Dongeng KURA-KURA dan MONYET Rakus

Dongeng Kura-kura dan Monyet Rakus Setelah si Monyet yang nakal terjatuh pada cerita Dongeng si Kancil dan Monyet Nakal yang lalu, kini si Monyet berjalan terpincang-pincang. Dia juga harus berjalan dengan sembunyi-sembunyi agar tidak ditemukan oleh para hewan yang dibuatnya marah. Si monyet terlihat begitu memprihatinkan. Dia tak bisa berjalan cepat karena kakinya sakit. Dia harus berjalan tertatih-tatih, bahkan kadang dia juga menyeret kakinya ketika dia lelah berjalan pincang. Sudah beberapa lama si monyet berjalan, dia begitu lelah meski jalan yang dia tempuh belum begitu jauh. Perutnya juga mulai dilanda rasa lapar. Terdengar suara perutnya yang mulai keroncongan karena kelaparan. Namun si monyet tak bisa berbuat apa-apa, karena kakinya yang sakit membuatnya tak lagi bisa memanjat untuk mencari makan. Akhirnya si monyet memutuskan untuk beristirahat di bawah semak-semak.

Tak berapa lama ketika si monyet beristirahat sambil memegangi perutnya yang kelaparan, tiba-tiba si monyet mendengar sebuah lagu. Di lihatnya dari kejauhan, ternyata itu adalah seekor kura-kura yang sedang bernyanyi. Wajahnya terlihat sangat bahagia, dan lagi… Kuar-kura itu membawa banyak sekali makanan. Tentu saja si monyet menjadi sangat senang. Kini dia mulai berfikir bagaimana caranya agar dia bisa mendapatkan makanan itu dari kura-kura. Dengan kakinya yang pincang, tak mungkin si monyet dapat mencuri makanan itu. Maka si monyet akhirnya menemukan sebuah siasat untuk menipu si kura-kura.

Si monyet berpura-pura pingsan di tengah jalan yang akan dilalui kura-kura. Dia menunggu kura-kura itu lewat didekatnya. Si kura-kura yang tak tahu siasat si monyet, merasa sangat kaget ketika melihat si monyet yang pingsan di tengah jalan. Dia menjadi semakin iba ketika melihat kaki si monyet yang terluka. “wah.. Kasihan sekali monyet ini. Dia pasti terluka karena di buru oleh pemangsa, hingga dia pingsan di sini”. Batin kura-kura. Kura-kura lalu berusaha memvangunkan si monyet, dan ketika di bangunkan, si monyet berpura-pura baru sadar dari pingsanya.

monyet dan kura-kura
Monyet Rakus

“Ah.. Syukurlah itu kamu kura-kura. Ku kira tadi kau adalah serigala yang tadi mengejar dan mau memakan ku”. Kata monyet sambil pura-pura menangis. Melihat keadaan monyet yang sangat memprihatinkan, kura-kura menjadi semakin iba. “sudahlah monyet.. Jangan menangis lagi.. Bahaya sudah lewat, kau selamat sekarang. Jika saja ada yang bisa aku bantu, katakan saja. Aku akan dengan senang hati membantu mu”. Kata kura-kura yang baik itu dengan ramah. Mendengar tawaran itu, monyet tertawa dalam hati. Karena rencananya untuk memperdaya kura-kura sudah mulai berhasil.

“kura-kura.. Aku ingin pulang dan menemui saudara ku yang ada di pinggir sungai. Tapi kaki ku terluka, sehingga aku tak bisa berjalan. Bisakah kau membantu ku mengantarkan aku ke tepi sungai!”. Tanya monyet. “wah.. Tentu saja, kita sejalan. Aku juga sedang mau pulang ke rumah ku yang ada di pinggir sungai. Jika kau tak bisa berjalan, aku akan menggendong mu. Naiklah kau ke punggung ku”. Kata kura-kura baik itu. “tapi.. Bagaimana aku bisa naik? Di punggung mu sudah ada muatan, banyak sekali makanan kau bawa”. Kata monyet.

