Dongeng KANCIL, SINGA dan TIKUS

Dongeng Kancil Terbaru – Dongeng Kancil, Singa, dan Tikus | Di daratan Eutopia, ada salah satu hewan yang dijuluki juga sebagai raja hutan selain Harimau. Dia adalah sang Singa. Namun singa lebih senang hidup di padang rumput dengan alam yang lebih terbuka. Dia selalu menjaga wilayahnya dari para hewan yang ingin berbuat onar di daerah kekuasaanya.

Sebagaimana si Harimau, singa juga memiliki sifat yang sombong sebagaimana seorang raja. Dia cukup angkuh dan merasa tidak terkalahkan. Bahkan dia sering memandang rendah hewan yang lebih lemah darinya. Si kancil pernah beberapa kali bertemu dengan singa, namun dia bisa bersembunyi untuk menghindar. Berbeda dengan harimau, sifat singa sedikit lebih tenang. Bahkan terkesan cukup malas. Hari-harinya selalu di isi dengan tidur. Dia hanya berburu ketika perutnya sedang lapar saja.

Pada suatu hari ketika si singa tengah tertidur nyenyak, ada seekor tikus yang tidak sengaja tersesat ke sarangnya. Tikus itu tanpa sengaja membangunkan singa yang sedang tertidur itu. Kontan saja singa yanf merasa terusik itu sangat marah dan mengaum dengan keras. Auman singa cukup menakutkan bagi setiap yang mendengar. Bahkan aumanya dapat di dengar hingga jarak cukup jauh di seluruh penjuru hutan.

Melihat singa yang marah, tikus yang malang itu merasa sangat ketakutan. Dia merasa kini ajalnya mungkin akan datang karena di makan oleh singa. Namun tiba-tiba saja si kancil datang, dia mencoba menengahi untuk menenangkan singa tersebut.
“Eh.. singa.. tunggu dulu. Jika kau memakan tikus malang ini, maka martabat mu sebagai raja hutan akan tercoreng. Kau akan sangat rugi. Selain tidak kenyang.. kau juga akan di kenal sebagai hewan rakus yang bahkan memakan tikus yang kurang bergizi”. Kata kancil.
“Apa maksut mu cil..? Apa kau meledek ku?”. Kata singa masih geram.
“Bukan itu masalahnya.. aku hanya ingin menyelamatkan harga diri mu. Jika kau memakan tikus ini, maka kau tak lebih dari hewan berkuku dengan taring besar.. namun selera makan mu kacangan dan tak bermutu. Bayangkan saja jika seluruh penghuni hutan tahu, pasti mereka akan menertawakan mu”. Jelas kancil.

“Lalu.. apa yang harus aku lakukan? Tikus ini sudah mengganggu tidur ku”. Tanya singa lagi.
“Sebagai raja.. kau harus belajar untuk mengampuni. Biarkan dia pergi. Mungkin saja kelak dia justru bisa menolong mu ketika kau kesusahan”. Jawab kancil.
“Hahahahaha… aku? Kesusahan? Lalu ditolong tikus? Mana mungkin.?? Aku ini raja hutan yang paling kuat. Bahkan harimau saja tak sebanding. Tak ada yang berani macam-macam dengan ku. Itu mustahil.. hahahaha..”. Kata singa dengan sombongnya.
“Baiklah.. mau mustahil atau tidak, roda nasib tak ada yang tahu. Jadi bagaimana singa? Apa kau mau melepaskanya?”. Tanya kancil lagi.
“Baiklah.. kali ini dia aku lepaskan. Tapi bukan karena alasan yang kau sebutkan.. tapi memang karena aku masih kenyang.. jadi, cepat pergi sebelum aku berubah fikiran..”. Kata singa sambil kembali memejamkan mata untuk melanjutkan tidurnya. Sementara kancil dan tikus segera pergi dari tempat itu.

Beberapa bulan berlalu setelah kejadian itu. Hingga pada suatu hari, singa di timpa musibah. Ketika tengah mencari mangsa, singa terjerat oleh jaring yang di pasang pemburu. Dia sudah berusaha lepas, tapi tak berhasil. Jaring itu dirajut dengan tali yang cukup kuat. Hingga dua hari lamanya singa terjebak. Tanpa makan dan minum, sehingga membuat singa lemas kehabisan tenaga. Bahkan untuk mengaum saja dia sudah tidak sanggup. Namun takdir sepertinya masih berpihak pada si singa. Tikus yang dulu dia lepaskan, tidak sengaja lewat tempat itu.

Melihat singa yang sekarat, tikus itu langsung berusaha menolongnya. Dia menggigit setiap tali jaring itu hingga putus. Setelah semua tali putus, singa itu akhirnya bisa bebas. Melihat bahwa nyawanya diselamatkan oleh seekor tikus yang dulu dia remehkan, membuat singa merasa malu. Kini dia belajar akan satu hal.. kemampuan itu tidak hanya dilihat dari penampilan luar saja. Singa merasa bersyukur, bahwa dulu dia mengambil keputusan yang benar dengan melepaskan si tikus. Andai saja dulu dia tidak melepaskan si tikus, niscaya nyawanya sudah tidak tertolong.

Singa mengucapkan terimakasih kepada tikus. Dia juga meminta ma’af jika dahulu dia menghina si tikus. Tikus itu hanya tersenym, karena dia sudah lama mema’afkan singa dan merasa tidak terjadi masalah. Sejak saat itu, tikus dan singa menjadi sahabat. Singa berjanji akan dengan senang hati membantu tikus ketika tikus dalam kesulitan. Sebagai wujut balas budi di hari itu.

Story by: Muhammad Rifai

Hikmah: Kemampuan seseorang, itu tidak dapat dinilai dari penampilanya saja. Terkadang orang yang kita anggap remeh, lebih hebat dari pada kita sendiri.

Dongeng KANCIL dan KUPU-KUPU Sombong

Dongeng Kancil dan  Kupu-Kupu yang Sombong – Pada suatu hari, si kancil sedang berjalan-jalan di sebuah kebun bunga. Berbagai masalah yang sebelumnya dia hadapi, sekiranya dapat sedikit dia tinggalkan sejenak. Maklum, karena si kancil kini di angkat sebagai hakim di hutan eutopia. Maka banyak masalah yang harus dia selesaikan. Baik masalahya sendiri ataupun masalah hewan lain yang meminta bantuanya. Si kancil berjalan pelan melihat pemandangan bunga-bunga yang indah. Musim panas sudah mulai datang, sehingga bunga-bunga sudah mulai bermekaran dengan indahnya.
Ketika tengah memperhatikan sekitar, tak sengaja perhatian si kancil tertuju oleh segerombolan serangga yang sedang berkumpul. Si kancil diam sejenak, dia mendengarkan percakapan para serangga itu. Sepertinya, para serangga itu sedang sedikit ada masalah. Di situ berkumpul banyak serangga. Ada kaki seribu, belalang sembah, belalang ranting, kumbang, lebah, kupu-kupu, dan beberapa serangga lain. Namun sepertinya, si kupu-kupu yang menjadi masalah disini.
Ternyata, si kupu-kupu menyombongkan keindahanya, dan mengejek serangga-serangga lain bahwa mereka semua  tak ada yang mampu menyaingi keindahanya.
“Siapa yang bisa menyaingi keindahan ku? Kamu kaki seribu? Lihat bentuk mu yang gemuk itu, dengan kaki sebanyak itu jalan mu tetap saja lamban. Hahaha..”. Ejek kupu-kupu. Serangga kaki seribu hanya bisa diam tak menjawab. Dia merasa malu dengan ejekan itu.
“Atau kamu belalang sembah? Mau menyaingi keindahan ku? Wah.. lihat bentuk mu. Tak ada yang indah di setiap lekuk tubuh mu. Dengan penampilan seperti itu, kau terlihat lebih menakutkan dari pada di sebut indah. Hahaha..”. lanjut kupu-kupu mnengejek belalang sembah. Dan lagi-lagi, tak ada yang menjawab ejekan kupu-kupu yang sombong itu.
dongeng kancil dan kupu-kupu
ilustrasi kupu-kupu indah
“Ayo siapa yang bisa menyaingi keindahan ku? Belalang ranting yang kurus kering? Lebah yang kerdil? Atau siapa saja, siapa yang bisa mengalahkan keindahan sayap ku yang berkilau? Aku bebas terbang kesana-kemari menghampiri bunga-bunga, dan menghisap madunya hingga kenyang. Tanpa perlu bekerja untuk siapapun mengumpulkan madu seperti lebah-lebah yang bodoh. Hahaha..”. kata kupu-kupu semakin congak. Melihat hal itu, kancil yang dari tadi terdiam di kejauhan berusaha mendekat. Dia berniat menasehati dan mengingatkan kupu-kupu yang sombong itu agar tidak lupa diri hingga berahir celaka.
“hai kawan.. tidak baik kau mengejek kawan-kawan mu seperti itu. Kau memang indah, tapi bukan berarti kau memiliki hak untuk menghina mereka. Karena setiap ciptaan pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu, jangan menyombongkan kelebihan mu”. Kata kancil.
Namun si kupu-kupu yang mendengar perkataan si kancil malah acuh, dengan ketus dia menjawab..
“Ah.. siapa kamu hewan asing? Apa salahnya aku bangga dengan diri ku sendiri/ apa kau juga iri pada ku? Lihat keindahan sayap ku. Yang bersinar di bawah terpaan sinar matahari, maka kau akan tahu akulah hewan paling indah yang tiada bandingnya..”. kata kupu-kupu sambil terbang tinggi. Dia terbang setinggi yang dia bisa untuk memamerkan keindahan sayapnya pada kancil dan semua hewan.
Namun sayang, tanpa dia sadari.. ada burung yang terbang di atasnya. Melihat ada mangsa mendekat, burung itu langsung menyambar kupu-kupu dan dibawa terbang tinggi entah kemana. Si kancil dan para serangga lain yang menyaksikan hal itu hanya bisa ikut perihatin. Mereka tidak bisa membantu, karena si kupu-kupu celaka berkat sifat sombong dan rasa angkuhnya sendiri. Mereka hanya bisa mengambil pelajaran, bahwa kesombongan selalu memiliki akhir yang tragis. Setelah kejadian itu, para serangga pulang ke rumah masing-masing. Sedangkan si kancil masih melanjutkan kegiatanya berjalan-jalan di kebun bunga itu hingga senja tiba.
                                          
Story by: Muhammad Rifai
  
Hikmah yang bisa kita petik: kesombongan dan sifat angkuh, selalu berakhir dengan penyesalan. Oleh karena itu, belajar rendah hati dan menghormati sesama, akan menjadi hal terbaik dalam menjalani hidup yang damai dan tenteram.

