Dongeng KANCIL dan BURUNG GAGAK yang ANGKUH

Dongeng kancil dan burung gagak yang angkuh – Cerita tentang kecerdikan dan kebijaksanaan si kancil, memang bisa dijadikan pelajaran untuk menyadari tentang sebab akibat. Sebagaimana yang pernah saya tulis pada kisah dongeng si kancil dan kura-kura yang suka mengeluh sebelumnya, kita bisa mengambil banyak pelajaran. Oleh karena itu, kali ini kita akan kembali belajar dari kisah si kancil dan burung gagak yang angkuh. Saya mendapat inspirasi untuk menulis kisah ini, ketika saya melihat cermin. Dan berikut ini kisah yang telah saya tulis, semoga bisa kita ambil hikmahnya.
Dahulu kala, burung gagak memiliki bulu yang sangat indah dan halus. Bulunya berwarna putih mengkilap, sedangkan burung bangau memiliki bulu berwarna coklat abu-abu dan sangat buruk. Namun, kelebihan yang dimiliki burung gagak, justru membuat sifatnya sangat angkuh. Dia sering merendahkan dan mengejek hewan lain, dan sering membanggakan bulunya yang indah dengan niyat pamer. Burung gagak merasa bahwa tak ada yang selevel denganya, sehingga dia sering memandang rendah hewan lain. Tak jarang kata-katanya terdengar ketus, tentu saja hal tersebut membuat hewan-hewan lain membencinya.

Pada suatu hari ketika si kancil sedang berkunjung ke tempat katak sahabatnya, dia mendengar kabar bahwa si gagak tengah ditimpa musibah. Bulunya yang dulu putih mengkilap kini berubah hitam legam dan sangat buruk. Kini, si gagak malu untuk keluar dari sarangnya. Dan hanya bisa menangis setiap hari meratapi nasib yang menimpanya. “Kanapa tak ada hewan yang coba datang dan membantunya? Siapa tahu kalian bisa mengetahui masalahnya dan membantunya mencari solusi”. Tanya kancil pada katak. “Ah.. Buat apa kami membantu dia? Biarkan saja, mungkin dia tengah mendapat karma karena kesombongan dan keangkuhanya. Toh selama ini dia selalu mengejek kami, dan tak pernah sekalipun bersikap baik pada hewan-hewan lain”. Kata katak.

Mendengar jawaban katak, kancil hanya bisa diam. Dia tidak bisa menyalahkan jawaban katak tersebut, karena selama ini sifat gagak memang sangat keterlaluan. Namun dalam hati kecilnya, si kancil juga merasa kasihan dengan gagak. Mungkin dengan adanya musibah ini, kancil bisa mencari cara untuk menyadarkan gagak dari sifat-sifat buruknya selama ini. “Baiklah kalau begitu, kau memang benar. Tak ada alasan bagi mu untuk membantunya, karena semua hal yang dialami gagak saat ini adalah hasil dari perbuatanya sendiri. Tapi, aku akan coba menemuinya. Siapa tahu dengan adanya musibah ini, aku bisa menuntunya agar kembali sadar dan memperbaiki semua sifat-sifat buruknya di masa lalu. Aku pamit dulu kawan, aku akan menemui gagak sebentar”. Kata kancil berpamitan.

Si kancilpun berjalan menuju sarang gagak yang ada disebuah pohon besar. Dari bawah pohon, si kancil mendengar suara tangisan gagak yang memilukan. Sehingga membuat si kancil merasa sangat iba dibuatnya. “Gagak.. Hai gagak..!”. Teriak kancil dari bawah pohon. Mendengar ada suara yang memanggilnya, si gagak menengok dari atas sarang. ” Ada apa kancil? Apa kau ke sini untuk mengejek dan menertawakan musibah yang menimpa ku seperti para hewan-hewan lain?”. Tanya gagak dengan nada ketus. “Oh.. Tidak, justru sebaliknya. Aku mendengar kau sedang dapat musibah, siapa tahu aku bisa membantu. Turunlah sebentar, kita bicara di bawah sini”. Pinta kancil dengan lembut.

Mendengar jawaban kancil yang ramah, membuat hati gagak merasa memiliki harapan baru. Diapun turun dan berharap kancil bisa menemukan solusi untuk masalahnya. “Nah.. Begitu dong..!! Sekarang ceritakan pada ku, sebenarnya apa yang terjadi?”. Tanya kancil. “Kau masih bertanya apa yang terjadi? Lihat aku sekarang..!! Bulu ku yang dulu putih dan indah kini berubah hitam legam, aku terlihat buruk..”. Kata gagak masih dengan nada ketus. “Ya.. Aku tahu.. Yang akau tanyakan, bagaimana bisa bulu mu tiba-tiba berubah begini?”. Tanya kancil masih bersikap ramah.
“Semua karena ulah binatang-binatang tak berguna di hutan ini, mereka hanya iri melihat keindahan bulu ku. Aku memiliki serbuk ajaib yang tiap hari ku gunakan untuk membersihkan bulu ku agar selalu tampak indah, namun pada suatu hari si bangau yang licik mencuri serbuk itu. Dia juga melempar ku dengan serbuk arang, sehingga bulu ku yang indah kini jadi hitam”. Cerita gagak. “Oooo.. Bukankah yang mencuri serbuk mu itu si bangau, kenapa kau menyalahkan semua hewan-hewan di hutan ini?”. Tanya si kancil. “Ya tentu saja.. Pasti mereka memang sudah merencanakanya. Pasti mereka semua sekongkol untuk mencurinya..”. Jawab gagak dengan nada marah.

“Sekongkol? Dari mana kau tahu jika mereka sekongkol? Dari mana kau dapat kesimpulan itu? Apa kau punya bukti?”. Tanya kancil menyelidik. “Tentu saja, buktinya sudah jelas. Ketika serbuk ku di curi, tak ada satu hewanpun yang mau membantuku untuk mencarinya. Mereka malah mengejek penampilan ku sekarang yang buruk, mereka menertawakan musibah yang menimpa ku. Bukankah itu bukti yang jelas jika mereka memang sekongkol?”. Kata gagak. “Hmm.. Kau mengambil kesimpulan dan menuduh mereka berdasarkan sikap mereka terhadap mu. Kau hanya mencari kambing hitam, apa kau sudah mencari tahu kesalahan mu sendiri sehingga mereka tidak mau membentu mu?”. Tanya kancil. “Kesalahan ku? Memangnya aku salah apa pada mereka? Aku tak pernah mencuri milik mereka. Mereka saja yang iri terhadap ku..”. Jawab gagak masih ngotot.

“Hmm.. Baiklah jika memang itu menurut mu. Ayo.. Ikutlah aku sebentar.. Akan ku tunjukan sesuatu..”. Ajak kancil. Kancilpun mengajak gagak menuju sebuah kolam yang cukup jernih airnya, sehingga kolam itu bisa memantulkan bayangan mereka ibarat sebuah cermin. “Hai cil.. Untuk apa kau membawa ku ke kolam? Apa kau berniat menyuruh ku mandi? Tanpa serbuk ajaib, bulu ku tak akan berubah. Aku sudah mencobanya berkali-kali”. Kata gagak. “Oh.. Bukan itu maksud ku.. Coba kau kesini sebentar, lalu berdiri di pinggir kolam ini. Lalu lihat ke arah kolam..”. Pinta kancil.

kancil dan gagak
burung gagak

Gagak yang penasaran dengan rencana si kancil, hanya bisa menurut. Diapun berjalan menuju tepi kolam. “Apa yang kau lihat?”. Tanya kancil. “Aku melihat diri ku”. Jawab gagak. “Bagaimana bentuknya?”. Tanya kancil lagi. “Sangat buruk.. Hitam dan menakutkan.. Bahkan aku sendiri muak dibuatnya”. Jawab gagak. “Coba kau marah pada bayangan mu itu..!! Apa yang kau lihat?”. Tanya kancil lagi. “Bayangan itu meniru ku, dia juga menunjukan wajah marah seperti aku”. Jawab gagak.