“Oooo.. Itu? Itu adalah makanan yang ku kumpulkan untuk persiapan musim kemarau nanti. Gampang.. Kau bisa membawa makanan itu selama kau berada di atas punggung ku. Tidak terlalu berat kok”. Kata kura-kura tanpa curiga.

Akhirnya.. Si monyet naik ke punggung kura-kura. Lalu kura-kura itu melanjutkan perjalananya sambil bernyanyi sepanjang jalan. Dia tidak curiga sedikitpun pada si monyet yang ada di atas punggungnya. Sedangkan si monyet tertawa dalam hati..”Dasar kura-kura bodoh.. Mau saja ku tipu. Enaknya hidup ku ini. Sudah dapat tumpangan gratis tanpa harus capek-capek berjalan. Masih pula disediakan makanan gratis tanpa harus mencari. Hahahaha..”. Fikir monyet. Sementara si kura-kura menggendong monyet di punggungnya, si monyet malah dengan lahapnya memakan semua makanan milik kura-kura di sepanjang perjalanan. Hingga lambat laun, makanan itu kini habis tak tersisa. Setelah merasa kenyang, monyet langsung tertidur di punggung kura-kura itu.

Sudah hampir setengah hari si kura-kura berjalan dengan menggendong si monyet. Kini dia mulai merasa lelah dan lapar. Maka dia berniat beristirahat sejenak untuk makan. Dia memiliki banyak makanan, maka dia juga berniat untuk membagi makananya pada monyet agar mereka bisa makan sama-sama. Namun betapa terkejutnya si kura-kura ketika dia mendongak ke atas. Dia tak lagi melihat makanan yang tadi dibawakan oleh si monyet. Yang ada malahan monyet yang tertidur pulas dengan perutnya yang buncit karena kekenyangan.

Kontan saja kura-kura menjadi sangat marah. Kini dia sadar bahwa dirinya telah tertipu oleh si monyet. Dia lalu mengguncang-guncang cangkangnya hingga si monyet yang tertidur di atasnya terjatuh. Kontan saja si monyet terbangun karena terkejut. “Dasar monyet tak tahu balas budi.. Sudah di tolong, malah begini balasan mu? Kau menipu ku dan memakan semua makanan yang ku kumpulkan dengan susah payah..”. Teriak kura-kura itu marah. Sadar bahwa tipuanya telah ketahuan, si monyet langsung berusaha lari menjauh. Dia berusaha dengan sekuat tenaga berlari dengan kaki yang pincang. Sementara kura-kura masih menggerutu dan memaki-maki si monyet karena jengkelnya.

Namun semua sudah terlanjur, si kura-kura hanya mampu menggerutu sepanjang jalan. Dia juga mulai menyalahkan dirinya sendiri yang kurang waspada hingga mudah tertipu. Tak sengaja, kura-kura bertemu si kancil di perjalanan. Melihat kura-kura yang sepertinya sedang ada masalah, si kancilpun bertanya pada kura-kura. Kura-kurapun menceritakan kejadian yang baru dia alami dan tentang semua makananya yang habis karena di tipu si monyet. Mendengar penjelasan itu, si kancil menjadi ikut merasa iba dan prihatin pada nasib kura-kura.

Namun sebagai teman, si kancil juga berusaha menghibur kura-kura. “Ya sudah.. Mau bagaimana lagi? Bukan kamu saja yang sudah di tipu, tapi sudah banyak hewan-hewan lain yang di buat kesal oleh monyet. Termasuk aku. Tapi sabarlah kura-kura..!! Tuhan itu maha adil, si monyet pasti akan mendapatkan balasan dari semua perbuatanya. Nah.. Dari pada kamu marah-marah terus, mending sekarang kamu ikut aku. Kita pergi ke acara ulang tahun si Tupai. Pasti nanti kau juga akan mendapat banyak makanan sebagai ganti makanan mu yang sudah hilang”. Bujuk kancil. Mendengar ajakan itu, kura-kura menjadi senang. Wajahnya kembali bahagia, dan dua sekawan itu berjalan beriringan menuju rumah Tupai dengan suka cita.

