Dongeng KANCIL dan KAMBING Bodoh

Dongeng Kancil Terbaru – Dongeng KANCIL dan KAMBING Bodoh | Di bagian hutan Eutopia bagian timur, hiduplah sekelompok kambing. Mereka dipimpin oleh tetua kambing yang cukup bijak. Sang tetua memiliki seorang anak, dia adalah pewaris tunggal yang akan menggantikan ayahnya jika kelak ayahnya wafat. Namun sifat si anak sunguh bertolak belakang dengan ayahnya. Dia cukup sombong dan suka memamerkan kemampuanya di hadapan rakyatnya. Tujuanya bukan tidak lain adalah agar dia dipuji dan dihormati.

Sang tetua kambing bersahabat baik dengan si kancil. Sang tetua sadar bahwa sifat anaknya tidak baik, sehingga itu membuatnya sangat sedih dan juga hawatir. Anaknya sebenarnya sangat bodoh dan ceroboh, dan hal tersebut diperparah dengan kesombonganya yang menjulang ke langit. Sang tetua tak tahu lagi apa yang harus dia lakukan untuk menyadarkan anaknya. Hingga pada suatu hari, dia meminta si kancil untuk datang dan mencoba bertanya solusi untuk masalahnya.

Mendengar penjelasan tetua kambing, si kancil merasa ikut prihatin. Dan dengan senang hati dia akan memikirkan cara untuk membantu menyelesaikan masalah tetua kambing. Terlihat si kancil termenung sejenak. Dia mencoba mencari solusi apa yang tepat untuk menyadarkan anak tetua kambing yang sombong dan sok pintar itu. Lalu si kancil menyadari sesuatu, bahwa anak tetua kambing itu sebenarnya cukup bodoh. Namun karena sifat sombongnya, dia berlagak sok pintar. Gabungan dari sifat sombong dan bodoh, adalah kecerobohan yang membuatnya mudah dijebak. Sehingga kelak bisa membuat anak itu menemui celaka.

Tak lama kemudian, terlihat wajah kancil yang tersenyum. Sepertinya dia sudah menemukan ide untuk menyelesaikan masalah itu. Lalu diapun menceritakan rencananya pada tetua kambing dan berharap tetua mau membantu utuk membuat rencana itu berhasil. Dan ternyata, tetua kambing tidak keberatan dan bahkan dia cukup mendukung rencana si kancil. “Sepertinya cara mu itu lebih baik demi masa depanya”. Kata tetua kambing.

“Di manakah biasanya anak mu berada?”. Tanya kancil.
“Kau cari saja di padang rumput pinggir sungai, dia biasanya bermain-main di situ sambil menggangu kambing-kambing yang lemah”. Jawab tetua kambing.
“Baiklah kawan, aku akan ke sana untuk menemuinya. Ingat rencana kita, dan do’akan semoga aku berhasil kali ini”. Kata kancil kemudian pamit undur diri.

Akhirnya, si kancil pergi ke padang rumput untuk menemui anak tetua kambing. Setelah sampai di sana, kancil melihat anak tetua kambing itu tengah berdiri dengan congak di atas sebuah batu besar. Lalu banyak para kambing yang berkerumun di sekeliling batu tersebut. Sepertinya si anak tetua kambing itu tengah bercerita tentang kehebatanya, tentunya dengan dibumbui beberapa kebohongan dengan cerita yang dilebih-lebihkan.

Si kancil kemudian mencoba berbaur dengan mereka. Dia memperhatikan sekitar seperti ada yang dia tunggu. Benar saja. Tak berapa lama kemudian, datang seekor monyet dan juga seekor tupai. Mereka sepertinya tengah membawa sesuatu yang dibungkus dan dipangul di punggung mereka.
“Permisi.. apakah kami boleh bertanya? Kami butuh pertolongan”. Kata monyet dan tupai. Para kambing yang mendengar ada yang bertanya, segera memalingkan wajah mereka ke arah monyet dan tupai.

“Kalin mencari siapa? Dan apa yang bisa kami bantu?”. Tanya seekor kambing.
“Begini.. kami sedang mencari tetua yang bijak untuk membantu menyelesakan masalah kami”. Kata tupai.
“Memangnya apa masalah kalian,”. Tanya kambing yang lain.
“Kami berniat mau bertukar buah. Si monyet ini memiliki enam buah pisang. Dan aku berniat menkarnya dengan buah cery milik ku. Setiap satu buah pisang, si monyet memita enam buah ceri. Jadi aku tak tahu berapa buah cery yang harus aku berikan padanya untuk 6 pisang yang dia punya, karena kami berdua sama-sama bodoh dan tidak pandai berhitung”. Cerita tupai.

Mendengar hal itu, ada beberapa kambing maju dan mencoba mau membantu. Karena di antara para kambing, beberapa ada yang bisa berhitung meski jumlahnya sedikit. Dan kebanyakan dari para kambing adalah bodoh dan tidak tahu apa-apa. Namun sebelum mereka maju, anak tetua kambing segera melompat dari atas batu dan maju dengan percaya diri. “Kalian tidak salah datang kemari dan beruntung sekali aku di sini, karena akulah kambing yang paling bijak dan pintar di sini”. Kata anak tetua kambing dengan penuh percaya diri.

Melihat anak tetua kambing sudah maju, para kambing yang lain mengurungkan niat mereka dan tetap diam di tempat. Karena jika mereka menggangu apa yang dilakukan anak tetua kambing dan membuatnya marah, salah-salah mereka bisa celaka. “Lalu.. apa yang ingin kau tanyakan pada si bijak dan pintar ini?” Tanya anak tetua kambing.
“Begini kambing yang bijak, seperti yang sudah diceritakan tupai sahabat ku tadi. Aku memiliki 6 pisang, dan dia mau menukar pisang ku dengan buah cery miliknya. Tapi aku meminta 6 buah ceri untuk di tukar dengan satu buah pisang. Jadi berapa buah ceri yang harus dia berikan untuk 6 pisang yang aku miliki?”. Tanya monyet.

“Ah.. itu mudah.. jawabanya adalah 40 buah ceri. Karena itu sama saja 6×6 maka hasilnya adalah 40”. Kata anak tetua kambing dengan yakinya. Mendengar itu, beberapa kambing yang bisa berhitung kaget. Karena mereka tahu jika jawaban itu salah. Namun mereka tak berani mencampuri urusan anak tetua kambing. Sehingga tidak ada satupun kambing yang berani membantahnya. Namun tiba-tiba si kancil maju mendekat. “Ma’af kawan.. bolehkah aku ikut membantu. Jawaban yang diberikan oleh kambing ini salah. Yang benar jawabanya adalah 36 buah cery. Karena 6×6 itu jumlahnya 36, bukan 40”. Kata kancil. Melihat kancil yang tiba-tiba maju dan muncul entah dari mana, membuat para kambing kaget. Mereka hawatir si kancil akan celaka karena telah membuat si anak tetua marah. Si anak tetua yang mendengar jawaban kancil, kontan saja geram. Baru kali ini ada hewan lain yang berani membantahnya dan bahkan mengatakan bahwa dia salah.

“Hai hewan kerdil, siapa kau? Berani-beraninya hewan bodoh seperti mu mengatakan bahwa aku salah? Lihat saja, tak ada yang membantah jawaban ku kecuali kamu. Itu berarti jawaban ku benar dan kamu yang salah!!”. Kata anak tetua kambing dengan geram.
“Bukan aku yang salah.. tapi jawaban mu yang salah. 6×6 itu jumlahnya 36”. Kata kancil tetap tak bergeming.
“Wah.. kamu memang tidak bisa diajak halus ya? Baiklah.. hai kalian, menurut kalian, mana jawaban yang benar? Jawaban ku atau jawaban si kerdil ini?”.tanya anak tetua kambing pada kaming-kaming lain.

Namun para kabing diam saja tidak ada yang berani menjawab. Sebagian besar memang karena mereka tidak bisa berhitung, dansebagian yang lain memang tidak mau celaka jika membantah anak tetua kambing. “Nah.. kau lihat sendiri? Mereka semua diam. Itu berarti jawaban ku yang benar”. Kata anak tetua kambing.
“Oh.. tidak bisa.. tetap jawaban ku yang benar dan kamu yang salah”. Kata kancil ngeyel.
“Hahaha.. hewan bodoh masih juga ngeyel. Gak mau ngaku kalau kamu salah. Baiklah.. untuk menentukan siap yang benar, ayo kita temui ayah ku. Dia adalah tetua di sini. Dan dia pasti tahu bahwa aku benar dan kamu salah..”. Kata anak tetua.
“Tidak mungkin.. tetap kamu yang salah..”. Jawab kancil coba memancing emosi si anak tetua.
“Kamu masih juga ngotot.. sudah jelas jawaban ku pasti benar karena aku kambing yang paling bijak dan pintar disini..”. Kata anak tetua mulai terpancing.
“Lalu.. bagaimana jika ternyata jawaba mu salah,”. Kancil masih memancing.
“Tidak akan salah.. aku yakin.. jika memang nanti ternyata jawaba ku terbukti salah.. aku akan berenang ke seberang lewat sungai yang penuh buaya ini”. Kata anak tetua dengan sombongnya.
“Hmm.. baiklah.. kalau begitu, ayo kita temui saja ayah mu”. Ajak kancil.

Akhirnya.. mereka bersama-sama menemui tetua mereka. Dan meminta keputusan mana di antara dua jawaban tersebut yang benar. Para kambing yang bisa berhitung, sudah yakin pasti tetua mereka akan menjawab bahwa jawaban kancil yang benar. Namun di luar dugaan, ternyata si tetua menyatakan bahwa anakyayang benar sedangkan si kancil yang salah. Dan sebagai hukuman, si kancil harus tinggal di tempat itu selama satu miggu dan membantu membersihkan tempat tinggal tetua sebagai pelayan. Mendengar keputusan itu, anak tetua itu tetawa terbahak-bahak. Berkali-kali dia berteriak bawha kancil itu bodoh dan idiot. Namun para kambing yang lain malah berfikir sebaliknya, mereka mulai tidak menykai tetua yang jelas-jelas membantu anaknya yang salah.

