Dongeng MUSANG dan AYAM

Dongeng Terbaru – Dongeng Musang dan Ayam | Setelah pada dongeng yang lalu si kancil menolong ayam dari keganasan elang, para ayam mencari tempat baru untuk bersembunyi dari si elang. Di tempat baru mereka, mereka membangun sarang dan kembali bertelur untuk agar keturunan mereka bisa bertahan. Mereka sangat gembira atas keberhasilan mereka memberi pelajaran pada si elang. Dan tentu saja budi baik si kancil tidak akan mereka lupakan. Akhirnya, mereka mengutus salah satu ayam untuk mencari si kancil. Tujuanya untuk mengucapkan terimakasih serta mengundang kancil untuk acara pesta di rumah baru mereka.

Ketika diperjalanan, ayam itu bertemu dengan si musang. Mereka berdua sudah lama kenal dan menjadi sahabat dekat. Ayam itu lalu menemui musang yang sepertinya tengah sibuk melakukan sesuatu.
“Hai musang.. sedang apa kau disini? Sepertinya sibuk sekali… .” Tanya si ayam.
“Ooo.. ayam, rupanya kau. Ku kira siapa. Aku sedang menanam jagung. Tadi aku menemukan sebuah jagung. Dan burung merpati bilang.. lebih baik aku menanamnya agar kelak bisa bertambah banyak.” Jawab musang.
“Wah.. jagung? Hmmm.. aku suka sekali jagung. Bolehkah aku ikut membantu menanamnya? Agar nanti jika sudah panen aku juga bisa ikut makan?.” Tanya ayam itu.
“Tentu saja.. kenapa tidak? Kita kan sahabat..”. Kata musang dengan ramah.

Akhirnya musang dan ayam menanam jagung itu bersama-sama. Setelah seharian bekerja, akhirnya mereka selesai juga. Setelah itu, si ayam meminta izin pada rubah untuk pergi menemui kancil. Dia mendapat tugas untuk mengundang kancil datang ke pesta rumah baru mereka bulan depan. So musang tidak keberatan. Mereka mengadakan perjanjian bahwa mereka akan menjaga kebun jagung itu bergantian selama tiga minggu. Begitu silih berganti hingga jagung itu siap di panen.

Waktu terus berlalu.. tak terasa sudah berjalan beberapa bulan, dan buah jagung sudah siap dipanen tidak lama lagi. Namun hari itu adalah waktu berganti untuk berjaga. Setelah si musang menjaga kebun itu selama tiga minggu, kini giliran si ayam yang harus menjaganya.
“Nah kawan.. kini giliran mu untuk berjaga. Aku akan pergi menemui keluarga ku untuk aku bawa ke sini. Kita akan makan jagung kita ini sama-sama. Jika sekiranya aku pergi terlalu lama dan kau tidak sabar menunggu, kau boleh memakan dulu bagian mu dan sisakan bagian ku.”. Pesan si musang.
“Oke musang.. kamu tenang saja. Jagung ini akan aman bersama ku. Kau tak perlu hawatir.” Kata ayam dengan yakin.

Setelah itu, si musang akhirnya pergi untuk menemui keluarganya. Dia berniat membawa semua keluarga dan teman-teman musangnya untuk memakan jagung hasil jerih payahnya selama kurang lebih tiga bulan. Karena perjalanan yang cukup jauh, membutuhkan waktu yang cukup lama untuk musang dalam perjalanan pulang pergi. Dan ternyata, tak terass dia sudah pergi lebih dari tiga minggu. Si ayam yang menunggu di kebun jagung menjadi tidak sabar. Berbagai fikiran dan prasangka muncul dibenaknya.
“Bagaimana jika musang ternyata sudah mati dimakan harimau? Atau dia mati karena bertemu manusia?.” Fikir ayam dalam hati. Hal tersebut membuat hati ayam menjadi was-was. Namun beberapa saat kemudian, tiba-tiba wajahnya berubah menjadi senang sekali.