Story By: Muhammad Rifai 

Hikmah yang dapat Kita Petik: Terkadang.. Kebaikan hati yang kita miliki sering di gunakan oleh orang yang memiliki niyat buruk untuk menipu kita. Tapi bukan berarti kita harus berhenti untuk perduli. Karena itu bisa jadi ujian untuk kita. Untuk mengukur seberapa tulus kita dalam menolong, dan seberapa sabar kita dalam menghadapi ujian.

Dongeng KANCIL dan MONYET Nakal

Dongeng kancil dan monyet NakalSetelah si kancil menolong burung elang pada dongeng si kancil menolong burung elang pada kisah yang lalu, si kancil kemudian pulang ke tengah hutan. Tapi ketika dalam perjalanan, si kancil tak sengaja bertemu dengan beberapa hewan yang sedang berkerumun. sepertinya baru saja ada masalah yang terjadi disini. Karena penasaran, kancil lalu menghampiri mereka untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Hai kawan-kawan, apa yang sedang terjadi? sepertinya kalian sedang ada masalah?”. Tanya kancil. “Iya cil.. kami memang sedang ada masalah. Beberapa hari ini, kami dibuat jengkel oleh ulah si monyet yang sangat nakal. Dia  menipu kami dan juga sering mencuri makanan kami. Kami menjadi sangatt resah. dan sekarang ini kami sedang berunding untuk mencari si monyet bersama-sama”. jawab para hewan itu. Mendengar jawaban itu, si kancil menjadi teringat perbuatan monyet yang juga sudah menipu burung elang. Lalu si kancil memutuskan untuk membantu mereka mencari monyet itu.

Setelah semua sepakat, mereka pun bersama-sama menuju tkediaman monyet. Setelah sampai di tempat monyet, mereka berteriak dan menyuruh si monyet untuk segera keluar. “Hai monyet..!! Keluar kau..!! kami datang untuk menuntut tanggung jawab mu. Kau harus bertanggung jawabkarena telah menipu kami dan mencuri makanan-makanan kami. Kau harus mau menggantinya..!!”. Teriak mereka. Mendengar ada suara gaduh di depan rumahnya, si monyet keluar dari sarangnya. Namun bukanya meminta ma’af, namun si monyet itu malah berdiri dengan angkuhnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.

“Oh.. ternyata ada segerombolan binatang bodoh yang mencari ku. Tadi aku dengar kalian meminta kau untuk bertanggung jawab? Untuk apa? Lagi pula itu bukan kesalahan ku. Itu murni kesalahan karena kebodohan kalian sehingga mudah di tipu. Hahahaha..”. Kata monyet itu meledek. Mendengar jawaban si monyet, tentu saja para hewan yang ada di situ menjadi sangat marah. Namun si monyet berada di atas pohon yang sangat tinggi, sedangkan para hewan itu tidak pandai memanjat. Sehingga yang bisa mereka lakukan hanyalah meneriaki si monyet dengan sumpah serapah.

kancil dan monyet
Monyet

“Apapun kata kalian, aku tak perduli. Jika aku tak mau mengganti makanan kalian, kalian mau apa? Lagipula hewan-hewan bodoh yang lamban seperti kalian, tak mungkin bisa  menangkap aku. Aku ini si monyet. Binatang yang sudah di kenal cukup lincah dan cerdik”. Kata si Monyet dengan sombongnya. Mendengar perkataan monyet yang sudah keluar batas, akhirnya si kancil maju dan ikut berbicara.

“Baiklah monyet.. mungkin memang benar itu semua bukan sepenuhnya kesalahan mu, tapi karena kebodohan kami hingga kami mudah kau tipu. Namun ini juga akan menjadi sebuah pelajaran bagi kami agar lebih berhati-hati. Mungkin memang sekarang ini kau menang. Kami tak bisa apa-apa dan tak bisa menangkap mu. Tapi itu semua bukan berarti karena kamu lebih pandai, lebih kuat, atau lebih lincah dari kami. Tapi karena saat ini pohon yang tinggi ini tengah melindungi nasib mu. Tapi ingat monyet, kau memiliki dua kaki. dan ada kalanya kau tak bisa naik ke atas pohon dan hanya bisa berjalan di tanah. Jika tiba saat itu, kami akan menangkap dan membuat perhitungan dengan mu. Untuk sekarang, silahkan nikmati kemenangan mu..”.  Kata si kancil kemudian mengajak para hewan untuk pergi dari tempat itu.