Setelah kejadian itu, sikap para kambing pada tetua dan anaknya menjadi berubah. Mereka mulai acuh tak acuh, dan dibelakang mereka mengunjing anak tetua kambing yang bodohnya bukan kepalang. Lambat laut, kabar tentang kebodohan anak tetua itu cepat tersebar. Dan akhirnya sampai pada telinga anak tetua. Mendengar hal itu, anak tetua itu menjadi marah. “Kurang ajar sekali mereka mengatai aku bodoh. Aku akan mengaduke ayah agar mereka semua di hukum”. Kata anak tetua sambil berlalu.

Anak kambing yang bodoh dan sombong itu menghadap tetua dengan marah-marah. Dia menceritakan apa yang dia dengar tentan kabar yang mengatakan bahwa dia itu bodoh. Dia berharap, ayahnya akanmendukungnya dan memberi mereka hukuman yang berat. Namun di luar dugaanya, ternyata ayahnya malah membenarkan bahwa dia memang bodoh. Karena sebenarnya jawaban si kancil yang benar. Dan para kambing tahu hal itu, tapi mereka tidak berani membantah tetuanya. Sedangkan si kancil juga tahu bahwa dia benar, namun dia dengan ikhlas menerima hukuman meski dia tahu dia benar. “Jika memang si kancil yang benar, kenapa dia mau saja di hukum padahal dia benar?”. Tanya anak tetua masih kurang yakin.
“Kalau tentang apa alasnya kenapa dia tetap mau di hukum meski dia salah, kamu bisa tanyakan sendiri padanya”. Kata tetua.

Akhirnya anak itu pergi menemui kancil yang tengah membersihkan daun-daun kering. Dengan agak ragu dia lalu bertanya pada si kancil. “Hai kancil.. ayah kubilang bahwa sebenarnya jawaban mu yang benar, sedangkan jawban ku salah. Tapi kenapa kau mau saja di hukum meski kau merasa tidak bersalah?”. Tanya anak tetua ingin tahu. Mendengar pertanyaan itu, si kancil tersenyum.
“Hai kawan.. ini semua adalah ide ku dengan bantuan ayah mu. Bahkan ayah mu rela dihina oleh rakyatnya demi menyadarkan mu. Jika kamu bertanya kenapa aku mau di hukum meski aku benar, dalah karena itu yang terbaik”. Kat kancil.
?”. Tanya anak tetua masih tidak mengerti.

“Bukankah lebih baik aku merelakan diri ku di hukum meski aku benar? Dari pada satu nyawa terbuang percuma karena kebodohan? Karena jika dia bisa hidup lebih lam, dia masih memiliki kesempatan untuk belajar agar kelak dia tidak celaka karena kebodohanya”. Terang kancil. Mendengar jawaban kancil, anak tetua itu ingt pada janjinya jika dia yang salah maka dia akan menyeberangi sungai yang penuh dengan buaya. Menyadari hal itu, anak tetua merasa malu. Kini dia sadar, bahwa selama ini dia memang cukup bodoh. Namun dia berlagak sombong dan sok pintar karena tak ada satupun kambing yang berani membantahnya. Kini dia sadar, jika saja waktu itu bukan hanya sebuah rencana antara si kancil dan ayahnya, mungkin saat ini dia sudah mati dimangsa para buaya. Dan mulai saat itu, anak tetua itu mulai menjadi lebih baik dan belajar dari semua kesalahan-kesalahanya. Dan beberapa tahun kemudian, dia diangkat menjadi tetua mengantikan ayahnya. Dan dia juga menjadi tetua yang bijak seperti ayahnya.

The End

Story By: Muhammad Rifai

Hikmah: Terkadang, tak selamanya yang benar itu harus menang. Karena ada kalanya kebenaran itu harus mengalah demi tercapainya tujuan yang lebih baik di masa depan.

Dongeng KANCIL, SINGA dan TIKUS

Dongeng Kancil Terbaru – Dongeng Kancil, Singa, dan Tikus | Di daratan Eutopia, ada salah satu hewan yang dijuluki juga sebagai raja hutan selain Harimau. Dia adalah sang Singa. Namun singa lebih senang hidup di padang rumput dengan alam yang lebih terbuka. Dia selalu menjaga wilayahnya dari para hewan yang ingin berbuat onar di daerah kekuasaanya.

Sebagaimana si Harimau, singa juga memiliki sifat yang sombong sebagaimana seorang raja. Dia cukup angkuh dan merasa tidak terkalahkan. Bahkan dia sering memandang rendah hewan yang lebih lemah darinya. Si kancil pernah beberapa kali bertemu dengan singa, namun dia bisa bersembunyi untuk menghindar. Berbeda dengan harimau, sifat singa sedikit lebih tenang. Bahkan terkesan cukup malas. Hari-harinya selalu di isi dengan tidur. Dia hanya berburu ketika perutnya sedang lapar saja.

Pada suatu hari ketika si singa tengah tertidur nyenyak, ada seekor tikus yang tidak sengaja tersesat ke sarangnya. Tikus itu tanpa sengaja membangunkan singa yang sedang tertidur itu. Kontan saja singa yanf merasa terusik itu sangat marah dan mengaum dengan keras. Auman singa cukup menakutkan bagi setiap yang mendengar. Bahkan aumanya dapat di dengar hingga jarak cukup jauh di seluruh penjuru hutan.

Melihat singa yang marah, tikus yang malang itu merasa sangat ketakutan. Dia merasa kini ajalnya mungkin akan datang karena di makan oleh singa. Namun tiba-tiba saja si kancil datang, dia mencoba menengahi untuk menenangkan singa tersebut.
“Eh.. singa.. tunggu dulu. Jika kau memakan tikus malang ini, maka martabat mu sebagai raja hutan akan tercoreng. Kau akan sangat rugi. Selain tidak kenyang.. kau juga akan di kenal sebagai hewan rakus yang bahkan memakan tikus yang kurang bergizi”. Kata kancil.
“Apa maksut mu cil..? Apa kau meledek ku?”. Kata singa masih geram.
“Bukan itu masalahnya.. aku hanya ingin menyelamatkan harga diri mu. Jika kau memakan tikus ini, maka kau tak lebih dari hewan berkuku dengan taring besar.. namun selera makan mu kacangan dan tak bermutu. Bayangkan saja jika seluruh penghuni hutan tahu, pasti mereka akan menertawakan mu”. Jelas kancil.

“Lalu.. apa yang harus aku lakukan? Tikus ini sudah mengganggu tidur ku”. Tanya singa lagi.
“Sebagai raja.. kau harus belajar untuk mengampuni. Biarkan dia pergi. Mungkin saja kelak dia justru bisa menolong mu ketika kau kesusahan”. Jawab kancil.
“Hahahahaha… aku? Kesusahan? Lalu ditolong tikus? Mana mungkin.?? Aku ini raja hutan yang paling kuat. Bahkan harimau saja tak sebanding. Tak ada yang berani macam-macam dengan ku. Itu mustahil.. hahahaha..”. Kata singa dengan sombongnya.
“Baiklah.. mau mustahil atau tidak, roda nasib tak ada yang tahu. Jadi bagaimana singa? Apa kau mau melepaskanya?”. Tanya kancil lagi.
“Baiklah.. kali ini dia aku lepaskan. Tapi bukan karena alasan yang kau sebutkan.. tapi memang karena aku masih kenyang.. jadi, cepat pergi sebelum aku berubah fikiran..”. Kata singa sambil kembali memejamkan mata untuk melanjutkan tidurnya. Sementara kancil dan tikus segera pergi dari tempat itu.

Beberapa bulan berlalu setelah kejadian itu. Hingga pada suatu hari, singa di timpa musibah. Ketika tengah mencari mangsa, singa terjerat oleh jaring yang di pasang pemburu. Dia sudah berusaha lepas, tapi tak berhasil. Jaring itu dirajut dengan tali yang cukup kuat. Hingga dua hari lamanya singa terjebak. Tanpa makan dan minum, sehingga membuat singa lemas kehabisan tenaga. Bahkan untuk mengaum saja dia sudah tidak sanggup. Namun takdir sepertinya masih berpihak pada si singa. Tikus yang dulu dia lepaskan, tidak sengaja lewat tempat itu.

Melihat singa yang sekarat, tikus itu langsung berusaha menolongnya. Dia menggigit setiap tali jaring itu hingga putus. Setelah semua tali putus, singa itu akhirnya bisa bebas. Melihat bahwa nyawanya diselamatkan oleh seekor tikus yang dulu dia remehkan, membuat singa merasa malu. Kini dia belajar akan satu hal.. kemampuan itu tidak hanya dilihat dari penampilan luar saja. Singa merasa bersyukur, bahwa dulu dia mengambil keputusan yang benar dengan melepaskan si tikus. Andai saja dulu dia tidak melepaskan si tikus, niscaya nyawanya sudah tidak tertolong.

Singa mengucapkan terimakasih kepada tikus. Dia juga meminta ma’af jika dahulu dia menghina si tikus. Tikus itu hanya tersenym, karena dia sudah lama mema’afkan singa dan merasa tidak terjadi masalah. Sejak saat itu, tikus dan singa menjadi sahabat. Singa berjanji akan dengan senang hati membantu tikus ketika tikus dalam kesulitan. Sebagai wujut balas budi di hari itu.

Story by: Muhammad Rifai

Hikmah: Kemampuan seseorang, itu tidak dapat dinilai dari penampilanya saja. Terkadang orang yang kita anggap remeh, lebih hebat dari pada kita sendiri.

Fabel KANCIL Menipu Burung ELANG

Fabel Kancil Menipu Burung Elang – Setelah pada cerita ayam jago dan burung elang yang lalu, kehidupan bangsa ayam menjadi tidak tenteram. Mereka selalu dilanda ketakutan karena terror para burung elang yang mengincar anak-anak mereka. Namun mereka tak bisa berbuat apa-apa. Sekuat apapun mereka berusaha, mereka tak mampu untuk mengalahkan burung elang. Lambat laun, anak-anak ayam mulai habis. Hanya tinggal beberapa ekor saja.

Tentu hal tersebut membuat bangsa ayam menjadi sangat risau. Karen jika kejadian ini terus berlanjut, bisa jadi keturunan mereka akan binasa dan jenis mereka akan punah. Akhirnya, para ayam mengadakan musyawarah. Mereka harus meminta bantuan segera. Tapi pada siapa? Salah satu ayam tiba-tiba berdiri ke tengah. Dia menyarankan agar meminta bantuan pada si kancil. Dia yakin si kancil memiliki solusi untuk masalah mereka.