 “Baiklah.. Sekarang coba kau tersenyum pada bayangan mu. Apa yang kau lihat?”. Tanya kancil lagi. “Bayangan itu juga tersenyum pada ku.. Sebagaimana senyum ku..”. Jawab gagak lagi. “Nah.. Sekarang apa kau sudah sadar?”. Tanya kancil lagi. “Sadar? Apa maksut mu?”. Tanya gagak tak mengerti. Si kancil menarik nafas panjang, lalu dengan tersenyum kancil berkata.. “Kehidupan itu tak ubahnya kau dan bayangan mu itu. Kua lihat kan? Bayangan mu meniru apapun yang kau lakukan, begitupula kehidupan. Semua imbal balik dari perbuatan kita. Jika kau angkuh, sombong, suka mengejek, suka marah, dan marah pada hewan lain, mereka juga akan ganti membenci mu dan melakukan hal yang sama terhadap mu. Berbeda jika kau mau bersikap ramah, rendah hati, murah senyum, dan suka membantu sesama mu, maka merekapun akan sangat senang pada mu, ramah, tersenyum, dan akan membantu mu ketika kau sedang dilanda kesulitan. Coa sekarang kau ingat-ingat, selama ini mana yang lebih banyak kau lakukan? Marah-marah? Apa bersikap ramah? Maka itu adalah jawaban dari apa yang kau alami saat ini”. Kata kancil menjelaskan panjang lebar.

Mendengar penjelasan kancil, burung gagak menjadi terhenyak. Dia mulai menyadari, selama ini dia memang tak pernah sedikitpun bersikap baik, apalagi menolong hewan lain. Maka pantas saja kini tak ada yang mau menolongnya, dan kini diapun di ejek sebagaimana dulu dia mengejek mereka. Semua adalah imbal balik dari apa yang dia lakukan sendiri selama ini. Sadar akan hal itu, si gagak hanya bisa terdiam sambil tertunduk malu. Selama ini dia sibuk menyalahkan orang lain atas apa yang menimpanya, tapi dia sendiri tak menyadari kesalahanya sendiri. Gagak sangat menyesal.
“Gagak sahabat ku.. Mulai sekarang ubahlah sikap mu. Mungkin bulu mu memang tak akan bisa kembali menjadi indah, tapi penampilan fisik bukanlah hal utama. Mulai sekarang, jadikan hati mu lebih indah dari masa lalu mu. Dan aku yakin, keindahan hati mu akan lebih membuat hewan lain menyayangi mu dari pada penampilan fisik mu. Silahkan ku fikir-fikir dulu.. Aku pamit ya..”. Kata kacil sambil berlalu pergi.

Kata-kata kancil seolah menyadarkan gagak dari semua keburukanya di masa lalu. Kini, dia mulai sadar, bahwa sifatnya memang buruk, itulah alasan yang membuat banyak hewan-hewan membencinya. Oleh karena itu, dia ingin berubah. Karena dia percaya dan yakin pada apa yang disampaikan oleh si kancil. Bahwa hati yang indah akan lebih berharga daripada keindahan fisik. Tak apa buruk rupa, asal baik hati dan indah sifatnya, itu akan lebih baik.

Story By: Muhammad Rifai

Hikmah yang dapat kita petik: Hidup itu adalah wujud dari imbal balik setiap perbuatan kita. Jika kita berbuat buruk pada sesama, maka kita juga akan mendapat hal yang sama. Jika kita bersikap baik pada sesama, mereka juga akan bersikap hal yang sama pada kita. Karena hidup itu, ibarat pantulan cermin.

Dikirim melalui BlackBerry® dari 3 – Jaringan GSM-Mu

Dongeng KANCIL dan KURA-KURA yang Suka Mengeluh

Dongeng kancil dan kura-kura yang suka mengeluh – Dongeng kancil berlanjut pada kisah selanjutnya, begitu banyak petualangan yang sudah dilalui, namun petualangan di depan akan jauh lebih banyak lagi. Meski kancil sendiri tak sadar akan hal itu. Para gajah yang pernah dikalahkan si kancil pada kisah kancil, tikus, dan gajah, sedang menunggu waktu untuk membalas si kancil. Belum lagi harimau yang masih berusaha menunggu kesempatan untuk menangkap si kancil, dan serigala ompong yang ingin sekali menuntut balas. Perlahan tapi pasti, banyak bahaya yang menanti kancil di masa depan. Namun mungkin kita bisa membaca kisahnya pada cerita yang lain. Kali ini, kita berkunjung dulu ke hutan Eutopia yang mengalami masa damai.

Pada suatu hari, si kancil tengah asik mencari makan. Dia mencari rumput-rumput muda yang banyak tumbuh di kala musim semi. Ketika si kancil tengah asik berlari ke sana ke mari mencari rumput segar, dia mendengar ada suara tangisan. Dari kejauhan lamat-lamat si kancil mendengar keluhan di sela-sela tangisan itu. Sepertinya hewan itu tengah meratapi nasibnya. Kancilpun berjalan menuju suara itu. Dilihatnya, ada seekor kura-kura yang tengah menangis di tepi kolam.

“Hai kura-kura, kenapa kau menangis? Apa kau sedang ada masalah?”. Tanya si kancil. Melihat kehadiran si kancil, kura-kura itupun menyeka air matanya. Lalu kura-kura itu menjawab..” Oh kancil.. Betapa malang hidup ku ini. Seolah dunia ini tak adil pada ku. Lihat kaki ku yang pendek, cangkang ku yang besar, dan tubuh ku yang berat. Setiap hari aku harus berjalan dengan memanggul rumah ku yang berat kemanapun aku berjalan. Belum lagi kaki ku yang pendek, membuat ku tak bisa berlari. Aku hanya bisa berjalan merambat pelan-pelan, sehingga aku tak bisa bergegas. Seperti ketika aku diundang ke acara ulang tahun si tupai kemarin. Para hewan sudah bergegas, berjalan dan berlari cepat. Sedangkan aku.. Aku sudah berusaha berlari secepat yang aku bisa. Namun ketika sampai disana, pesta telah usai dan hidangan telah habis. Aku tak mendapat apapun. Dunia memang tak adil.. Huuu..huuuu..huuuu..”. Kata kura-kura kembali menangis.

dongeng kancil dan kura-kura
kura-kura

“Hmmm.. Sudahlah kura-kura..!! Jangan kebanyakan mengeluh. Tuhan itu adil, dia menciptakan kita dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Termasuk aku dan kamu..”. Kata kancil. “Jika itu kau, mungkin memang benar. Kau dikaruniai banyak kelebihan cil. Kau lincah, cerdik, pandai, dan bisa berlari sangat cepat. Kau punya banyak kelebihan. Lalu, lihat aku..!! Aku tak memiliki kelebihan apapun. Yang ku rasa hanyalah banyaknya kekurangan dan beban hidup yang ditimpakan pada ku. Aku tak punya kelebihan apapun.. Kau lihat sendirikan..”. Kata kura-kura dengan nada putus asa.

Mendengar jawaban itu, kancil hanya tersenyum. Dia ingin menyadarkan kura-kura bahwa banyak sekali kelebihan yang tak dia sadari. “Hai kura-kura.. Apakah benar kau merasa tak memiliki kelebihan sama sekali?”. Tanya kancil. “Tentu saja.. Aku lebih tahu apa yang ku miliki dan kehidupan macam apa yang aku jalani. Aku hanya hewan lambat yang tak berguna..”. Keluh kura-kura. “Ooo.. Begitu..? Hai kura-kura.. Jika aku dan kamu lomba renang, kira-kira kau pasti kalah dengan ku..”. Kata kancil. Mendengar perkataan kancil, kura-kura tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. “Hahahaha.. Apa kau sedang mengigau cil? Lihat diri mu..!! Kau mungkin memang bisa berlari cepat di darat, tapi aku tahu kau tak bisa berenang. Sedangkan aku, aku jago dalam berenang. Belajar dulu seumur hidup mungkin kau baru bisa berenang, tapi tetap tak ada jaminan kau bisa mengalahkan aku..”. Kata kura-kura sedikit mengejek.

Mendengar jawaban itu, si kancil malah tidak merasa marah. Si kancil malah tersenyum, seperti ada sesuatu yang dia fikirkan. “Oooo.. Begitu.. Hmm, mungkin benar. Oh iya, aku ada pertanyaan satu lagi. Jika tiba-tiba ada serigala datang, apa yang akan kau lakukan. Kalau aku, pasti akan langsung lari. Sedangkan kau, apa yang bisa kau perbuat? Lari mu lambat, pasti juga bisa dengan mudah terkejar”. Tanya kancil lagi. “Hahahaha.. Lagi-lagi kau bersikap konyol cil.. Kau memang penakut, bisa mu cuma lari. Sedangkan aku, aku tak takut dengan serigala. Lihat.. Kulit ku sangat keras. Jika ada bahaya, aku tak harus repot berlari seperti mu. Kau lihat rumah ku yang keras ini? Cakar harimau ataupun gigi serigala tak akan mungkin bisa menembusnya. Jika ada bahaya datang, aku hanya tinggal masuk ke dalam rumah ku yang nyaman. Menunggu hingga bahaya berlalu. Rumah ku sangat aman dan juga nyaman. Dia melindungi aku dari hujan dan panas, sehingga aku tak harus repot-repot mencari rumah atau membuay sarang”. Jawab kura-kura dengan bangganya.