Melihat para hewan yang berusaha menangkapnya pergi dengan tangan kosong, si monyet menjadi merasa sangat geli. Dia merasa menang dan menertawakan para hewan itu dengan tawa yang terpingkal-pingkal. Bahkan hingga semua hewan itu sudah tidak lagi di situ, si monyet masih saja tertawa. “hahaha.. dasar para hewan bodoh. masak mereka mau mengancam ku? Aku ini monyet. Hewan yang di karuniai kecerdasan dan kegesitan, aku pandai memanjat dan melompat. Dari zaman dulu hingga nanti, akau akan tetap menjadi hewan yang pandai memanjat, mana mungkin kalian bisa menangkap ku? Mimipi dulu sana.. Hahahahahahaha..”. Kata Monyet dengan tertawa sepuas-puasnya.

Namun nasib tak ada yang tahu, kesialan menimpa si monyet. Ketika dia tertawa terpingkal-pingkal hingga meloncat-loncat di atas pohon, tiba-tiba kakinya tergelincir. dan akhirnya si monyet jatuh dari atas pohon yang cukup tinggi dan kakinya terkilir. Kini, si monyet merasakan kakinya sangat sakit. jangankan untuk memanjat, untuk berjalan saja dia terpincang-pincang. Kini, si monyet mulai menyadari kesalahanya. tak seharusnya dia berbuat sombong ketika di atas pohon tadi, sehingga membuat para hewan itu semakin marah.

Kini dia berada di atas tanah, dia tak lagi bisa memanjat. Jika para hewan itu tiba-tiba kembali, tentu dia tak mampu lagi berkata dengan nada mengejek seperti tadi. Dia pasti akan merasa takut, resah, dan hawatir seperti yang dia rasakan saat ini. Namun semua sudah terlambat, kini dia harus hidup dalam rasa was-was dan ketakutan jika saja nanti para hewan itu tahu dia tak lagi bisa memanjat. Maka yang ada di fikiranya saat ini adalah sembunyi dan mencari perlindungan yang bisa melindungi keselamatanya. Maka.. mungkin si harimau bisa menjadi pilihan yang tepat. Namun bagaimana caranya dia membujuk harimau agar mau membantunya? Mungkin bisa di fikirkan sambil jalan dan kita sambung pada dongeng berikutnya.

Story By: Muhammad Rifai  

Hikmah yang dapat Kita Petik: Sifat bodoh adalah hal yang menjadi kelemahan utama. karena kebodohan akan membuat kita mudah di tipu dan di perdaya. Dan juga.. posisi seseorang kadang membuat orang tersebut lupa dan menjadi sangat angkuh. Memiliki jabatan tinggi, atau menjadi kaya raya, kadang membuat kita berbuat semena-mena pada orang-orang di bawah kita karena kita merasa menang. Namun perlu kita ingat, dunia itu berputar. dan posisi kita akan selalu silih berganti, tak selamanya di atas ataupun di bawah.

Dongeng KANCIL Menolong Burung ELANG

Dongeng Kancil Menolong Burung Elang – Setelah masalah si kancil dengan para gajah pada dongeng Si kancil dan langit runtuh berhasil diselesaikan, kini si kancil bisa menikmati kembali hari-harinya dengan tenang. seperti pagi ini, si kancil sedang berkeliling di pinggir telaga, dia sedang asik mencari rumput-rumput muda yang baru tumbuh. Suasana yang sejuk dimusim penghujan, membuat kawasan itu tampak indah dan damai. Namun ketika si kancil tengah asik menikmati sarapan paginya, tiba-tiba dia mendengar suara rintihan yang terdengar lamat-lamat.