Akhirnya salah satu ayam ditugaskan untuk menemui si kancil. Awalnya si kancil menolak. Karena masalah yang terjadi antara ayam dan elang, adalah murni karena kesalahan bangsa ayam. “Tolonglah cil.. Kami tahu itu salah kami. Kami rela jika memang harus menerima hukuman. Tapi yang jadi masalah adalah, anak-anak kami yang tidak tahu apa-apa yang jadi korban. Elang bahkan menghabiskan dan menangkap semua anak-anak kami hingga hanya tersisa beberapa ekor. Jika besok dia datang dan menangkap mereka lagi, bisa-bisa semua keturunan kami habis dan kami bisa punah. Tolonglah cil.. Kami hanya ingin kesempatan agar bangsa kami tidak punah”. Kata ayam itu memelas.

Mendengar alasan si ayam, kancil merasa tersentuh. Jika di fikir-fikir dengan jernih, betul juga kata ayam. Elang sudah terlalu kelewatan. Yang memiliki masalah dengan bangsa elang adalah para ayam yang sudah dewasa, kenapa anak-anak yang menjadi korban. Dan lagi jika hal ini terus berlanjut, bisa jadi bangsa ayam akan benar-benar punah karena tidak memiliki kesempatan untuk memiliki keturunan. Dan akhirnya, kancil bersedia membntu.

“Baiklah kalau begitu, untuk kali ini saja demi anak-anak kalian yang tidak bersalah, aku akan membantu. Pulanglah..!! Besok ketika elang datang lagi ke tempat kalian, aku akan ke sana untuk berbicara denganya”. Jawab kancil.
Mendengar hal itu, si ayam menjadi sangat gembira. Dia segera pulang menemui teman-temanya untuk menyampikan kabar bahagia itu. Para ayam menyambut kabar itu dengan suka cita. Ada secercah harapan yang mereka rasakan untuk bisa menyelamatkan anak-anak mereka.

Keesokan paginya.. Burung elang datang lagi ke sarang ayam. Seperti biasa, mereka mengincar anak-anak ayam yang masih tersisa di balik hiruk pukuk para ayam yang berlari panik. Namun ketika si elang tengah menemukan anak ayam yang menjadi targetnya, tiba-tiba ada suara yang memanggilnya.
“Hai elang.. Tunggu sebentar, aku ingin bicara”. Kata suara itu yang ternyata si kancil.

Melihat si kancil datang, si elang hinggap di atas sebuah batu dengan betolak pinggang. Dengan nada angkuh si elang menjawab..
“Ada apa cil.. Apa kau disewa oleh mereka untuk melawan ku? Hahahaha.. Mereka rupanya sudah terlalu putus asa hingga akal mereka hilang. Jika serigala saja tak mampu melawan ku, apalagi hewan mungil seperti mu?”. Kata elang dengan nada sombong.
“Ah.. Tunggu sebentar elang.. Kau salah faham.. Aku kemari bukan untuk melawan mu. Tapi aku kesini sebagai wakil utusan dari bangsa ayam untuk melakukanbnegosiasi”. Jawab kancil.

“Negosiasi? Apa maksut mu? Tak ada lagi yang perlu di negousasikan. Tujuan ku ke mari sudah jelas.. Dan sudah jelas pula tak ada yang mampu melawan, jadi untuk apa aku harus bernegosiasi? Apa untungnya bagi ku?”. Tanya elang ketus.
“Ah.. Kau ini memang kuat elang, tapi otak mu sungguh bodoh”. Kata kancil.
“Bodoh kata mu? Kau menantang ku?”. Jawab elang emosi.
“Tunggu dulu.. Bukan begitu maksut ku. Begini lho.. Jika kamu memakan anak ayam langsung banyak dalam sekali waktu, maka kau akan rugi dikemudian hari. Karena sudah tidak ada lagi anak ayam yang bisa kau makan sebab sudah habis. Sedangkan para ayam juga butuh waktu untuk bertelur dan menetaskanya. Jadi, apa kau sudah sadar dengan apa yang ku maksut?”. Tanya kancil.

Mendengar penjelasan kancil yang cukup masuk akal, akhirnya burung elang berfikir sesaat.
“Hmm.. Benar juga apa yang kau bilang. Jadi apa sebaiknya yang harus aku lakukan sekarang?”. Tanya burung elang.
“Begini.. Aku sebagai wakil bangsa ayam diutus untuk melakukan satu perjanjian. Yaitu.. Para ayam akan menyediakan satu ekor anak ayam setiap hari untuk kau santap. Tapi ada syaratnya..”. Kata kancil.
“Apa syaratnya..? “. Tanya elang.
“Bangsa ayam ingin meminjam bulu sayap mu yang kuat satu kali saja. Sebagai obat penasaran, bagaimana rasanya bisa terbang seperti burung elang yang gagah dan kuat seperti mu”. Jawab kancil.

Merasa dirinya dipuji, si elang menjadi semakin besar kepala. Hingga dia tidak berfikir dua kali langsung saja menyanggupi syarat itu. Melihat si elang sudah setuju, sibkancil langsung memanggil seluruh ayam yang ada di kawasan itu. Mereka disuruh beramai-ramai untuk mencabut bulu-bulu si elang. Hingga akhirnya, semua bulu si elang habis dan botak. Elang tidak menyangka jika kejadianya akan jadi seperti ini. Dia sangat malu karena semua bulu-bulunya yang megah telah rontok, hilang tak tersisa.

Karena terlalu malu, elang langsung lari ke dalam hutan dan menghilang di semak-semak. Para ayam yang melihat hal itu tertawa terpingkal-pingkal. Paling tidak, kini mereka bisa sedikit membalas perbuatan si elang pada anak-anak mereka. Setelah hari itu, si kancil menyuruh para ayam untuk pindah mencari tempat lain. Mereka harus bersembunyi dari elang agar dapat membesarkan anak-anak mereka.

Story By: Muhammad Rifai

Hikmah: kadang sifat dendam dan amarah, sering membutakan mata kita. Sehingga yang aslinya tidak bersalah, ikut terkena dampaknya.

Dongeng KANCIL dan KUPU-KUPU Sombong

Dongeng Kancil dan  Kupu-Kupu yang Sombong – Pada suatu hari, si kancil sedang berjalan-jalan di sebuah kebun bunga. Berbagai masalah yang sebelumnya dia hadapi, sekiranya dapat sedikit dia tinggalkan sejenak. Maklum, karena si kancil kini di angkat sebagai hakim di hutan eutopia. Maka banyak masalah yang harus dia selesaikan. Baik masalahya sendiri ataupun masalah hewan lain yang meminta bantuanya. Si kancil berjalan pelan melihat pemandangan bunga-bunga yang indah. Musim panas sudah mulai datang, sehingga bunga-bunga sudah mulai bermekaran dengan indahnya.
Ketika tengah memperhatikan sekitar, tak sengaja perhatian si kancil tertuju oleh segerombolan serangga yang sedang berkumpul. Si kancil diam sejenak, dia mendengarkan percakapan para serangga itu. Sepertinya, para serangga itu sedang sedikit ada masalah. Di situ berkumpul banyak serangga. Ada kaki seribu, belalang sembah, belalang ranting, kumbang, lebah, kupu-kupu, dan beberapa serangga lain. Namun sepertinya, si kupu-kupu yang menjadi masalah disini.
Ternyata, si kupu-kupu menyombongkan keindahanya, dan mengejek serangga-serangga lain bahwa mereka semua  tak ada yang mampu menyaingi keindahanya.
“Siapa yang bisa menyaingi keindahan ku? Kamu kaki seribu? Lihat bentuk mu yang gemuk itu, dengan kaki sebanyak itu jalan mu tetap saja lamban. Hahaha..”. Ejek kupu-kupu. Serangga kaki seribu hanya bisa diam tak menjawab. Dia merasa malu dengan ejekan itu.
“Atau kamu belalang sembah? Mau menyaingi keindahan ku? Wah.. lihat bentuk mu. Tak ada yang indah di setiap lekuk tubuh mu. Dengan penampilan seperti itu, kau terlihat lebih menakutkan dari pada di sebut indah. Hahaha..”. lanjut kupu-kupu mnengejek belalang sembah. Dan lagi-lagi, tak ada yang menjawab ejekan kupu-kupu yang sombong itu.
dongeng kancil dan kupu-kupu
ilustrasi kupu-kupu indah
“Ayo siapa yang bisa menyaingi keindahan ku? Belalang ranting yang kurus kering? Lebah yang kerdil? Atau siapa saja, siapa yang bisa mengalahkan keindahan sayap ku yang berkilau? Aku bebas terbang kesana-kemari menghampiri bunga-bunga, dan menghisap madunya hingga kenyang. Tanpa perlu bekerja untuk siapapun mengumpulkan madu seperti lebah-lebah yang bodoh. Hahaha..”. kata kupu-kupu semakin congak. Melihat hal itu, kancil yang dari tadi terdiam di kejauhan berusaha mendekat. Dia berniat menasehati dan mengingatkan kupu-kupu yang sombong itu agar tidak lupa diri hingga berahir celaka.
“hai kawan.. tidak baik kau mengejek kawan-kawan mu seperti itu. Kau memang indah, tapi bukan berarti kau memiliki hak untuk menghina mereka. Karena setiap ciptaan pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu, jangan menyombongkan kelebihan mu”. Kata kancil.
Namun si kupu-kupu yang mendengar perkataan si kancil malah acuh, dengan ketus dia menjawab..
“Ah.. siapa kamu hewan asing? Apa salahnya aku bangga dengan diri ku sendiri/ apa kau juga iri pada ku? Lihat keindahan sayap ku. Yang bersinar di bawah terpaan sinar matahari, maka kau akan tahu akulah hewan paling indah yang tiada bandingnya..”. kata kupu-kupu sambil terbang tinggi. Dia terbang setinggi yang dia bisa untuk memamerkan keindahan sayapnya pada kancil dan semua hewan.
Namun sayang, tanpa dia sadari.. ada burung yang terbang di atasnya. Melihat ada mangsa mendekat, burung itu langsung menyambar kupu-kupu dan dibawa terbang tinggi entah kemana. Si kancil dan para serangga lain yang menyaksikan hal itu hanya bisa ikut perihatin. Mereka tidak bisa membantu, karena si kupu-kupu celaka berkat sifat sombong dan rasa angkuhnya sendiri. Mereka hanya bisa mengambil pelajaran, bahwa kesombongan selalu memiliki akhir yang tragis. Setelah kejadian itu, para serangga pulang ke rumah masing-masing. Sedangkan si kancil masih melanjutkan kegiatanya berjalan-jalan di kebun bunga itu hingga senja tiba.
                                          
Story by: Muhammad Rifai
  
Hikmah yang bisa kita petik: kesombongan dan sifat angkuh, selalu berakhir dengan penyesalan. Oleh karena itu, belajar rendah hati dan menghormati sesama, akan menjadi hal terbaik dalam menjalani hidup yang damai dan tenteram.