Mendengar itu, si kancil tersenyum. Lalu si kancil berkata.. “Selamat kura-kura.. Kini kau telah menyadari kelebihan mu yang selama ini lupa kau syukuri. Terkadang, apa yang bisa dilakukan hewan lain kau tak bisa melakukanya. Namun ada juga hal yang tak dimiliki hewan lain, namun kau memilikinya. Kini, jagalah harta mu itu.. Syukuri, jangan banyak mengeluh. Apa yang kau banggakan, menunjukan bahwa itu adalah kelebihan mu yang berharga. Dan tak semua hewan memilikinya, termasuk aku. Kau ini sebenarnya hebat kura-kura, maka jangan meratapi apa yang tak kau miliki. Tapi syukurilah apa yang sudah kau miliki. Aku pamit ya..”. Kata kancil kemudian berlari lagi ke tengah hutan melanjutkan kegiatanya memakan rumput.

Mendengar perkataan si kancil, kura-kura tertegun. Kini dia sadar bahwa si kancil berusaha menyadarkanya. Kini, dia tahu semua kelebihanya. Dan memang benar, selama ini dia hanya sibuk mengeluh dan melihat kekuranganya. Sehingga dia lupa mensyukuri kelebihan yang diberikan Tuhan pada dirinya. Di dalam hati, kura-kura mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya pada si kancil. Dia menyeka air matanya, dan mulai berjalan tersenyum menuju teman-temanya dengan penuh kebangaan.

Story By: Muhammad Rifai

Hikmah yang bisa kita petik: Jangan terlalu sibuk melihat kekurangan mu. Jangan terlalu sibuk melihat kelemahan mu. Tapi, cobalah syukuri apa yang sudah kau miliki. Karena tak ada makhluk yang sempurna. Semua memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Mengeluh hanya akan menumbuhkan sifat iri dalam hati mu. Dan itu hanya akan membuat mu sakit hati dan mudah putus asa.
Dikirim melalui BlackBerry® dari 3 – Jaringan GSM-Mu

Dongeng KANCIL dan KATAK yang SOMBONG

Cerita Kancil dan Katak Sombong – Sebenarnya, kisah kali ini menceritakan ketika si kancil dalam pelarianya dari kisah kancil dan serigala ompong sebelumnya. Diceritakan, si kancil akhirnya mampu melarikan diri dari beruang yang giginya telah dia tending hingga rontok taringnya. Tibalah kancil di pinggir sebuah padang ilalang, dia berniat istirahat karena nafasnya sudah terengah-engah karena capek berlari. Si kancilpun memutuskan untuk mencari tempat berteduh, dan dia menemukan sebuah rimbunan pohon talas dengan daun yang cukup lebar. Si kancil memutuskan untuk istirahat di bawahnya sambil bersembunyi sementara, untuk berjaga-jaga jika serigala mengejarnya. Di bawah daunt alas yang teduh di iringi angin sepoi-sepoi, si kancil akhirnya tertidur pulas. Cukup lama si kancil tertidur, karena kecapek’an berlari.

Matahri terlihat sudah mulai condong ke ufuk barat, si kancilpun terbangun ketika dia mendengar ada suara yang mengganggu mimpi indahnya. “Hai mahluk kerdil, bangun..‼ Aku mau bertanya pada mu..‼”. teriak suara itu. Dengan malas si kancil membuka mata, tapi betapa terkejutnya dia ketika tahu bahwa yang membangunkanya adalah dua ekor katak yang berdiri dengan bertolak pinggang. “Hai.. apa mau kalian? Bisakah kalian lebih sopan sedikit?”. Kata kancil sedikit protes. “Sopan? Pada siapa? Apa kau tahu siapa aku?”. Tanya salah satu katak itu. “Iya tentu saja aku tahu, kau itu katak bukan? Sudah jelas..”. jawab kancil sekenanya karena masih kesal. “Wah..berani betul kau.. belum tahu siapa aku? Aku ini bukan katak sembarangan.. hai kau pengawal, katakana padanya siapa aku‼’. Perintah katak itu pada katak satunya.
“Dia adalah pangeran kerajaan katak yang perkasa.. dia sangat kuat, dia makhluk terkuat di negerinya. Tak ada yang mampu mengalahkanya dalam pertandingan gulat kerajaan. Dan dia adalah juara gulat kerajaan selama 9 kali berturut-turut. Dialah pangeran Kodok”. Kata katak pengawal itu dengan lantang. Mendengar itu, si kancil hampir tertawa dibuatnya. Tapi karena ingin bersikap lebih ramah, si kancil berusaha menjaga kesopananya. “Oooo.. jadi kau ini pangeran dari negeri katak? Lalu apa tujuan mu hingga sampai ke sini? Apa kalian kesasar?”. Jawab kancil ingin tahu. “Jangan sembarangan.. aku adalah pangeran katak terkuat di dunia, tak ada yang bisa melawan ku. Dan perintah ku adalah mutlak harus dituruti..”. kata katak itu dengan sombongnya. Si kancil aslinya mulai jengkel dengan sikap si katak it, tapi masih dia tahan dengan sabar.
katak yang sombong
katak