Merasa ada yang membutuhkan pertolongan, si kancil berusaha mencari dari mana arah suara itu. alangkah terkejutnya dia ketika melihat seekor burung elang yang tergeletak kedinginan di pinggir telaga. Terlihat kakinya seperti terikat pada sesuatu yang tenggelam di dasar telaga, sehingga dia tidak bisa terbang. Paruhnya dengan kuat menggigit sebuah ranting pohon sehingga dia tak bisa bersuara keras. elang itu sepertinya sudah cukup kelelahan.

Melihat hal itu, si kancil bergegas menolong burung elang itu. Dia membantu menarik tali yang mengikat kaki elang dengan giginya, dan ternyata tali itu di ikat pada sebuah batu yang cukup besar yang di tenggelamkan di telaga. Setelah batu itu berhasil mereka atarik ke pinggir telaga, elang itu melepaskan gigitan paruhnya dari ranting pohon. Tampaknya, elang itu sudah sangat kelelahan dan kelaparan. Keadaanya terlihat sangat memperihatinkan. Kancil lalu memanggil si tikus untuk membantu mengerat tali yang ada di kaki burung elang hingga putus. Setelah membiarkan si elang beristirahat sejenak, si kancil lalu mencoba mencari tahu apa yang sudah terjadi.

“Hai elang, apa yang sudah terjadi pada mu? Kenapa kau bisa terikat di telaga ini?”. tanya kancil. Dengan keadaan yang masih lemas karena kecapek’an, si elang menjawab.. “Aku telah di tipu oleh burung bangkai dan monyet cil.. Hampir saja aku celaka jika kau tidak datang menolong ku tadi. terimakasih cil”. Jawab elang. “Di tipu bagaimana maksud mu? Kalau kau tak keberatan, maukah kau menceritakan kejadianya?”. Tanya kancil lagi.

dongeng elang dan kancil
Burung Elang

Lalu elangpun menghela nafas panjang, kemudian memulai ceritanya.. Tadi sore ketika si elang sedang asik mencari ikan di telaga, dia mendapat ikan yang cukup banyak dan di taruh di pinggir telaga untuk dikumpulkan. Namun ketika dia sudah selesai dan ingin mengambil ikanya, ternyata di situ sudah ada si monyet dan burung pemakan bangkai yang sedang asik memakan ikan-ikan itu. Ketika si elang menegurnya, mereka malah berdalih bahwa ikan itu adalah ikan yang mereka temukan karena tidak ada pemiliknya. Elang dan kedua hewan itu akhirnya saling adu mulut, diantara kedua kelompok itu tak ada yang mau mengalah. Si elang hanya berusaha mempertahankan haknya, sedangkan si monyet dan burung pemakan bangkai tetap ngotot dengan pendirianya.

Akhirnya mereka sepakat untuk menentukan pemenangnya dengan sebuah lomba. Yaitu perlombaan adu kuat antara burung elang dan burung pemakan bangkai, sedangkan si monyet menjadi wasitnya.Aturanya cukup mudah, siapa yang mampu mengangkat batu lebih besar, dialah yang berhak atas ikan-ikan itu. Karena tubuh elang lebih besar dari pada si burung pemakan bangkai, elang sangat yakin bahwa dirinya akan menang. Pertama-tama si burung bangkai yang mengangkat batu dengan tali yang di ikat monyet di kakinya. Batu yang di angkat tak seberapa, sehingga si elang tertawa dalam hati dan muncul sedikit sifat sombongnya.

Ketika giliran si elang, dia ingin langsung menunjukan kekuatanya dan yakin bahwa dia akan menang. Dia langsung memilih batu yang cukup besar, dan menyuruh si monyet untuk mengikatkan ke kakinya dengan tali. setelah batu itu terikat dengan kuat, si elang mengepakan sayap-sayapnya yang kokoh dengan kuatnya, hingga batu yang cukup besar itu mampu dia angkat ke angkasa. Namun karena beban batu yang cukup berat, elang tak bisa terbang terlalu tinggi dan sayapnya juga menjadi cepat lelah. Namun sial, ketika sayapnya sudah mulai lelah, ternyata secara tak sadar dia sudah terbang di atas telaga. Dengan sekuat tenaga si elang terbang ke pinggir, namun ketika dia terjatuh ke pinggir telaga, ternyata batu itu masih berada di atas telaga dan jatuh ke dalamnya.