Fabel KANCIL dan SERIGALA PENCURI

Fabel Kancil dan Serigala Pencuri   Setelah pada kisah sebelumnya si kancil berhasil selamat dari kejaran harimau dengan menyeberangi sun gai berkat bantuan para buaya, kini si kancil bisa menikmati ketenangan kembali di rumahnya yang nyaman. Dia kini lebih memilih bersantai di rumah dari pada harus pergi ke tempat jauh dengan resiko bahaya yang tidak terduga. Namun mungkin hanya beberapa saat. Rasa penasaran dan rasa ingin tahunya yang tinggi, suatu saat akan mendorongnya untuk melakukan petualangan lagi.
Sedangkan di tempat lain, para burung sedang di landa masalah berat. Beberapa hari ini, telur-telur mereka hilang entah kemana ketika mereka tinggal untuk mencari makan. Tidak ada yang tahu siapa yang mencurinya. Jika terus dibirakan, burung-burung tidak akan bisa lagi menetaskan telurnya dan bisa terancam punah. Menurut kabar, beberapa hari ini seekor serigala sering berkeliaran di kawasan sarang mereka. Namun serigala itu cukup ramah dan baik, maka tidak ada yang mencurigainya. Bahkan kadang kala, serigala itu menawarkan bantuan untuk menjaga telur-telur burung itu ketika mereka pergi.
Namun yang jadi masalah, ketika para burung itu kembali, ternyata telur-telur mereka juga hilang. Dan serigala juga tidak ada lagi di situ. Ketika keesokan harinya mereka bertemu serigala dan bertanya, serigala menjawab kalau dia ada urusan mendadak sehingga harus pergi. Karena alasan serigala cukup masuk akal dan tidak ada bukti, maka para burung tidak bisa berbuat apa-apa. Namun semakin hari, masalah yang mereka hadapi semakin menjadi. Sudah banyak burung-burung yang jadi korban pencurian telur tersebut. Hingga mereka akhirnya berkumpul untuk mencari solusi.
Ketika dalam rapat mendadak itu, burung gagak mengusulkan agar mereka meminta bantuan pada si kancil. Selain mereka bersahabat, si kancil juga termasuk binatang yang cerdik dan banyak akal. Dan yang lebih penting lagi, si kancil suka menolong siapa saja yang kesusahan. Akhirnya setelah di sepakati, keesokan harinya para burung pergi ke rumah si kancil. Si kancil yang tiba-tiba kedatangan banyak tamu, tentu sangat terkejut. Namun setelah burung gagak menjelaskan apa tujuan mereka serta masalah yang menimpa mereka, si kancil menjadi tenang dan bersimpati pada masalah yang di hadapi oleh para burung.
Menurut kesimpulan dari cerita para burung, si kancil mencurigai bahwa serigala adalah pencuri telur tersebut. Karena selain tidak ada hewan lain di tempat kejadian, gerak-gerik serigala juga cukup mencurigakan. Di karenakan kejadian pencurian terjadi setelah beberapa hari serigala berkeliaran di tempat itu. Dan lagi, selalu ada serigala sebelum kejadian, dan juga serigala hilang bersama hilangnya telur-telur itu meski dengan berbagai alasan. Namun yang  jadi masalah adalah, mereka tidak memiliki cukup bukti untuk menuduh serigala adalah pelakunya. Maka kali ini, si kancil harus berperan menjadi detektif kancil untuk menuntaskan masalah itu.
fabel kancil dan serigala pencuri
ilustrasi sarang burung
Si kancil meminta waktu sejenak untuk menyendiri. Dia berfikir untuk mencari ide terbaik menangkap basah serigala serta membuatnya jera. Sudah hampir beberapa waktu lamanya si kancil belum mendapat ide. Sedangkan para burung menunggu di luar dengan gelisah dan harap-harap cemas. Ketika tengah jalan mondar-mandir mencari ide, tak sengaja si kancil menginjak telur busuk. Baunya membuat kancil ingin muntah. Namun karena hal itu, si kancil jadi menemukan sebuah cara tepat untuk menangkap basah serigala pencuri.
Si kancil lalu keluar menemui para burung untuk menceritakan rencananya. Para burung yang sudah menunggu lama, terlihat serius menunggu apa yang akan di sampaikan si kancil. Ternyata, si kancil menyuruh para burung untuk mengumpulkan telur-telur mereka yang busuk dan tidak bisa menetas. Jika dilihat sepintas, telur-telur itu tak jauh beda dengan telur biasa. Namun jika di buka, maka bau busuknya baru tercium. Para burung disuruh mengumpulkan telur-telur itu pada satu tempat dengan membuat sarang yang sangat besar.
Setelah sarang jadi dan telur sudah terkumpul, maka para burung di suruh menemui serigala. Bilang pada serigala bahwa mereka membutuhkan bantuan untuk menjaga telur-telur mereka. Agar aman dan mudah di jaga, telur-telur mereka telah mereka kumpulkan jadi satu di satu sarang. Jika rencana ini berhasil dan serigala memang pelaku pencurian, maka para burung akan memiliki cukup bukti dan bisa membuat serigala itu kapok.
Mendengar rencana itu, para burung menjadi gembira. Kali ini pasti mereka bisa menangkap basah serigala pencuri itu tanpa bisa mengelak. Akhirnya, mereka menjalankan rencana si kancil itu. Mereka bergotong royong untuk membuat sarang serta mengupulkan telur-telur mereka yang busuk dan tidak bisa menetas. Sebagaimana rencana si kancil, mereka menemui serigala setelah semua persiapan usai dengan alasan agar serigala mau menjaga telur-telur di sarang meraka. Tanpa curiga, serigala itu menyangupinya, bahkan serigala itu terlihat sangat bersemangat dan senang sekali.
Setelah serigala ada di sarang yang berisi telur-telur bususk, para burung berpura-pura berpamitan untuk pergi mencari makan dan meninggalkan sarang mereka yang berisi telur agar di jaga oleh serigala. Namun sebenarnya, burung-burung itu tidak pergi jauh, mereka bersembunyi di balik semak-semak sambil mengawasi serigala yang mencurigakan itu. Ternyata dugaan mereka benar. Setelah serigala tahu bahwa dia sendirian, dia langsung memakan telur-telur itu dengan lahapnya. Namun kali ini agak berbeda, baru habis beberapa butir saja, tiba-tiba dia mau muntah. Bau telur-telur itu sangat bususk tidak seperti biasa, dia juga merasa perutnya kini sakit, kepalanya mulai pusing.
Serigala berniat lari pergi dari tempat itu karena badanya terasa kurang sehat setelah makan telur-telur busuk itu. Namun para burung yang marah setelah tahu buktinya bahwa memang serigala yang selama ini mencuri telur-telur mereka, segera terbanga beramai-ramai menerjang serigala. Ada yang mematuk, mencakar, menyambar, hingga serigala di buat tak berdaya. Serigala lari sekuat yang dia mampu sambil menahan perutnya yang semakin sakit, kepalanya yang semakin pusing, serta rasa perih di sekujur tubuh berkat terjangan para burung. Dia lari secepat yang dia bisa dan akhirnya hilang di dalam hutan yang gelap. Dan setelah saat itu, serigala itu tak berani lagi menampakan diri. Dan para burungpun bisa hidup kembali dengan tentram. Semua berkat si kancil yang cerdik.
Story by; Muhammad Rifai
Hikmah yang dapat kita petik: Terkadang  kepercayaan yang kita berikan di hianati dengan tipu daya. Namun sebagaimana falsafah kehidupan.. apa yang kau tanam, itu yang akan kau tuai. Maka, setiap orang akan menuai hasil dari perbuatanya masing-masing.

