mandi di sungai.

Para gagak menghampiri si kancil, mereka senang si kancil bisa selamat. “Kami bersyukur kamu bisa lolos dari bahaya tadi cil. Kami tadi sudah merasa sangat hawatir, untung saja ide mu berhasil dengan lancar”. Kata para gagak. “Yah.. aku juga tak percaya bahwa cara tadi bisa berhasil menipu para pemburu. untung saja ada kalian, terima kasih sudah mau menolong aku”. Kata kancil. “Sama-sama cil, kami senang bisa membalas budi karena kau juga pernah menolong kami. sekarang, apa rencanamu sil? Apa kau akan membalas perbuatan si rubah ini?”. tanya gagak.

“Hmm.. balas dendam itu tidak baik. Tapi aku akan mencoba mencari tahu mengapa rubah menipu ku, padahal aku tak pernah sekalipun memiliki dendam padanya. Mungkin, aku harus menggunakan sedikit siasat ku untuk menyadarkan kesombongan yang menghinggapi hati si rubah. Agar dia sadar, tidak ada hewan yang paling cerdas di dunia ini. Semua hewan itu sama, mereka memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ayo kita sama-sama mencari si rubah itu. Tapi kalian harus merahasiakan bahwa aku selamat dari jebakan pemburu agar rubah tak tahu”. Pinta kancil. “Oke cil..!!”. Jawab para gagak serempak.

Akhirnya, si kancil yang berhasil selamat dari bahaya pergi mencari si rubah. Dia ingin tahu mengapa si rubah tega menipunya, serta memberi peringatan pada rubah bahwa kesombongan itu bisa berahir dengan petaka. Lalu, apa rencana si kancil? Tunggu cerita berikutnya.. 🙂

Story By: Muhammad Rifai 

Hikmah yang Bisa Kita Petik: Terkadang kita mudah terhasut oleh kabar yang kita sendiri belum tahu kebenaranya, sehingga kita kurang berhati-hati dan bertindak ceroboh. Dan setiap perbuatan baik, suatu saat akan dibalas dengan kebaikan pula, bahka disaat kita butuh pertolongan. Oleh karena itu, berbuat baiklah pada semua orang, agar kelak mereka juga membantu mu di kala kau di timpa kesusahan.

Dongeng KANCIL dan BURUNG GAGAK yang ANGKUH

Dongeng kancil dan burung gagak yang angkuh – Cerita tentang kecerdikan dan kebijaksanaan si kancil, memang bisa dijadikan pelajaran untuk menyadari tentang sebab akibat. Sebagaimana yang pernah saya tulis pada kisah dongeng si kancil dan kura-kura yang suka mengeluh sebelumnya, kita bisa mengambil banyak pelajaran. Oleh karena itu, kali ini kita akan kembali belajar dari kisah si kancil dan burung gagak yang angkuh. Saya mendapat inspirasi untuk menulis kisah ini, ketika saya melihat cermin. Dan berikut ini kisah yang telah saya tulis, semoga bisa kita ambil hikmahnya.
Dahulu kala, burung gagak memiliki bulu yang sangat indah dan halus. Bulunya berwarna putih mengkilap, sedangkan burung bangau memiliki bulu berwarna coklat abu-abu dan sangat buruk. Namun, kelebihan yang dimiliki burung gagak, justru membuat sifatnya sangat angkuh. Dia sering merendahkan dan mengejek hewan lain, dan sering membanggakan bulunya yang indah dengan niyat pamer. Burung gagak merasa bahwa tak ada yang selevel denganya, sehingga dia sering memandang rendah hewan lain. Tak jarang kata-katanya terdengar ketus, tentu saja hal tersebut membuat hewan-hewan lain membencinya.

Pada suatu hari ketika si kancil sedang berkunjung ke tempat katak sahabatnya, dia mendengar kabar bahwa si gagak tengah ditimpa musibah. Bulunya yang dulu putih mengkilap kini berubah hitam legam dan sangat buruk. Kini, si gagak malu untuk keluar dari sarangnya. Dan hanya bisa menangis setiap hari meratapi nasib yang menimpanya. “Kanapa tak ada hewan yang coba datang dan membantunya? Siapa tahu kalian bisa mengetahui masalahnya dan membantunya mencari solusi”. Tanya kancil pada katak. “Ah.. Buat apa kami membantu dia? Biarkan saja, mungkin dia tengah mendapat karma karena kesombongan dan keangkuhanya. Toh selama ini dia selalu mengejek kami, dan tak pernah sekalipun bersikap baik pada hewan-hewan lain”. Kata katak.