“Ah.. betapa bodohnya aku. Kenapa juga harus hawatir jika si musang mati? Itu malah bagus. Karena aku tak harus berbagi semua jagung ini dengan musang. Semua jagung ini kini menjadi milik ku sendiri.. hahahaha… .” Kata ayam dengan serakah. Ternyata, keserakahan membuat ayam lupa pada pesan musang. Dia ingin menguasai seluruh buah jagung itu sendiri. Dia juga memanggil kawan-kawanya untuk berpesta makan jagung bersama, dan mengakui bahwa semua jagung itu adalah hasil kerjanya sendiri. Pesta berlangsung cukup meriah. Para ayam makan hingga kenyang, dan semua buah jagung habis tak bersisa.

Namun ternyata, pada pagi harinya si musang datang bersama teman-temanya. Dia juga membawa serta si kancil. Ternyata si musang menyempatkan diri untuk mencari si kancil dan mengajaknya untuk makan jagung bersama, itulah sebabnya si musang datang terlambat. Namun betapa terkejutnya dia begitu melihat kebun jagungnya yang porak poranda. Semua rusak dan tak ada satupun buah tersisa.

Dia melihat si ayam yang tertidur di tempat itu. Ternyata si ayam bangun kesiangan setelah setelah semalam berpesta hingga larut. Dia bahkan tidak melihat kawan-kawanya yang sudah pulang ke sarang mereka. Musang lalu membangunkan si ayam dengan nada marah. Dia bertanya apa yang terjadi dengan kebun jagung mereka. Karena ketika terakhir kali ditinggalkan si musang, semua jagung-jagung itu sudah berisi. Si ayam yang kaget dan tidak mengiramusang akan datang, menjadi terkejut dan panik.

Dia beralasan, bahwa semua jagung-jagung mereka telah hancur dan gagal panen karena diserang hama. Namun si kancil yang secara kebetulan ada disitu, mencium adanya hal yang kurang beres. Dia lalu menelusur seluruh area kebun itu, dan dia menemukan banyak sekali kulit dan bekas tongkol jagung bertebaran. Melihat bukti tersebut, si ayam menjadi tidak bisa berkutik lagi. Dan akhirnya dia mengakui bahwa semua jagung telah dia makan bersama kawan-kawanya.

Tentu saja si musang menjadi tambah marah. Karena si ayam telah melanggar janji mereka tentang menyisakan bagian masing-masing. Hampir saja si musang menerkam si ayam. Namun dilerai oleh si kancil. Si kancil memberi solusi agar si ayam diberi waktu untuk mengganti jagung si musang. Dan karena musang menghormati si kancil, dia setuju. Dia memberi waktu dua bulan untuk ayam mengganti semua jagung bagian si musang. Agar cukup waktu bagi si ayam untuk menanam jagung yang lain.

Namun kesempatan itu malah disalah gunakan oleh si ayam. Bukanya dia menanam jagung, dia malah mengajak semua bangsa ayam untuk pindah dan lari. Si ayam terlalu malas untuk menanam jagung yang pada akhirnya dia tidak bisa memakan sendiri. Setelah waktu dua bulan habis, si musang berkunjung ke tempat ayam. Namun betapa marahnya dia ketika melihat tempat itu sudah kosong dan terbengkalai. Jangankan jagung, seekor ayam pun tak ada di tempat itu.

Dan sejak saat itu musang bersumpah.. dia dan keturunanya akan menjadikan bangsa ayam sebagai santapan pengganti jagung yang sudah direbut si ayam. Dan karena alasan itu pula, bangsa ayam memutuskan untuk tinggal dekat dengan manusia. Karena dengan mendekati manusia, mereka bisa sedikit aman dari ancaman musang yang hendak mmangsa mereka.

“Mungkin manusia juga akan memanfa’atkan kita. Dan akan menjadikan kita santapan. Namun tidak mengapa. Kita sudah terlalu banyak berbuat bodoh dan melakukan kesalahan. Karena kedalahan kita, kini bangsa kita dimusuhi oleh elang dan juga musang. Mereka tidak pandang bulu, baik kecil atau besar, akan mereka makan. Namun jika kita mendekati manusia, maka mereka mungkin hanya akan memangsa kita yang sudah besar. Dan membiarkan anak-anak kita tetap hidup. Itu harga yang cukup pantas yang harus kita bayar.” Kata salah satu ayam dengan nada penyesalan.

Story by: Muhammad Rifai

Hikmah: Terkadang keserakahan bisa merubah seseorang. Sifat tamak dan serakah, sering membuat fikiran kita tertutup hingga melakukan tindakan bodoh yang kelak akan kita sesali.