Fabel KANCIL dan SERIGALA PENCURI

Fabel Kancil dan Serigala Pencuri   Setelah pada kisah sebelumnya si kancil berhasil selamat dari kejaran harimau dengan menyeberangi sun gai berkat bantuan para buaya, kini si kancil bisa menikmati ketenangan kembali di rumahnya yang nyaman. Dia kini lebih memilih bersantai di rumah dari pada harus pergi ke tempat jauh dengan resiko bahaya yang tidak terduga. Namun mungkin hanya beberapa saat. Rasa penasaran dan rasa ingin tahunya yang tinggi, suatu saat akan mendorongnya untuk melakukan petualangan lagi.
Sedangkan di tempat lain, para burung sedang di landa masalah berat. Beberapa hari ini, telur-telur mereka hilang entah kemana ketika mereka tinggal untuk mencari makan. Tidak ada yang tahu siapa yang mencurinya. Jika terus dibirakan, burung-burung tidak akan bisa lagi menetaskan telurnya dan bisa terancam punah. Menurut kabar, beberapa hari ini seekor serigala sering berkeliaran di kawasan sarang mereka. Namun serigala itu cukup ramah dan baik, maka tidak ada yang mencurigainya. Bahkan kadang kala, serigala itu menawarkan bantuan untuk menjaga telur-telur burung itu ketika mereka pergi.
Namun yang jadi masalah, ketika para burung itu kembali, ternyata telur-telur mereka juga hilang. Dan serigala juga tidak ada lagi di situ. Ketika keesokan harinya mereka bertemu serigala dan bertanya, serigala menjawab kalau dia ada urusan mendadak sehingga harus pergi. Karena alasan serigala cukup masuk akal dan tidak ada bukti, maka para burung tidak bisa berbuat apa-apa. Namun semakin hari, masalah yang mereka hadapi semakin menjadi. Sudah banyak burung-burung yang jadi korban pencurian telur tersebut. Hingga mereka akhirnya berkumpul untuk mencari solusi.
Ketika dalam rapat mendadak itu, burung gagak mengusulkan agar mereka meminta bantuan pada si kancil. Selain mereka bersahabat, si kancil juga termasuk binatang yang cerdik dan banyak akal. Dan yang lebih penting lagi, si kancil suka menolong siapa saja yang kesusahan. Akhirnya setelah di sepakati, keesokan harinya para burung pergi ke rumah si kancil. Si kancil yang tiba-tiba kedatangan banyak tamu, tentu sangat terkejut. Namun setelah burung gagak menjelaskan apa tujuan mereka serta masalah yang menimpa mereka, si kancil menjadi tenang dan bersimpati pada masalah yang di hadapi oleh para burung.
Menurut kesimpulan dari cerita para burung, si kancil mencurigai bahwa serigala adalah pencuri telur tersebut. Karena selain tidak ada hewan lain di tempat kejadian, gerak-gerik serigala juga cukup mencurigakan. Di karenakan kejadian pencurian terjadi setelah beberapa hari serigala berkeliaran di tempat itu. Dan lagi, selalu ada serigala sebelum kejadian, dan juga serigala hilang bersama hilangnya telur-telur itu meski dengan berbagai alasan. Namun yang  jadi masalah adalah, mereka tidak memiliki cukup bukti untuk menuduh serigala adalah pelakunya. Maka kali ini, si kancil harus berperan menjadi detektif kancil untuk menuntaskan masalah itu.
fabel kancil dan serigala pencuri
ilustrasi sarang burung
Si kancil meminta waktu sejenak untuk menyendiri. Dia berfikir untuk mencari ide terbaik menangkap basah serigala serta membuatnya jera. Sudah hampir beberapa waktu lamanya si kancil belum mendapat ide. Sedangkan para burung menunggu di luar dengan gelisah dan harap-harap cemas. Ketika tengah jalan mondar-mandir mencari ide, tak sengaja si kancil menginjak telur busuk. Baunya membuat kancil ingin muntah. Namun karena hal itu, si kancil jadi menemukan sebuah cara tepat untuk menangkap basah serigala pencuri.
Si kancil lalu keluar menemui para burung untuk menceritakan rencananya. Para burung yang sudah menunggu lama, terlihat serius menunggu apa yang akan di sampaikan si kancil. Ternyata, si kancil menyuruh para burung untuk mengumpulkan telur-telur mereka yang busuk dan tidak bisa menetas. Jika dilihat sepintas, telur-telur itu tak jauh beda dengan telur biasa. Namun jika di buka, maka bau busuknya baru tercium. Para burung disuruh mengumpulkan telur-telur itu pada satu tempat dengan membuat sarang yang sangat besar.
Setelah sarang jadi dan telur sudah terkumpul, maka para burung di suruh menemui serigala. Bilang pada serigala bahwa mereka membutuhkan bantuan untuk menjaga telur-telur mereka. Agar aman dan mudah di jaga, telur-telur mereka telah mereka kumpulkan jadi satu di satu sarang. Jika rencana ini berhasil dan serigala memang pelaku pencurian, maka para burung akan memiliki cukup bukti dan bisa membuat serigala itu kapok.
Mendengar rencana itu, para burung menjadi gembira. Kali ini pasti mereka bisa menangkap basah serigala pencuri itu tanpa bisa mengelak. Akhirnya, mereka menjalankan rencana si kancil itu. Mereka bergotong royong untuk membuat sarang serta mengupulkan telur-telur mereka yang busuk dan tidak bisa menetas. Sebagaimana rencana si kancil, mereka menemui serigala setelah semua persiapan usai dengan alasan agar serigala mau menjaga telur-telur di sarang meraka. Tanpa curiga, serigala itu menyangupinya, bahkan serigala itu terlihat sangat bersemangat dan senang sekali.
Setelah serigala ada di sarang yang berisi telur-telur bususk, para burung berpura-pura berpamitan untuk pergi mencari makan dan meninggalkan sarang mereka yang berisi telur agar di jaga oleh serigala. Namun sebenarnya, burung-burung itu tidak pergi jauh, mereka bersembunyi di balik semak-semak sambil mengawasi serigala yang mencurigakan itu. Ternyata dugaan mereka benar. Setelah serigala tahu bahwa dia sendirian, dia langsung memakan telur-telur itu dengan lahapnya. Namun kali ini agak berbeda, baru habis beberapa butir saja, tiba-tiba dia mau muntah. Bau telur-telur itu sangat bususk tidak seperti biasa, dia juga merasa perutnya kini sakit, kepalanya mulai pusing.
Serigala berniat lari pergi dari tempat itu karena badanya terasa kurang sehat setelah makan telur-telur busuk itu. Namun para burung yang marah setelah tahu buktinya bahwa memang serigala yang selama ini mencuri telur-telur mereka, segera terbanga beramai-ramai menerjang serigala. Ada yang mematuk, mencakar, menyambar, hingga serigala di buat tak berdaya. Serigala lari sekuat yang dia mampu sambil menahan perutnya yang semakin sakit, kepalanya yang semakin pusing, serta rasa perih di sekujur tubuh berkat terjangan para burung. Dia lari secepat yang dia bisa dan akhirnya hilang di dalam hutan yang gelap. Dan setelah saat itu, serigala itu tak berani lagi menampakan diri. Dan para burungpun bisa hidup kembali dengan tentram. Semua berkat si kancil yang cerdik.
Story by; Muhammad Rifai
Hikmah yang dapat kita petik: Terkadang  kepercayaan yang kita berikan di hianati dengan tipu daya. Namun sebagaimana falsafah kehidupan.. apa yang kau tanam, itu yang akan kau tuai. Maka, setiap orang akan menuai hasil dari perbuatanya masing-masing.

Dongeng KURA-KURA dan MONYET Rakus

Dongeng Kura-kura dan Monyet Rakus Setelah si Monyet yang nakal terjatuh pada cerita Dongeng si Kancil dan Monyet Nakal yang lalu, kini si Monyet berjalan terpincang-pincang. Dia juga harus berjalan dengan sembunyi-sembunyi agar tidak ditemukan oleh para hewan yang dibuatnya marah. Si monyet terlihat begitu memprihatinkan. Dia tak bisa berjalan cepat karena kakinya sakit. Dia harus berjalan tertatih-tatih, bahkan kadang dia juga menyeret kakinya ketika dia lelah berjalan pincang. Sudah beberapa lama si monyet berjalan, dia begitu lelah meski jalan yang dia tempuh belum begitu jauh. Perutnya juga mulai dilanda rasa lapar. Terdengar suara perutnya yang mulai keroncongan karena kelaparan. Namun si monyet tak bisa berbuat apa-apa, karena kakinya yang sakit membuatnya tak lagi bisa memanjat untuk mencari makan. Akhirnya si monyet memutuskan untuk beristirahat di bawah semak-semak.