“Hai makhluk kerdil.. apa kau tahu dimana sarang elang?”. Tanya katak itu lagi. “Hai..‼ bisakah kau lebih sopan jika bertanya dengan orang asing? Bisa-bisa kau celaka karena perkataan mu sendiri? Aku punya nama, nama ku Kancil. Jadi panggil saja dengan nama ku”. Si kancil mulai habis kesabaranya. “Hah.. aku adalah pangeran, aku adalah katak juara gulat 9 kali dan belum terkalahkan. Lalu apa yang harus aku takutkan? Kanapa aku harus bersikap merendah dengan orang lain?”. Kata katak itu semakin angkuh. Si kancil semakin jengkel dibuatnya. “Selama ini kau hanya bergulat melawan sesame katak, apa kau juga tahu kekuatan hewan lain selain katak? Aku yakin kau sepertinya tak pernah keluar dari kerajaan mu yang yang nyaman, sehingga tak tahu bagaimana bahayanya dunia luar. Kau harus berhati-hati, terutama dalam menjaga sikap mu pada orang lain’.” Kata kancil coba menasehati.
“Dasar kancil kerdil bodoh.. jangan sok mengajari aku apa yang harus aku lakukan, aku sudah tahu tindakan ku. Jadi kau tak usah banyak bicara dan ceramah di hadapan ku. Sekarang kau Cuma tinggal jawab, dimana sarang elang berada?’. Kata katak itu dengan nada tinggi. Sikap si katak yang sombong ini benar-benar sudah keterlaluan, namun si kancil tetap berusaha bersabar untuk menyadarkan si katak. “Memangnya kau mau apa mencari sarang elang?”. Tanya si kancil. “Seperti yang aku bilang.. aku adalah pangeran.. aku adalah katak terkuat.. dank u lihat dari kerajaan ku, ada elang yang terlihat sangat gagah terbang di angkasa. Aku ingin menangkapnya dan menjadikan elang itu tunggangan ku. Jika aku memiliki tunggangan elang yang perkasa, niscaya keperkasaan ku akan lebih terlihat dan aku lebih di segani oleh rakyat dan musuh-musuh ku.” Kata katak itu dengan yakinnya.
“Tunggu dulu.. kau tak sedang mengigau kan? Kau ini Cuma katak, mana bisa kau menangkap elang. Hati-hati kawan, jangan terbawa oleh kesombongan mu. Nanti kamu bisa celaka”. Kata kancil masih berusaha menasehati. Namun jawaban si katak justru di luar dugan, dia mengumpat dan berkata kasar pada si kancil. “Dasar binatang bodoh, kerdil, lemah.. memang pantas kau takut pada semua yang kau temui, karena kau binatang lemah. Jangan samakan aku dengan mu, akau adalah pangeran katak yang perkasa. Kalau kau tak tahu, bilang tak tahu. Aku akan pergi bertanya pada hewan lain saja, buang-buang waktu bicara dengan binatang bodoh seperti mu”. Kata katak itu kemudian mengajak pengawalnya untuk bergegas pergi. Kancil hanya bisa geleng-geleng kepala dibuatnya. “Kasihan sekali kau katak. Karena kesombongan dan kebodohan mu, bisa saja kau akan celaka. Tapi semoga saja kau segera sadar akan tindakan mu sebelum kau dibuat celaka oleh sikap dan kesombongan mu sendiri”. Kata kancil menghela nafas prihatin lalu pergi untuk pulang ke rumahnya.
Esok harinya, si kancil berniat pergi mengunjungi bangau sahabatnya. Kejadian kemarin tentang dirinya dan si katak masih sedikit berkelebat di benaknya, namun dia segera menepisnya dan berharap katak itu baik-baik saja. Pak bangau adalah sahabat kancil yang dia kenal sudah lama. Hampir beberapa minggu ini dia tidak berkunjung, dan hari ini dia ingin berkunjung untuk melihat kabarnya. Setelah berjalan setengah hari, akhirnya si kancil tiba di rumah bangau. Dia disambut hangat oleh bangau yang menjadi sahabat lamanya itu. “Bagaimana kabar mu kawan? Apa kau sehat?”. Tanya si kancil. “Seperti yang kamu lihat sendiri cil, aku sehat. Meski beberapa hari ini aku kesulitan mencari makanan. Tempat untuk mencari makan semakin terbatas karena manusia muali menebang dan menjadikan hutan sebagai lahan dan tempat tinggal. Kolam-kolam yang biasanya kami gunakan untuk mencari ikan, kini sudah di kuasai manusia. Mereka memancing ikan-ikan di kolam, dan mengusir setiap ada burung yang mendekat. Mereka cukup serakah sebagai pendatang”. Cerita bangau.
“Yah.. mau bagaimana lagi? Toh kita juga tak mungkin mampu melawan mereka. Mereka terlalu pintar dan berbahaya. Mereka bisa menempa besi hingga sangat tajam, bisa membuat anak panah, bahkan jebakan yang berbahaya. Jadi kita hanya bisa menghindar dari mereka. Dari pada kita celaka. Tapi sepertinya kamu terlalu senang untuk ukuran bangau yang kelaparan?”. Kata kancil setengah menggoda. “Hahira.. tau saja kau ini cil, kamu memang selalu jeli dari dulu. Yah.. bagaimana aku tak senang cil? Sepertinya Tuhan sangat baik pada ku, bahkan ketika aku kelaparan, makanan dating sendiri menghampiri ku”. Jawan bangau.
Wah.. kok bisa? Beruntung betul kau. Bagaimana ceritanya?”. Tanya kancil penasaran. “Kemarin waktu aku tengah mencari keong di parit dekat padang ilalang karena kelaparan, tiba-tiba ada dua ekor katak menghampiriku. Lagaknya sangat sombong, dan sangat berani sekali membentak aku. Padahal biasanya kalo ada katak yang melihat ku, katak itu akan lari karena tahu pasti akan aku makan. Tapi kamarin, aku sungguh ketemu katak yang aneh. Katanya mau menangkap elang. Jangankan elang, selamat dari bangau seperti ku saja mereka tak bisa. Sekarang, mereka sudah berada diperut ku, sehingga aku cukup kenyang”. Kata bangau menutup ceritanya.
Mendengar cerita si bangau, kancil sedikit terkejut. Dia teringat pada dua katak sombong yang ditemuinya kemarin di pinggir padang ilalang. Pasti setelah bertemu si kancil, mereka bertemu si bangau dalam perjalanan. Seperti yang kancil duga. Kesombongan si katak dan kebodohanya akan bahaya yang belum pernah dia temui, mengantarkan dua katak sombong itu menuju celaka. Mendengar cerita si bangau sahabatnya, si kancil berusaha ikut tersenyum karena menurut si bangau itu memang hal yang cukup lucu. Apa lagi jika tahu ada katak yang mau menangkap elang, sungguh konyol kedengaranya. Namun senyum si kancil terasa sangat hambar, karena didalam hati kecilnya, dia merasa perihatin pada nasib kedua katak itu. Tapi apa boleh buat? Nasi sudah menjadi bubur, dan kesombongan selalu berahir dengan petaka.
Story By: Muhammad Rifai

Hikmah yang bisa kita petik: Terkadang, sedikit pengeahuan yang kita miliki mampu membuat kita bersikap sombong. Seolah kita adalah yang paling tahu, dan merasa lebih tahu dari orang lain. Atau malah kita merasa egois karena merasa paling benar. Tapi kita harus ingat, kesombongan itu sebenarnya tak pantas untuk kita. karena setiap kesombongan pasti akan memiliki akhir yang kurang baik, bisa-bisa kita celaka. Dan kita harus ingat.. Di atas langit masih ada langit…

Dongeng si KANCIL Melawan BERUANG

Dongeng si Kancil Melawan Beruang – Tak terasa sudah hampir satu bulan lamanya si Kancil tinggal di Eutopia. Kini kancil sudah memiliki banyak teman, dan kancil juga cukup dikenal di kawasan hutan Eutopia sebagai hewan yang cerdik dan pintar. Banyak hewan yang datang dan bertanya solusi ketika mereka menemui masalah. Dan si kancil selalu saja memiliki ide-ide cemerlang untuk membantu mereka. Banyaknya hewan yang ditolong oleh si kancil, membuat nama si kancil semakin harum. Apalagi setelah solusi si kancil ketika si kancil menolong semut dari gerombolan gajah tersebar seantero hutan, maka semakin banyak hewan yang percaya akan kecerdasan dan kebijaksanaan si kancil.

Pada suatu hari, si kancil tengah berjalan-jalan. Hari itu hari mingu, dia ingin berkunjung ke kawasan kolam di pinggir hutan untuk menemui kawanan angsa dan kawanan burung bangau. Namun ketika si kancil tiba di kolam itu, dia tidak menemukan satu burungpun disana. Lalu diapun berjalan menyususri pinggir hutan, ternyata dia menemukan para burung tengah berkumpul disebuah parit. Wajah mereka terlihat lesu, sepertinya masalah besar tengah melanda mereka. Tentu saja si kancil yang cerdik cepat tanggap dengan ketidak beresan itu. Diapun mendekati mereka untuk mencari tahu.

“hai kawan… apa kabar kalian hari ini? kok sepertinya kalian lesu sekali? Sudah 2 minggu aku tak kemari, ada apa gerangan hingga kalian terlihat lesu begini?”. Tanya si kancil. “Untung kau kemari kancil.. kami sedang dilanda masalah gawat. Kami terancam kelaparan..”. jawab seekor burung bangau. “Kelaparan? Lha kok bisa? Bukankah kolam tempat biasa kalian mencari makan memiliki ikan yang melimpah? Tak mungkin habis kan? Apa karena kalian terlalu serakah hingga memakan terlalu banyak ikan sehingga menyebabkan ikanya jadi habis?”. Tanya kancil. “Masalahnya bukan karena kami tuan kancil.. tapi karena beruang. Beberapa hari yang lalu, ada beruang yang tiba-tiba datang ke kolam. Setelah dia tahu kolam itu memiliki banyak ikan, maka dia bersikap serakah. Dan tak ada seekor hewanpun yang boleh mencari ikan di kolam itu. Kalau masih berani mencari ikan di situ, dia mengancam akan melukai kami. Sehingga kami hanya bisa berkumpul disini dan mencari makanan seadanya. Kami kelaparan..”. jawab burung yang lain.
beruang dan kancil
Beruang