Fabel KANCIL Menipu Burung ELANG

Fabel Kancil Menipu Burung Elang – Setelah pada cerita ayam jago dan burung elang yang lalu, kehidupan bangsa ayam menjadi tidak tenteram. Mereka selalu dilanda ketakutan karena terror para burung elang yang mengincar anak-anak mereka. Namun mereka tak bisa berbuat apa-apa. Sekuat apapun mereka berusaha, mereka tak mampu untuk mengalahkan burung elang. Lambat laun, anak-anak ayam mulai habis. Hanya tinggal beberapa ekor saja.

Tentu hal tersebut membuat bangsa ayam menjadi sangat risau. Karen jika kejadian ini terus berlanjut, bisa jadi keturunan mereka akan binasa dan jenis mereka akan punah. Akhirnya, para ayam mengadakan musyawarah. Mereka harus meminta bantuan segera. Tapi pada siapa? Salah satu ayam tiba-tiba berdiri ke tengah. Dia menyarankan agar meminta bantuan pada si kancil. Dia yakin si kancil memiliki solusi untuk masalah mereka.

Akhirnya salah satu ayam ditugaskan untuk menemui si kancil. Awalnya si kancil menolak. Karena masalah yang terjadi antara ayam dan elang, adalah murni karena kesalahan bangsa ayam. “Tolonglah cil.. Kami tahu itu salah kami. Kami rela jika memang harus menerima hukuman. Tapi yang jadi masalah adalah, anak-anak kami yang tidak tahu apa-apa yang jadi korban. Elang bahkan menghabiskan dan menangkap semua anak-anak kami hingga hanya tersisa beberapa ekor. Jika besok dia datang dan menangkap mereka lagi, bisa-bisa semua keturunan kami habis dan kami bisa punah. Tolonglah cil.. Kami hanya ingin kesempatan agar bangsa kami tidak punah”. Kata ayam itu memelas.

Mendengar alasan si ayam, kancil merasa tersentuh. Jika di fikir-fikir dengan jernih, betul juga kata ayam. Elang sudah terlalu kelewatan. Yang memiliki masalah dengan bangsa elang adalah para ayam yang sudah dewasa, kenapa anak-anak yang menjadi korban. Dan lagi jika hal ini terus berlanjut, bisa jadi bangsa ayam akan benar-benar punah karena tidak memiliki kesempatan untuk memiliki keturunan. Dan akhirnya, kancil bersedia membntu.

“Baiklah kalau begitu, untuk kali ini saja demi anak-anak kalian yang tidak bersalah, aku akan membantu. Pulanglah..!! Besok ketika elang datang lagi ke tempat kalian, aku akan ke sana untuk berbicara denganya”. Jawab kancil.
Mendengar hal itu, si ayam menjadi sangat gembira. Dia segera pulang menemui teman-temanya untuk menyampikan kabar bahagia itu. Para ayam menyambut kabar itu dengan suka cita. Ada secercah harapan yang mereka rasakan untuk bisa menyelamatkan anak-anak mereka.

Keesokan paginya.. Burung elang datang lagi ke sarang ayam. Seperti biasa, mereka mengincar anak-anak ayam yang masih tersisa di balik hiruk pukuk para ayam yang berlari panik. Namun ketika si elang tengah menemukan anak ayam yang menjadi targetnya, tiba-tiba ada suara yang memanggilnya.
“Hai elang.. Tunggu sebentar, aku ingin bicara”. Kata suara itu yang ternyata si kancil.

Melihat si kancil datang, si elang hinggap di atas sebuah batu dengan betolak pinggang. Dengan nada angkuh si elang menjawab..
“Ada apa cil.. Apa kau disewa oleh mereka untuk melawan ku? Hahahaha.. Mereka rupanya sudah terlalu putus asa hingga akal mereka hilang. Jika serigala saja tak mampu melawan ku, apalagi hewan mungil seperti mu?”. Kata elang dengan nada sombong.
“Ah.. Tunggu sebentar elang.. Kau salah faham.. Aku kemari bukan untuk melawan mu. Tapi aku kesini sebagai wakil utusan dari bangsa ayam untuk melakukanbnegosiasi”. Jawab kancil.