Sadar akan bahaya yang mengancamnya, dengan sigap si elang menggigit ranting yang ada di dekatnya agar dia tidak ikut terseret ke dasar telaga dan tenggelam. Dia berusaha minta tolong pada monyet dan burung bangkai untuk membantunya. Tapi mereka malah tertawa lalu meninggalkanya serta mambawa semua ikan-ikan yang ada. Sudah semalaman si elang berjuang mempertahankan hidupnya agar tidak tenggelam, hingga akhirnya si kancil datang menolongnya.

Mendengar penjelasan si elang, si kancil menjadi merasa iba. Ternyata si elang di tipu oleh burung bangkai dan monyet yang sudah bersekongkol mengambil semua ikanya. Namun si kancil juga menasehati si elang, bahwa kecerobohanya karena sifat sombong yang dimiliki oleh si elang sehingga dia mudah tertipu. Si elang menyadari kesalahanya, dan berjanji tidak akan menyombongkan kekuatanya lagi. Setelah tubuhnya sudah pulih, si elang mengucapkan terimakasih pada si kancil dan berpamitan untuk pulang. Elang berjanji, suatu saat pasti akan membantu si kancil ketika si kancil dalam kesulitan sebagai balas budi.

Story By: Muhammad Rifai

Hikmah yang dapat di Petik: Terkadang kemampuan kita dalam melakukan sesuatu dan rasa percaya diri yang berlebihan, dapat membuat kita bertindak ceroboh. Sehingga hal tersebut dapat di manfa’atkan oleh orang-orang yang memiliki niat tidak baik untuk mencelakai kita. alangkah baiknya, kita selalu rendah hati dan waspada, terutama mewaspadai kesombongan yang terkadang tak kita sadari kedatanganya.

Cerita si KANCIL dan LANGIT RUNTUH

Cerita si Kancil dan Langit RuntuhSetelah si kancil berhasil memberi pelajaran pada si Rubah dan mengetahui kebenaran cerita dari si Rubah tentang ulah para gajah pada kisah Dongeng Tupai dan Rubah Sombong yang lalu, kini giliran si kancil ingin membalas kelicikan para gajah. Kancil mencoba mencari cara agar para gajah kapok dan tidak lagi berbuat ulah. akhirnya si kancil menyusun rencana dengan bantuan kawan-kawanya. Dia berniat memberi pelajaran pada para gajah bahwa kesombongan mereka bisa berakibat buruk bagi diri mereka sendiri.

Akhirnya si kancil mengumpulkan semua kawan-kawanya, dia memberitahukan apa rencana yang akan dilakukan untuk menjebak para gajah. “Nah teman-teman, sekarang aku akan membagi kalian menjadi beberapa kelompok. Aku membutuhkan hewan-hewan yang ahli menggali tanah bersama ku. Sedangkan hewan-hewan yang lain, aku meminta kalian untuk menyebarkan sebuah kabar hingga para gajah tahu”. Kata kancil.

“Kabar apa yang harus kami sebarkan cil?”. Tanya mereka. Lalu dengan tersenyum kancil menjawab..”Aku ingin kalian menyebar kabar bahwa dalam waktu dekat langit akan segera runtuh, dan para hewan yang ingin selamat di suruh si kancil untuk berlindung di pengungsian yang telah dibuat”. Setelah mendengar jawaban kancil, para burung dan semua hewan yang tidak bisa menggali pergi ke seluruh pelosok hutan untuk menyebarkan kabar itu. Mereka tak butuh bertanya apa yang sebenarnya direncanakan si kancil, karena mereka percaya si kancil memiliki tujuan yang tidak mereka tahu.