Tak berapa lama ketika si monyet beristirahat sambil memegangi perutnya yang kelaparan, tiba-tiba si monyet mendengar sebuah lagu. Di lihatnya dari kejauhan, ternyata itu adalah seekor kura-kura yang sedang bernyanyi. Wajahnya terlihat sangat bahagia, dan lagi… Kuar-kura itu membawa banyak sekali makanan. Tentu saja si monyet menjadi sangat senang. Kini dia mulai berfikir bagaimana caranya agar dia bisa mendapatkan makanan itu dari kura-kura. Dengan kakinya yang pincang, tak mungkin si monyet dapat mencuri makanan itu. Maka si monyet akhirnya menemukan sebuah siasat untuk menipu si kura-kura.

Si monyet berpura-pura pingsan di tengah jalan yang akan dilalui kura-kura. Dia menunggu kura-kura itu lewat didekatnya. Si kura-kura yang tak tahu siasat si monyet, merasa sangat kaget ketika melihat si monyet yang pingsan di tengah jalan. Dia menjadi semakin iba ketika melihat kaki si monyet yang terluka. “wah.. Kasihan sekali monyet ini. Dia pasti terluka karena di buru oleh pemangsa, hingga dia pingsan di sini”. Batin kura-kura. Kura-kura lalu berusaha memvangunkan si monyet, dan ketika di bangunkan, si monyet berpura-pura baru sadar dari pingsanya.

monyet dan kura-kura
Monyet Rakus

“Ah.. Syukurlah itu kamu kura-kura. Ku kira tadi kau adalah serigala yang tadi mengejar dan mau memakan ku”. Kata monyet sambil pura-pura menangis. Melihat keadaan monyet yang sangat memprihatinkan, kura-kura menjadi semakin iba. “sudahlah monyet.. Jangan menangis lagi.. Bahaya sudah lewat, kau selamat sekarang. Jika saja ada yang bisa aku bantu, katakan saja. Aku akan dengan senang hati membantu mu”. Kata kura-kura yang baik itu dengan ramah. Mendengar tawaran itu, monyet tertawa dalam hati. Karena rencananya untuk memperdaya kura-kura sudah mulai berhasil.

“kura-kura.. Aku ingin pulang dan menemui saudara ku yang ada di pinggir sungai. Tapi kaki ku terluka, sehingga aku tak bisa berjalan. Bisakah kau membantu ku mengantarkan aku ke tepi sungai!”. Tanya monyet. “wah.. Tentu saja, kita sejalan. Aku juga sedang mau pulang ke rumah ku yang ada di pinggir sungai. Jika kau tak bisa berjalan, aku akan menggendong mu. Naiklah kau ke punggung ku”. Kata kura-kura baik itu. “tapi.. Bagaimana aku bisa naik? Di punggung mu sudah ada muatan, banyak sekali makanan kau bawa”. Kata monyet.

“Oooo.. Itu? Itu adalah makanan yang ku kumpulkan untuk persiapan musim kemarau nanti. Gampang.. Kau bisa membawa makanan itu selama kau berada di atas punggung ku. Tidak terlalu berat kok”. Kata kura-kura tanpa curiga.

Akhirnya.. Si monyet naik ke punggung kura-kura. Lalu kura-kura itu melanjutkan perjalananya sambil bernyanyi sepanjang jalan. Dia tidak curiga sedikitpun pada si monyet yang ada di atas punggungnya. Sedangkan si monyet tertawa dalam hati..”Dasar kura-kura bodoh.. Mau saja ku tipu. Enaknya hidup ku ini. Sudah dapat tumpangan gratis tanpa harus capek-capek berjalan. Masih pula disediakan makanan gratis tanpa harus mencari. Hahahaha..”. Fikir monyet. Sementara si kura-kura menggendong monyet di punggungnya, si monyet malah dengan lahapnya memakan semua makanan milik kura-kura di sepanjang perjalanan. Hingga lambat laun, makanan itu kini habis tak tersisa. Setelah merasa kenyang, monyet langsung tertidur di punggung kura-kura itu.

Sudah hampir setengah hari si kura-kura berjalan dengan menggendong si monyet. Kini dia mulai merasa lelah dan lapar. Maka dia berniat beristirahat sejenak untuk makan. Dia memiliki banyak makanan, maka dia juga berniat untuk membagi makananya pada monyet agar mereka bisa makan sama-sama. Namun betapa terkejutnya si kura-kura ketika dia mendongak ke atas. Dia tak lagi melihat makanan yang tadi dibawakan oleh si monyet. Yang ada malahan monyet yang tertidur pulas dengan perutnya yang buncit karena kekenyangan.

Kontan saja kura-kura menjadi sangat marah. Kini dia sadar bahwa dirinya telah tertipu oleh si monyet. Dia lalu mengguncang-guncang cangkangnya hingga si monyet yang tertidur di atasnya terjatuh. Kontan saja si monyet terbangun karena terkejut. “Dasar monyet tak tahu balas budi.. Sudah di tolong, malah begini balasan mu? Kau menipu ku dan memakan semua makanan yang ku kumpulkan dengan susah payah..”. Teriak kura-kura itu marah. Sadar bahwa tipuanya telah ketahuan, si monyet langsung berusaha lari menjauh. Dia berusaha dengan sekuat tenaga berlari dengan kaki yang pincang. Sementara kura-kura masih menggerutu dan memaki-maki si monyet karena jengkelnya.

Namun semua sudah terlanjur, si kura-kura hanya mampu menggerutu sepanjang jalan. Dia juga mulai menyalahkan dirinya sendiri yang kurang waspada hingga mudah tertipu. Tak sengaja, kura-kura bertemu si kancil di perjalanan. Melihat kura-kura yang sepertinya sedang ada masalah, si kancilpun bertanya pada kura-kura. Kura-kurapun menceritakan kejadian yang baru dia alami dan tentang semua makananya yang habis karena di tipu si monyet. Mendengar penjelasan itu, si kancil menjadi ikut merasa iba dan prihatin pada nasib kura-kura.

Namun sebagai teman, si kancil juga berusaha menghibur kura-kura. “Ya sudah.. Mau bagaimana lagi? Bukan kamu saja yang sudah di tipu, tapi sudah banyak hewan-hewan lain yang di buat kesal oleh monyet. Termasuk aku. Tapi sabarlah kura-kura..!! Tuhan itu maha adil, si monyet pasti akan mendapatkan balasan dari semua perbuatanya. Nah.. Dari pada kamu marah-marah terus, mending sekarang kamu ikut aku. Kita pergi ke acara ulang tahun si Tupai. Pasti nanti kau juga akan mendapat banyak makanan sebagai ganti makanan mu yang sudah hilang”. Bujuk kancil. Mendengar ajakan itu, kura-kura menjadi senang. Wajahnya kembali bahagia, dan dua sekawan itu berjalan beriringan menuju rumah Tupai dengan suka cita.

Story By: Muhammad Rifai 

Hikmah yang dapat Kita Petik: Terkadang.. Kebaikan hati yang kita miliki sering di gunakan oleh orang yang memiliki niyat buruk untuk menipu kita. Tapi bukan berarti kita harus berhenti untuk perduli. Karena itu bisa jadi ujian untuk kita. Untuk mengukur seberapa tulus kita dalam menolong, dan seberapa sabar kita dalam menghadapi ujian.

Dongeng KANCIL dan MONYET Nakal

Dongeng kancil dan monyet NakalSetelah si kancil menolong burung elang pada dongeng si kancil menolong burung elang pada kisah yang lalu, si kancil kemudian pulang ke tengah hutan. Tapi ketika dalam perjalanan, si kancil tak sengaja bertemu dengan beberapa hewan yang sedang berkerumun. sepertinya baru saja ada masalah yang terjadi disini. Karena penasaran, kancil lalu menghampiri mereka untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Hai kawan-kawan, apa yang sedang terjadi? sepertinya kalian sedang ada masalah?”. Tanya kancil. “Iya cil.. kami memang sedang ada masalah. Beberapa hari ini, kami dibuat jengkel oleh ulah si monyet yang sangat nakal. Dia  menipu kami dan juga sering mencuri makanan kami. Kami menjadi sangatt resah. dan sekarang ini kami sedang berunding untuk mencari si monyet bersama-sama”. jawab para hewan itu. Mendengar jawaban itu, si kancil menjadi teringat perbuatan monyet yang juga sudah menipu burung elang. Lalu si kancil memutuskan untuk membantu mereka mencari monyet itu.

Setelah semua sepakat, mereka pun bersama-sama menuju tkediaman monyet. Setelah sampai di tempat monyet, mereka berteriak dan menyuruh si monyet untuk segera keluar. “Hai monyet..!! Keluar kau..!! kami datang untuk menuntut tanggung jawab mu. Kau harus bertanggung jawabkarena telah menipu kami dan mencuri makanan-makanan kami. Kau harus mau menggantinya..!!”. Teriak mereka. Mendengar ada suara gaduh di depan rumahnya, si monyet keluar dari sarangnya. Namun bukanya meminta ma’af, namun si monyet itu malah berdiri dengan angkuhnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.