“Negosiasi? Apa maksut mu? Tak ada lagi yang perlu di negousasikan. Tujuan ku ke mari sudah jelas.. Dan sudah jelas pula tak ada yang mampu melawan, jadi untuk apa aku harus bernegosiasi? Apa untungnya bagi ku?”. Tanya elang ketus.
“Ah.. Kau ini memang kuat elang, tapi otak mu sungguh bodoh”. Kata kancil.
“Bodoh kata mu? Kau menantang ku?”. Jawab elang emosi.
“Tunggu dulu.. Bukan begitu maksut ku. Begini lho.. Jika kamu memakan anak ayam langsung banyak dalam sekali waktu, maka kau akan rugi dikemudian hari. Karena sudah tidak ada lagi anak ayam yang bisa kau makan sebab sudah habis. Sedangkan para ayam juga butuh waktu untuk bertelur dan menetaskanya. Jadi, apa kau sudah sadar dengan apa yang ku maksut?”. Tanya kancil.

Mendengar penjelasan kancil yang cukup masuk akal, akhirnya burung elang berfikir sesaat.
“Hmm.. Benar juga apa yang kau bilang. Jadi apa sebaiknya yang harus aku lakukan sekarang?”. Tanya burung elang.
“Begini.. Aku sebagai wakil bangsa ayam diutus untuk melakukan satu perjanjian. Yaitu.. Para ayam akan menyediakan satu ekor anak ayam setiap hari untuk kau santap. Tapi ada syaratnya..”. Kata kancil.
“Apa syaratnya..? “. Tanya elang.
“Bangsa ayam ingin meminjam bulu sayap mu yang kuat satu kali saja. Sebagai obat penasaran, bagaimana rasanya bisa terbang seperti burung elang yang gagah dan kuat seperti mu”. Jawab kancil.

Merasa dirinya dipuji, si elang menjadi semakin besar kepala. Hingga dia tidak berfikir dua kali langsung saja menyanggupi syarat itu. Melihat si elang sudah setuju, sibkancil langsung memanggil seluruh ayam yang ada di kawasan itu. Mereka disuruh beramai-ramai untuk mencabut bulu-bulu si elang. Hingga akhirnya, semua bulu si elang habis dan botak. Elang tidak menyangka jika kejadianya akan jadi seperti ini. Dia sangat malu karena semua bulu-bulunya yang megah telah rontok, hilang tak tersisa.

Karena terlalu malu, elang langsung lari ke dalam hutan dan menghilang di semak-semak. Para ayam yang melihat hal itu tertawa terpingkal-pingkal. Paling tidak, kini mereka bisa sedikit membalas perbuatan si elang pada anak-anak mereka. Setelah hari itu, si kancil menyuruh para ayam untuk pindah mencari tempat lain. Mereka harus bersembunyi dari elang agar dapat membesarkan anak-anak mereka.

Story By: Muhammad Rifai

Hikmah: kadang sifat dendam dan amarah, sering membutakan mata kita. Sehingga yang aslinya tidak bersalah, ikut terkena dampaknya.

Dongeng Burung ELANG dan AYAM JAGO

Dongeng burung Elang dan Ayam Jago – Ketika si kancil tengah berjalan-jalan santai, si kancil melihat ayam jago yang sedang terengah-engah. Dia lalu menghampiri ayam jago itu, dan bertanya apa gerangan yang terjadi. Rupanya, si ayam jago baru saja lepas dari bahaya. Dia dan keluarganya baru saja dikejar-kejar oleh burung elang yang mau memangsa mereka.

Tentu saja si kancil kaget mendengar hal itu. Karena setahu si kancil, burung elang dan ayam jago adalah sahabat karib. Seakan tak percaya.. Kancil pun bertanya lebih lanjut.
“Ah.. Bagaimana mungkin hal itu terjadi? Bukanya kau dan elang adalah sahabat dekat? Bahkan dia sering menyelamatkan mu dari bahaya yang mengancam.” Tanya si kancil pada ayam jago.
“Itu memang benar cil.. Tapi kali ini berbeda ceritanya. Si elang sangat marah dan tidak bisa aku tawar lagi. Semua memang karena salahku yang sudah terlalu ceroboh”. Jawab ayam jago. Si ayam jago lalu menceritakan kisah beberapa hari yang lalu.

