Dongeng Burung ELANG dan AYAM JAGO

Dongeng burung Elang dan Ayam Jago – Ketika si kancil tengah berjalan-jalan santai, si kancil melihat ayam jago yang sedang terengah-engah. Dia lalu menghampiri ayam jago itu, dan bertanya apa gerangan yang terjadi. Rupanya, si ayam jago baru saja lepas dari bahaya. Dia dan keluarganya baru saja dikejar-kejar oleh burung elang yang mau memangsa mereka.

Tentu saja si kancil kaget mendengar hal itu. Karena setahu si kancil, burung elang dan ayam jago adalah sahabat karib. Seakan tak percaya.. Kancil pun bertanya lebih lanjut.
“Ah.. Bagaimana mungkin hal itu terjadi? Bukanya kau dan elang adalah sahabat dekat? Bahkan dia sering menyelamatkan mu dari bahaya yang mengancam.” Tanya si kancil pada ayam jago.
“Itu memang benar cil.. Tapi kali ini berbeda ceritanya. Si elang sangat marah dan tidak bisa aku tawar lagi. Semua memang karena salahku yang sudah terlalu ceroboh”. Jawab ayam jago. Si ayam jago lalu menceritakan kisah beberapa hari yang lalu.

Waktu itu, si ayam jago sedang dikejar-kejar oleh seekor serigala. Dan pada waktu yang tepat, si elang datang menolong seperti biasa dan menghalau serigala itu hingga serigala itu pergi. Melihat elang yang selalu datang menolong, membuat hati ayam merasa tidak enak dan sedikit iri. Dia berandai-andai, jika saja dia bisa terbang seperti elang.. Tentu dia tidak harus repot melarikan diri setiap saat. Bahkan dia mungkin bisa menjadi pahlawan seperti si elang yang suka menolong.

Karena fikiran itu, si ayam menjadi risau. Dia tahu bahwa apa yang dia fikirkan hampir mustahil terjadi. Karena dari dahulu ayam memang dirakdirkan tidak bisa terbang. Melihat ayam yang termenung, membuat si elang menjadi penasaran. Apa masalah yang membuat sahabatnya itu terlihat sedih. Ayam pun menceritakan hayalanya jikalau saja dia bisa terbang seperti burung elang, pasti dia tidak harus selalu lari ketakutan jika ada bahaya.

Mendengar perkataan ayam, si burung elang itu hanya tersenyum. Lalu burung elang itu berkata, bahwa ada cara agar ayam juga bisa terbang. Yaitu dengan menjahit sayap mereka menggunakan jarum emas ajaib yang menjadi benda pusaka turun temurun bangsa elang. Mendengar hal itu, ayam jago menjadi sangat gembira. Dia lalu memohon dan merayu si elang, agar si elang mau meminjamkan jarum emas itu padanya. Karena rasa kasihan dan menghargai persahabatan, elang ahirnya meminjamkan jarum emas pada ayam jago.

“Tapi ingat wahai ayam jago.. Ini adalah jarum emas ajaib yang menjadi harta berharga bangsa elang. Jaga baik-baik jangan sampai hilang ataupun meminjamkanya pada siapapun. 3 hari lagi, aku akan kembali menemuimu untuk mengambilnya”. Pesan burung elang.
Namun karena sudah terlalu larut dengan kegembiraan, ayam jago tidak terlalu memperhatikan pesan di elang. Dia langsung menjahit sayapnya. Dan setiap dia selesai menjahit beberapa bulu, dia langsung mencoba terbang. Begitu seterusnya hingga akhirnya dia bisa terbang agak tinggi hingga di atas pagar.

Karena terlalu gembira dan bangga, dia ingin sekali memamerkan kemampuan terbangnya pada hewan-hewan lain meski masih belum terlalu tinggi. Dia menemui ayam betina yang tengah berkumpul dengan itik serta angsa. Lalu langsung saja dia terbang dan hinggap di atas pagar. Melihat hal itu, tentu saja ayam betina, itik, dan angsa menjadi kagum dan penasaran. Terutama ayam betina.

Dia lalu mendekati ayam jago dan berusaha merayu agar diberi tahu apa rahasianya. Karena termakan rayuan si ayam betina, ayam jago lupa pada pesan si elang. Dia menceritakan semua yang dia tahu tentang jarum emas ajaib. Bukan hanya itu.. Diapun mengakui bahwa jarum itu adalah jarum miliknya. Sehingga dia meminjamkan jarum itu pada semua hewan yang ada di situ.

Akhirnya, ayam betina, itik, serta angsa menggunkan jarum itu untuk menjahit sayap mereka. Sebagaimana si ayam jago, mereka juga tidak sabaran. Sehingga setiap menjahit beberapa helai bulu, mereka langsung mencobanya. Hanya si angsa saja yang sedikit lebih sabar dan menjahit bulu lebih banyak. Kegiatan itu mereka lakukan hingga matahari terbenam.

Namun bencana terjadi setelah itu. Jarum emas milik elang, hilang entah kemana. Setiap hewan yang menggunakanya ditanyai, tapi jawaban mereka sama. Bahwa menaruh jarum itu di atas tanah sehabis mereka gunakan. Ayam jago menjadi sangat bingung. Dia coba mengais dan mencakar-cakar tanah di area tempat itu. Berharap jarum emas itu dia temukan.

Ayam betina mencoba membantu, tapi hingga larut mereka tidak bisa menemukanya. Bahkan ketika waktu masih fajar.. Ayam jago sudah mulai bangun dan berkokok untuk membangunkan kawan-kawanya. Berharap mereka mau membantu mencari jarum emas itu. Namun hingga waktu elang datang untuk mengambil jarum emas itu, jarum emas ajaib itu belum juga ditemukan.

Mengetahui jarum emas yang dia pinjamkan telah hilang, elang menjadi sangat marah. Ayam jago sudah berusaha meminta ma’af, namun kemarahan si elang sudah tidak bisa dibendung lagi. Bukan hanya karena jarum itu hilang, namun juga karena ayam jago sudah melanggar janji yang dia pesankan. Akhirnya setelah hari itu elang berjanji.. Bahwa hingga bangsa ayam bisa mengembalikan jarum emas itu, maka bangsa elang akan memangsa semua anak-anak bangsa ayam. Dan begitulah ayam jago mengahiri ceritanya.

Mendengar penjelasan ayam jago, si kancil menjadi ikut perihatin. Namum “nasi sudah menjadi bubur”, semua memang karena kesalahan ayam jago itu sendiri. Dan kali ini, si kancil tidak bisa berbuat apa-apa selain memberi saran agar ayam jago belajar dari kejadian ini.

Kisah ini pula yang menjadi awal mula kenapa ayam jago selalu berkokok di pagi hari untuk membangunkan kita, dan kenapa elang menjadi musuh alami bagi ayam.

Story By: Muhammad Rifai

Hikmah: Terkadang sifat buru-buru dan tidak sabaran, dapat mendatangkan musibah yang cukup besar. Dan lagi, selalu jaga kepercayaan yang diberikan pada mu. Karena sekali kau melanggar, belum tentu kau akan dipercaya lagi.