“Oh.. ternyata ada segerombolan binatang bodoh yang mencari ku. Tadi aku dengar kalian meminta kau untuk bertanggung jawab? Untuk apa? Lagi pula itu bukan kesalahan ku. Itu murni kesalahan karena kebodohan kalian sehingga mudah di tipu. Hahahaha..”. Kata monyet itu meledek. Mendengar jawaban si monyet, tentu saja para hewan yang ada di situ menjadi sangat marah. Namun si monyet berada di atas pohon yang sangat tinggi, sedangkan para hewan itu tidak pandai memanjat. Sehingga yang bisa mereka lakukan hanyalah meneriaki si monyet dengan sumpah serapah.

kancil dan monyet
Monyet

“Apapun kata kalian, aku tak perduli. Jika aku tak mau mengganti makanan kalian, kalian mau apa? Lagipula hewan-hewan bodoh yang lamban seperti kalian, tak mungkin bisa  menangkap aku. Aku ini si monyet. Binatang yang sudah di kenal cukup lincah dan cerdik”. Kata si Monyet dengan sombongnya. Mendengar perkataan monyet yang sudah keluar batas, akhirnya si kancil maju dan ikut berbicara.

“Baiklah monyet.. mungkin memang benar itu semua bukan sepenuhnya kesalahan mu, tapi karena kebodohan kami hingga kami mudah kau tipu. Namun ini juga akan menjadi sebuah pelajaran bagi kami agar lebih berhati-hati. Mungkin memang sekarang ini kau menang. Kami tak bisa apa-apa dan tak bisa menangkap mu. Tapi itu semua bukan berarti karena kamu lebih pandai, lebih kuat, atau lebih lincah dari kami. Tapi karena saat ini pohon yang tinggi ini tengah melindungi nasib mu. Tapi ingat monyet, kau memiliki dua kaki. dan ada kalanya kau tak bisa naik ke atas pohon dan hanya bisa berjalan di tanah. Jika tiba saat itu, kami akan menangkap dan membuat perhitungan dengan mu. Untuk sekarang, silahkan nikmati kemenangan mu..”.  Kata si kancil kemudian mengajak para hewan untuk pergi dari tempat itu.

Melihat para hewan yang berusaha menangkapnya pergi dengan tangan kosong, si monyet menjadi merasa sangat geli. Dia merasa menang dan menertawakan para hewan itu dengan tawa yang terpingkal-pingkal. Bahkan hingga semua hewan itu sudah tidak lagi di situ, si monyet masih saja tertawa. “hahaha.. dasar para hewan bodoh. masak mereka mau mengancam ku? Aku ini monyet. Hewan yang di karuniai kecerdasan dan kegesitan, aku pandai memanjat dan melompat. Dari zaman dulu hingga nanti, akau akan tetap menjadi hewan yang pandai memanjat, mana mungkin kalian bisa menangkap ku? Mimipi dulu sana.. Hahahahahahaha..”. Kata Monyet dengan tertawa sepuas-puasnya.

Namun nasib tak ada yang tahu, kesialan menimpa si monyet. Ketika dia tertawa terpingkal-pingkal hingga meloncat-loncat di atas pohon, tiba-tiba kakinya tergelincir. dan akhirnya si monyet jatuh dari atas pohon yang cukup tinggi dan kakinya terkilir. Kini, si monyet merasakan kakinya sangat sakit. jangankan untuk memanjat, untuk berjalan saja dia terpincang-pincang. Kini, si monyet mulai menyadari kesalahanya. tak seharusnya dia berbuat sombong ketika di atas pohon tadi, sehingga membuat para hewan itu semakin marah.

Kini dia berada di atas tanah, dia tak lagi bisa memanjat. Jika para hewan itu tiba-tiba kembali, tentu dia tak mampu lagi berkata dengan nada mengejek seperti tadi. Dia pasti akan merasa takut, resah, dan hawatir seperti yang dia rasakan saat ini. Namun semua sudah terlambat, kini dia harus hidup dalam rasa was-was dan ketakutan jika saja nanti para hewan itu tahu dia tak lagi bisa memanjat. Maka yang ada di fikiranya saat ini adalah sembunyi dan mencari perlindungan yang bisa melindungi keselamatanya. Maka.. mungkin si harimau bisa menjadi pilihan yang tepat. Namun bagaimana caranya dia membujuk harimau agar mau membantunya? Mungkin bisa di fikirkan sambil jalan dan kita sambung pada dongeng berikutnya.

Story By: Muhammad Rifai  

Hikmah yang dapat Kita Petik: Sifat bodoh adalah hal yang menjadi kelemahan utama. karena kebodohan akan membuat kita mudah di tipu dan di perdaya. Dan juga.. posisi seseorang kadang membuat orang tersebut lupa dan menjadi sangat angkuh. Memiliki jabatan tinggi, atau menjadi kaya raya, kadang membuat kita berbuat semena-mena pada orang-orang di bawah kita karena kita merasa menang. Namun perlu kita ingat, dunia itu berputar. dan posisi kita akan selalu silih berganti, tak selamanya di atas ataupun di bawah.

Dongeng KANCIL Menolong Burung ELANG

Dongeng Kancil Menolong Burung Elang – Setelah masalah si kancil dengan para gajah pada dongeng Si kancil dan langit runtuh berhasil diselesaikan, kini si kancil bisa menikmati kembali hari-harinya dengan tenang. seperti pagi ini, si kancil sedang berkeliling di pinggir telaga, dia sedang asik mencari rumput-rumput muda yang baru tumbuh. Suasana yang sejuk dimusim penghujan, membuat kawasan itu tampak indah dan damai. Namun ketika si kancil tengah asik menikmati sarapan paginya, tiba-tiba dia mendengar suara rintihan yang terdengar lamat-lamat.

Merasa ada yang membutuhkan pertolongan, si kancil berusaha mencari dari mana arah suara itu. alangkah terkejutnya dia ketika melihat seekor burung elang yang tergeletak kedinginan di pinggir telaga. Terlihat kakinya seperti terikat pada sesuatu yang tenggelam di dasar telaga, sehingga dia tidak bisa terbang. Paruhnya dengan kuat menggigit sebuah ranting pohon sehingga dia tak bisa bersuara keras. elang itu sepertinya sudah cukup kelelahan.

Melihat hal itu, si kancil bergegas menolong burung elang itu. Dia membantu menarik tali yang mengikat kaki elang dengan giginya, dan ternyata tali itu di ikat pada sebuah batu yang cukup besar yang di tenggelamkan di telaga. Setelah batu itu berhasil mereka atarik ke pinggir telaga, elang itu melepaskan gigitan paruhnya dari ranting pohon. Tampaknya, elang itu sudah sangat kelelahan dan kelaparan. Keadaanya terlihat sangat memperihatinkan. Kancil lalu memanggil si tikus untuk membantu mengerat tali yang ada di kaki burung elang hingga putus. Setelah membiarkan si elang beristirahat sejenak, si kancil lalu mencoba mencari tahu apa yang sudah terjadi.

“Hai elang, apa yang sudah terjadi pada mu? Kenapa kau bisa terikat di telaga ini?”. tanya kancil. Dengan keadaan yang masih lemas karena kecapek’an, si elang menjawab.. “Aku telah di tipu oleh burung bangkai dan monyet cil.. Hampir saja aku celaka jika kau tidak datang menolong ku tadi. terimakasih cil”. Jawab elang. “Di tipu bagaimana maksud mu? Kalau kau tak keberatan, maukah kau menceritakan kejadianya?”. Tanya kancil lagi.

dongeng elang dan kancil
Burung Elang

Lalu elangpun menghela nafas panjang, kemudian memulai ceritanya.. Tadi sore ketika si elang sedang asik mencari ikan di telaga, dia mendapat ikan yang cukup banyak dan di taruh di pinggir telaga untuk dikumpulkan. Namun ketika dia sudah selesai dan ingin mengambil ikanya, ternyata di situ sudah ada si monyet dan burung pemakan bangkai yang sedang asik memakan ikan-ikan itu. Ketika si elang menegurnya, mereka malah berdalih bahwa ikan itu adalah ikan yang mereka temukan karena tidak ada pemiliknya. Elang dan kedua hewan itu akhirnya saling adu mulut, diantara kedua kelompok itu tak ada yang mau mengalah. Si elang hanya berusaha mempertahankan haknya, sedangkan si monyet dan burung pemakan bangkai tetap ngotot dengan pendirianya.

Akhirnya mereka sepakat untuk menentukan pemenangnya dengan sebuah lomba. Yaitu perlombaan adu kuat antara burung elang dan burung pemakan bangkai, sedangkan si monyet menjadi wasitnya.Aturanya cukup mudah, siapa yang mampu mengangkat batu lebih besar, dialah yang berhak atas ikan-ikan itu. Karena tubuh elang lebih besar dari pada si burung pemakan bangkai, elang sangat yakin bahwa dirinya akan menang. Pertama-tama si burung bangkai yang mengangkat batu dengan tali yang di ikat monyet di kakinya. Batu yang di angkat tak seberapa, sehingga si elang tertawa dalam hati dan muncul sedikit sifat sombongnya.

Ketika giliran si elang, dia ingin langsung menunjukan kekuatanya dan yakin bahwa dia akan menang. Dia langsung memilih batu yang cukup besar, dan menyuruh si monyet untuk mengikatkan ke kakinya dengan tali. setelah batu itu terikat dengan kuat, si elang mengepakan sayap-sayapnya yang kokoh dengan kuatnya, hingga batu yang cukup besar itu mampu dia angkat ke angkasa. Namun karena beban batu yang cukup berat, elang tak bisa terbang terlalu tinggi dan sayapnya juga menjadi cepat lelah. Namun sial, ketika sayapnya sudah mulai lelah, ternyata secara tak sadar dia sudah terbang di atas telaga. Dengan sekuat tenaga si elang terbang ke pinggir, namun ketika dia terjatuh ke pinggir telaga, ternyata batu itu masih berada di atas telaga dan jatuh ke dalamnya.