Mendengar jawaban itu, kancil terkejut. Ternyata masalah mereka memang gawat, kalau dibiarkan bisa-bisa mereka mati kelaparan. Pantas saja kolam terlihat sepi, padahal biasanya ramai disinggahi oleh burung-burung yang mencari ikan. Kancil lalu berfikir sejenak, dia memutar otak untuk mencari solusi seperti biasanya. Para burung-burung menunggu dengan perasaan was-was, mereka takut jika si kancil tak menemukan solusi untuk mereka. Wajar saja, karena lawan si kancil kali ini adalah beruang. Jika kancil melawan beruang, tentu saja kancil tak akan menang secara jelas. namun mereka mencoba bersabar, mereka percaya bahwa kancil pasti akan menemukan cara. Beberapa waktu kemudian, kancil tersenyum. Matanya berbinar-binar, menandakan dia telah menemukan sesuatu.
“Kawan-kawan.. aku punya satu cara yang mungkin bisa kita lakukan untuk mengusir beruang itu. Tapi, aku butuh bantuan kalian semua. Apa kalian mau membantu?”. Tanya si kancil. “Tentu saja kami semua siap membantu mu cil, apa lagi itu demi kebaikan kami juga”. Jawab mereka serempak. “Bagus.. aku suka dengan semangat kalian. Jadi dengarkan apa yang akan ku katakana berikut ini. kalian semua pergilah mencari kepiting sebanyak-banyaknya, ke sungai, sawah, kolam, danau, dimanapun. Lalu kumpulkan semua kepiting itu, dan pada malam hari, kita semua akan menaruh semua kepiting itu ke dalam kolam. Nah.. beruang tentu tak akan tahu karena dia tengah asik tidur di goanya. Dan ketika pagi hari dia menuju kolam untuk menangkap ikan, maka kepiting-kepiting itu akan mencapit kaki dan seluruh bagian tubuhnya ketika dia masuk ke dalam kolam. Kita biarkan selama beberapa hari dan tunggu dengan sabar, aku yakin beruang itu pasti akan kapok dan beranggapan ikan di dalam kolam sudah habis dan berganti hanya di huni kepiting. Dengan cara ini, semoga saja beruang itu tidak akan kembali ke kolam. Dan kita bisa membersihkan kolam dari kepiting ketika beruang itu sudah tak lagi datang. Bagaimana? Apa kalian setuju?”. Tanya kancil.
Mendengar ide kancil yang sangat brilian itu, kontan para burung bersorak sorai, mereka yakin cara ini pasti akan berhasil. Akhirnya, mereka mulai menjalankan rencana dari si kancil. Para burung-burung itu terbang ke segala arah dan mengambil setiap kepiting yang mereka temui, lalu menjatuhkanya ke kolam. Tentu saja mereka melakukan itu ketika si beruang tidak ada di sekitar kolam. Seharian mereka bekerja keras, hingga sudah banyak sekali kepiting yang mereka kumpulkan. Dan langkah selanjutnya sebagaimana rencana si kancil, mereka menunggu. Sebagaimana yang di prediksi si kancil, paginya si beruang datang ke kolam seperti biasa. Sedangkan si kancil dan para burung bersembunyi di semak-semak untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Mereka ngintip dari semak-semak dengan hati berdebar-debar. Berharap semua berjalan sesuai rencana.
Dan tepat seperti perkiraan si kancil, ketika si beruang mulai masuk ke dalam kolam, beruang itu meraung-raung kesakitan. Dia lalu berlari keluar dari dalam kolam, ternyata banyak kepiting yang mencapit setiap bagian tubuhnya sehingga menempel. Beruang sepertinya kesulitan untuk melepas mereka. Dan akhirnya berlari ke dalam hutan dengan menahan rasa sakitnya. Tapi, ternyata beruang belum kapok. Besoknya dia datang lagi ke kolam, berharap para kepiting sudah pergi. Tapi ketika dia masuk ke dalam kolam, kejadian yang sama dia alami. Kepiting mancapit setiap bagian tubuhnya hingga dia meraung-raung kesakitan dan bersusah payah melepaskan capitan kepiting-kepiting itu. Beruang itupun lari lagi ke dalam hutan dengan menahan sakit dan perutnya yang sudah semakin lapar. Begitu pula pada hari ketiga, hal yang sama terulang. Namun, lagi-lagi beruang itu lari kesakitan ke dalam hutan dengan perutnya yang terasa sudah sangat lapar karena sudah 3 hari tak memakan ikan.
Dan setelah hari ketiga, beruang itu sudah tak ada muncul lagi. Mungkin sudah kapok. Tentu saja hal tersebut membuat para burung bersorak sorai dan merayakanya. Mereka sangat berterimakasih atas bantuan si kancil karena memberi ide yang cukup cemerlang. Pada hari berikutnya, para burung bergotong royong dengan penuh semangat untuk memindahkan semua kepiting-kepiting itu dari kolam. Paruh mereka yang panjang serta keahlian mereka dalam menangkap kepiting, tentu tak membuat masalah ketika mereka harus berurusan dengan kepiting yang memiliki capit itu. Sedangkan si kancil melihat mereka dengan tersenyum bahagia, hatinya sangat lega karena bisa membantu. Setelah acara pembersihan kepiting dari kolam itu selesai, si kancil mohon pamit untuk pulang kembali ke tengahhutan. Karena sudah 4 hari lamanya dia berada di tempat itu. Dia takut, kawan-kawanya di tengah hutan akan merasa hawatir. Dan kepulangan si kancil diantar oleh para burung dengan  rasa terima kasih yang sangat besar. Kali ini, si kancil lagi-lagi menjadi penolong di masa-masa sulit. Dan kini para burung bisa mencari ikan di kolam dengan bebas tanpa rasa takut.
Story By: Muhammad Rifai

Hikmah yang bisa kita petik: Keserakahan sering membuat kita lupa akan banyak hal. Lupa teman, lupa keluarga, dan lupa bahwa kita tak bisa hidup sendiri. Tak jarang keserakahan membuat orang akan memiliki banyak musuh. Yang suatu saat bisa mendatangkan karma karena rasa teraniyaya yang mereka alami. Oleh karena itu, bersikap baiklah kalian pada sesama. Terutama keluarga dan teman-teman kalian.

Dongeng KANCIL dan SERIGALA Ompong

Dongeng Kancil dan Serigala Ompong – Si kancil kini sudah menjadi hewan yang cukup disegani di kawasan Eutopia. Sifatnya yang baik hati, suka menolong, cerdik, serta kebijaksanaan yang dimiliki, membuat para hewan mengagumi dan menaruh hormat padanya. Apa lagi setelah kabar bahwa si kancil membantu semut untuk mengalahkan gajah sudah tersebar, nama si kancil semakin dipuji dan jadi buah bibir di seluruh kawasan hutan. Tentu saja setiap hal baik tak semua menyukainya, terutama para hewan-hewan jahat yang sebelumnya telah dikalahkan oleh si kancil. Nama si kancil yang terkenal, membuat banyak hewan-hewan dari kawasan hutan lain ingin melihat sosoknya. Sebagian ada yang sekedar ingin berkenalan dan berteman, dan sebagian lagi memiliki niat yang kurang baik.

Salah satunya adalah srigala, dia sangat geram mendengar nama si kancil semakin di elu-elukan. Bahkan para hewan yang dulu menghormatinya, kini lebih menghormati si kancil. Rasa penasaran dan rasa marah yang ada di dalam dadanya, memunculkan niat jahat dalam benaknya. “ Aku akan mencarinya, dan aku akan memakanya ketika bertemu denganya”. Kata srigala kemudian berlari ke arah hutan mencari si kancil. Srigala adalah hewan yang sangat ganas dan kejam, bahkan kabar tentang keganasanya sudah cukup dikenal di seluruh kawasan hutan. Dia adalah hewan nomer tiga yang paling ditakuti setelah harimau dan singa. Dan kemarahan serta rasa iri yang dia rasakan, akan membuat keganasanya semakin menggila.

dongeng kancil dan srigala

Ditempat lain, kancil tengah asik beristirahat di bawah pohon. Dia tidak sadar bahwa ada bahaya yang sedang mengintainya. Si kancil sedang asik menikmati gemerisik dedaunan yang diterpa angin, ibarat musik alami yang membuat matanya semakin mengantuk. Namun ketika si kancil tertidur sejenak, tiba-tiba dia dikagetkan oleh seuatu. Ternyata itu adalah seekor tikus yang sedang membangunkanya. “Tuan kancil.. bangun tuan kancil..‼ Tuan harus segera lari..”. teriak tikus itu. Kancilpun membuka matanya yang masih agak berat. Melihat kepanikan si tikus, kancil berusaha menenangkanya. “Ah.. tikus sahabat ku, ada apa gerangan? Kenapa kau terlihat gelisah? Ambil nafas, dan ceritakan pelan-pelan”. Kata kancil sambil tersenyum.
Si tikus berusaha menenangkan diri, dia mengatur nafasnya yang terengah-engah karena baru saja berlari. Setelah dia sudah mulai tenang, si tikuspun melanjutkan ceritanya.. “Gawat tuan kancil.. srigala sedang mencari tuan. Wajahnya terlihat sangat marah dan ganas. Dia bertanya pada semua hewan di mana dia bisa menemukan tuan. Para hewan tak ada yang berani berbohong karena di ancam akan dimakan jika tidak jujur. Sekarang srigala itu menuju kemari. Dan saya berusaha sekuat tenaga berlari ke sini untuk menyampaikan kabar buruk ini pada tuan. Untungnya saya tahu jalan pintas sehingga bisa mendahului srigala itu. Sebaiknya tuan segera lari sekarang, sebelum srigala itu tiba..”. kata tikus hawatir.

Mendengar penjelasan dari si tikus, si kancil sedikit terkejut. Namun bukan si kancil namanya jika dia tak bisa mencari jalan keluar. Si kancil berusaha tidak panik, dia mencoba mencari cara agar bahaya yang akan dia hadapi dapat dihindari. Kancil berfikir agak lama, namun sesaat kemudian dia menemukan ide yang menurutnya dianggap tepat. “Terimakasih sahabat ku atas kabar yang kau sampaikan. Kau tak usah panik, sepertinya aku punya satu cara. Meski agak beresiko, tapi tak ada salahnya jika aku mencobanya. Kau bersembunyilah segera, sebentar lagi mungkin srigala itu akan datang. Dan ingat pesan ku, jangan keluar apapun yang terjadi”. Pesan kancil. Mendengar itu, tikus itu lalu berpamitan dan bersembunyi di semak-semak. Lalu, apa yang dilakukan si kancil..?