Dongeng si KANCIL dan BUAYA Sungai

Dongeng si Kancil dan Buaya Sungai – Setelah si kancil berhasil kabur dari bahaya yang mengancamnya pada kisah kancil dan harimau sebelumnya, kinisi kancil berlari dengan sekuat tenaga untuk menghindari kejaran harimau. Karena jika harimau sadar bahwa dia telah di tipu, tentu si kancil tidak akan bisa selamat karena harimau akan sangat marah. Dengan sekuat tenaga si kancil menerobos semak, melawati jalan sempit, serta jalan yang curam, agar bisa segera sampai ke rumahnya. Namun tiba-tiba langkah si kancil terhenti, karena di depanya ada sebuah sungai  yang sangat luas.
Dia memang baru pertama kali melewati jalan pintas itu, dan dia tak tahu bahwa dia harus melewati sungai untuk sampai ke rumahnya di seberang. Itu adalah hutan eutopia, dimana dia dan kawan-kawanya tinggal. Namun jika dia harus memutar lagi, maka akan terlalu jauh. Dan tentunya harimau pasti akan menemukanya dan mampu mengejarnya. Kini si kancil mulai bingung. Apa yang harus dia lakukan untuk bisa sampai ke seberang?
Di tengah-tengah kebingungan yang melanda serta rasa panik karena takut harimau akan segera sampai, dia tiba-tiba teringat dengan para buaya sungai. Muncul ide yang cukup nekat di benaknya. Dia berniat menggunakan para buaya agar membantunya bisa sampai ke seberang. Lalu, bagaimana cara si kancil untuk menarik para buaya agar mau muncul?  Si kancil mencelupkan sedikit ujung kakinya yang terluka di dalam air, dan dengan bau darah itu, para buaya menjadi tertarik dan muncul ke permukaan.
“Wah.. wah.. wah.. lihat kawan-kawan.. ada mangsa yang datang dengan sendirinya. Tuhan memang baik, selalu tahu apa yang kita butuhkan di kala lapar”. Kata salah satu buaya.
“Wah.. benar sekali.. tapi tubuhnya terlalu kecil, mana mungkin bisa mengenyangkan perut kita semua? Bagaimana kalau kita berlomba siapa yang dapat menangkapnya lebih dulu, dia yang berhak memakanya?”. Jawab salah satu buaya yang lain.
Namun di kala para buaya berebut untuk mendapatkan si kancil, si kancil malah tertawa di pinggir sungai. Tak terlihat sedikitpun rasa takut di wajahnya. Melihat hal itu, para buaya menjadi tidak mengerti. Sebenarnya apa yang membuat si kancil tertawa padahal seharusnya dia ketakutan.
“hai kancil..!! kenapa kau malah tertawa? Kami disini berebut untuk memakan mu. Kenapa kau malah tidak lari?’. Tanya salah satu buaya.
“hmm.. terimakasih para buaya. Kalian membuat ku merasa tersanjung karena memperebutkan aku. Tapi aku kesini hanya sebagai utusan saja, dan kalian tidak boleh memakan seorang utusan jika tak mau mendapat murka dari baginda Raja Sulaiman”. Kata kancil sambil tersenyum.
fabel kancil dan buaya
ilustrasi kancil dan buaya

Mendengar nama Raja Sulaiman di sebut, membuat para buaya terkejut. Mereka tidak mengira bahwa raja Sulaiman akan menjadikan kancil sebagai utusan kepada mereka.
“ah.. benarkah itu cil..? apa benar kamu utusanya Raja Sulaiman? Memangnya ada perlu apa hingga dia mengutus mu kepada kami? Di utus untuk mengenyangkan perut kami? Hahahahah..’ kata salah satu buaya meledek.
“Wah.. kau pintar sekali. Kau sangat benar. Aku di utus untuk membuat perut kalian kenyang. Bahkan sangat-sangat kenyang”. Kata kancil dengan wajah gembira.
Kontan saja sikap si kancil itu membuat para buaya semakin bingung. Mereka semakin tak mengerti apa sebenarnya tujuan si kancil. Mereka saling pandang, seolah bertanya satu sama lain. Namun mereka juga tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. “Oke cil.. kami menyerah. Kami bingung dengan maksud tujuan mu kemari. Sekarang jelaskan apa maksud mu datang menemui kami”. Kata salah satu buaya yang paling besar. Mungkin dia adalah ketua kelompok itu.
‘Nah begini bos buaya.. aku di utus kesini oleh baginda raja Sulaiman untuk mengundang kalian semua dalam sebuah pesta. Akan ada banyak makanan untuk kalian hingga kalian akan merasa sangat kenyang. Dan tujuan ku kemari, di tugaskan untuk menghitung berapa jumlah buaya yang tinggal di sungai ini. Untuk berjaga-jaga siapa tahu nanti makanan yang disediakan kurang dan tidak cukup untuk kalian semua”. Jelas si kancil.
Mendengar penjelasan si kancil itu, para buaya menjadi sangat gembira. Mereka baru saja di undang untuk ke pesta Bagibda raja Sulaiman. Sungguh suatu kehormatan yang langka.
“nah sekarang.. cepat panggil semua buaya yang ada di sungai ini, dan suruh mereka berbaris rapi dari ujung sungai hingga ke seberang. Aku akan menghitung kalian satu persatu agar tidak ada yang terlewat”. Pinta si kancil.
Para buaya hanya menurut tanpa curiga sedikitpun, karena mereka percaya bahwa ini adalah perintah dari Raja Sulaiman. Mereka memanggil semua buaya yang ada di sungai, lalu berbaris lurus dari ujung sungai hingga keseberang sungai. Dan setelah di rasa semua sudah siap, si kancil melompat kepunggung para buaya itu satu persatu sambil menghitung mereka. Dia melakukan hal itu hingga buaya terahir yang ada di seberang sungai, lalu dia melompat ke pinggir sungai tepat di kawasan hutan Eutopia, rumahnya.
“Nah sudah selesai.. terimakasih banyak para buaya. Sekarang kalian sudah boleh pergi’. Kata si kancil.
“Lho..? Cuma begitu saja? Jadi kapan acara pestanya cil? Kapan kami akan di undang?”. Kata salah satu buaya.
“Nah kalau masalah itu akau jugabelum tahu kapan pestanya akan diadakan. Aku Cuma di utus untuk menghitung kalian saja. Sedangkan kapan tepatnya pesta, hanya Raja sulaiman yang tahu. Apa kalian mau protes pada Raja sulaiman?”. Kata kancil mengelabuhi buaya.mendengar jawaban si kancil, para buaya tak berani menjawab. Karena mereka tak mungkin berani melawan Raja Sulaiman. Jika si kancil hanya di utus untuk menghitung saja, itu berarti memang titah dari sang raja. Begitu fikir mereka. Dan akhirnya dengan perasaan kesal, para buaya itu kembali ke dalam sungai tanpa protes satu pun. Sementara si kancil meneruskan perjalananya pulang ke rumah dengan hati tenang.
Di lain tempat, harimau berhasil mengejar jejak si kancil. Namun dia terhenti, terpaku, dan tak percaya ketika dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa si kancil berjalan menyeberangi sungai dengan menginjak-injak gerombolan buaya. Dan anehnya, tak ada satupun buaya yang berniat memakanya. Hal yang luar biasa yang bahkan harimau sendiri tak berani melakukanya. Akhirnya harimau itu terdiam di pinggir sungai, sekan berfikir bahwa si kancil memang bukan hewan sembarangan.
Story by: Muhammad rifai

Hikmah yang bisa kita petik: ada kalanya, kekuatan yang kita miliki akan terlihat sangat tak berarti di hadapan seseorang yang memiliki otak yang cerdas. Oleh karena itu, jadilah orang yang tidak hanya mengadalkan otot, namun juga harus memiliki ide dan pemikiran yang tajam.