Sadar akan bahaya yang mengancamnya, dengan sigap si elang menggigit ranting yang ada di dekatnya agar dia tidak ikut terseret ke dasar telaga dan tenggelam. Dia berusaha minta tolong pada monyet dan burung bangkai untuk membantunya. Tapi mereka malah tertawa lalu meninggalkanya serta mambawa semua ikan-ikan yang ada. Sudah semalaman si elang berjuang mempertahankan hidupnya agar tidak tenggelam, hingga akhirnya si kancil datang menolongnya.

Mendengar penjelasan si elang, si kancil menjadi merasa iba. Ternyata si elang di tipu oleh burung bangkai dan monyet yang sudah bersekongkol mengambil semua ikanya. Namun si kancil juga menasehati si elang, bahwa kecerobohanya karena sifat sombong yang dimiliki oleh si elang sehingga dia mudah tertipu. Si elang menyadari kesalahanya, dan berjanji tidak akan menyombongkan kekuatanya lagi. Setelah tubuhnya sudah pulih, si elang mengucapkan terimakasih pada si kancil dan berpamitan untuk pulang. Elang berjanji, suatu saat pasti akan membantu si kancil ketika si kancil dalam kesulitan sebagai balas budi.

Story By: Muhammad Rifai

Hikmah yang dapat di Petik: Terkadang kemampuan kita dalam melakukan sesuatu dan rasa percaya diri yang berlebihan, dapat membuat kita bertindak ceroboh. Sehingga hal tersebut dapat di manfa’atkan oleh orang-orang yang memiliki niat tidak baik untuk mencelakai kita. alangkah baiknya, kita selalu rendah hati dan waspada, terutama mewaspadai kesombongan yang terkadang tak kita sadari kedatanganya.

Cerita si KANCIL dan LANGIT RUNTUH

Cerita si Kancil dan Langit RuntuhSetelah si kancil berhasil memberi pelajaran pada si Rubah dan mengetahui kebenaran cerita dari si Rubah tentang ulah para gajah pada kisah Dongeng Tupai dan Rubah Sombong yang lalu, kini giliran si kancil ingin membalas kelicikan para gajah. Kancil mencoba mencari cara agar para gajah kapok dan tidak lagi berbuat ulah. akhirnya si kancil menyusun rencana dengan bantuan kawan-kawanya. Dia berniat memberi pelajaran pada para gajah bahwa kesombongan mereka bisa berakibat buruk bagi diri mereka sendiri.

Akhirnya si kancil mengumpulkan semua kawan-kawanya, dia memberitahukan apa rencana yang akan dilakukan untuk menjebak para gajah. “Nah teman-teman, sekarang aku akan membagi kalian menjadi beberapa kelompok. Aku membutuhkan hewan-hewan yang ahli menggali tanah bersama ku. Sedangkan hewan-hewan yang lain, aku meminta kalian untuk menyebarkan sebuah kabar hingga para gajah tahu”. Kata kancil.

“Kabar apa yang harus kami sebarkan cil?”. Tanya mereka. Lalu dengan tersenyum kancil menjawab..”Aku ingin kalian menyebar kabar bahwa dalam waktu dekat langit akan segera runtuh, dan para hewan yang ingin selamat di suruh si kancil untuk berlindung di pengungsian yang telah dibuat”. Setelah mendengar jawaban kancil, para burung dan semua hewan yang tidak bisa menggali pergi ke seluruh pelosok hutan untuk menyebarkan kabar itu. Mereka tak butuh bertanya apa yang sebenarnya direncanakan si kancil, karena mereka percaya si kancil memiliki tujuan yang tidak mereka tahu.

Dalam waktu sekejab, kabar tentang langit yang akan runtuh sudah tersebar, sementara si kancil dan para hewan yang pintar menggali, sedang menggali sebuah lubang yang cukup besar di tengah hutan. kontan saja hewan-hewan yang mendengar kabar langit akan runtuh merasa panik, apa lagi kabar itu sudah ramai dibicarakan dan terasa sangat menyaksikan. Para hewan yang mengetahui kabar itu, segera menuju ke tempat pengungsian yang telah ditetapkan oleh si kancil. Mereka datang beramai-ramai untuk mengungsi dari bencana langit yang katanya akan segera runtuh.

Akhirnya kabar itu sampai juga pada para gajah. Mereke juga ikut panik dan hawatir jika kabar itu benar adanya. Merekapun akhirnya juga pergi ke tempat pengungsian yang telah di tetapkan si kancil. Meski mereka masih dendam pada si kancil, namun mereka tetap butuh tempat untuk mengungsi. Namun sial, ketika para gajah telah sampai di lubang pengungsian, lubang itu telah penuh dengan hewan-hewan, tak terkecuali si kancil juga sudah ada di lubang itu.

“Wah.. wah.. wah.. ma’af ya gajah.. Lubang pengungsian ini sudah penuh. Jadi silahkan kalian cari tempat lain atau menggali lubang sendiri..”. Kata kancil. “Ah.. mana bisa begitu cil? Kami juga berhak menempati lubang itu”. Kata para gajah agak jengkel. “Tapi kalian lihat sendiri, lubang ini sudah penuh. tak mungkin bisa muat jika kalian semua ikut”. Kata kancil lagi.

dongeng gajah dan kancil
Gajah dan Kancil

“Ah.. masa bodoh dengan kalian.. mau tak mau, kalian semua harus keluar. Ini adalah kawasan para gajah. Jadi kami lebih berhak menempati lubang ini. Lihat jumlah kami yang banyak dan tubuh kami yang besar, jika kalian tak mau menurut, maka kami akan mengubur kalian semua di sini biar kita sama-sama celaka”. Kata para gajah. “Wah.. kalian sangat egois gajah.. Bagaimana bisa kalian mengakui tempat ini adalah tempat kalian? lagipula, kami yang membuat lubang ini, kenapa kalian malah mengusir kami?”. Tanya kancil di ikuti para hewan yang juga ikut protes.

“Kami tak perduli.. sekarang pilihan kalian cuma dua.. keluar dari lubang kami, atau kami kubur kalian semua”. Kata gajah dengan angkuhnya. Kontan saja lubang itu dipenuhi suara hewan yang saling berbicara satu sama lain. Mereka sangat mencela sifat gajah yang terlalu egois dan ingin menang sendiri. Bahkan beberapa hewan yang masih anak-anak mulai menangis karena takut dan panik. Namun si kancil mencoba menenangkan mereka.

“Tenamg kawan-kawan.. sebaiknya kita ikuti saja kemauan para gajah ini dari pada kita di kubur di sini oleh para gajah. Kita keluar saja dan biarkan mereka menempati lubang ini”. Kata kancil. Akhirnya para hewan mengikuti nasehat si kancil, mereka saling bantu membantu untuk keluar dari lubang karena lubang itu dibuat cukup dalam. Setelah semua hewan berhasil keluar, para gajah dengan sombongnya menertawakan mereka lalu masuk ke dalam lubang. Setelah semua gajah masuk ke dalam lubang, seekor gajah yang paling besar berkata dengan sombongnya”Hahahahaha.. Dasar hewan lemah. Lihat apa kalian? Ini sekarang sudah menjadi lubang milik kami. Sebaiknya kalian sekarang cepat-cepat membuat lubang yang baru atau mencari tempat sembunyi yang lain sebelum langit runtuh sebentar lagi. Sementara kami akan bersantai dan berlindung di sini. Hahahahaha..”. Kata gajah itu.

Namun para hewan hanya bisa diam, mereka panik dan tidak tahu apa yang harus di lakukan. Namun beberapa saat kemudian, si kancil malah tertawa. di ikuti tawa teman-teman si kancil yang sudah tahu rencana si kanci. Para hewan yang tidak tahu rencana si kancil serta para gajah kini menjadi bingung. Kenapa si kancil malah tertawa di saat seperti ini? “Hai cil.. ternyata kamu sudah sangat panik dan ketakutan hingga menjadi gila ya? Sudah tahu bahaya sebentar lagi datang, malah tertawa. Hahahaha”. Kata seekor gajah lagi. “Hahahaha.. Hmm, sebenarnya aku tertawa karena kasihan pada nasib kalian”. Jawab kancil. “kasian pada kami? untuk apa? sekarang lihat siapa yang di atas dan siapa yang ada di dalam lubang? Seharusnya kamu cepat pergi menggali lubang lain jika ingin selamat”. Jawab para gajah masih dengan sifat angkuhnya.

“Justru karena kalian yang ada di bawah sehingga aku kasihan pada kalian. Apa kalian tahu bahwa sebenarnya kabar tentang langit yang akan runtuh itu bohong? Itu karena aku yang membuat kabar itu. Aku memang sengaja mau menjebak gajah seperti kalian, karena kalian sangat sombong dan susah untuk disadarkan. Bahkan kemarin kalian menyuruh rubah untuk mencelakai aku. Sekarang siap yang ada di dalam lubang? Tadi kalian bilang mau mengubur kami semua kan? tentu saja hal itu membuat semua hewan-hewan di sini marah karena kesombongan dan sifat egois kalian. sekarang kami bisa leluasa mengubur kalian”. Jawab kancil menjelaskan.

Mendengar penjelasan dari si kancil, kontan saja para gajah menjadi panik. wajah mereka pucat pasi karena ketakutan. Apa lagi melihat muka hewan-hewan yang ada di situ tampak marah berkat perlakuan para gajah barusan. Beberapa gajah yang panik berusaha untuk segera keluar dari lubang, tapi karena lubang yang dalam mereka tidak bisa memanjat dan akhirnya jatuh lagi ke dalam lubang. sementara itu para hewan berkeliling di bibir lubang dengan tampang yang marah.