Mendengar jawaban katak, kancil hanya bisa diam. Dia tidak bisa menyalahkan jawaban katak tersebut, karena selama ini sifat gagak memang sangat keterlaluan. Namun dalam hati kecilnya, si kancil juga merasa kasihan dengan gagak. Mungkin dengan adanya musibah ini, kancil bisa mencari cara untuk menyadarkan gagak dari sifat-sifat buruknya selama ini. “Baiklah kalau begitu, kau memang benar. Tak ada alasan bagi mu untuk membantunya, karena semua hal yang dialami gagak saat ini adalah hasil dari perbuatanya sendiri. Tapi, aku akan coba menemuinya. Siapa tahu dengan adanya musibah ini, aku bisa menuntunya agar kembali sadar dan memperbaiki semua sifat-sifat buruknya di masa lalu. Aku pamit dulu kawan, aku akan menemui gagak sebentar”. Kata kancil berpamitan.

Si kancilpun berjalan menuju sarang gagak yang ada disebuah pohon besar. Dari bawah pohon, si kancil mendengar suara tangisan gagak yang memilukan. Sehingga membuat si kancil merasa sangat iba dibuatnya. “Gagak.. Hai gagak..!”. Teriak kancil dari bawah pohon. Mendengar ada suara yang memanggilnya, si gagak menengok dari atas sarang. ” Ada apa kancil? Apa kau ke sini untuk mengejek dan menertawakan musibah yang menimpa ku seperti para hewan-hewan lain?”. Tanya gagak dengan nada ketus. “Oh.. Tidak, justru sebaliknya. Aku mendengar kau sedang dapat musibah, siapa tahu aku bisa membantu. Turunlah sebentar, kita bicara di bawah sini”. Pinta kancil dengan lembut.

Mendengar jawaban kancil yang ramah, membuat hati gagak merasa memiliki harapan baru. Diapun turun dan berharap kancil bisa menemukan solusi untuk masalahnya. “Nah.. Begitu dong..!! Sekarang ceritakan pada ku, sebenarnya apa yang terjadi?”. Tanya kancil. “Kau masih bertanya apa yang terjadi? Lihat aku sekarang..!! Bulu ku yang dulu putih dan indah kini berubah hitam legam, aku terlihat buruk..”. Kata gagak masih dengan nada ketus. “Ya.. Aku tahu.. Yang akau tanyakan, bagaimana bisa bulu mu tiba-tiba berubah begini?”. Tanya kancil masih bersikap ramah.
“Semua karena ulah binatang-binatang tak berguna di hutan ini, mereka hanya iri melihat keindahan bulu ku. Aku memiliki serbuk ajaib yang tiap hari ku gunakan untuk membersihkan bulu ku agar selalu tampak indah, namun pada suatu hari si bangau yang licik mencuri serbuk itu. Dia juga melempar ku dengan serbuk arang, sehingga bulu ku yang indah kini jadi hitam”. Cerita gagak. “Oooo.. Bukankah yang mencuri serbuk mu itu si bangau, kenapa kau menyalahkan semua hewan-hewan di hutan ini?”. Tanya si kancil. “Ya tentu saja.. Pasti mereka memang sudah merencanakanya. Pasti mereka semua sekongkol untuk mencurinya..”. Jawab gagak dengan nada marah.

“Sekongkol? Dari mana kau tahu jika mereka sekongkol? Dari mana kau dapat kesimpulan itu? Apa kau punya bukti?”. Tanya kancil menyelidik. “Tentu saja, buktinya sudah jelas. Ketika serbuk ku di curi, tak ada satu hewanpun yang mau membantuku untuk mencarinya. Mereka malah mengejek penampilan ku sekarang yang buruk, mereka menertawakan musibah yang menimpa ku. Bukankah itu bukti yang jelas jika mereka memang sekongkol?”. Kata gagak. “Hmm.. Kau mengambil kesimpulan dan menuduh mereka berdasarkan sikap mereka terhadap mu. Kau hanya mencari kambing hitam, apa kau sudah mencari tahu kesalahan mu sendiri sehingga mereka tidak mau membentu mu?”. Tanya kancil. “Kesalahan ku? Memangnya aku salah apa pada mereka? Aku tak pernah mencuri milik mereka. Mereka saja yang iri terhadap ku..”. Jawab gagak masih ngotot.