Waktu itu, si ayam jago sedang dikejar-kejar oleh seekor serigala. Dan pada waktu yang tepat, si elang datang menolong seperti biasa dan menghalau serigala itu hingga serigala itu pergi. Melihat elang yang selalu datang menolong, membuat hati ayam merasa tidak enak dan sedikit iri. Dia berandai-andai, jika saja dia bisa terbang seperti elang.. Tentu dia tidak harus repot melarikan diri setiap saat. Bahkan dia mungkin bisa menjadi pahlawan seperti si elang yang suka menolong.

Karena fikiran itu, si ayam menjadi risau. Dia tahu bahwa apa yang dia fikirkan hampir mustahil terjadi. Karena dari dahulu ayam memang dirakdirkan tidak bisa terbang. Melihat ayam yang termenung, membuat si elang menjadi penasaran. Apa masalah yang membuat sahabatnya itu terlihat sedih. Ayam pun menceritakan hayalanya jikalau saja dia bisa terbang seperti burung elang, pasti dia tidak harus selalu lari ketakutan jika ada bahaya.

Mendengar perkataan ayam, si burung elang itu hanya tersenyum. Lalu burung elang itu berkata, bahwa ada cara agar ayam juga bisa terbang. Yaitu dengan menjahit sayap mereka menggunakan jarum emas ajaib yang menjadi benda pusaka turun temurun bangsa elang. Mendengar hal itu, ayam jago menjadi sangat gembira. Dia lalu memohon dan merayu si elang, agar si elang mau meminjamkan jarum emas itu padanya. Karena rasa kasihan dan menghargai persahabatan, elang ahirnya meminjamkan jarum emas pada ayam jago.

“Tapi ingat wahai ayam jago.. Ini adalah jarum emas ajaib yang menjadi harta berharga bangsa elang. Jaga baik-baik jangan sampai hilang ataupun meminjamkanya pada siapapun. 3 hari lagi, aku akan kembali menemuimu untuk mengambilnya”. Pesan burung elang.
Namun karena sudah terlalu larut dengan kegembiraan, ayam jago tidak terlalu memperhatikan pesan di elang. Dia langsung menjahit sayapnya. Dan setiap dia selesai menjahit beberapa bulu, dia langsung mencoba terbang. Begitu seterusnya hingga akhirnya dia bisa terbang agak tinggi hingga di atas pagar.

Karena terlalu gembira dan bangga, dia ingin sekali memamerkan kemampuan terbangnya pada hewan-hewan lain meski masih belum terlalu tinggi. Dia menemui ayam betina yang tengah berkumpul dengan itik serta angsa. Lalu langsung saja dia terbang dan hinggap di atas pagar. Melihat hal itu, tentu saja ayam betina, itik, dan angsa menjadi kagum dan penasaran. Terutama ayam betina.

Dia lalu mendekati ayam jago dan berusaha merayu agar diberi tahu apa rahasianya. Karena termakan rayuan si ayam betina, ayam jago lupa pada pesan si elang. Dia menceritakan semua yang dia tahu tentang jarum emas ajaib. Bukan hanya itu.. Diapun mengakui bahwa jarum itu adalah jarum miliknya. Sehingga dia meminjamkan jarum itu pada semua hewan yang ada di situ.

Akhirnya, ayam betina, itik, serta angsa menggunkan jarum itu untuk menjahit sayap mereka. Sebagaimana si ayam jago, mereka juga tidak sabaran. Sehingga setiap menjahit beberapa helai bulu, mereka langsung mencobanya. Hanya si angsa saja yang sedikit lebih sabar dan menjahit bulu lebih banyak. Kegiatan itu mereka lakukan hingga matahari terbenam.

Namun bencana terjadi setelah itu. Jarum emas milik elang, hilang entah kemana. Setiap hewan yang menggunakanya ditanyai, tapi jawaban mereka sama. Bahwa menaruh jarum itu di atas tanah sehabis mereka gunakan. Ayam jago menjadi sangat bingung. Dia coba mengais dan mencakar-cakar tanah di area tempat itu. Berharap jarum emas itu dia temukan.