Merasa dirinya terancam bahaya, para gajah akhirnya ketakutan dan saling mengeluh satu sama lain. “Cil.. ampuni kami cil.. kami memang salah cil. Tolong jangan kubur kami. Kami berjanji kami akan memperbaiki sifait-sifat buruk kami. Ma’af cil, kami mengaku salah. Tolong biarkan kami keluar cil.. Kami mengaku salah..”. Kata para gajah memelas. “Aku akan mema’afkan kalian. tapi kalian harus janji akan berubah menjadi lebih baik dan tidak berbuat ulah lagi. semua hewan-hewan yang ada di sini menjadi saksinya”. Kata kancil. “Iya cil.. kami berjanji tak akan berbuat jahat lagi.. kami mengaku salah. Dan semua hewan yang ada di sini, kami minta ma’af. tolong ma’afkan sifat egois kami. Kami akan berusaha menjadi lebih baik”. Kata para gajah sambil menangis karena ketakutan.

Akhirnya, si kancil dan para hewan sepakat untuk mema’afkan para gajah. Mereka berharap para gajah mau menepati janji mereka. Lalu si kancil meminta tolong  pada para hewan yang pandai menggali untuk membuat tangga dari dasar lubang. dan para gajah pun akhirnya bisa keluar tanpa kurang suatu apapun. Dengan rasa malu dan penyesalan, para gajah berpamitan untuk pergi ke padang rumput di pinggir hutan. semenjak saat itu, para gajah lebih suka mencari makan di tempat terbuka. dan jarang masuk ke dalam hutan dan mengganggu hewan-hewan yang lain.

Story By: Muhammad Rifai

Hikamh yang Bisa kita Petik: Terkadang, memiliki banyak teman mampu membuat kita lupa diri dan merasa paling kuat karena jumlah yang banyak. bahkan kadang kita tak memperhitungkan salah atau tidaknya perbuatan kita, karena kita merasa berani berkat teman-teman yang siap membantu dan mendukung kita. Tapi alangkah baiknya, kita berteman dan bergaul untuk kebaikan. Bukan untuk adu kuat dan merasa paling menang, karena itu perbuatan pengecut yang tidak baik. Dan setiap perbuatan buruk, pasti akan mendapat balasan yang sama dikemudian hari.

Dongeng TUPAI dan RUBAH Sombong

Dongeng Tupai dan Rubah sombongSetelah si Rubah berhasil menipu Kancil pada kisah si Kancil dan jebakan pemburu sebelumnya, si Rubah langsung kembali ke tengah hutan eutopia dan menyebarkan kabar bahwa dirinya telah berhasil mengalahkan si kancil dengan kecerdikanya. Dia juga mengatakan bahwa si kancil telah mati karena di tangkap oleh pemburu, dan dengan itu si rubah menyatakan diri sebagai Raja baru di hutan itu yang harus di patuhi.

Tentu saja para hewan kaget dan tidak percaya mendengar kabar itu. Para hewan menjadi sangat resah dan bersedih, tentu saja selain para gajah yang melah menyambut kabar itu dengan suka cita. Bahkan para gajah mendukung si rubah untuk menjadi raja, dan siap saja yang tidak menurut, maka para gajah akan mengancam untuk menyakiti mereka. Tentu saja mendengar ancaman itu, para hewan menjadi takut dan tak ada yang berani melawan. Karena tak ada yang mau berurusan dengan para gajah yang memiliki tubuh kuat dan besar, akhirnya para hewan hanya pasrah.

Bahkan si rubah kini bersikap sangat sombong dan angkuh, setiap keperluanya minta di layani. Bahkan dia melarang para hewan untuk minum di sebuah kolam karena dia berdalih yang boleh minum di kolam itu hanyalah sang Raja hutan, yaitu dirinya sendiri. Karena di dukung oleh para gajah, tak ada satu hewan pun yang berani membantah peraturan aneh itu Mereka hanya bisa pasrah dan menuruti peraturan tidak masuk akal yang di buat oleh si rubah.

Diam-diam si kancil yang berhasil selamat dari para pemburu selalu memperhatikan polah tingkah si rubah ini. Si kancil mendapat cukup informasi penting berkat bantuan para gagak. Dan si kancilpun tidak tinggal diam, dia telah membuat rencana untuk mengalahkan si rubah yang sudah kelewatan itu. Si kancil meminta bantuan gagak untuk memanggil Tupai, agar si tupai mau menemui si kancil secara diam-diam. Dan setelah si tupai datang, si kancil menjelaskan rencana apa saja yang harus di jalankan oleh si tupai. si kancil hanya akan memperhatikan saja kejadian selanjutnya.

Setelah mendepat penjelasan dari si kancil tentang kelicikan si rubah yang telah menipunya, si tupai menjadi sangat bersemangat untuk membalas perbuatan si rubah pada kancil. Si tupai lalu pergi menemui para hewan-hewan lain dan mengabarkan bahwa si kancil masih hidup, dan para hewan harus merahasiakanya. Mendengar kabar tersebut, tentu para hewan sangat senang dan merasa sangat bersyukur. Karena si kancil yang terkenal baik hati itu telah diselamatkan Tuhan dari mara bahaya. Lalu mereka sepakat untuk melakukan rencana yang telah di rancang oleh si kancil.

Esok harinya, si rubah datang ke kolam untuk minum seperti biasa. Namun alangkah terkejutnya dia ketika melihat seekor tupai yang juga minum di kolam yang telah di akui si rubah sebagai kolam pribadinya. “Hai tupai bodoh..!! Berani benar kau minum di kolam ku? apakah kau tak tahu bahwa yang boleh minukm di kolam ini hanya sang raja, yaitu aku?”. Kata rubah dengan nada tinggi.

dongeng tupai dan rubah
Tupai

Namun si tupai mengacuhkan perkataan si rubah, lalu dengan santainya si tupai menjawab.. “Ma’af ya rubah.. bagi bangsa tupai, kau belum bisa di akui sebagai raja jika kau belum bisa mengalahkan kami sebagaimana si kancil yang mengalahkan kami dulu. Kami punya aturan sendiri dalam memilih seorang raja”. Kata tupai dengan santainya. “Apa kau bilang? Aku harus mengalahkan kalian dalam hal apa? Jika si kancil saja bisa, tentu aku lebih bisa dari dia. Ayo kita lakukan, maka aku akan mengalahkan kamu dan kamu harus mengakui aku sebagai raja mu”. Kata rubah dengan angkuhnya.

“Baik.. tapi aku harus memanggil dan mengumpulkan para hewan untuk menonton sebagai saksi. Agar seluruh hewan tahu kau layak menjadi raja atu tidak”. Kata tupai. “Baik.. siapa takut?”. kata rubah sedikit merendahkan. Lalu si tupai memanggil seluruh hewan yang memang sudah bersiap-siap untuk melaksanakan siasat kancil. Suasana kolampun menjadi ramai oleh para hewan yang menonton di sekeliling kolam.

“Sekarang semua sudah berkumpul, lalu apa yang harus aku lakukan untuk bisa mengalahkan mu?”. Tanya rubah. “Begini rubah.. kami para tupai terkenal sebagai hewan yang pandai melompat. Kami ahli dalam melompat, dan lompatan kami bisa cukup jauh. Sekarang, jika kau bisa mengalahkan lompatan ku, maka aku akan mengakui kehebatan mu dan mengakui mu sebagai raja ku”. Jawab tupai. “Hahahahaha.. kalau cuma itu, kamu pasti kalah. Baiklah tak usah banyak basa basi, langsung saja kita mulai lomba ini”. Pinta rubah.

Akhirnya perlombaan pun di mulai dengan di tonton oleh banyak hewan-hewan di hutan. Sio tupai melakukan lompatan terlebih dahulu. Tupai melompat dari pinggir kolam dan mendarat di atas daun talas yang cukup lebar di tengah kolam. Karena tubuh tupai yang ringan, daun talas itu mampu menopang tubuhnya sehingga tidak tenggelam. Melihat lompatan tupai yang tidak seberapa jauh, si rubah menjadi tambah sombong dan angkuh. Di dalam hatinya dia menertawakan lompatan si tupai yang tidak terlalu jauh, bahkan dirinya mampu beberapa kali lipat lebih jauh dari itu. Si rubah sudah yakin bahwa dirinya akan menang.

Rubah lalu mundur beberapa langkah untuk mengambil ancang-ancang, kemudian dia berlari cukup cepat dan melompat tinggi dan sangat jauh. Bahkan lompatan tupai tak ada apa-apanya, si rubah melompat jauh hingga ke tengah kolam. tentu saja rubah melompat dengan sombongnya karena sudah yakin pasti menang. Tapi karena kepalanya sudah di penuhi sifat sombong, dia tidak berfikir bahya yang dapatmengancam dirinya. Tubuh rubah terjun dan mendarat di tengah kolam yang dalam, rubah baru sadar bahaya yang mengintainya karena rubah tidak bisa berenang.

Namun sial, semua sudah terlambat ketika rubah menyadari itu. Tubuhnya sudah tercebur ke tengah kolam. Dia melambai-lambai minta tolong karena dia hampir tenggelam. “Tolong..!! Toloong akuuu!! Aku tidak bisa berenang.. Ma’afkan aku..!! Tolong..!! Aku berjanji akan berbuat baik dan memperbaikai semua kelakuan ku selama ini. Tolong..!!”. Teriak rubah.