Fabel HARIMAU dan Harta Karun si KANCIL

Fabel Harimau dan Harta Karun si Kancil – Setelah si kancil selamat dari cengkeraman ular sanca pada kisah si kancil dan ular sanca sebelumnya, kini si kancil berniat pergi meninggalkan ular sanca yang tengah pingsan di mulut goa. Dengan tubuh yang masih lemas karena kelelahan, si kancil berjalan pelan sambil mengumpulkan tenaga. Terdapat beberapa luka di tubuhnya akibat pergelutanya dengan ular sanca ketika berusaha melepaskan diri.  Namun ternyata, hari itu nasib si kancil sepertinya sedang sial.
Tidak seberapa jauh dia baru saja berjalan dari goa, tiba-tiba secara tak sengaja dia melihat sekelabt bayangan di depanya. Dia sangat kenal sekali dengan bayangan itu, tubuh yang tinggi besar dengan cakar dan kulit bermotif loreng. Dia adalah harimau yang dulu pernah dia tipu waktu pertama kali tiba di hutan Eutopia pada kisah awal mula si kancil. Si kancil sadar, kali ini dia tidak mungkin bisa lari atau bersembunyi. Jika harus lari, dia pasti tertangkap karena badanya sudah lemas tanpa memiliki tenaga sedikitpun. Dan jika harus sembunyi, maka itu akan menjadi hal yang sia-sia karena penciuman harimau sangat tajam. Apalagi dengan bau darah yang di timbulkan oleh bekas-bekas lukanya.
Namun bukan si kancil namanya jika dia langsung menyerah dan putus asa. Dengan karunia otak cerdas yang dimilikinya, si kancil berusaha tenang mencari jalan keluar.  Dan beberapa saat kemudian, dia sepertinya menemukan sebuah ide yang sepertinya akan berhasil. Namun sebelum dia sempat berbalik, si harimau sudah muncul dengan geraman yang menakutkan.
“Grrrrrrrrr…!! hahahaha.. ternyata kalau memang sudah takdir tak akan kemana. Aku tak harus susah-susah mencari mu. Kancil.. kita bertemu lagi. Apa perlombaan kita yang dulu harus di lanjutkan sekarang? Grrrrr..!!”. kata harimau penuh senyum licik.
Namun si kancil mampu mengendalikan diri, dia berusaha bersikap tenang agar semua rencana berjalan lancar. Dia bahkan menunjukan raut wajah yang cukup menggertak, seolah dia ingin menunjukan bahwa dia tidak gentar.
“Oh.. sekarang ganti datang lagi satu perampok. Ada apa harimau? Apa kau juga mau merebut harta karun ku yang berharga? Aku tak akan gentar. Tadi aku sudah mengalahkan banyak perampok yang mau merebut harta karun yang ku temukan. Ada banteng, buaya, macan kumbang, beruang, dan sekarang kamu? Ah, tak apa.. aku tak akan takut”. Kata kancil menggertak.
Mendengar jawaban si kancil, si harimau menjadi bingung karena tak faham dengan apa yang dimaksud oleh si kancil. Niat awal ingin membuat si kancil takut dan lari tunggang langgang, kini malah si harimau yang kebingungan karena di kira perampok oleh si kancil.
dongeng kancil dan harimau
Gambar Harimau
“hai hewan kerdil..!! apa maksud mu mau merampok? Memangnya apa yang membuat mu layak untuk di rampok? Harta karun apa? Aku tak faham apa yang kau bicarakan. Aku hanya ingin menyelesaikan masalah kita yang dulu belum selesai mumpung kita bertemu disini”. Kata harimau marah.
“Ah.. bohong..!! kau tak beda dengan para perampok yang sudah ku kalahkan. Awalnya mereka berkata tak tertarik, namun pada akhirnya mereka mau merebutnya dari ku dan berniat mencelakai ku. Untungnya aku kuat, meski penuh dengan luka, aku berhasil membuat mereka kapok”. Kata kancil kembali menggertak.
Mendengar penjelasan si kancil, si harimau menjadi semakion penasaran. Dia melihat tubuh si kancil, memang terlihat banyak bekas-bekas luka goresan di sekujur tubuh. Sepertinya si kancil baru saja mengalami pergulatan yang cukup sengit. Dan hal tersebut, membuat rasa penasaran si harimau semakin menjadi. Dia harus tau apa sebenarnya yang disembunyikan si kancil. Dan harta karun seperti apa yang sedang di pertahankan si kancil dengan susah payah itu.
“Grrrr..!!! kau membuat ku marah kancil. Membuat aku semakin lapar, dan untungnya kini sudah ada makanan lezat yang siap ku santap. Jika kau memang ingin bertarung, sudah tentu kau tak memiliki kesempatan untuk menang. Namun aku adalah raja hutan yang cukup baik hati. Tunjukan pada ku harta karun mu, maka mungkin aku akan mengampuni nyawa mu. Atau pilihan kedua.. kau aku makan, dan harta karun mu yang kau sembunyikan akan tetap jadi milik ku. Maka, berfikirlah dengan bijak demi keselamatan mu”. Kata harimau.
Mendengar hal itu, kancil merasa gembira di dalam hati karena si harimau sudah termakan oleh umpanya. Maka kini tinggal bagaimana dia membuat rencana itu berhasil 100%. Si kancil berpura-pura diam sejenak, seolah-olah berfikir mempertimbangkan sesuatu. Sedangkan si harimau masih menunggu dengan gelisah, dia semakin tak sabar.
“hai..!! bagaimana cil..? Cepat putuskan sebelum aku berubah fikiran..!!”. kata harimau.
“Hmmm.. baiklah. Lagipula aku sama sekali tak memiliki pilihan bukan. Maka aku akan memilih untuk menyerahkan harta karun itu pada mu. Namun untuk menjaga agar kau tidak melanggar janji mu, maka aku hanya akan menunjukan tempatnya saja. Setelah itu aku akan pergi, dan kau menuju tempat itu sendiri”. Kata si kancil.
“Hah.. tidak bisa. Jangan-jangan kau hanya membohongi ku, dan harta itu sebenarnya tidak ada”. Kata harimau keberatan.
“Bukankah kau sudah lihat sendiri buktinya? Bagaimana bekas-bekas luka di tubuh ku ini? Apa aku melukai tubuh ku sendiri? Bukankah itu hal yang bodoh?”. Kata kancil mengelak.
Mendengar alasan kancil yang masuk akal itu, akhirnya si harimau mau menerima.
“baiklah.. aku percaya. Lalu, di mana harta karun itu berada? Apa bentuknya? Dan bagaimana cara aku bisa tahu bahwa itu adalah harta karun yang kau maksud?”. Tanya harimau.
“Nah.. tadi waktu aku sedang  istirahat di goa di lembah, aku menemukan sebuah sabuk cahaya. Sepertinya itu adalah sabuk bertuah peninggalan raja Sulaiman. Siapa saja yang mengenakanya, akan terlihat gagah dan tambah berwibawa, di hormati, dan disegani. Sudah banyak yang coba merebut dari ku, namun mereka semua berhasil ku usir berkat sabuk itu aku kenakan. Namun sabuk itu terlalu berat untuk aku bawa, karena lapar, aku mencari makan dan meninggalkan sabuk itu di mulut goa. Dan tiba-tiba aku sudah bertemu dengan mu. Aku tak sempat berbalik, dan sekarang beginilah keadaan kita sekarang”. Jelas si kancil.
“Wah.. wah.. wah.. tak ku sangka, kau memang benar-benar memiliki harta karun yang cukup langka. Baiklah, kini silahkan kau pergi, kau ku ampuni kali ini. Dan ingat.. rahasiakan tentang sabuk cahaya itu dari siapapun. Jangan ceritakan jika aku memilikinya”. Kata harimau.
“Hmm.. baiklah, rahasia mu aman bersama ku. Sekarang aku pergi dulu. Semoga sabuk itu cocok dengan mu harimua. Sampai jumpa lagi”. Kata kancil kemudian berlari dengan cepat meninggalkan harimau. Sedangkan harimau berjalan ke arah yang berlawanan menuju mulut goa yang di maksud oleh si kancil. Benar saja, seperti cerita si kancil. Di mulut goa itu terdapat sebuah sabuk yang cukup indah. Bentuknya panjang, besar, dan berkerlip ketika tertimpa sunar matahari. Saking panjangnya, bahkan hingga ada bagian yang masih tertinggal di dalam goa.
Dengan senangnya, si harimau menggulung sabuk itu ke badanya. Dia mengenakanya dengan rasa bangga, bergaya, dan merasa menjadi hewan paling gagah di jagad raya. Namun ketika dia tengah terlena dengan kesombonganya, sabuk cahaya yengternyata adalah ular sanca yang tengah pingsan itu kini sudah sadarkan diri. Dia lalu melilit harimau dengan kuat, semakin kuat. Merasa ada yang tidak beres, insting harimau mengembil alih. Dia berusaha melepaskan lilitan yang semakin kuat itu. Dia bergumul, dengan susah payah. Mencakar, menggigit, dan akhirnya ular sanca itu menyerah, melepaskan lilitanta lalu lari masuk ke dalam sungai. Sadar bahwa si kancil baru saja menipunya untuk yang kedua kali, kini harimau semakin geram dan berlari mengejar si kancil yang sudah berlari jauh. Bagiman nasib si kancil selanjutnya? Apakah akan tertangkap oleh harimau? Sepertinya, cerita dongeng si kancil dan harimau sudah mulai seru dari sini.
Story By: Muhammad rifai
Hikmah yang bisa kita petik: dalam hidup, adakalanya kita akan menemui berbagai masalah. Mulai dari yang ringan hingga yang berat. Dan terkadang, kita akan merasa tidak kuat, menyerah, dan putus asa. Namun sebenarnya, Tuhan memberi kita cobaan di sesuaiakan dengan kemampuan makhluknya. Jangan pernah putus asa, contohlah sifat optimis si kancil. Dan dia selalu menemukan cara untuk lepas dari masa-masa sulit.

Dongeng KANCIL dan ULAR SANCA

Dongeng Kancil dan Ular Sanca – setelah pada cerita sebelumnya si kancil sudah berhasil menyelesaikan masalah yang disebabkan oleh ulah monyet yang nakal, kini si kancil ingin menyempatkan waktu untuk beristirahat dari segala rutinitas. Dia berniat berkunjung ke sebuah lembah di pinggiran Eutopia yang di kenal sangat indah dengan pemandangan air terjun yang memukau. Dia pergi pagi-pagi sekali, agar tidak terlalu siang ketika tiba di sana.
Setibanya di lembah, si kancil disambut oleh hamparan pemandangan yang  sangat menakjubkan. Air terjun yang menjulang tinggi, sungai yang mengalir deras namun tetap jernih, serta pemandangan lembah yang berkabut tipis. Sungguh hal yang dapat menjernihkan hati dan fikiran si kancil yang tiap hari harus menyelesaikan banyak masalah. Di tambah angin semilir yang sejuk, membuat si kancil jadi mengantuk karena sudah berjalan cukup jauh untuk bisa ke sana. Dia kecapekan.
Namun ketika si kancil bersiap memejamkan mata di bawah sebuah pohon yang rindang, tiba-tiba si kancil mendengar suara rintihan dan tangisan yang cukup memilukan. Akhirnya karena si kancil memang hewan yang suka menolong, diapun tergerak untuk mencari dari mana arah suara itu. Siapa tahu sedang ada yang benar-benar membutuhkan bantuanya. Hingga sampailah dia di depan sebuah batu yang cukup besar. Dan suara itu berasal dari balik batu itu. Ternyata, di balik batu itu ada sebuah goa, dan mulut goa itu sepertinya tertutup oleh batu yang terjatuh dari atas tebing.
“Hai.. siapa disana? Apa ada yang bisa aku bantu?”. Tanya kancil mencarti tahu. Mendengar ada suara yang memanggilnya, suara tangis tersebut segera menjawab. Sepertinya dia cukup gembira karena memiliki harapan untuk bisa tertolong.
“Oh.. ya.. tolong aku.. aku tidak bisa keluar dari sini. Aku sudah 3 hari terjebak disini dan tidak bisa keluar. Tolong aku”. Kata suara dari balik batu. Mendengar itu, si kancil merasa sangat kasihan. Jika dia tidak segera di tolong, pasti dia bisa saja mati kelaparan dan kehausan. Akhirnya, si kancil berusaha mencari cara untuk menolong hewan yang ada di dalam gua itu. Dia berusaha mendorong batu itu dengan segala cara. Akhirnya setelah berkali-kali mencoba, dia berhasil menggeser batu itu hingga menggelinding ke samping.
Karena kelelahan, si kancil langsung tersungkur. Nafasnya terengah-engah, namun di raut wajahnya dia terlihat senang karena sudah berhasil menyelamatkan hewan yang ada di dalam gua. Namunn di luar dugaan, ternyata hewan yang ada di dalam gua itu adalah seeekor  ular sanca yang sangat besar. Setelah terjebak selama tiga hari, ternyata ular itu sangat kelaparan. Dan dengan tiba-tiba, dia segera melilit tubuh kancil yang sudah lemas karena lelah. Tentu saja si kancil merasa terkejut, namun dia tidak sempat berbuat apa-apa karena sudah tak memiliki tenaga.
dongeng kancil dan ular
ilustrasi Ular
 “Hahaha.. terimakasih kancil, kau sudah menyelamatkan aku. Tapi masalahnya, aku sudah kelaparan selama tiga hari, jika tak keberatan.. maukah kau menolong ku untuk menghilangkan rasa lapar ku juga? Hahahaha..”. kata ular sanca yang tak tahu balas budi itu. Merasa terancam, si kancil berusaha berontak. Namun lilitan ular sanca terlalu kuat. Si kancil berusaha menggigit tubuh ular sanca itu, namun tubuh ular sanca terlalu licin sehingga terus meleset. Hingga pada saat yang sudah genting, secara tak sengaja si kancil menggigit ujung ekor ular sanca itu.
Ternyata hal tersebut berhasil dan membuat ular sanca itu kesakitan. Ular sanca itu terkejut, dan secara tak sengaja kepalanya terantuk langit-langit di mulut goa. Hingga akhirnya ular sanca itu pingsan karena kepalanya terbentur batu. Dengan susah payah, si kancil berusaha melepaskan diri dari lilitan ular sanca yang sudah tak sadarkan diri itu. Dia merangkak, sedikit demi sedikit untuk lepas dari lilitan. Akhirnya, dia berhasil juga. Tubuh ular sanca itu sangat panjang hingga keluar goa. Sedangkan kepalanya berada di dalam goa sehingga tak terlihat. Tubuhnya berkilau indah karena sisiknya yang bersinar tertimpa matahari.
Bagi mereka yang tak tahu, pasti akan tertipu dan tidak menyangka bahwa hal yang berkilau itu ternyata adalah tubuh ular yang sangat ganas. Namun daripada memikirkan itu, si kancil memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu. Dia sedikit kecewa. Karena di hari dimana seharusnya dia bersantai menikmati hidup, malah dia hampir kehilangan nyawa. Namun sebagaimana biasa, kecerdasan, kecerdikan, dan kebaikan hati yang tulus dari si kancil, selalu membawa keberuntungan tersendiri yang sulit untuk di fahami.
Story By: Muhammad rifai
Hikmah yang bisa kita petik: Terkadang, banyak orang yang berpura-pura baik ketika membutuhkan pertolongan. Namun setelah kita menolongnya, malah dia berniat mencelakai kita. Itulah sifat manusia, ada yang baik dan ada pula yang buruk. Namun yakinlah, Tuhan selalu akan memberi balasan yang sepadan. Dan tuhan selalu menolong orang-orang yang berbuat kebaikan.