Ayam betina mencoba membantu, tapi hingga larut mereka tidak bisa menemukanya. Bahkan ketika waktu masih fajar.. Ayam jago sudah mulai bangun dan berkokok untuk membangunkan kawan-kawanya. Berharap mereka mau membantu mencari jarum emas itu. Namun hingga waktu elang datang untuk mengambil jarum emas itu, jarum emas ajaib itu belum juga ditemukan.

Mengetahui jarum emas yang dia pinjamkan telah hilang, elang menjadi sangat marah. Ayam jago sudah berusaha meminta ma’af, namun kemarahan si elang sudah tidak bisa dibendung lagi. Bukan hanya karena jarum itu hilang, namun juga karena ayam jago sudah melanggar janji yang dia pesankan. Akhirnya setelah hari itu elang berjanji.. Bahwa hingga bangsa ayam bisa mengembalikan jarum emas itu, maka bangsa elang akan memangsa semua anak-anak bangsa ayam. Dan begitulah ayam jago mengahiri ceritanya.

Mendengar penjelasan ayam jago, si kancil menjadi ikut perihatin. Namum “nasi sudah menjadi bubur”, semua memang karena kesalahan ayam jago itu sendiri. Dan kali ini, si kancil tidak bisa berbuat apa-apa selain memberi saran agar ayam jago belajar dari kejadian ini.

Kisah ini pula yang menjadi awal mula kenapa ayam jago selalu berkokok di pagi hari untuk membangunkan kita, dan kenapa elang menjadi musuh alami bagi ayam.

Story By: Muhammad Rifai

Hikmah: Terkadang sifat buru-buru dan tidak sabaran, dapat mendatangkan musibah yang cukup besar. Dan lagi, selalu jaga kepercayaan yang diberikan pada mu. Karena sekali kau melanggar, belum tentu kau akan dipercaya lagi.

Dongeng KANCIL Menolong Burung ELANG

Dongeng Kancil Menolong Burung Elang – Setelah masalah si kancil dengan para gajah pada dongeng Si kancil dan langit runtuh berhasil diselesaikan, kini si kancil bisa menikmati kembali hari-harinya dengan tenang. seperti pagi ini, si kancil sedang berkeliling di pinggir telaga, dia sedang asik mencari rumput-rumput muda yang baru tumbuh. Suasana yang sejuk dimusim penghujan, membuat kawasan itu tampak indah dan damai. Namun ketika si kancil tengah asik menikmati sarapan paginya, tiba-tiba dia mendengar suara rintihan yang terdengar lamat-lamat.

Merasa ada yang membutuhkan pertolongan, si kancil berusaha mencari dari mana arah suara itu. alangkah terkejutnya dia ketika melihat seekor burung elang yang tergeletak kedinginan di pinggir telaga. Terlihat kakinya seperti terikat pada sesuatu yang tenggelam di dasar telaga, sehingga dia tidak bisa terbang. Paruhnya dengan kuat menggigit sebuah ranting pohon sehingga dia tak bisa bersuara keras. elang itu sepertinya sudah cukup kelelahan.

Melihat hal itu, si kancil bergegas menolong burung elang itu. Dia membantu menarik tali yang mengikat kaki elang dengan giginya, dan ternyata tali itu di ikat pada sebuah batu yang cukup besar yang di tenggelamkan di telaga. Setelah batu itu berhasil mereka atarik ke pinggir telaga, elang itu melepaskan gigitan paruhnya dari ranting pohon. Tampaknya, elang itu sudah sangat kelelahan dan kelaparan. Keadaanya terlihat sangat memperihatinkan. Kancil lalu memanggil si tikus untuk membantu mengerat tali yang ada di kaki burung elang hingga putus. Setelah membiarkan si elang beristirahat sejenak, si kancil lalu mencoba mencari tahu apa yang sudah terjadi.