Ternyata tidak ada, si kancil tidak berlari ataupun sembunyi. Justru si kancil berjalan dengan santainya, namun ada sedikit hal aneh yang dia lakukan. Yaitu dia berjalan dengan sedikit mengangkat satu kaki bagian belakang, sehingga dia berjalan agak terpincang-pincang. Tak berapa lama kemudian, tiba-tiba srigala muncul di hadapanya. Wajahnya terlihat seram dengan taring-taring tajam yang dipamerkan. “Hmm.. apa kau yang namanya kancil?”. Tanya srigala itu. “Benar tuan ku.. jika aku boleh tahu, ada perlu apa tuan mencari ku?”. Tanya kancil dengan tenang. “Aku adalah srigala, aku datang kemari untuk memakan mu.. karena aku sedang lapar.. Grrrrr..”. kata serigala sambil menggeram. “Oh. Jadi ternyata tuan adalah serigala yang terkenal itu. Menurut yang ku dengar, tuan adalah hewan pemburu yang cukup hebat. Bahkan harimau dan singa, masih kalah dengan tuan dalam hal berburu. Suatu kehormatan bisa bertemu tuan, dan saya juga akan sangat senang bisa menjadi makanan tuan”. Kata kancil masih dengan tenangnya.
Melihat sikap si kancil, srigala menjadi bingung. Baru kali ini dia bertemu hewan yang cukup aneh seperti si kancil. Biasanya setiap hewan yang bertemu denganya pasti akan ketakutan. Apa lagi jika mereka tahu akan dimakan, pasti langsung berusaha lari atau malah langsung pingsan karena terlalu takut. Tapi si kancil beda, hewan ini terlihat tenang, bahkan berkata merasa terhormat karena bisa menjadi santapan srigala. “Namun tuan ku, apakah saya boleh meminta satu permintaan sebelum menjadi santapan tuan..? Saya tahu tuan adalah hewan yang terhormat dan memiliki harga diri tinggi, pasti tuan tidak akan menolak permintaan terakhir hewan lemah seperti saya”. Kata kancil lagi. “Hmm.. memangnya apa permintaan mu? Kau ingin aku melepaskan mu dan membiarkan mu pergi?”. Tanya serigala ketus.
“Bukan tuan.. saya tidak minta itu. Kaki belakang saya yang sebelah kiri, tadi tertusuk oleh duri. Sehingga saya berjalan pincang dan merasa sangat kesakitan. Jika boleh, hamba minta tuan untuk mengambilkan duri itu dari kaki saya. Karena saya takut duri itu akan membuat tuan tersedak ketika memakan saya nanti”. Kata kancil menjelaskan. Mendengar penjelasan kancil yang cukup masuk akan, serigala berfikir sejenak. Serigala tak sadar bahwa dia telah diperdaya oleh si kancil. Kesombongan akan kekuatanya, membuat srigala meremehkan kemampuan si kancil. “Kanapa aku harus takut dan was-was? Memangnya apa yang bisa dilakukan hewan lemah bertubuh kecil ini? tak ada yang perlu ku hawatirkan, lagipula aku lebih kuat. Tak mungkin dia bisa melawan ku”. Fikir srigala.
“Baiklah.. akan ku penuhi permintaan terahir mu, karena sebentar lagi kau juga akan mati. Lagipula aku juga tak mau tersedak duri ketika makan, bisa menghilangkan selera makan ku. Sekarang berbaliklah, akan kucabut duri di kaki mu dengan gigi ku”. Kata srigala. Mendengar itu, si kancilpun membalikan badanya sambil tersenyum. Rencana yang dia jalankan ternyata berjalan sesuai perkiraan. Ketika srigala menundukan kepala dan mulai membuka mulut untuk mengambil duri di kaki si kancil, si kancilpun mulai melaksanakan rencana utamanya. Dengan sekuat tenaga dia menendang gigi serigala yang terbuka lebar dengan kedua kaki belakangnya. Tak ayal, mulut serigala terluka dan mengeluarkan banyak darah. Ternyata, tendangan si kancil tepat pada sasaran. Dua gigi taring dan satu gigi depan srigala itu rontok ke tanah karena tendangan si kancil.
Kontan saja serigala meraung kesakitan karena gigi-giginya rontok. Tak menyia-nyiakan kesempatan, si kancil langsung berlari menjauh dari srigala yang meraung-raung menahan sakit di mulutnya. Kini serigala baru sadar, si kancil baru saja menipunya. Dia telah tertipu berkat kesombonganya sendiri yang meremehkan si kancil. Kini, srigala hanya bisa berjalan pulang dengan menahan sakit karena giginya yang patah. Taringnya yang dulu dia banggakan, kini sudah tak ada lagi. Dan dia pulang dengan rasa malu yang sangat karena kini dia menjadi serigala ompong yang tak akan lagi ditakuti.
Story by: Muhammad rifai
Hikmah yang dapat dipetik: Kekuatan bukanlah ukuran untuk menentukan menang atau kalah. Karena setiap hal di dunia, pasti memiliki kekurangan dan kelebihanya masing-masing. Bahkan badan yang besar, bisa saja kalah dengan badan yang lebih kecil. Oleh karena itu, jangan pernah menyombongkan diri atas kelebihan yang kau miliki. Karena tak ada yang sempurna di dunia ini. Ketika kau mulai bangga dengan kelebihan mu, maka cobalah untuk lebih rendah hati dengan mengingat pula kekurangan mu.

Dongeng KANCIL, SEMUT, dan GAJAH SOMBONG

Dongeng Kancil, Semut, dan Gajah Sombong – Setelah keberhasilan kancil menguak penipuan siput pada dongeng kancil dan siput ajaib sebelumnya, nama kancil mulai dikenal. Namanya menjadi perbincangan seluruh hewan yang ada di Eutopia. Namun ha tersebut tetap membuat kancil rendah hati, kancil tidak sombong dengan ketenaranya. Pada suatu hari ketika kancil hendak minum di kolam dekat sumber air, dia mendengar teriakan minta tolong. Setelah dia cari-cari arah suara itu, ternyata itu adalah suara semut yang tengah berada ditengah kolam dan hampir tenggelam karena tak bisa berenang. Secepat mungkin kancil mencari ranting pohon lalu digigit ujungnya, sedangkan ujung yang lain dia arahkan ke semut tersebut. “Cepat..‼ Segera naik ke atas ranting ini..‼”. teriak si kancil. Dengan ssah payah semut itu berenang pelan, dan akhirnya mampu menggapai ranting yang dijulurkan oleh si kancil.