Kisah si KANCIL dan BULAN Kembar

Kisah si KANCIL dan BULAN Kembar – Kita tinggalkan dahulu sejenak tentang cerita monyet yang nakal pada kisah yang lalu. Sementara si monyet dalam pelarianya untuk mencari perlindungan karena ulahnya sendiri, di dalam hutan masih ada masalah lain. Kali ini, hutan juga kembali dibuat resah oleh ulah si rubah yang nakal. Rubah dikenal cukup cerdas dan banyak akal, tak kalah cerdik dengan si kancil. Namun sayangnya, si rubah sedikit usil dan nakal. Dis sering menggunakan kecerdikanya untuk menipu dan memperdaya hewan lain.

Beberapa bulan yang lalu, si rubah menawarkan sebuah perjanjian pada kelinci dan, tupai, dan beberapa hewan lain. Dia berjanji, jika mereka mau menyerahkan makanan mereka, maka mereka akan mendapatkan 2x lipat dari yang mereka berikan jika sudah sampai dua bulan. Banyak hewan yang tertarik dengan tawaran itu, sehingga si rubah mendapatkan banyak sekali makanan dari para hewan-hewan itu. Dengan harapan, makanan mereka akan kembali menjadi 2x lipat setelah masa 2 bulan. Namun setelah masa 2 bulan selesai, masalah muncul. Ketika para hewan menagih janji si rubah, si rubah berkilah bahwa belum ada 2 bulan. Sedangkan dia berjanji akan mengembalikan semua makanan menjadi 2x lipat setelah ada 2 bulan, dan sekarang belum ada 2 bulan.

Maka terjadi perdebatan diantara para hewan dan si rubah. Dan kedua belah pihak sama-sama bersikukuh bahwa mereka tidak salah. Akhirnya, mereka sepakat untuk membawa masalah tersebut pada si kancil. Berharap si kancil cukup bijak untuk memberi solusi yang tepat. Di lain tempat, si kancil sendiri sudah cukup memiliki banyak masalah yang harus diselesaikan. Termasuk masalah tentang si monyet yang sampai sekarang belum ditemukan. Tentu saja si kancil terkejut ketika melihat para hewan berbondong-bondong menemuinya bersama si rubah. “eh.. Ada apa ini? Kenapa kalian ramai begini?”. Tanya kancil penasaran.

dongeng kancil dan bulan kembar
Bayangan Bulan

Lalu si kelincipun maju untuk menjelaskan duduk masalahnya. Setelah mendengar penjelasan si kelinci, si kancil akhirnya mencoba untuk memberi solusi. “Jika yang dikatakan kelinci itu benar, maka si rubah harus segera menepati janjinya. Rubah, benarkah kamu berjanji demikian?”. Tanya si kancil memastikan. “Benar.. Aku berjanji pada mereka aku akan mengembalikan makanan mereka 2x lipat setelah ada 2 bulan”. Jawab rubah. “Nah.. Sudah jelas bukan, kini sudah sampai masa 2 bulan. Jadi kamu harus mengembalikan makanan mereka seperti janji mu”. Kata kancil. “Eh.. Mana bisa?? Aku kan janji jika sudah ada dua bulan, sekarang belum ada dua bulan”. Jawab rubah ngotot. “hmm.. Bagaimana bisa belum ada dua bulan, kata mereka sudah lebih dari dua bulan”. Tanya kancil semakin bingung. “Nah.. Sekarang kau tengok bulan di atas itu, ada berapa?”. Tanya rubah. “Cuma satu, lha dari dulu memang ada satukan?”. Jawab kancil. “lha itu kamu sudah tahu, bulan masih satu. Belum ada dua bulan. Jika sudah ada dua bulan, aku akan mengembalikan makanan mereka 2x lipat seperti janji ku. Benar apa betul?”. Kata rubah dengan entengnya.

Mendengar penjelasan rubah, si kancil terkejut. Karena apa yang di katakan rubah cukup masuk akal, dan tidak salah. Dia janji jika sudah ada dua bulan, dan hingga kini masih ada satu buah bulan. Tidak salah. Namun si kancil sedikit geram. Jika begitu kenyataanya, berarti si rubah sama saja menipu para hewan mentah-mentah. Kancil mencoba berfikir keras, namun karena terlalu banyak masalah yang sedang dia hadapi, otaknya belum mampu berfikir jernih. Namun jika dibiarkan, dia merasa kasihan pada para hewan-hewan yang sudah ditipu. Namun sekeras apapun dia berfikir, tak satupun ide dia dapatkan. Akhirnya, si kancil meminta waktu satu hari untuk menetapkan keputusan masalah tersebut. Dan dia meminta agar para hewan dan rubah kembali berkumpul di tempat itu besok malam.

Setelah rubah dan para hewan kembali ke rumah masing-masing, si kancil mencoba menyendiri untuk menenangkan diri. Suasana malam yang sunyi serta sinar bulan yang terang di angkasa, sedikit mampu membantu fikiranya agar lebih rileks. Dia berjalan ke arah sungai, berharap suara gemericik air mampu memberi ketenangan tersendiri. Namun sudah hampir satu jam lebih si kancil duduk di pinggir sungai, belum juga satu ide muncul di kepalanya. Karena merasa haus, akhirnya si kancil berjalan ke tepian sungai untuk minum air. Karena cahaya bulan yang terang, pantulan bayanganya sampai terlihat di air yang bening. Dan secara tak sengaja, dia menemukan sebuah solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalah rubah ini. Kini, si kancil dapat pulang dengan tenang dan tidur dengan nyenyak.

Pada malam berikutnya, semua hewan dan juga si rubah kembali berkumpul sebagaimana permintaan si kancil. Si rubah tampak santai tanpa rasa bersalah, dan dia cukup yakin bahwa si kancil tak akan menemukan solusi apapun. Setelah semua berkumpul, si kancil akhirnya datang dan berdiri di atas sebuh tunggak pohon laksana mimbar. “Wahai para hewan, malam ini aku akan memutuskan. Jadi harap tenang. Setelah ku timang-timang semalaman, si rubah ku nyatakan tidak bersalah. Karena dia berkata bahwa dia akan mengembalikan makanan kalian jika sudah ada dua bulan, bukan masa dua bulan. Dan seperti yang kita tahu, bulan itu hanya satu. Jadi selama bulan belum ada dua, maka si rubah tidak akan di tuntut apapun untuk mengembalikan makanan kalian”. Mendengar perkataan si kancil, para hewan menjadi ribut. Banyak yang tidak terima pada keputusan itu, dan ada juga yang menyalahkan kebodohan diri mereka sendiri. Bahkan ada juga yang marah-marah pada si kancil dan berkata bahwa kancil itu tidak secerdik dan sebijak yang di kabarkan. Sedangkan si rubah tampak menunjukan senyum kemenanganya.

Melihat reaksi tersebut, si kancil berusaha tetap tenang dan melanjutkan kata-katanya. “Tenang..!! Tenang..!! Aku belum selesai. Ku pastikan tak akan ada yang merasa dirugikan di sini. Dan asal kalian tahu, ternyata apa yang dikatakan rubah itu benar, dia tidak berbohong. Karena ketika semalam aku jalan-jalan, aku melihat ada dua bulan dengan kedua mataku sendiri. Jadi dengan begitu, si rubah harus mengembalikan makanan kalian 2x lipat seperti yang dia janjikan”. Sambung kancil. Mendengar hal itu, para hewan bersorak sorai, mereka sangat senang pada keputusan si kancil. Terkecuali si rubah. Dia marah-marah dan menuduh bahwa si kancil berbohong dan hanya mengada-ada. “Hai kancil.. Kau pasti bohong. Mana ada dua bulan? Aku masih melihat hanya ada satu bulan hingga sekarang. Buktinya sudah jelas, bulan hanya ada satu seperti yang kita lihat. Aku tidak terima keputusan ini, kau pasti ingin menipuku. Aku membutuhkan bukti dan harus melihatnya sendiri, baru aku akan percaya dan menerima keputusan mu”. Kata rubah sambil marah-marah.

Kancil hanya tersenyum kecil mihat tingkah si rubah. “Hmm.. Baik.. Aku akan membuktikan bahwa aku tidak bohong. Bukan hanya kamu, tapi semua hewan juga akan melihat bahwa dua bulan itu memang ada. Ayo, sekarang kalian semua ikut aku”. Ajak kancil. Akhirnya mereka mengikuti kancil menuju pinggir sungai. Dan mereka berhenti di sana, mencoba mencari dua bulan yang di katakan si kancil. Namun mereka tidak menemukan apapun kecuali pohon dan air saja. “hai cil.. mana dua bulan yang kau katakan? Aku tidak menemukan apapun di sini”. Tanya rubah.”Sabar dulu lah.. Kalian semua pasti akan melihatnya sendiri. Sekarang kalian ke tepi sungai, lalu lihat ke dalam air”. Pinta kancil. Merekapun menuruti kata si kancil, dan melihat ke dalam sungai.