Melihat rubah yang hampir mati tenggelam, si Kancil yang bersembunyi bersama kerumunan hewan meminta Berang-berang untuk berenang dan menyelamatkanya. Setelah si rubah di bawa ke daratan, betapa terkejutnya dia melihat kancil yang masih hidup dan tak kurang suatu apapun. si rubah lalu meminta ma’af pada kancil dan menceritakan bahwa semua itu karena hasutan para gajah. Akhirnya kesalah fahaman antara rubah dan kancil berhasil di selesaikan, merekapun akhirnnya berteman. Kini, si kancil ingin sekali membuat para gajah yang berbuat ulah itu kapok. Kira-kira rencana apa yang akan di buat oleh si kancil? Tunggu di cerita berikutnya ya.. 🙂

Story By: Muhammad Rifai

Hikmah yang bisa Kita Petik: Terkadang sifat sombong dan angkuh mampu menutup akal sehat. Sehingga kita mudah terpancing bujuk rayu serta siasat tanpa berfikir bahay yang mungkin dapat mengancam kita. oleh karena itu, sifat sombong harus sangat kita jauhi sebelum semua terlambat.

Cerita KANCIL dan Jebakan PEMBURU

Cerita Kancil dan Jebakan Pemburu – Pada zaman dahulu kala, hewan dan manusia hidup berdampingan. Para manusia hanya memburu hewan tertentu sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tak ada perburuan liar seperti di zaman ini, sehingga kehidupan berjalan dengan seimbang dan para hewan tidak terancam kepunahan. Sebagaimana tokoh utama dalam kisah kita kali ini, si kancil masih menjadi tokoh yang akan kita ceritakan. Kebijaksanaan dan kebaikan hati si kancil yang suka menolong hewan-hewan lain, haruslah patut kita contoh.

si kancil yang cerdik dan baik hati disukai oleh banyak hewan, sehingga si kancil memiliki banyak teman dan namanya cukup terkenal. Namun sebagaimana kehidupan, setiap hal baik pasti juga ada yang menyimpan dendam. Setelah para gajah berhasil dikalahkan si kancil pada cerita Dongeng kancil, Tikus, dan Gajah sombong, para gajah ternyata menyimpan dendam untuk membalas si kancil.

Para gajah kemudian pergi menemui Rubah, rubah adalah hewan yang terkenal sangat cerdik sera licik. Para gajah menghasut rubah, mereka berbohong bahwa si kancil menghina rubah dan berkata rubah itu bodoh tak secerdas si kancil. Tentu saja hal tersebut membuat rubah sangat marah karena merasa dihina oleh si kancil, dan rubah berniat memberi si kancil pelajaran. Tentu saja hal tersebut membuat para gajah menjadi senang karena siasat mereka untuk membalas si kancil akan terlaksana.

Rubahpun pergi untuk mencari si kancil, dia telah menyiapkan siasat untuk menjebak si kancil dan memberi si kancil pelajaran. Rubah ingin menunjukan, bahwa dia lebih cerdik dari si kancil, dan bisa mengalahkan si kancil yang terkenal cerdas itu dengan siasatnya. Setelah beberapa lama berjalan, akhirnya si rubah melihat si kancil tengah asik memakan rumput-rumput hijau di pinggir hutan. Rubah pun lalu menghampiri si kancil.

“Hai cil.. sedang apa kau? Sepertinya kau sedang asik sekali sehingga tak menyadari kehadiran ku’. saps rubah. Mendengar ada yang memanggil namanya, si kancil pun berbalik, dan dilihatnya si rubah sudah ada di belakangnya. “Oh.. ternyata kau rubah. Aku sedang sarapan. rumput-rumput muda yang tumbuh di musim hujan begini terasa sangat nikmat, aku sangat bersyukur bisa memakanya”. jawab Kancil.

“Ah.. kalo cuma rumput, itu belum seberapa cil. Aku bisa membawa mu ke tempat yang ada makanan lebih enak dari pada rumput. Aku tahu, kamu suka mentimun kan?”. Rubah mulai merayu. “ah.. yang benar? Di mana tempatnya? sudah lama sekali aku tak makan mentimun. Pasti rasanya sangat enak”. kata kancil penuh semangat. “Kalau kamu mau, aku akan menunjukan tempatnya. Tidak jauh dari sini kok. Ayo ikut aku”. Kata rubah.

rubah licik
Rubah

Akhirnya kancil dan rubah berjalan bersama menuju tempat mentimun yang di janjikan si rubah. Kancil tak sadar, bahwa si rubah memiliki niyat buruk untuk menjebaknya. si rubah menaruh beberapa buah mentimun yang telah dia curi dari kebun pak tani di atas sebuah jebakan, jika si kancil berada di atas jebakan itu, maka sebuah tali akan mengikat dan menarik kaki si kancil sehingga si kancil akan tergantung di atas pohon. Tentu saja, pasti si kancil tidak akan bisa melepaskan diri, begitu fikir si rubah.

Singkat cerita, mereka berdua akhirnya sampai di tempat jebakan, si rubah lalu menunjukan timun-timun yang telah dia siapkan pada si kancil. Melihat banyaknya mentimun yang tergeletak di atas tanah, si kancil menjadi sangat senang. Tanpa rasa curiga sedikitpun, si kancil berlari menghampiri mentimun itu untuk segera menyantapnya. Namun tanpa di duga, tiba-tiba kakinya terjerat tali jebakan sehingga membuatnya tergantung.

“Wah.. ada apa ini? Ini jebakan.. hai rubah, tolong aku. Ternyata mentimun ini cuma umpan jebakan pemburu”. Kata kancil pada rubah. Namun si rubah malah tertawa, dia tidak menghiraukan si kancil lalu pergi meninggalkan si kancil yang tergantung. “kali ini kau tak akanm selamat, kecerdikan mu tak akan bisa lagi menipu tali itu. Itulah akibatnya jika kau berani menghina ku.. hahahaha..”. Kata rubah dalam hati.

Melihat rubah yang meninggalkanya, si kancil kini sadar bahwa ini memang sudah rencana si rubah untuk menipunya. Tapi menyesali diri kini juga tidak lagi berguna, si kancil harus mencari cara untuk lepas dari jebakan itu sebelum para pemburu datang. Untunglah beberapa saat kemudian, burung gagak yang kini sudah menjadi kawanya lewat di daerah itu. Melihat si kancil yang di gantung, si gagak pun menghampiri si kancil dan bertanya apa yang sedang terjadi.

Si kancil menceritakan nasib yang menimpanya pada gagak, gagak menjadi sangat marah pada si rubah setelah tahu kejadian yang sebenarnya. “Urusan si rubah, bisa kita urus nanti saja setelah kamu bebas cil. Lalu, apa yang bisa ku lakukan untuk membebaskan mu? Tali ini terlalu kuat jika ku putuskan dengan paruh ku. Kamu punya cara lain?”. tanya gagak. si kancil diam sesaat, dia memutar otak untuk mencari solusi yang tepat.

“Aku punya cara yang mungkin berhasil meski resikonya cukup besar”. Kata kancil. “Apa itu? Cepat katakan sebelum para pemburu datang”. Kata gagak. “Gagak.. cepatlah kamu buang kotoran sebanyak-banyaknya ke atas tubuh ku. Jika perlu kamu ajak juga semua kawan-kawan mu. Tak perlu tanya alasanya, Yang penting cepat lakukan sebelum para pemburu datang memeriksa perangkap ini..!!”. Perintah kancil.

Tanpa membuang waktu, si gagak melakukan apa yang diperintahkan si kancil. Gagak juga memanggil kawan-kawanya untuk menjalankan rencana si kancil. Setelah tubuh si kancil penuh dengan kotoran yang bau, si kancil menyuruh para gagak untuk menyingkir. Ternyata, bau yang menyengat dari kotoran gagak mengundang para lalat untuk hinggap dan mengkerumuni si kancil.

Maka ketika si pemburu tiba, tubuh si kancil sudah di kerubungi lalat. Hal tersebut membuat para pemburu menyangka bahwa si kancil sudah cukup lama terjebak dan akhirnya mati kelapran dan kehausan. Karena mengira si kancil sudah menjadi bangkai yang tidak bisa di makan, para pemburu itu melepas tali yang mengikat kaki si kancil dan membuang tubuh si kancil yang pura-pura mati di semak-semak. Setelah para pemburu itu pergi, si kancil lalu bangun dan kemudian mandi di sungai.

Para gagak menghampiri si kancil, mereka senang si kancil bisa selamat. “Kami bersyukur kamu bisa lolos dari bahaya tadi cil. Kami tadi sudah merasa sangat hawatir, untung saja ide mu berhasil dengan lancar”. Kata para gagak. “Yah.. aku juga tak percaya bahwa cara tadi bisa berhasil menipu para pemburu. untung saja ada kalian, terima kasih sudah mau menolong aku”. Kata kancil. “Sama-sama cil, kami senang bisa membalas budi karena kau juga pernah menolong kami. sekarang, apa rencanamu sil? Apa kau akan membalas perbuatan si rubah ini?”. tanya gagak.

“Hmm.. balas dendam itu tidak baik. Tapi aku akan mencoba mencari tahu mengapa rubah menipu ku, padahal aku tak pernah sekalipun memiliki dendam padanya. Mungkin, aku harus menggunakan sedikit siasat ku untuk menyadarkan kesombongan yang menghinggapi hati si rubah. Agar dia sadar, tidak ada hewan yang paling cerdas di dunia ini. Semua hewan itu sama, mereka memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ayo kita sama-sama mencari si rubah itu. Tapi kalian harus merahasiakan bahwa aku selamat dari jebakan pemburu agar rubah tak tahu”. Pinta kancil. “Oke cil..!!”. Jawab para gagak serempak.

Akhirnya, si kancil yang berhasil selamat dari bahaya pergi mencari si rubah. Dia ingin tahu mengapa si rubah tega menipunya, serta memberi peringatan pada rubah bahwa kesombongan itu bisa berahir dengan petaka. Lalu, apa rencana si kancil? Tunggu cerita berikutnya.. 🙂

Story By: Muhammad Rifai 

Hikmah yang Bisa Kita Petik: Terkadang kita mudah terhasut oleh kabar yang kita sendiri belum tahu kebenaranya, sehingga kita kurang berhati-hati dan bertindak ceroboh. Dan setiap perbuatan baik, suatu saat akan dibalas dengan kebaikan pula, bahka disaat kita butuh pertolongan. Oleh karena itu, berbuat baiklah pada semua orang, agar kelak mereka juga membantu mu di kala kau di timpa kesusahan.