dongeng kancil, semut dan gajah


“Kamu tidak apa-apa kawan?”. Tanya kancil. “Syukurlah kau datang kawan, kalau kau tidak menolong ku, aku pasti bisa mati. Terimakasih..”. jawab semut. “Ah.. lupakan saja. Bukankah sesama makhluk kita harus saling tolong menolong”. Kata kancil merendah. “Ngomong-ngomong, bagaimana bisa kau terjatuh di tengah kolam?”. Sambung kancil. “tadi ketika aku tengah termenung di atas pohon memikirkan nasib rakyat ku, tiba-tiba angin berhembus kencang  dan menerbangkan ku hingga aku jatuh di tengah kolam”. Jawab semut. “Memangnya ada masalah apa kau dengan rakyat mu? Apa kau mau bercerita? Siapa tahu aku bisa membantu mu..”. Tanya kancil lagi. Lalu semut pun bercerita..bahwa saat ini rakyatnya sedang dirundung masalah. Beberapa bulan terahir, sarang mereka yang berada di pinggir sungai sering didatangi oleh segerombolan gajah. Mereka berjemur dan bermain lumpur disana, akibatnya rumah-rumah semut yang ada di daerah itu menjadi porak poranda diterjang oleh para gajah.
Para semut sudah berusaha untuk mengambil tindakan dan melawan. Mereka mencoba mengkroyok dan menggigit para gajah. Namun kulit gajah yang tebal dank eras, seakan membuat gigitan mereka tak ada artinya. Hingga raja semut itu menjadi putus asa untuk bisa menemukan solusi yang tepat. Mungkin mereka bisa pindah. Namun resikonya sangat berbahaya. Karena setiap kawasan sudah dihuni oleh kerajaan semut lain. Bisa-bisa jika mereka melanggar wilayah, mereka akan berperang dan jatuh banyak korban. Mendengar penjelasan dari raja semut ini, hati kancil merasa iba. “Tunggu sebentar.. beri aku waktu sejenak untuk mencari cara agar bisa membantumu”. Kata kancil. Lalu kancil pun diam beberapa saat, wajahnya tampak serius seakan memikirkan sesuatu yang berat. Namun selang beberapa saat kemudian, kancil tiba-tiba tersenyum.
“Ahaaaa… aku sudah temukan satu cara yang akan membuat para gajah itu kapok’. Kata kancil. “Benarkah? Bagaimana caranya?”. Tanya si raja semut penasaran. “Begini.. jika kalian menggigit kulit gajah, mungkin kalian tak akan berhasil. Karena kulit gajah bagian luar sangat keras dan tebal. Bahkan harimau saja tak mau memburu mereka. Namun kulit mereka hanya keras dibagian  luar, namun tetap lemah di bagian dalam..”. jelas kancil. “Apa maksud mu kawan? Aku belum faham.. Memangnya bagaimana caranya untuk menggigit kulit bagian dalam jika bagian luar saja kami tak bisa menembusnya?”. Tanya si raja semut bingung.
“Begini kawan, dengarkan baik-baik dan sampaikan pada semua rakyatmu. Nanti jika para gajah itu datang lagi, kalian bersiaplah naik ke atas pohon. Dan begitu gajah itu lewat di bawah kalian, kalian menjatuhkan diri ke atas gajah tersebut. jangan langsung digigit, sabar dulu. Kalian harus merayap menuju ke arah belalainya. Lalu masuk ke lubang hidungnya, semakin banyak dari kalian yang bisa masuk, maka akan semakin bagus. Lalu setelah kalian sampai di dalam hidung, gigit sekuat-kuatnya dan jangan dilepas. Mungkin gajah akan berusaha mengeluarkan kalian dengan menghembuskan nafas kuat-kuat, namun kalian harus bisa bertahan dengan menggigit lebih kuat lagi. Jika cara ini berjalan lancar, maka para gajah itu pasti akan kapok”. Jelas kancil. 

Mendengar penjelasan dari si kancil, raja semut tersenyum senang. Seakan dia telah menemukan harapan baru untuk menolong rakyatnya. Akhirnya, si raja semut pun berpamitan bergegas ingin pulang dan menyampaikan ide si kancil pada semua rakyatnya. Namun sebelum si raja semut itu pergi, dia menyempatkan diri bertanya pada si kancil. “Terimakasih atas saranmu kawan, bantuan mu ini akan selalu ku ingat. Dan suatu saat, aku akan berusaha membalas budimu. Jika aku boleh tahu, siapa nama mu?”. Dengan tersenyum kancil menjawab..”Nama Ku kancil..”. si raja semut membalas senyuman si kancil dengan keramahan yang sama. Lalu dia pamit untuk pulang. Setelah sampai pada rakyatnya, dia menceritakan ide yang diberikan si kancil dan menceriakan bagaimana awal pertemuan mereka ketika si kancil menolong nyawanya. Para semutpun dibuat takjub dengan cerita rajanya yang luar biasa, ibarat kisah petualangan.
Setelah kejadian itu, para semut berencana untuk melakukan ide si kancil. Pada hari berikutnya dimana para gajah biasanya datang, para semut naik ke atas pohon dan menunggu. Setelah ada gajah yang lewat di bawah mereka, mereka langsung menjatuhkan diri dan mendarat di punggung gajah tersebut. mereka lalu merayap menuju belalai gajah, dan masuk ke lubang hidung gajah. Lalu dengan serentak mereka menggigit kuat-kuat. Kontan saja para gajah meronta kesakitan, karena merasa hidung mereka terasa seperti tersengat. Mereka sudah berusaha mengeluarkanya dengan menghembuskan nafas keras-keras menggunakan belalainya, namun tetap gagal.
Akhirnya dengan wajah kesakitan dan meraung-raung, para gajah lari meninggalkan tempat itu. Melihat hal tersebut, para semut bersorak sorai dan merayakan keberhasilan mereka. Dan setelah kejadian itu, ternyata tak ada lagi gajah yang berani ke sana. Dan karena jasa kancil yang begitu besar, membuat raja semut dan rakyatnya memanjatkan syukur dan rasa terimakasih yang sangat besar. “Terimakasih kancil sahabat ku.. jasa mu akan selalu ku ingat dan dikenang oleh seluruh rakyat ku. Ku panjatkan do’a semoga keselamatan selalu menyertai mu. Dan semoga saja aku diberi kesempatan untuk membalas budi mu suatu hari kelak..”. gumam raja semut sambil melihat langit biru yang cerah.
Story By: Muhammad Rifai

Hikmah yang dapat kita petik: tak ada orang kuat di dunia ini melebihi yang maha kuasa. Setiap kekuatan di dunia, pasti memiliki kelemahan. Sehingga kita tak patut untuk berlaku sombong. Dan setiap manusia selalu mendapat balasan dari apa yang mereka perbuat. Jika kau berbuat baik, maka kaupun akan mendapat balasan yang baik pula. Bahkan kebaikan mu tak akan dilupakan, seperti jasa si kancil ketika menolong semut pada dongeng di atas.

Dongeng KANCIL Dan SIPUT Ajaib

Dongeng Kancil Dan Siput Ajaib – Setelah menolong kampong tikus pada dongeng sikancil, tikus, dan gajah pada kisah sebelumnya, kini kancil dan kerbau melanjutkan perjalanan ke tengah hutan tempat para binatang berada. Setelah berjalan sekitar setengah hari, akhirnya mereka sampai pada sebuah tempat dimana para binatang berkumpul dan hidup dengan damai. Tempat itu mereka sebut dengan Eutopia. Ketika si kancil dan kerbau tiba, di Eutopia sedang ada perayaan tahunan yang cukup ramai. Para hewan membawa banyak sekali makanan dan mengaraknya bersama-sama kea rah sungai. Melihat hal tersebut, si kancil menjadi sangat tertarik dan menjadi penasaran. Kancilpun akhirnya bertanya pada kerbau sahabatnya. “Ada acara apa  ini sebenarnya sahabat ku?”. Tanya kancil. “Oh iya.. kau penghuni baru, jadi belum tahu tentang kegiatan ini ya. Ini adalah hari persembahan. Biasanya di adakan setahun sekali. Pada hari ini, kami harus memberikan sebagian dari cadangan makanan kami pada siput ajaib penguasa sungai.”. jawab kerbau.

Mendengar jawaban itu, si kancil menjadi lebih penasaran. ‘Siput ajaib penguasa sungai? Apa maksudnya itu? Dan mengapa kalian harus memberikan sebagaina cadangan makanan kalian untuk dia?”. Tanya kancil lagi. “Nah.. itu sudah terjadi sejk turun temurun, aku tak tahu pasti bagaimana detailnya. Tapi siput yang satu ini sangat ajaib. Dia mampu berlari cukup cepat dan menguasai sungai. Bahkan kuda tercepat yang bernama Kundalini saja tak mampu mengalahkan dia. Dan setiap apa yang dikatakanya pasti bisa terjadi. Jika kami lupa memberikan sesembahan, maka dia akan marah. Dan membuat sungai menjadi kering. Oleh sebab itu, kami menyebutnya siput ajaib penguasa sungai”. Kata kerbau menjelaskan. Mendengar penjelasan dari si kerbau, si kancil menjadi sangat penasaran. Dia mencium sesuatu yang kurang beres, pasti ada yang salah dengan semua itu.
Akhirnya, dia ikut ke sungai bersama si kerbau dengan tujuan untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Perayaan berlangsung meriah. Dan pada akhir upacara, munculah si siput dari dalam sungai dengan di elu-elukan oleh semua haewan yang hadir. “Siput ajaib yang bijaksana.. siput ajaib yang baik hati..”. begitu kata mereka. Beberapa lama si kancil memperhatikan siput itu dengan penuh selidik. Sedangkan si siput yang tak tahu sedang diperhatikan si kancil, berjalan dengan angkuhnya seperti biasa. “Bawa dan hanyutkan semua makanan ini ke sungai..”. perintah si siput. Namun belum sempat para hewan mengangkat semua makanan itu, tiba-tiba kancil muncul ke depan dan mencegah mereka.” Tunggu..‼ Apa yang kalian lakukan? Mengapa kalian mau saja memberikan sebagian cadangan makanan kalian  begit saja. Bukankah kalian sendiri membutuhkanya? Kalian bekerja keras seharian mengumpulkanya?”. Kata si kancil.