Dalam waktu sekejab, kabar tentang langit yang akan runtuh sudah tersebar, sementara si kancil dan para hewan yang pintar menggali, sedang menggali sebuah lubang yang cukup besar di tengah hutan. kontan saja hewan-hewan yang mendengar kabar langit akan runtuh merasa panik, apa lagi kabar itu sudah ramai dibicarakan dan terasa sangat menyaksikan. Para hewan yang mengetahui kabar itu, segera menuju ke tempat pengungsian yang telah ditetapkan oleh si kancil. Mereka datang beramai-ramai untuk mengungsi dari bencana langit yang katanya akan segera runtuh.

Akhirnya kabar itu sampai juga pada para gajah. Mereke juga ikut panik dan hawatir jika kabar itu benar adanya. Merekapun akhirnya juga pergi ke tempat pengungsian yang telah di tetapkan si kancil. Meski mereka masih dendam pada si kancil, namun mereka tetap butuh tempat untuk mengungsi. Namun sial, ketika para gajah telah sampai di lubang pengungsian, lubang itu telah penuh dengan hewan-hewan, tak terkecuali si kancil juga sudah ada di lubang itu.

“Wah.. wah.. wah.. ma’af ya gajah.. Lubang pengungsian ini sudah penuh. Jadi silahkan kalian cari tempat lain atau menggali lubang sendiri..”. Kata kancil. “Ah.. mana bisa begitu cil? Kami juga berhak menempati lubang itu”. Kata para gajah agak jengkel. “Tapi kalian lihat sendiri, lubang ini sudah penuh. tak mungkin bisa muat jika kalian semua ikut”. Kata kancil lagi.

dongeng gajah dan kancil
Gajah dan Kancil

“Ah.. masa bodoh dengan kalian.. mau tak mau, kalian semua harus keluar. Ini adalah kawasan para gajah. Jadi kami lebih berhak menempati lubang ini. Lihat jumlah kami yang banyak dan tubuh kami yang besar, jika kalian tak mau menurut, maka kami akan mengubur kalian semua di sini biar kita sama-sama celaka”. Kata para gajah. “Wah.. kalian sangat egois gajah.. Bagaimana bisa kalian mengakui tempat ini adalah tempat kalian? lagipula, kami yang membuat lubang ini, kenapa kalian malah mengusir kami?”. Tanya kancil di ikuti para hewan yang juga ikut protes.

“Kami tak perduli.. sekarang pilihan kalian cuma dua.. keluar dari lubang kami, atau kami kubur kalian semua”. Kata gajah dengan angkuhnya. Kontan saja lubang itu dipenuhi suara hewan yang saling berbicara satu sama lain. Mereka sangat mencela sifat gajah yang terlalu egois dan ingin menang sendiri. Bahkan beberapa hewan yang masih anak-anak mulai menangis karena takut dan panik. Namun si kancil mencoba menenangkan mereka.

“Tenamg kawan-kawan.. sebaiknya kita ikuti saja kemauan para gajah ini dari pada kita di kubur di sini oleh para gajah. Kita keluar saja dan biarkan mereka menempati lubang ini”. Kata kancil. Akhirnya para hewan mengikuti nasehat si kancil, mereka saling bantu membantu untuk keluar dari lubang karena lubang itu dibuat cukup dalam. Setelah semua hewan berhasil keluar, para gajah dengan sombongnya menertawakan mereka lalu masuk ke dalam lubang. Setelah semua gajah masuk ke dalam lubang, seekor gajah yang paling besar berkata dengan sombongnya”Hahahahaha.. Dasar hewan lemah. Lihat apa kalian? Ini sekarang sudah menjadi lubang milik kami. Sebaiknya kalian sekarang cepat-cepat membuat lubang yang baru atau mencari tempat sembunyi yang lain sebelum langit runtuh sebentar lagi. Sementara kami akan bersantai dan berlindung di sini. Hahahahaha..”. Kata gajah itu.