“Hai elang, apa yang sudah terjadi pada mu? Kenapa kau bisa terikat di telaga ini?”. tanya kancil. Dengan keadaan yang masih lemas karena kecapek’an, si elang menjawab.. “Aku telah di tipu oleh burung bangkai dan monyet cil.. Hampir saja aku celaka jika kau tidak datang menolong ku tadi. terimakasih cil”. Jawab elang. “Di tipu bagaimana maksud mu? Kalau kau tak keberatan, maukah kau menceritakan kejadianya?”. Tanya kancil lagi.

dongeng elang dan kancil
Burung Elang

Lalu elangpun menghela nafas panjang, kemudian memulai ceritanya.. Tadi sore ketika si elang sedang asik mencari ikan di telaga, dia mendapat ikan yang cukup banyak dan di taruh di pinggir telaga untuk dikumpulkan. Namun ketika dia sudah selesai dan ingin mengambil ikanya, ternyata di situ sudah ada si monyet dan burung pemakan bangkai yang sedang asik memakan ikan-ikan itu. Ketika si elang menegurnya, mereka malah berdalih bahwa ikan itu adalah ikan yang mereka temukan karena tidak ada pemiliknya. Elang dan kedua hewan itu akhirnya saling adu mulut, diantara kedua kelompok itu tak ada yang mau mengalah. Si elang hanya berusaha mempertahankan haknya, sedangkan si monyet dan burung pemakan bangkai tetap ngotot dengan pendirianya.

Akhirnya mereka sepakat untuk menentukan pemenangnya dengan sebuah lomba. Yaitu perlombaan adu kuat antara burung elang dan burung pemakan bangkai, sedangkan si monyet menjadi wasitnya.Aturanya cukup mudah, siapa yang mampu mengangkat batu lebih besar, dialah yang berhak atas ikan-ikan itu. Karena tubuh elang lebih besar dari pada si burung pemakan bangkai, elang sangat yakin bahwa dirinya akan menang. Pertama-tama si burung bangkai yang mengangkat batu dengan tali yang di ikat monyet di kakinya. Batu yang di angkat tak seberapa, sehingga si elang tertawa dalam hati dan muncul sedikit sifat sombongnya.

Ketika giliran si elang, dia ingin langsung menunjukan kekuatanya dan yakin bahwa dia akan menang. Dia langsung memilih batu yang cukup besar, dan menyuruh si monyet untuk mengikatkan ke kakinya dengan tali. setelah batu itu terikat dengan kuat, si elang mengepakan sayap-sayapnya yang kokoh dengan kuatnya, hingga batu yang cukup besar itu mampu dia angkat ke angkasa. Namun karena beban batu yang cukup berat, elang tak bisa terbang terlalu tinggi dan sayapnya juga menjadi cepat lelah. Namun sial, ketika sayapnya sudah mulai lelah, ternyata secara tak sadar dia sudah terbang di atas telaga. Dengan sekuat tenaga si elang terbang ke pinggir, namun ketika dia terjatuh ke pinggir telaga, ternyata batu itu masih berada di atas telaga dan jatuh ke dalamnya.

Sadar akan bahaya yang mengancamnya, dengan sigap si elang menggigit ranting yang ada di dekatnya agar dia tidak ikut terseret ke dasar telaga dan tenggelam. Dia berusaha minta tolong pada monyet dan burung bangkai untuk membantunya. Tapi mereka malah tertawa lalu meninggalkanya serta mambawa semua ikan-ikan yang ada. Sudah semalaman si elang berjuang mempertahankan hidupnya agar tidak tenggelam, hingga akhirnya si kancil datang menolongnya.

Mendengar penjelasan si elang, si kancil menjadi merasa iba. Ternyata si elang di tipu oleh burung bangkai dan monyet yang sudah bersekongkol mengambil semua ikanya. Namun si kancil juga menasehati si elang, bahwa kecerobohanya karena sifat sombong yang dimiliki oleh si elang sehingga dia mudah tertipu. Si elang menyadari kesalahanya, dan berjanji tidak akan menyombongkan kekuatanya lagi. Setelah tubuhnya sudah pulih, si elang mengucapkan terimakasih pada si kancil dan berpamitan untuk pulang. Elang berjanji, suatu saat pasti akan membantu si kancil ketika si kancil dalam kesulitan sebagai balas budi.

Story By: Muhammad Rifai

Hikmah yang dapat di Petik: Terkadang kemampuan kita dalam melakukan sesuatu dan rasa percaya diri yang berlebihan, dapat membuat kita bertindak ceroboh. Sehingga hal tersebut dapat di manfa’atkan oleh orang-orang yang memiliki niat tidak baik untuk mencelakai kita. alangkah baiknya, kita selalu rendah hati dan waspada, terutama mewaspadai kesombongan yang terkadang tak kita sadari kedatanganya.