Melihat hewan asing yang muncul dan tiba-tiba bicara dihadapan mereka, membuat para hewan saling gaduh bertanya satu sama lain. Melihat hal itu, si siput langsung angkat bicara. “Siapa kau hewan asing? Akau belaum pernah sekalipun melihat mu di kawasan ini? berani-beraninya kau mengusik upacara yang suci ini? Apa kau tak takut padaku?”. Teriak si siput dengan angkuhnya. “Kenapa aku harus takut? Memangnya apa yang bisa kau lakukan?”. Tanya si kancil. “berani benar kau bicara seperti itu. Apa kau tak takut aku hokum? Aku adalah sang penguasa sungai”. Jawab si siput lagi. “Ah.. aku tak takut.. aku sudah pernah berhadapan denganm hewan yang lebih buas dari mu. Aku mengalahkan buaya, harimau, bahkan aku mapu mengalahkan manusia dan juga gajah”. Jawab si kancil dengan lantang. Mendengar jawaban itu, kontan saja si siput tertawa terbahak-bahak di ikuti seluruh hewan yang hadir di situ, kecuali si kerbau.

Melihat kawanya di tertawakan, akhirnya si kerbau ikut maju ke depan dan angkat bicara. “Yang dikatakan teman ku ini benar, dia tidak bohong. Dia telah menyelamatkan ku dari buaya yang akan memangsa ku. Dan dia juga menolong para tikus dari serbuan segerombolan gajah. Aku tidak bohong, aku melihatnya sendiri”. Teriak sikerbau. Ontan saja semua hewan yang hadir terdiam. Mereka saling pandang dan berbisik satu sama lain antara ragu dan percaya. “Aku tahu kalian masih belum percaya padaku. Leh karena itu akau akan buktikan pada kalian dengan mengalahkan siput yang kalian bilang siput ajaib ini. Konon katanya, dia sangat jago berlari. Dan bisa berlari cukup cepat. Maka, aku akan mengalahkanya untuk member bukti pada kalian”. Teriak kancil lantang. Sontak para hewan yang hadir menjadi tambah gaduh. “Bagaimana siput? Apa kau berani?”. Tantang si kancil.

dongeng kancil dan siput

Merasa dirinya ditantang, si siput pun tak ada jalan lain kecuali menerimanya. “Hahahaha.. baik, aku terima tantangan mu. Tapi apa untungnya jika aku menang?”. Tanya siput. “Jika kau menang, aku akan menjadi pelayan mu seumur hidup ku”. Jawab kancil. “Hmm.. baik, itu hal yang cukup menarik”. Siput menanggapi. “Tapi jika aku yang menang, maka para penduduk tak akan kau paksa lagi untuk memberikan simpanan makanan mereka kepadamu. Bagaimana? Cukup adil bukan?” Tanya kancil lagi. “Baik.. aku setuju. Itu hal yang cukup adil..kalau begitu, langsung saja kita mulai lombanya sekarang, mumpung banyak rang yang menjadi saksinya”. Kata siput. “Baik, ayo.. aku bantu kau untuk menaruh mu ke dalam sungai..”. Kata si kancil sambil mengangkat siput dan memasukanya ke dalam sungai. Sebenarnya, apa yang sedang direncanakan si kancil?
Ceritapun berlanjut, akhirnya para hewan berbaris mulai dari garis start hingga garis finish sebagai saksi. Dan si kerbau berperan sebagai wasit di garis start, hitunganpun di mulai dan lomba akhirnya dilakukan. Si kancil berlari dengan kencangnya. Dia mengerahkan segenap tenaganya. Namun ketika dia sudah sampai cukup jauh, tiba-tiba si siput muncul dari dalam air dan berteriak jauh di depanya. “Hai hewan kerdil.. ayo kejar aku..‼”. Teriak si siput. Kancilpun kembali berlari lebih kencang, dan berusaha mengejar si siput. 

Hingga akhirnya si kancil tiba di garis finish disaksikan hewan-hewan yang berkumpul disana, namun ternyata si siput sudah sampai garis finish lebih dulu. “Hahaha.. dasar hewan tak tahu diri..‼ kau mau menantang ku? Jangan mimpi bisa menang dari ku, sekarang kau sudah kalah. Dan kau harus tepati janji mu untuk menjadi pelayan ku seumur hidupmu”. Kata siput. “Hidup siput ajaib..‼ hidup siput ajaib..‼” teriak sorai para hewan kembali mengelu-elukan kehebatan siput yang mereka kira memiliki keajaiban.
Namun ternyata, si kancil memiliki rencana lain.. “Tunggu.. sebenarnya akulah yang menang..‼”. kata si kancil. “Sebenarnya yang kalian elu-elukan ini tak lebih dari segerombolan siput penipu. Mereka menipu kalian untuk merampas makanan yang kalian kumpulkan dengan susah payah”. Kata si kancil lantang. “Hai.. apa maksut mu menuduh siput ajaib junjungan kami sebagai penipu..‼’. teriak salah satu hewan marah karena merasa junjungan mereka di hina. “ Tenang.. jangan marah dulu.. tadi sebelum lomba ini di mulai, aku memberi tanda pada cangkang siput ketika aku menaruhnya di sungai. Sekarang kalian coba periksa cangkangnya, apakah ada tanda yang telah aku buat?”. Akhirnya, salah satu hewan maju dan memeriksa cangkang itu. “Tandanya tidak ada..”. jawab hewan itu kaget. “Sekarang kau sampaikan pada hewan-hewan yang berkumpul di garis start, suruh berang-berang untuk menyelam tepat di mana aku meletakan siput tadi. Dan jika ada siput, suruh dia untuk membawanya ke permukaan”. Kata kancil lagi.
Akhirnya, hewan itu berlari ke garis start, dan menyampaikan apa yang dikatakan kancil. Ternyata benar dugaan kancil, di sana masih ada siput yang tadi di letakan oleh kancil. Tentu saja hal ini membuat para hewan menjadi gaduh dan bingung, dan akhirnya menuju tempat kancil untuk mencari penjelasan. “Kalian tak usah bingung..‼ Sebenarnya selama ini kalian telah di tipu.  Siput ini tidak memiliki keajaiban apa-apa. Mereka Cuma berbaris sepanjang sungai dengan mengandalkan jumlah mereka yang cukup banyak. Sehingga ketika lomba lari, siput yang terdekat akan muncul. Karena bentuk mereka sama, kita susah membedakanya”. Jelas si kancil. “Oooo.. jadi begitu? Lalu, bagaimana mereka bias mengatur air sungai. Setiap apa yang mereka katakan selalu tepat. Jika mereka berkata sungai akan kering, maka sungai juga kering. Jika mereka bilang sungai akan banjir, sungaipun banjir”. Tanya salah satu hewan.
“Itu mudah.. mereka masih menggunakan cara yang sama. Mereka menempatkan siput hingga berbaris panjang sampai hulu sungai. Ketika di hulu tak ada hujan, maka mereka akan bilang sungai akan kering. Dan ketika di hulu mengalami hujan besar, mereka akan bilang ada banjir. Dan kabar itu di sampaikan sambung menyambung hingga siput yang ada di sini. Hal itu mudah dilakukan, karena sungai yang mengalir ke sini mengandalkan sumber air yang ada di hulu. Sehingga mudah ditebak. Karena setiap hal yang terjadi di hulu, pasti akan berpengaruh di sungai ini”. jawab kancil menjelaskan. Akhirnya, para hewan menjadi mengerti dan berterima kasih pada si kancil. Karena telah menguak penipuan yang selama ini di lakukan oleh para siput. Dan sebagai imbalanya, si kancil disambut dengan pesta yang cukup meriah dengan semua makanan yang tadi di kumpulkan. 

Dan untuk para siput, mereka di usir dari Eutopia dan di larang untuk memasuki kawasan hutan. Sehingga para siput harus mencari tempat baru. Akhirnya, mereka tinggal di pinggir-pinggir sungai, rawa-rawa, atau persawahan. Konon itulah sebabnya mengapa banyak sekali kita temui siput yang ada di sawah atau rawa-rawa hingga saat ini.
Story By: Muhammad Rifai

***
Hikmah yang dapat kita petik: Sepandai-pandai tupai melompat, pasti akan jatuh ke tanah juga. Dengan kata lain, sepandai-pandainya seorang penipu.. suatu saat pasti akan terbongkar juga. Oleh karena itu, jangan gunakan kecerdasan mu untuk berbohong dan menipu sesama. Tapi.. gunakan semua ilmu dan pengetahuan mu untuk menolong sesama seperti yang dilakukan si kancil.