Namun para hewan hanya bisa diam, mereka panik dan tidak tahu apa yang harus di lakukan. Namun beberapa saat kemudian, si kancil malah tertawa. di ikuti tawa teman-teman si kancil yang sudah tahu rencana si kanci. Para hewan yang tidak tahu rencana si kancil serta para gajah kini menjadi bingung. Kenapa si kancil malah tertawa di saat seperti ini? “Hai cil.. ternyata kamu sudah sangat panik dan ketakutan hingga menjadi gila ya? Sudah tahu bahaya sebentar lagi datang, malah tertawa. Hahahaha”. Kata seekor gajah lagi. “Hahahaha.. Hmm, sebenarnya aku tertawa karena kasihan pada nasib kalian”. Jawab kancil. “kasian pada kami? untuk apa? sekarang lihat siapa yang di atas dan siapa yang ada di dalam lubang? Seharusnya kamu cepat pergi menggali lubang lain jika ingin selamat”. Jawab para gajah masih dengan sifat angkuhnya.

“Justru karena kalian yang ada di bawah sehingga aku kasihan pada kalian. Apa kalian tahu bahwa sebenarnya kabar tentang langit yang akan runtuh itu bohong? Itu karena aku yang membuat kabar itu. Aku memang sengaja mau menjebak gajah seperti kalian, karena kalian sangat sombong dan susah untuk disadarkan. Bahkan kemarin kalian menyuruh rubah untuk mencelakai aku. Sekarang siap yang ada di dalam lubang? Tadi kalian bilang mau mengubur kami semua kan? tentu saja hal itu membuat semua hewan-hewan di sini marah karena kesombongan dan sifat egois kalian. sekarang kami bisa leluasa mengubur kalian”. Jawab kancil menjelaskan.

Mendengar penjelasan dari si kancil, kontan saja para gajah menjadi panik. wajah mereka pucat pasi karena ketakutan. Apa lagi melihat muka hewan-hewan yang ada di situ tampak marah berkat perlakuan para gajah barusan. Beberapa gajah yang panik berusaha untuk segera keluar dari lubang, tapi karena lubang yang dalam mereka tidak bisa memanjat dan akhirnya jatuh lagi ke dalam lubang. sementara itu para hewan berkeliling di bibir lubang dengan tampang yang marah.

Merasa dirinya terancam bahaya, para gajah akhirnya ketakutan dan saling mengeluh satu sama lain. “Cil.. ampuni kami cil.. kami memang salah cil. Tolong jangan kubur kami. Kami berjanji kami akan memperbaiki sifait-sifat buruk kami. Ma’af cil, kami mengaku salah. Tolong biarkan kami keluar cil.. Kami mengaku salah..”. Kata para gajah memelas. “Aku akan mema’afkan kalian. tapi kalian harus janji akan berubah menjadi lebih baik dan tidak berbuat ulah lagi. semua hewan-hewan yang ada di sini menjadi saksinya”. Kata kancil. “Iya cil.. kami berjanji tak akan berbuat jahat lagi.. kami mengaku salah. Dan semua hewan yang ada di sini, kami minta ma’af. tolong ma’afkan sifat egois kami. Kami akan berusaha menjadi lebih baik”. Kata para gajah sambil menangis karena ketakutan.

Akhirnya, si kancil dan para hewan sepakat untuk mema’afkan para gajah. Mereka berharap para gajah mau menepati janji mereka. Lalu si kancil meminta tolong  pada para hewan yang pandai menggali untuk membuat tangga dari dasar lubang. dan para gajah pun akhirnya bisa keluar tanpa kurang suatu apapun. Dengan rasa malu dan penyesalan, para gajah berpamitan untuk pergi ke padang rumput di pinggir hutan. semenjak saat itu, para gajah lebih suka mencari makan di tempat terbuka. dan jarang masuk ke dalam hutan dan mengganggu hewan-hewan yang lain.

Story By: Muhammad Rifai

Hikamh yang Bisa kita Petik: Terkadang, memiliki banyak teman mampu membuat kita lupa diri dan merasa paling kuat karena jumlah yang banyak. bahkan kadang kita tak memperhitungkan salah atau tidaknya perbuatan kita, karena kita merasa berani berkat teman-teman yang siap membantu dan mendukung kita. Tapi alangkah baiknya, kita berteman dan bergaul untuk kebaikan. Bukan untuk adu kuat dan merasa paling menang, karena itu perbuatan pengecut yang tidak baik. Dan setiap perbuatan buruk, pasti akan mendapat balasan yang sama dikemudian hari.