“Hmm.. Baiklah jika memang itu menurut mu. Ayo.. Ikutlah aku sebentar.. Akan ku tunjukan sesuatu..”. Ajak kancil. Kancilpun mengajak gagak menuju sebuah kolam yang cukup jernih airnya, sehingga kolam itu bisa memantulkan bayangan mereka ibarat sebuah cermin. “Hai cil.. Untuk apa kau membawa ku ke kolam? Apa kau berniat menyuruh ku mandi? Tanpa serbuk ajaib, bulu ku tak akan berubah. Aku sudah mencobanya berkali-kali”. Kata gagak. “Oh.. Bukan itu maksud ku.. Coba kau kesini sebentar, lalu berdiri di pinggir kolam ini. Lalu lihat ke arah kolam..”. Pinta kancil.

kancil dan gagak
burung gagak

Gagak yang penasaran dengan rencana si kancil, hanya bisa menurut. Diapun berjalan menuju tepi kolam. “Apa yang kau lihat?”. Tanya kancil. “Aku melihat diri ku”. Jawab gagak. “Bagaimana bentuknya?”. Tanya kancil lagi. “Sangat buruk.. Hitam dan menakutkan.. Bahkan aku sendiri muak dibuatnya”. Jawab gagak. “Coba kau marah pada bayangan mu itu..!! Apa yang kau lihat?”. Tanya kancil lagi. “Bayangan itu meniru ku, dia juga menunjukan wajah marah seperti aku”. Jawab gagak.

 “Baiklah.. Sekarang coba kau tersenyum pada bayangan mu. Apa yang kau lihat?”. Tanya kancil lagi. “Bayangan itu juga tersenyum pada ku.. Sebagaimana senyum ku..”. Jawab gagak lagi. “Nah.. Sekarang apa kau sudah sadar?”. Tanya kancil lagi. “Sadar? Apa maksut mu?”. Tanya gagak tak mengerti. Si kancil menarik nafas panjang, lalu dengan tersenyum kancil berkata.. “Kehidupan itu tak ubahnya kau dan bayangan mu itu. Kua lihat kan? Bayangan mu meniru apapun yang kau lakukan, begitupula kehidupan. Semua imbal balik dari perbuatan kita. Jika kau angkuh, sombong, suka mengejek, suka marah, dan marah pada hewan lain, mereka juga akan ganti membenci mu dan melakukan hal yang sama terhadap mu. Berbeda jika kau mau bersikap ramah, rendah hati, murah senyum, dan suka membantu sesama mu, maka merekapun akan sangat senang pada mu, ramah, tersenyum, dan akan membantu mu ketika kau sedang dilanda kesulitan. Coa sekarang kau ingat-ingat, selama ini mana yang lebih banyak kau lakukan? Marah-marah? Apa bersikap ramah? Maka itu adalah jawaban dari apa yang kau alami saat ini”. Kata kancil menjelaskan panjang lebar.

Mendengar penjelasan kancil, burung gagak menjadi terhenyak. Dia mulai menyadari, selama ini dia memang tak pernah sedikitpun bersikap baik, apalagi menolong hewan lain. Maka pantas saja kini tak ada yang mau menolongnya, dan kini diapun di ejek sebagaimana dulu dia mengejek mereka. Semua adalah imbal balik dari apa yang dia lakukan sendiri selama ini. Sadar akan hal itu, si gagak hanya bisa terdiam sambil tertunduk malu. Selama ini dia sibuk menyalahkan orang lain atas apa yang menimpanya, tapi dia sendiri tak menyadari kesalahanya sendiri. Gagak sangat menyesal.
“Gagak sahabat ku.. Mulai sekarang ubahlah sikap mu. Mungkin bulu mu memang tak akan bisa kembali menjadi indah, tapi penampilan fisik bukanlah hal utama. Mulai sekarang, jadikan hati mu lebih indah dari masa lalu mu. Dan aku yakin, keindahan hati mu akan lebih membuat hewan lain menyayangi mu dari pada penampilan fisik mu. Silahkan ku fikir-fikir dulu.. Aku pamit ya..”. Kata kacil sambil berlalu pergi.

Kata-kata kancil seolah menyadarkan gagak dari semua keburukanya di masa lalu. Kini, dia mulai sadar, bahwa sifatnya memang buruk, itulah alasan yang membuat banyak hewan-hewan membencinya. Oleh karena itu, dia ingin berubah. Karena dia percaya dan yakin pada apa yang disampaikan oleh si kancil. Bahwa hati yang indah akan lebih berharga daripada keindahan fisik. Tak apa buruk rupa, asal baik hati dan indah sifatnya, itu akan lebih baik.

Story By: Muhammad Rifai

Hikmah yang dapat kita petik: Hidup itu adalah wujud dari imbal balik setiap perbuatan kita. Jika kita berbuat buruk pada sesama, maka kita juga akan mendapat hal yang sama. Jika kita bersikap baik pada sesama, mereka juga akan bersikap hal yang sama pada kita. Karena hidup itu, ibarat pantulan cermin.

Dikirim melalui BlackBerry® dari 3 – Jaringan GSM-Mu