Cerita KANCIL dan Penyesalan Si Burung BANGAU

Cerita KANCIL dan Penyesalan Si Burung BANGAU – Setelah si Bangau berhasil menipu gagak pada kisah Dongeng kancil dan Burung Gagak yang Angkuh, si bangau lalu pergi menemui kawan-kawanya. Dia berniat memamerkan bulu putihnya yang bersinar berkat bubuk ajaib si gagak. Tentu saja kawan-kawanya merasa takjub dan sangat penasaran. Merekapun berkumpul mengerumuni si bangau untuk tahu apa rahasianya.

“Hai sobat, bulu mu kini sangat indah. Bagaimana bisa? Kalau boleh tahu, kami ingin tahu caranya..”. Kata mereka membujuk. Si bangau yang sudah mulai di hinggapi sifat sombong dan berbangga diri, akhirnya mau menceritakan bagaimana caranya merubah bulunya menjadi putih. Dengan bangganya dia menceritakan kisahnya bisa menipu si gagak dan mencuri bubuk ajaib milik gagak. Mendengar cerita si bangau, kawan-kawanya malah mengelu-elukan si bangau dan memujinya.

Bukan tanpa alasan, akan tetapi mereka berusaha mendekati si Bangau agar diberi bubuk ajaib itu, terutama bebek dan angsa yang memiliki bulu abu-abu. Si bebek dan angsa berusaha merayu si bangau agar mau memberi mereka bubuk ajaib itu, tentu saja sambil memuji dan membuat si bangau merasa tinggi hati. Karena terus di puji, akhirnya hati si bangau luluh juga. Diapun membagi-bagi bubuk ajib yang di dapatnya kepada semua kawan-kawanya.

Setelah mereka semua mandi dengan bubuk ajib itu, bulu-bulu mereka manjadi putih mengkilap sebagai mana si bangau. Alangkah senang mereka, dan lagi-lagi memuji-muji si bangau bahwa bangau sangat baik hati. Tentu saja si bangau menjadi semakin sombong karena pujian itu. Dan dia lupa bahwa bubuk itu sebenarnya bukan haknya, akan tetapi bubuk yang telah dia curi. dan setiap perbuatan jahat pasti akan mendapat balasan dikemudian hari.

Tak terasa waktu sudah semakin siang, semua hewan yang berkumpul kini sudah mulai lapar. dan akhirnya mereka sepakat menuju sungai untuk mencari makan. Si angsa dan si bebek berenang dengan santainya sambil mencari ganggang dan cacing di sepanjang sungai. sedangkan si bangau berniat menangkap ikan sebagaimana biasa. Karena si bangau memang sangat menyukai ikan.

Akan tetapi sepertinya hari ini nasib si bangau kurang beruntung. Hingga sore hari, tak satupun ikan dia dapat. Padahal biasanya dia sangat mudah menangkap ikan. Dia hanya tinggal menunggu dengan sabar berdiri tenang, lalu ikan-ikan akan lewat di sekitarnya. Tapi hari ini tak satupun ikan dia lihat. bahkan hingga bebek dan angsa pulang, si bangau masih berdiri dengan menahan perutnya yang mulai lapar sekali. Tapi karena hari sudah mulai gelap, akhirnya si bangau pulang dengan perut tak terisi.

Pada keesokan harinya, si bangau pagi-pagi sekali sudah berdiri di sungai. Perutnya yang sangat lapar memaksanya untuk segera mencari makanan. Tapi hari ini juga sama seperti hari sebelumnya, hingga mentari berada di tengah langit, belum satupun ikan dia dapat. Si bangau yang mulai kelaparan kini mulai merasa putus asa. Tubuhnya sudah mulai lemas, dan akhirnya dia putuskan untuk beristirahat di pinggir sungai.

Tak sengaja waktu si bangau tengah beristirahat dan mengantuk karena lemas kelaparan, ada si kancil datang hendak minum di sungai. Melihat si bangau di pinggir sungai, si kancil segera menghampiri karena ingin menengur si bangau yang telah mencuri bubuk ajaib si gagak. “Hai bangau.. bagus.. bagus.. Ternyata kau sedang menikmati kemenangan mu karena menipu si gagak dan mencuri bubuk ajaibnya”. Tegur kancil. Si bangau yang merasa di tegur, hanya melihat si kancil dengan lemas tanpa menjawab apapun.

“Hai.. kenapa kau diam saja? Kau mengacuhkan aku?”. tanya kancil lagi dengan agak jengkel. Tapi lagi-lagi si bangau tidak menjawab, dia hanya melihat kancil dengan pandangan lemah. Melihat ada yang tidak beres dengan si bangau, akhirnya si kancil merasa iba dan tidak jadi marah. “Hai bangau, kenapa kau terlihat lemas begitu? Apa kau sedang sakit?”. Tanya kancil lebih lembut. “Tidak cil.. aku sedang kelaparan. Sudah dari kemarin aku tidak makan”. Jawab bangau.

kancil dan bangau
Burung Bangau

“Kok bisa? Bukankah kau sangat ahli dalam mencari ikan? Atau karena ikan di sungai sudah habis? Sepertinya tak mungkin ikan yang sebanyak itu habis jika cuma kau yang makan”. Kata kancil. Dengan lemas si bangau menanggapi..”Aku juga tak tahu cil. Semenjak aku memiliki bulu indah yang ku dapat dari menipu si gagak, tak ada satu ikanpun mau mendekat. Padahal dulu, aku bisa dengan mudah menangkap ikan. Hanya tinggal berdiri dan ikan-ikan akan lewat di sekitar ku. Tapi sudah beberapa hari ini, aku sangat sulit menangkap ikan. Bahkan untuk bertahan hidup, aku harus mau makan seadanya”. Jawab bangau.

“Nah.. mungkin kau sedang kena karma karena perbuatan mu sendiri. Menipu dan mencuri itu perbuatan tercela, pasti ada akibat buruk di belakang hari”. jawab kancil sambil mengingatkan. “Lalu mau bagaimana lagi cil? sudah terlanjur. Bubuk yang ku curi juga sudah habis ku bagi-bagikan. Mungkin ini memang hukuman yang harus ku jalani, aku mengaku salah cil. Tapi aku minta tolong pada mu, bagaimana caranya aku mengatasi masalah ku ini? Mengapa sekarang ikan-ikan tak mau mendekati aku?”. kata bangau memelas.

Melihat bangau yang lemah karena kelaparan itu, si kancil merasa kasihan. Diapun berusaha mencari tahu jawaban kenapa kini ikan-ikan tak mau mendekati si bangau. “Hmm.. baiklah.. ayo kita cari jawabanya sama-sama. Kau ikut aku ke sungai. Akan ku cari tahu sebabnya”. Ajak kancil. Akhirnya mereka berdua bersama-sama menuju sungai, dan si bangau berdiri di tengah sungai yang agak dangkal seperti biasa untuk kembali mencoba menangkap ikan. Sedangkan si kancil berdiri di pinggir sungai sambil memperhatikan.

Si kancil melihat banyak sekali ikan yang lalu lalang di sebelah kakinya, akan tetapi tak satupun ikan melewati si bangau. Si kancil mencari tahu apa sebabnya. Setelah lama mengamati, akhirnya si kancil mulai menemukan sebab mengapa ikan tak mau menghampiri si bangau. Ternyata Bulunya yang putih mengkilat memantulkan sinar matahari, sehingga membuat ikan-ikan merasa takut karena sosok bangau terlihat jelas dari dalam air. sedangkan dulu bulu bangau tidak berwarna putih, sehingga bisa di jadikan penyamaran dan ikan-ikan tak menyadari kehadiran si bangau.

Kancilpun menceritakan kesimpulan yang dia dapat pada si bangau, si bangau hanya bisa mendengarkan dengan penuh penyesalan. Karena keserakahan yang dia miliki, kini bangau mengalami kesialan yang cukup besar. Tapi nasi sudah menjadi bubur, bulu bangau sudah tak bisa di ubah lagi. Dia terlalu banyak menggunakan bubuk ajaib, sehingga bulunya menjadi putih permanen dan tak bisa berubah seperti semula. Jalan satu-satunya adalah.. Kini bangau harus mau hidup sederhana dan tidak pemilih.

Jika dulu bangau hanya mau makan ikan saja, kini bangau harus mau makan apa adanya untuk bisa bertahan hidup. Ternyata keindahan dan kemewahan bulu yang di miliki, membuat hidup si bangau tidak bertambah baik. Justru dia kini mengalami banyak kesulitan karena ulahnya sendiri. Hingga kini, banyak bangau yang mencari makan di sawah-sawah. Mereka menangkap dan memakan hewan-hewan kecil yang bisa dia makan. Karena mereka terlalu kesulitan mencari makan di sungai, jadi mereka hanya berharap dari ikan, siput, kepiting, atau hewan-hewan kecil yang terjebak di parit-parit sawah sehingga mudah untuk mereka tangkap.

Story By: Muhammad rifai

Hikmah yang Bisa Kita Petik: Terkadang kita kurang mensyukuri apa yang sudah kita miliki. Sehingga kita berusaha mengubahnya untuk bisa tampil sempurna, bahkan dengan mengorbankan berbagai hal dan dengan berbagai cara. Namun kita jangan sampai lupa, Tuhan menciptakan kita dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dan apa yang kita miliki, itulah yang terbaik bagi kita menurut Tuhan.