 “Apa yang kalian lihat?”. Tanya kancil. “Kami hanya melihat air”. Jawab mereka. “Selain itu..?”. Tanya kancil lagi. “Bayangan kami sendiri karena cahaya bulan purnama yang cukup terang”. Jawab mereka lagi.”Nah.. Kalau begitu kalian harusnya juga bisa melihat bulan kan? Jadi, sekarang kalian melihat ada berapa bulan? Ada dua bulan kan?”. Kata kancil. Mendengar penjelasan si kancil, para hewan semakin gembira. Karena ternyata kini si kancil bisa membuktikan bahwa memang ada dua bulan. Satu di angkasa, satunya lagi di dalam air. Hanya satu hewan saja yang tertunduk lemas, dialah si rubah. Karena setelah malam itu, dia harus bekerja keras untuk mengembalikan semua makanan para hewan yang sudah diambilnya menjadi 2x lipat seperti yang dia janjikan. Dan dia kini mengakui, bahwa kancil telah mengalahkanya lagi.

 Story by: Muhammad Rifai 

Hikmah yang dapat dipetik: Terkadang, banyak orang cerdas namun menggunakan kecerdasanya untuk kepentingan pribadi. Seperti menipu dan mengambil hak orang lain. Namun sebagaimana yang kita tahu, setiap perbuatan akan mendatangkan akibat dikemudian hari. Baik atau buruk, semua ada balasanya. Oleh karena itu, gunakan kecerdasan dan ilmu mu agar bisa bermanfa’at bagi orang banyak. Jika kamu menanam kebaikan, kelak juga akan berbuah baik. 🙂

Dongeng KURA-KURA dan MONYET Rakus

Dongeng Kura-kura dan Monyet Rakus Setelah si Monyet yang nakal terjatuh pada cerita Dongeng si Kancil dan Monyet Nakal yang lalu, kini si Monyet berjalan terpincang-pincang. Dia juga harus berjalan dengan sembunyi-sembunyi agar tidak ditemukan oleh para hewan yang dibuatnya marah. Si monyet terlihat begitu memprihatinkan. Dia tak bisa berjalan cepat karena kakinya sakit. Dia harus berjalan tertatih-tatih, bahkan kadang dia juga menyeret kakinya ketika dia lelah berjalan pincang. Sudah beberapa lama si monyet berjalan, dia begitu lelah meski jalan yang dia tempuh belum begitu jauh. Perutnya juga mulai dilanda rasa lapar. Terdengar suara perutnya yang mulai keroncongan karena kelaparan. Namun si monyet tak bisa berbuat apa-apa, karena kakinya yang sakit membuatnya tak lagi bisa memanjat untuk mencari makan. Akhirnya si monyet memutuskan untuk beristirahat di bawah semak-semak.

Tak berapa lama ketika si monyet beristirahat sambil memegangi perutnya yang kelaparan, tiba-tiba si monyet mendengar sebuah lagu. Di lihatnya dari kejauhan, ternyata itu adalah seekor kura-kura yang sedang bernyanyi. Wajahnya terlihat sangat bahagia, dan lagi… Kuar-kura itu membawa banyak sekali makanan. Tentu saja si monyet menjadi sangat senang. Kini dia mulai berfikir bagaimana caranya agar dia bisa mendapatkan makanan itu dari kura-kura. Dengan kakinya yang pincang, tak mungkin si monyet dapat mencuri makanan itu. Maka si monyet akhirnya menemukan sebuah siasat untuk menipu si kura-kura.

Si monyet berpura-pura pingsan di tengah jalan yang akan dilalui kura-kura. Dia menunggu kura-kura itu lewat didekatnya. Si kura-kura yang tak tahu siasat si monyet, merasa sangat kaget ketika melihat si monyet yang pingsan di tengah jalan. Dia menjadi semakin iba ketika melihat kaki si monyet yang terluka. “wah.. Kasihan sekali monyet ini. Dia pasti terluka karena di buru oleh pemangsa, hingga dia pingsan di sini”. Batin kura-kura. Kura-kura lalu berusaha memvangunkan si monyet, dan ketika di bangunkan, si monyet berpura-pura baru sadar dari pingsanya.

monyet dan kura-kura
Monyet Rakus

“Ah.. Syukurlah itu kamu kura-kura. Ku kira tadi kau adalah serigala yang tadi mengejar dan mau memakan ku”. Kata monyet sambil pura-pura menangis. Melihat keadaan monyet yang sangat memprihatinkan, kura-kura menjadi semakin iba. “sudahlah monyet.. Jangan menangis lagi.. Bahaya sudah lewat, kau selamat sekarang. Jika saja ada yang bisa aku bantu, katakan saja. Aku akan dengan senang hati membantu mu”. Kata kura-kura yang baik itu dengan ramah. Mendengar tawaran itu, monyet tertawa dalam hati. Karena rencananya untuk memperdaya kura-kura sudah mulai berhasil.

“kura-kura.. Aku ingin pulang dan menemui saudara ku yang ada di pinggir sungai. Tapi kaki ku terluka, sehingga aku tak bisa berjalan. Bisakah kau membantu ku mengantarkan aku ke tepi sungai!”. Tanya monyet. “wah.. Tentu saja, kita sejalan. Aku juga sedang mau pulang ke rumah ku yang ada di pinggir sungai. Jika kau tak bisa berjalan, aku akan menggendong mu. Naiklah kau ke punggung ku”. Kata kura-kura baik itu. “tapi.. Bagaimana aku bisa naik? Di punggung mu sudah ada muatan, banyak sekali makanan kau bawa”. Kata monyet.

“Oooo.. Itu? Itu adalah makanan yang ku kumpulkan untuk persiapan musim kemarau nanti. Gampang.. Kau bisa membawa makanan itu selama kau berada di atas punggung ku. Tidak terlalu berat kok”. Kata kura-kura tanpa curiga.

Akhirnya.. Si monyet naik ke punggung kura-kura. Lalu kura-kura itu melanjutkan perjalananya sambil bernyanyi sepanjang jalan. Dia tidak curiga sedikitpun pada si monyet yang ada di atas punggungnya. Sedangkan si monyet tertawa dalam hati..”Dasar kura-kura bodoh.. Mau saja ku tipu. Enaknya hidup ku ini. Sudah dapat tumpangan gratis tanpa harus capek-capek berjalan. Masih pula disediakan makanan gratis tanpa harus mencari. Hahahaha..”. Fikir monyet. Sementara si kura-kura menggendong monyet di punggungnya, si monyet malah dengan lahapnya memakan semua makanan milik kura-kura di sepanjang perjalanan. Hingga lambat laun, makanan itu kini habis tak tersisa. Setelah merasa kenyang, monyet langsung tertidur di punggung kura-kura itu.

Sudah hampir setengah hari si kura-kura berjalan dengan menggendong si monyet. Kini dia mulai merasa lelah dan lapar. Maka dia berniat beristirahat sejenak untuk makan. Dia memiliki banyak makanan, maka dia juga berniat untuk membagi makananya pada monyet agar mereka bisa makan sama-sama. Namun betapa terkejutnya si kura-kura ketika dia mendongak ke atas. Dia tak lagi melihat makanan yang tadi dibawakan oleh si monyet. Yang ada malahan monyet yang tertidur pulas dengan perutnya yang buncit karena kekenyangan.

Kontan saja kura-kura menjadi sangat marah. Kini dia sadar bahwa dirinya telah tertipu oleh si monyet. Dia lalu mengguncang-guncang cangkangnya hingga si monyet yang tertidur di atasnya terjatuh. Kontan saja si monyet terbangun karena terkejut. “Dasar monyet tak tahu balas budi.. Sudah di tolong, malah begini balasan mu? Kau menipu ku dan memakan semua makanan yang ku kumpulkan dengan susah payah..”. Teriak kura-kura itu marah. Sadar bahwa tipuanya telah ketahuan, si monyet langsung berusaha lari menjauh. Dia berusaha dengan sekuat tenaga berlari dengan kaki yang pincang. Sementara kura-kura masih menggerutu dan memaki-maki si monyet karena jengkelnya.

Namun semua sudah terlanjur, si kura-kura hanya mampu menggerutu sepanjang jalan. Dia juga mulai menyalahkan dirinya sendiri yang kurang waspada hingga mudah tertipu. Tak sengaja, kura-kura bertemu si kancil di perjalanan. Melihat kura-kura yang sepertinya sedang ada masalah, si kancilpun bertanya pada kura-kura. Kura-kurapun menceritakan kejadian yang baru dia alami dan tentang semua makananya yang habis karena di tipu si monyet. Mendengar penjelasan itu, si kancil menjadi ikut merasa iba dan prihatin pada nasib kura-kura.

Namun sebagai teman, si kancil juga berusaha menghibur kura-kura. “Ya sudah.. Mau bagaimana lagi? Bukan kamu saja yang sudah di tipu, tapi sudah banyak hewan-hewan lain yang di buat kesal oleh monyet. Termasuk aku. Tapi sabarlah kura-kura..!! Tuhan itu maha adil, si monyet pasti akan mendapatkan balasan dari semua perbuatanya. Nah.. Dari pada kamu marah-marah terus, mending sekarang kamu ikut aku. Kita pergi ke acara ulang tahun si Tupai. Pasti nanti kau juga akan mendapat banyak makanan sebagai ganti makanan mu yang sudah hilang”. Bujuk kancil. Mendengar ajakan itu, kura-kura menjadi senang. Wajahnya kembali bahagia, dan dua sekawan itu berjalan beriringan menuju rumah Tupai dengan suka cita.

Story By: Muhammad Rifai 

Hikmah yang dapat Kita Petik: Terkadang.. Kebaikan hati yang kita miliki sering di gunakan oleh orang yang memiliki niyat buruk untuk menipu kita. Tapi bukan berarti kita harus berhenti untuk perduli. Karena itu bisa jadi ujian untuk kita. Untuk mengukur seberapa tulus kita dalam menolong, dan seberapa sabar kita dalam menghadapi ujian.